Pacarku Vampir Tampan

Pacarku Vampir Tampan
Bab. 16. Bingung


__ADS_3

Ayah Dion yang terkejut dengan apa yang dilihatnya menatap dengan kedua bola mata nanar tak berkedip sungguh dirinya tidak menyangka jika Nenek Tua yang dianggap sangat lemah ternyata memiliki kekuatan yang sangat hebat, pantas saja ketika dirinya sedang marah dan hendak memukul sang Nenek Ayah Dion tidak bisa berbuat apa-apa ketika Nenek itu mengenggam tangannya tiba-tiba Ayah Dion tidak mampu bergerak ataupun melawan, sehingga dia hanya bisa marah tanpa melakukan perlawanan apapun ternyata sang Nenek memiliki kekuatan yang sangat besar dan luar biasa.


Ayah Dion tersenyum melihat hal itu timbul di dalam hatinya sebuah harapan semoga Nenek tua yang membawa putranya pergi bisa membantu dan membuat putranya kembali meskipun sang Nenek sudah menjelaskan jika sesungguhnya putranya sudah mati dan yang ada di dalam jasad putranya kelak adalah makhluk lain yang belum diketahui makhluk apa yang akan bersemayam di dalam jiwa putranya.


Kini Ayah Dion Harus berpikir keras Bagaimana caranya memberi alasan dan memberitahu kepada istrinya jika putranya tidak ada di dalam Rumah dan agar istrinya tidak mengetahui kebenaran yang ada dikarenakan oleh Ayah Dion sangat khawatir jika istrinya akan mengalami syok dan juga pingsan mendadak yang akibatnya bisa membuat istrinya tiba-tiba mengalami sakit dan akhirnya merepotkan dirinya juga.


Sambil mondar-mandir di luar ruangan kamar putranya Ayah Dion berpikir keras tentang alasan yang akan dia berikan kepada istrinya, Ketika istrinya datang ke Rumah dan menanyakan tentang putranya yang tidak ada di dalam kamarnya.


Ayah Dian yang sibuk berpikir tersentak pakai ketika pintu depan dibuka dari luar yang sudah pasti itu adalah kedatangan dari istrinya yang baru pulang dari kondangan tanpa Ayah Dian sadari tubuhnya bergetar dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.


"Suamiku Aku sudah pulang, " seru Ibu Dion ketika masuk ke dalam ruangan itu dia sedikit terkejut ketika melihat ayah Dion sudah berada di ruang tamu dengan tatapan wajah yang penuh dengan kecemasan Hal itu membuat Ibu Tion mengeryitkan dahinya.


"Suamiku, kau ada disini, hei ada apa denganmu kenapa cuaca yang begitu segar membuatmu berkeringat apa kamu baru mencangkul diladang."


Ayah Dion menggelengkan kepala, tersenyum kecut sambil meneguk kasar ludahnya, hatinya benar-benar dilanda rasa kecemasan karena dirinya belum bisa memikirkan apa yang akan dia katakan pada Istrinya ketika dirinya bertanya tentang dimana putranya sekarang.

__ADS_1


"Ayo sini ini adalah berkat yang Aku dapat dari kondangan Ayo dimakan, "


Wajah Ibu Anjar istri dari Ayah Dion lagi-lagi mengeryitkan dahinya dikarenakan Ayah Dion masih diam terpaku, tanpa berniat untuk berubah dekat dan melihat makanan apa yang dibawa oleh istrinya.


Suatu hal yang tidak biasanya membuat Bu Anjar Istri dari Ayah Dion merasa heran, karena biasanya Ayah Dion langsung berlari dan merampas kotak makanan yang dibawa oleh Bu Anjar ketika dia pulang dari kondangan bahkan ketika putranya masih sehat Ayah Dion dan juga Dion putranya mereka berdua saling berebut Sambil tertawa bergembira, Ibu Anjar mengerti jika mungkin saat ini ayah Dion merasa sangat sedih karena dia harus menikmati makanan dari kondangan seorang diri hanya berdua saja dengan sang istri yang lebih banyak tidak ikut makan, berbeda dengan Dion putranya yang mana sangat berantusias untuk makan, hingga terkadang menimbulkan pertengkaran kecil diantara Bapak dan Anak.


Perlahan-lahan Bu Anjar mendekati Ayah Dion yang kala itu masih berdiri terpaku di tempatnya dengan tersenyum manis Ibu Anjar menepuk lengan suaminya seolah-olah memberikan kekuatan agar suaminya tidak terlalu sedih dan larut dalam kesedihan.


"Suamiku, sudahlah jangan kau bersedih begini, ini sudah takdir sudah menjadi garis Nasib dari Putra kita dia harus terbaring sakit tidak berdaya, Sesungguhnya Aku juga sangat tidak tega akan tetapi mau bagaimana lagi, Kita ini hanya manusia kita hanya menjalankan segala apa yang sudah menjadi garis takdir dari nasib kita, dan kita harus mensyukuri dan selalu berdoa semoga ada keajaiban yang bisa membuat Putra kita sembuh kembali, sekarang ayo kita makan Jangan bersedih karena jika kita bersedih maka kita akan lemah dan kita tidak akan memiliki semangat apapun juga, kita tidak boleh sedih kita harus tegar dan kuat agar Putra kita meskipun dia tidak mendengar dan tidak melihat kita tapi dia bisa merasakan jika kita sangat menyayanginya dan Tegar menghadapi cobaan ini.'


Mendengar penuturan dan penjelasan dari istrinya yang begitu sangat sabar dan tabah menghadapi cobaan yang kali ini menimpa keluarganya, Ayah Dion tersenyum sambil menganggukkan kepala, perlahan-lahan Ayah Dion melepaskan tangan Bu Anjar yang kala itu menepuk-nepuk lengannya dan membawa Bu Anjar untuk duduk bersama menikmati makanan yang Bu Anjar dapat dari kondangan.


"Ayo, pak..! "


"Hahaha lihat Bu Aku dapat dagingnya Ibu makan Mienya Hahaha, "

__ADS_1


Ayah Dion meraih daging dendeng sapi yang berbumbu banyak sementara Bu Anjar dia sisain mie nya, setelah itu mengambil kue Roti caramel dan Roti Cholat semua yang Ayah Dion ambil adalah makanan kesukaan dari Dion ketika dirinya masih sehat dan berebut dengan Ayahnya, sambil tertawa Ayah Dion mengambil semua itu, tawa penuh kesedihan dimana dirinya kini tidak bisa lagi berebut dengan puteranya.


sebuah Taqwa yang sesungguhnya menyimpan kedukaan yang dalam dan hal itu Bu Anjar memahami dan mengerti sehingga dia pun berpura-pura untuk marah karena hanya mendapatkan mie dan juga kue yang tidak enak terlebih kue yang sangat alot dan atos berwarna putih yaitu tetelan sebuah kue yang terbuat dari ketan putih yang tercetak tebal.


"Wah kau curang Suamiku masak Aku cuma di bagiin ini, hahahaha, "


"Hahaha sudah Istriku kau makanlah itu juga enak. " seru Ayah Dion yang berpura-pura riang dan gembira.


"Bu jika Dion sehat pasti Dia yang menang, " lirih Ayah Dion kemudiankemudian dengan Wajah murung.


"Iya, Pak tapi sudahlah Ayo kita makan bersama bagaimana kabar putraku hari ini, apa dia masih seperti biasanya? "


"Deg...!


Ayah Dion yang kala itu sedang menikmati makan meskipun tidak begitu bersemangat dan berse lera merasa terkejut dengan pertanyaan sang istri yang mana kini dirinya mulai teringat jika Putranya tidak ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


" Dion, Eng... ya dia masih seperti biasanya sekarang sedang tertidur jangan kau ganggu dulu, ayo kita makan saja." ajak Ayah Dion mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak lagi mempertanyakan tentang keadaan Dion atau melihat Dion di dalam kamarnya, untuk itu Ayah Dion mengalihkan pembicaraan dengan mengajak istrinya untuk menikmati makanan hasil dari kondangan.


Tanpa merasa curiga ataupun aneh Bu Anjar istri dari Ayah Dion menganggukkan kepala kemudian mulai menikmati makan dari kondangan yang dia dapat bersama dengan suaminya dan Ayah Dion membagi menjadi dua lauk yang didapat oleh istrinya yang tadinya dia bilang ingin menikmati makan sendiri, akan tetapi semua itu hanyalah berpura-pura saja karena sesungguhnya Ayah Dion akan menikmati makan bersama dengan cara berbagi secara adil.


__ADS_2