
Pak Yai terus mencari buku yang dulunya pernah dibaca dan dia ketahui bisa membuat Vampir bertekuk lutut kepadanya, meskipun buku yang dia baca belum bisa dipastikan kebenarannya akan tetapi buku turun temurun itu sepertinya mampu membantu dan memecahkan masalah yang ada karena kedamaian serta kesejahteraan warga yang ada di desa itu sudah menjadi tanggung jawabnya terlebih dirinya mengetahui jika sosok Vampir telah berada di desa itu meskipun dia datang sebagai jelmaan dari tubuh seorang pemuda yang bernama Dion.
Suara buku berjatuhan akibat ulah Pak Kyai yang begitu kasar dan sangat berantusias untuk mencari buku yang bisa membuat dan menaklukkan hati Vampir di mana seingat Pak Yai buku itu juga berada ditumpukan buku-buku yang ada di rak itu akan tetapi semua buku yang hampir dijatuhkan Pak Yai hampir habis tidak ada satupun buku yang dia cari ada di sana.
"Ini tumpukan buku terakhir smoga ada disini, "
pak Yai terus mencari dan membuka serta menjatuhkan beberapa tumpukan buku ke lantai untuk memisahkan buku yang akan dia cari dan buku yang belum, hingga kembali lagi pada tumpukan terakhir buku yang dicari Pak Yai tidak ada, Pak Yai yang sudah merasa lelah dan juga merasa putus asa akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang ada di ruangan itu tangannya sesekali memijat-mijit keningnya yang terasa pusing.
" Bagaimana mungkin buku itu tidak ada di tempat ini sedangkan seingatku dulu aku menempatkan buku-buku itu pada tumpukan buku-buku yang ada di sini tapi kenapa tidak ada Apakah ada yang mengambilnya atau buku itu tanpa Sengaja aku berikan orang lain, tidak sepertinya aku tidak pernah memberikan buku itu pada orang lain dan sepertinya tidak ada juga yang meminjam buku itu ke rumah ini Lalu bagaimana mungkin buku itu Raib dan tidak ada, bikin pusing saja, "ucap Pak Yai dalam hati sambil sesekali terus memijit-mijit keningnya yang terasa pening.
Kembali pak Yai menatap Nanar kepada tumpukan buku-buku yang kini sudah berjatuhan di lantai dan perlahan-lahan Pak Yai bangkit dari duduknya kemudian berjongkok memungut buku-buku yang ada di lantai mengembalikan pada tempatnya sambil ssesekali memperhatikan buku itu dengan seksama berharap buku yang bisa menaklukkan Vampir bisa dia temukan.
Di tempat yang berbeda Dion atau Pangeran Andrean atau jelmaan dari Pangeran Vampir sudah sampai di dalam kamarnya ketika tubuhnya baru saja menginjakkan lantai tiba-tiba pintu kamar pun terbuka secara bersamaan, hal itu membuat Pangeran Andrean sedikit terkejut karena kedatangannya bersamaan dengan pintu terbuka di mana ada seseorang yang sedang masuk ke dalam kamarnya.
Wajah Pangeran Andrean yang terkejut sangat terlihat jelas membuat sosok Wanita yang kala itu sedang masuk ke dalam kamarnya sedikit terkejut dan heran karena mendapati Wajah aneh dari putranya seolah-olah tidak menyukai kedatangannya.
"Andrean kamu kenapa Nak, Mengapa kamu menatap wajah ibu seperti itu seolah-olah Ibu ini seorang maling saja, Bagaimana Apa kamu sudah bersiap, sebentar lagi teman-temanmu akan datang untuk mengajakmu berangkat bersama kamu bersiaplah tapi sebelum itu kamu harus sarapan pagi apa kamu ngerti, baiklah ibu tinggal dulu cepat bersiap Ibu tunggu di ruang makan. "
Dengan senyum terpaksa Andrean menganggukkan kepala setelah ibunya keluar dari dalam kamar anak dengan cepat mulutnya meniup daun pintu yang mana secara otomatis pintu pun tertutup kembali.
"Bikin kaget saja Wanita itu, dia tadi bilang apa, Aku harus sarapan pagi, apa Wanita itu tidak tau Aku tidak suka makanan yang dia sajikan bikin mual perutku saja, huuuffp, ternyata sesusah ini tinggal di bumi Manusia. " keluh Pangeran Andrean dalam hati.
"Andrean...? cepat keluar Nak, ayo sarapan pagi ini sudah ada temanmu yang datang. "
Seruan dan teriakan dari Bu Anjar yang keras sampai ke telinga Andrean yang kala itu masih berada di dalam kamar merasa sangat kesal akan tetapi mau tidak mau Andrean harus patuh dan mengikuti semua aturan yang ada di keluarga itu di mana Pak Yai sudah melarang dia untuk menolak apapun yang membuat keluarga di rumah itu akan semakin curiga, untuk itu mau tidak mau Akhirnya Andrean menerima dan menuruti semua yang keluarga itu suruh dan minta kepadanya.
"Ya, Bu, "jawab Andrean yang langsung membuka pintu dan keluar dari dalam kamarnya.
Melihat putranya sudah keluar dari dalam kamar senyum Bu Anjar mengembang kemudian tangannya melambai kepada Andrean agar segera duduk di ruang makan.
" Cepat sini makan, Ibu akan panggilkan Rio biar dia juga ikut makan. "
"Siapa itu Rio? "tanya Andrean pada Ibunya.
__ADS_1
km,. m
"Astaga Nak, Rio itu teman sekolah kamu, dia sudah datang 10 menit yang lalu menunggu di halaman teras sekarang Ibu mau memanggilnya karena Ibu ingin mengajaknya makan sekalian, siapa tau Rio mau, " ucap Sang Ibu dengan hati berbunga-bunga.
sementara Andrean tersenyum kecut melihat ekspresi sang ibu yang sangat bahagia dengan sedikit malas Andrean duduk dan mulai menatap seluruh hidangan yang ada di atas meja laki-laki antrian menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Astaga menunya begini lagi bagaimana Aku bisa makan, sebelum ibu datang aku harus cepat membuang makanan agar terlihat aku sudah makan menu sarapan pagi yang di sajikan untukku. "
Sambil tersenyum dan menatap ke depan di mana Andrean ingin memastikan jika tidak ada yang masuk ke dalam, dengan cepat Andrean meniup beberapa lauk dan juga Nasi yang ada di atas bakul agar terlihat Nasi yang berada di atas bakul kecil sudah berkurang, kemudian dengan gerakan meniup beberapa lauk berterbangan dan juga Nasi kemudian pangeran Andrean tiupkan ke arah jendela dimana makanan itu dengan tiba-tiba terbang keluar melalui jendela.
Andra tersenyum puas dan senang karena sudah membuang beberapa laut dan makanan sehingga dirinya sudah pasti tidak akan disuruh makan lagi oleh ibunya dan Andrian tidak perlu pusing dan mual karena harus terpaksa menikmati dan menelan makanan yang ada.
tidak lama kemudian muncullah sang ibu bersama dengan Rio kedua orang itu masuk ke dalam sambil mengulum senyum.
"Ayo Nak Rio jangan Ragu-ragu duduklah mari kita makan bersama, "
Dengan malu-malu Rio menganggukkan kepala kemudian duduk di samping Andrian Sang Ibu memilih duduk di depan Andrean wajahnya yang tadi ceria sedikit merasa heran karena nasi dan lauknya sudah berkurang sementara piring yang ada di depan Andrean masih terlihat bersih.
"Nak Andrean apa kamu sudah makan? "
"Tentu saja sudah Ibu, Bukankah Ibu sudah tahu jika lauk dan juga Nasi Sudah berkurang Mengapa masih bertanya, Andrean sudah makan apa belum, tentu saja Andrean sudah makan dan Andrean ingin segera cepat berangkat sekolah. Rio lebih baik kamu tidak usah makan saja ayo kita berangkat saja ,"Ajak Andrean kepada Rio yang kala itu duduk di samping Andrean, tentu saja ajakan dari Andrean membuat Rio sedikit merasa heran dan aneh karena sikap Andrian benar-benar terlihat tidak begitu wajar.
" Kenapa justru memandangku seperti itu ayo kita berangkat sekolah bukankah kita harus cepat berangkat agar tidak terlambat, ajak Andrian mengulangi ajakannya untuk yang kedua kali kepada Rio, sementara Rio mau tidak mau Akhirnya bangkit dari duduknya untuk menerima ajakan dari Andrean.
ketika Andra hendak Melaka diikuti oleh Rio di belakangnya Sang Ibu yang merasa sangat heran menghentikan langkah kaki mereka berdua sang Ibu menatap heran kepada Andrian dan juga Rio yang diam pasrah mengikuti apa yang Andrian perintahkan.
"Tunggu..! Andrean biarkan Rio makan terlebih dulu kenapa kamu buru-buru mengajaknya untuk berangkat sekolah lagi pula waktunya masih ada 1 jam, sekolahan kamu juga tidak terlalu jauh dari rumah Bukankah Kalian naik motor jadi perjalanan tidak akan lama biarkan Rio makan dulu dan kamu Bagaimana kamu bisa bilang tadi sudah makan sementara, Lihatlah Kenapa piring kamu masih bersih, "tanya ibu kepada Andrean tentu saja pertanyaan itu membuat Andrean sangat terkejut hingga membuat kedua bola matanya membulat serta bibirnya menjadi terdiam dengan tiba-tiba.
Tapi beberapa menit kemudian Pangeran Andrean langsung bisa tersenyum sambil memberikan alasan yang sangat tepat kepada sang ibu sehingga ibunya tidak lagi bertanya.
"Ibu, bukankah kau selalu mengajarkan AkuAku sehabis makan piring kita cuci dan kita lap bersih, jadi piring antrian Kenapa masih bersih karena Andrean sudah mencucinya dan sudah mengelapnya pula. "
"Oh, begitu, ___
__ADS_1
" Tante Rio juga sudah kenyang karena Rio sudah makan tadi pagi untuk itu Rio minta izin langsung berangkat saja trimakasih tawaran Tante lain kali saja Rio ikut makan bersama, "
"Oh, begitu, baiklah, Jika seperti itu maumu, Baiklah tante mengizinkan silakan Kalian berangkat hati-hati di jalan jangan terlalu ngebut, Apakah kalian hanya berangkat berdua saja atau kalian masih mau pergi ke Rumah teman kalian llagi, " tanya ibu Anjar kepada Rio.
" sepertinya kami langsung berangkat saja Bu karena waktu juga sudah cukup siang lagi pulang Kami tidak ada janji dengan teman yang lain sehingga mereka pastilah sudah berangkat ke sekolah tanpa menunggu kita untuk itu kami berangkat berdua saja. "
"Oh begitu, baiklah hati-hati dijalan, Abdrean ini uang saku untukmu, "
Sang Ibu mengulurkan uang berwarna biru sebesar Rp50.000 kepada Andrean selama ini Andrean terbiasa dengan uang jajan Rp20.000 Akan tetapi karena hari ini Andrean sakit dan baru sembuh lagi pula Andrean juga mengalami Hilang Ingatan untuk itu Ibu Anjar sengaja memberikan uang lebih kepada Andrean, dikarenakan khawatir jika sewaktu-waktu Andrean membutuhkan uang lebih.
Andrean yang sesungguhnya adalah Pangeran Vampir merasa sedikit heran dan aneh dengan lembaran kertas yang diberikan kepadanya, Pangeran Andrean teringat akan lembaran gulungan kertas yang Menuliskan beberapa hukuman untuknya, Hal itu membuat Andrean sedikit bergidik dan merasa was-was Andrean berpikir Apakah ibunya sedang ingin memberikan hukuman kepadanya sehingga dia memberikan kertas yang mungkin sudah tertulis sebuah hukuman yang akan dia jalani.
"Ini untuk apa, apakah Andrean bersalah sama Ibu? "
"Itu uang sakumu Andrean buat jajan Nanti kita bisa beli segala sesuatu yang kita mau, apakah dengan uang kamu juga tidak ingat? " tanya Rio sambil tertawa.
Rio merasa heran dan aneh karena Andrean sangat terlihat khawatir menerima uang kertas yang diberikan oleh ibunya kepadanya.
Bu Anjar yang melihat Andrean merasa heran mengulum senyum kemudian menggelengkan kepalanya berjalan mendekati putranya kemudian menaruh uang kertas di tangan Andrean, beruntung Andrean sudah mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya sehingga dia tidak memiliki tangan yang runcing dan Gigi yang runcing karena semua sudah berubah ketika dia mempergunakan ilmu kekuatannya untuk menyembunyikan Wajah aslinya.
"Kamu bawa saja biar Nanti Rio yang akan mengajari kamu untuk mempergunakan uang itu sekarang pergilah, "
Dengan senyum sedikit terpaksa Andrean mengaggukan kepala kemudian melangkah mengikuti langkah kaki Rio yang sudah berada di atas motor sementara Andrean terlihat juga merasa bingung apa yang harus dia lakukan Andrean hanya bisa berjalan kaki tanpa bisa menggunakan motor karena ini adalah hari pertama di mana Andrean mengetahui ada motor yang berjalan dan di Naiki.
"Ayo, kenapa bengong kenapa justru ngikutin Aku, cepat kamu Naik ke motor kamu tuh Motor kamu ada disana tuh, sepertinya Paman Rahmat tadi pagi sudah mengeluarkan dan menyiapkan motor untuk mu, "seru Rio mengingatkan.
Andrean termangu antara bingung dan juga heran karena Andrean sendiri tidak pernah mengerti apa itu motor dan buat apa itu motor karena merasa tidak mengerti dan tidak memahami Andrean hanya Diam Terpaku, Hal itu membuat Rio lagi-lagi menggelengkan kepalanya kemudian turun dari motor mendekati Andrean yang kala itu masih Diam Terpaku di tempatnya dengan Wajah yang terlihat kebingungan.
"Apa kamu juga hilang ingatkan tentang motor, kamu tidak bisa cara menggunakannya dan kamu tidak mengerti apa itu motor, baiklah jika seperti itu Kamu ikut aku saja kita berangkat bersama-sama Aku akan bonceng kamu dan kamu tidak perlu naik motor lagi, karena ini juga sangat berbahaya jika kamu tidak memahami dan tidak mengerti Nanti. Aku khawatir kamu bisa menabrak ke sana kemari dikarenakan kamu hilang ingatan sehingga tidak memahami dan tidak mengerti Bagaimana cara menggunakan motor. "
" Ide kamu cukup bagus Aku memang lebih baik ikut kamu saja karena Aku sungguh tidak memahami dan tidak mengerti, "ucap Andrean merasa sangat senang dan lega karena dia tidak perlu pusing untuk memikirkan Bagaimana cara mempergunakan motor yang tidak pernah dia ketahui dan tidak pernah dia lihat sebelumnya..
" Baiklah kamu tunggu disini, Aku akan minta izin kepada bu Anjar ibumu Apakah beliau mengizinkan Kamu naik motor bersamaku atau tidak dikarenakan kamu terlalu banyak Hilang Ingatan dan terlalu banyak tidak memahami dan tidak mengerti tentang semua yang ada di sekitar sini membuat Bu Anjar pasti merasa sangat khawatir dan mencemaskanmu, untuk itu Aku berpikir untuk meminta izin kepada bu Anjar untuk mengajak kamu naik satu motor denganku."
__ADS_1
Andrean mangut-mangut dia merasa tidak keberatan dengan apa yang diucapkan oleh Rio temannya sementara Rio berjalan mendekati Bu Anjar yang kala itu berada di depan pintu rumahnya di mana dia hendak masuk ke dalam rumah akan tetapi menunggu antrian dan Rio temannya berangkat merasa sedikit heran karena Andrean justru merasa sangat asing dan terlihat bingung untuk mempergunakan motor yang sudah dipersiapkan oleh Ayah-nya.