Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Ibu Suri sakit


__ADS_3

"Maksud Tabib Long, saya sedang ...?" Tabib tersebut mengangguk sebagai jawaban.


"Karena itu, saya sarankan Nona menemui Tabib Ji'en untuk memastikannya." lanjut Tabib long.


Rona kebahagiaan terpancar dari keempatnya. Mereka sangat senang mendengar kabar tersebut walaupun belum tahu kepastiannya. Sebab, Tabib Desa yang menolong Xin'er dahulu berkata bahwa dirinya tak bisa hamil lagi karena rahimnya yang sudah rusak. Namun, keajaiban sang Dewa terjadi saat ini.


Keempatnya bergegas menemui Tabib Ji'en sesuai saran Tabib Long. Dan sesuai harapan, Tabib Ji'en mengatakan bahwa saat ini Xin'er telah mengandung. Rasa syukur terus terucap dari keempatnya. Mereka berterima kasih karena mendapatkan kabar yang membahagiakan ini.


"Sayang, aku sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah! Tolong jaga kandungan mu ya," ucap Zhaoling sambil memeluk tubuh Xin'er.


"Aku juga sangat ... sangat bahagia. Kau tahu, aku bahkan selalu memimpikan seorang Bayi berada dalam perutku. Dan ternyata, Dewa mengabulkannya!" seru Xin'er membalas pelukan Zhaoling.


"Selamat, Nona Xin'er." Yu Xuan dan Yuelie mengucapkan secara bersamaan. Keduanya turut berbahagia atas kehamilan Xin'er.


Di tengah kebahagian mereka, sedang ada orang yang bersedih. Dia mengintip dari balik dinding untuk memperhatikan mereka berempat tanpa berani menghampiri. Tangannya terkepal karena tekanan amarah yang bergemuruh di dada. Bahkan, wajahnya memerah dengan ekspresi tak suka menatap Xin'er yang berada dalam pelukan Zhaoling.


"Akan ku pastikan kau tak bisa tersenyum lagi esok," cetusnya seraya pergi.




Semenjak mengetahui kabar kehamilan Xin'er, baik Zhaoling dan kedua sahabat serta istri mereka terus meningkatkan kewaspadaan agar bisa menjaga Xin'er. Entahlah. Walaupun hidup di Desa yang tenang seperti ini tetap saja tak menutup kemungkinan kejahatan tak akan datang.

__ADS_1


Apalagi, mereka itu terbilang hidup serba berkecukupan tak seperti yang lainnya. Itu karena ketiga pria itu bekerja lebih giat untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Walaupun di Desa seperti ini, tapi mereka tetap berusaha memberikan kehidupan yang layak dan tak membiarkan keluarga kecilnya serba kekurangan.


Tak pernah sekalipun mereka kedatangan tamu jauh, atau lebih tepatnya yang mereka kenali. Karena mereka ingin hidup lebih mandiri dan tak membebani siapapun termasuk keluarganya.


Permaisuri sendiri kebingungan dengan menghilangnya Zhaoling. Semua pengawalnya yang diutus mencari keberadaan putranya, kembali dalam keadaan tertunduk karena gagal menemukannya. Sehingga Permaisuri Jian sangat sedih akan hal itu. Beliau selalu menyendiri di Kuil untuk berdoa kepada Dewa agar putranya segera kembali. Namun, tetap saja Zhaoling tak pernah kembali sampai saat ini.


Orang bilang, penyesalan itu datang belakangan. Saat ini, itulah yang dirasakan Permaisuri Jian Xia maupun Ibu Suri Lan Mei. Keduanya sangat menyesal karena telah berbuat jahat pada Xin'er yang menyebabkan Zhaoling membenci mereka serta memutuskan pergi dari Istana.


Tujuan utama membuat Xin'er terusir dari Istana agar Zhaoling bisa memimpin Kerajaan dengan menduduki tahta Kekaisaran tanpa memikirkan wanita itu. Tapi ternyata, itu membuatnya malah jatuh terpuruk bahkan membuatnya hancur ketika Xin'er dinyatakan tiada. Andai saja waktu bisa diulang, mungkin Permaisuri ataupun Ibu Suri tak kan melakukan hal buruk itu pada istrinya Zhaoling. Mereka akan dengan senang hati menerima Xin'er supaya putranya bersemangat dan mempertahankan gelar Putra Mahkota-nya. Tapi kini ...


"Bu. Apa yang harus aku lakukan agar Ibu cepat sembuh?" Kaisar Zhihu bersimpuh di samping tempat tidur Ibu Suri sambil menggenggam erat tangannya.


Wajah yang sudah dipenuhi kerutan itu hanya memejamkan mata tanpa berniat membukanya sedikitpun. Bahkan, Tabib Kerajaan pun sudah menyerah akan penyakit yang diderita Ibu Suri.


Permaisuri Jian mengusap kepala suaminya dengan lembut. Beliau membiarkan suaminya itu menumpahkan kesedihannya, "menangis lah jika itu bisa membuatmu sedikit tenang!" ucapnya lembut.


Kaisar tergugu dalam dekapan Permaisuri. Beliau begitu sakit hati melihat ibunya yang tengah terbaring lemah tak berdaya, walau hanya untuk membuka matanya saja. Sesaat setelah itu, keduanya dikejutkan dengan suara lirih Ibu Suri yang memanggil nama cucunya. "Zhaozu ... Zhaozu!"


Walaupun sangat lirih, tapi Kaisar dan Permaisuri masih bisa mendengarnya dengan jelas jika Ibu Suri sedang mengigau menyebutkan nama Putra Ketiga mereka.


"Bu, Ibu bisa mendengar ucapan ku? Bu, ayo bangun! Apa Ibu tak kasihan kepada putramu ini?" ucap Kaisar memohon namun tak ada reaksi tanggapan dari Ibu Suri selain terus memanggil nama cucunya.


"Beliau ingin bertemu putra kita, Suamiku. Ibu Suri merindukan Zhaozu, dan aku pun sama!" lirih Permaisuri dengan mata berkaca. "Seharusnya Anda tak membiarkannya pergi saat itu," tangisan pecah ketika Permaisuri mengingat bahwa suaminya itu mengizinkan putranya mengembara.

__ADS_1


Ada rasa marah dalam diri Permaisuri saat itu, namun Beliau hanya bisa pasrah menahan sesaknya di dada tanpa bisa berbuat apapun lagi. Ingin sekali Beliau menumpahkan rasa amarahnya saat itu karena Kaisar tega memisahkan seorang ibu dan putranya. Tapi jika diingat, dia sungguh malu karena perbuatannya pada sang menantu, Xin'er.


Wajah Kaisar mendongak menatap wajah istrinya, mengusap air mata yang membasahi pipi. Alih-alih memeluk, Beliau malah beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kaki keluar ruangan. Entah kemana Kaisar pergi saat ini, karena tak kembali dalam waktu singkat. Mungkin, ada sesuatu yang Beliau lakukan sehingga membutuhkan waktu sedikit lama.


Menunggu dengan gelisah, Permaisuri beranjak mengikuti kemana arah tujuan suaminya. Namun, entah harus kemana Beliau melangkah karena tak ada tanda keberadaan Kaisar disekitaran ruangan tersebut. Sedikit kesal, mungkin itu yang dirasakan saat ini karena merasa terabaikan, mengira jika Yang Mulia tak memperdulikan perasaannya. Permaisuri keluar dari kediaman Ibu Suri melenggang menyusuri jalan setapak menuju kediamannya diikuti para pelayannya.


Tepat di tengah jalan, tak sengaja Permaisuri berpapasan dengan Selir Wang yang akan mendatangi kediaman Ibu Suri. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum ramah kearah Permaisuri, namun tak dihiraukan oleh Penguasa Istana Harem tersebut. Beliau menundukkan sedikit kepala guna menghormati, kemudian melangkah pergi begitu saja membuat Selir Wang tersenyum kecut.


Selepas kepergian Permaisuri sepenuhnya, Selir Wang menoleh dengan tatapan tajam. "Cih, hanya karena kedudukan mu lebih tinggi dariku, kau selalu bersikap arogan kepadaku! Setelah Nenek tua itu mati, besok giliran mu yang akan ku buat menderita. Tunggu saja," ucapnya dalam hati.


Rasa benci dan amarahnya tak pernah hilang dari hati, seolah semakin membesar bagaikan kobaran api, ketika Kaisar selalu memanjakan Permaisuri. Selir Wang sangat iri kepada istri pertama Kaisar tersebut, karena Permaisuri kini menjadi prioritas utama setelah kepergian putranya, Zhaozu.


Dengan langkah malas, wanita itu berjalan menuju kediaman Ibu Suri. Tak ada niat baik dihatinya kala berkunjung ke sana, karena dirinya lah penyebab Ibu Suri jatuh sakit bahkan separah ini. Senyum yang mengembang terlukis jelas di bibir berwarna merah menyala itu, ketika melihat orang yang harus disingkirkannya tergeletak lemah diatas tempat tidur.


Puas? Belum!


Selir Wang belum puas untuk menyiksa raga wanita tua yang menjadi mertuanya itu, walaupun sejujurnya Beliau lah yang mendukung pernikahannya terjalin dengan Kaisar.


"Apa kabar nenek tua? Apa kau masih sanggup bertahan dengan penyakit ini? Aku harap kau tidak mengecewakanku," ujarnya menyeringai dengan senyum jahatnya.


Siapapun yang melihat senyuman Selir Wang saat ini, dapat dipastikan mereka tak kan percaya. Dibalik wajah cantik dan ramahnya terdapat hati yang busuk penuh tipu muslihat.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2