Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kabar mengejutkan


__ADS_3

Yoona pulang ke rumahnya dengan rasa penasaran. Siapakah tamu yang ingin bertemu dengannya? Anehnya, tamu itu tak mau menunggu lebih lama.


Apakah dia ....??


"Bu, aku pulang!" ucapnya ketika memasuki rumah. "Bu ... Ibu," panggil Yoona namun ibunya tak menyahut sama sekali. "Ayah," kini ia memanggil ayahnya. Tapi, seperti ibunya, ayahnya pun tak menjawab panggilannya.


Kaki Yoona melangkah masuk ke dalam rumah sambil memeriksa satu persatu ruangan seraya memanggil ayah dan ibunya.


"Kenapa sepi sekali? Bukankah ibu mengatakan bahwa ada tamu yang menunggu! Tapi, kemana mereka pergi?"


Gadis itu kebingungan dengan keadaan rumah yang sepi. Kakinya melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Brak ... brakk ... prang ...


Terdengar suara gaduh diatas sana, seperti banyak benda berjatuhan ke lantai dengan sangat keras.


"Apa itu yang jatuh?" langkah kakinya melebar agar segera sampai di lantai atas.


Pandangannya menyapu ke segala penjuru rumah, namun suara itu tak terdengar lagi. "Dari mana asal keributan tadi?" gumamnya sembari memeriksa seluruh ruangan yang ada di lantai atas.


Tapi, tak ada satu pun ruangan yang berantakan akibat benda-benda jatuh yang terdengar tadi.


Aneh, sungguh aneh!


Benda berjatuhan dengan keras, tapi Yoona tak menemukan apapun di lantai atas. Bahkan, walaupun pecahan beling sekalipun.


Sebenarnya ada apa?


"Ayah ... Ibu ...!" panggil Yoona lagi, namun tetap tak ada satupun yang menjawab.


Gadis itu pun melangkah kearah ruangan di ujung yang digunakan sebagai gudang penyimpanan. Tangannya menyentuh handle pintu yang kemudian ia dorong secara perlahan sampai terbuka lebar.


Sangat gelap.


Itulah kondisi ruangan tersebut saat ini. Semenjak Yoona dirawat di Rumah Sakit, ayah dan ibunya sibuk menjaganya di sana. Rumah jadi tak terurus, semua dibiarkan begitu saja tanpa diperhatikan oleh keduanya.


Yang terpenting bagi keduanya ialah kesehatan putri tunggalnya. Apapun akan mereka lakukan asalkan Yoona kembali sadar dari komanya.


Yoona mengibaskan tangannya karena debu yang menyeruak masuk ke hidungnya. Ia sampai terbatuk akibat debu yang berterbangan, serta pengap karena jendela yang tak pernah dibuka.


"Ibu dan ayah pasti kelelahan mengurusku di Rumah Sakit, sampai ruangan ini tidak pernah dibersihkan." ucapnya sembari melangkah kearah jendela, bermaksud untuk membukanya.


Saat ia melangkah, terlihat seseorang mengikuti langkahnya dengan tangan terulur akan menyentuh Yoona tanpa disadari. Tangan sosok itu memegang sebuah belati di tangannya yang siap ditusukkan kapan saja.


Tangannya terayun keatas dengan perlahan dan siap ia hujam kearah Yoona yang berada di depannya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba ...


...Tok tok tok...


...Ting nong ... ting nong ......


Pintu diketuk, dengan bel rumah yang terus berbunyi. Tamu yang datang itu membuat sosok dibelakang Yoona segera bersembunyi kembali.


Yoona pun berbalik. "Siapa sih yang datang?" dia keluar dari ruangan tersebut dan berlari menuju lantai satu rumahnya.


"Iya ... iya, aku datang!" teriaknya sembari membuka pintu. Ketika pintu dibuka, Yoona mengerutkan keningnya. "Eh, Dokter! Ada apa kemari?"


Jerry yang ditanya tidak menjawab, dia lantas masuk dan mengamati ke seluruh ruangan. "Apa kamu baik-baik saja?" bertanya tanpa menatap Yoona.


Kebiasaan!


Yang ditanya tentu melipat tangan di dadanya sembari menatap sinis. "Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!" sahutnya ketus. "Ditanya malah balik nanya," gumamnya sembari berbalik.


"Oh," cuma itu yang keluar dari mulut Jerry. Namun, pria tampan itu tetap mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Tepatnya seperti sedang mengamati.


Helaan nafas terdengar dari mulut Yoona. "Kamu itu kesini mau apa? Aku kan sudah bilang kalau aku ...." perkataannya tak bisa dilanjutkan karena Jerry menariknya kedalam pelukannya. "Eeeehhh!"


Tubuh Yoona dipeluk dari belakang oleh Jerry yang langsung menyusupkan wajahnya di ceruk gadis itu, hingga membuatnya tak nyaman. "Ka-kamu kenapa?" tanya Yoona terbata.


"Tetaplah seperti ini sampai dia pergi," bisik Jerry tepat ditelinga Yoona.


Yoona tak mengerti perkataan Jerry, lantas dia bertanya, "Dia siapa?"


Jerry menahan kembali tubuh Yoona yang akan berbalik menghadapnya. "Tunggulah sebentar lagi!" ujarnya masih berbisik.


Tak ada pilihan lain. Yoona akhirnya menuruti perkataan Jerry walaupun dia sendiri sejujurnya bingung dengan sikap yang ditunjukan pria tampan ini.


Setelah cukup lama, Jerry baru melepaskan tubuh Yoona dan mengajaknya pergi dari rumahnya. Lagi-lagi, Yoona yang tak mengerti apapun hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan Jerry tanpa membantah.


Sepertinya dia menjadi penurut semenjak bertemu dengan Jerry.


Entahlah!


Keduanya memasuki mobil yang langsung melesat membelah jalanan beraspal. Yoona hanya diam dan menatap Jerry tanpa berniat melepaskan pandangannya.


Tentu saja, yang sedang diperhatikan itu hanya tersenyum tipis. "Aku memang tampan," ucapnya tanpa menoleh.


"Cih," Yoona segera memalingkan wajahnya. Dia benar-benar kesal karena tingkah Jerry yang mirip dengan Zhaoling.


Tuh kan, inget dia lagi.

__ADS_1


Haish, padahal Yoona ingin melupakan mimpi itu untuk selamanya. Bukan karena mengerikan, atau karena terlalu indah. Tapi, mimpi itu seperti sebuah misteri yang tak kan ada jawabannya.


"Apa kamu tidak penasaran kenapa aku membawamu seperti ini?" tanya Jerry tanpa menoleh.


Gadis itu tersadar setelah mendapat pertanyaan tersebut. "Oh iya, aku sampai lupa menanyakan hal itu!" seru Yoona sembari menepuk keningnya.


Jerry pun menceritakan bahwa di rumah Yoona ada satu orang penyusup dan dia berniat membunuh Yoona. Penyusup itu sebenarnya telah mencelakai Paman dan Bibi Sin, yaitu orang tua Yoona.


Keadaan keduanya saat ini kritis dan dirawat di Rumah Sakit Kota, tempat Jerry bekerja. Selain melukai orang tua Yoona, penyusup itu telah berhasil membobol sistem keamanan di Kantor Militer Negara.


Entahlah. Alasan apa yang membuat penjahat tersebut mengincar keluarga Sin. Yang pasti, dia belum puas jika keluarga Sin masih tersisa.


Tanpa berucap sepatah katapun, Jerry menyerahkan ponselnya kepada Yoona yang langsung diterima gadis itu.


Sebuah vidio berdurasi sepuluh menit itu menayangkan adegan saat si penyusup menusuk kedua orang tua Yoona menggunakan belati. Ayah dan ibu Sin itu ditusuk berulang kali sampai terkapar dilantai dengan bersimbah darah.


Orang tersebut menyerang ayah dan ibu Sin secara membabi-buta. Sepertinya, dia memiliki sebuah dendam yang harus dituntaskan saat itu juga.


Setelah kedua orang tua Yoona sekarat, dia lekas meninggalkannya tanpa perasaan. Beruntung, ada tetangga yang datang dan membawanya ke Rumah Sakit menggunakan mobil Ambulans.


Sebelum ke Rumah Sakit, tetangga tersebut menghubungi Polisi. Tak lama kemudian, Polisi datang dan memeriksa semuanya, namun tak ada jejak si pembunuh.


Mereka berusaha menghubungi Yoona, tapi ponselnya tidak aktif. Yoona yang masih berada dalam perjalanan terjebak kemacetan karena ada kecelakaan.


Pihak kepolisian segera mencari bukti lewat CCTV yang ada di rumah Yoona. Dari sanalah mereka bisa mendapatkan vidio berdurasi sepuluh menit tersebut.


Karena Yoona tidak bisa dihubungi, para Polisi segera meninggalkan kediaman Sin tersebut dan terus berusaha menghubungi Yoona namun tetap tak bisa.


Setelah kepergian Polisi, penjahat itu datang lagi dan membereskan semua supaya terlihat normal kembali. Karena, target utamanya yaitu Yoona, ia pun masuk kedalam rumah dan bersembunyi di gudang, menunggu waktu yang tepat untuk membunuh Yoona.


Jerry yang mendapat laporan dari kantor pusat bergegas menyusul Yoona, karena dia yakin bahwa si pembunuh akan kembali.


"Kau tahu siapa dia?" Jerry kemudian memperlihatkan foto seorang pria di duga si penyusup.


Setelah mengusap air matanya, Yoona pun memperhatikan foto pria itu dengan seksama. "Zhaohan!" betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah yang tak asing baginya di kehidupan saat koma. "Ba-bagaimana bisa?"


"Mayor Bang Khong, orang yang memasang bom di perbatasan Negara, saat kamu dan Tim melakukan tugas penyelamatan tujuh bulan yang lalu." Jerry menjelaskan.


"Apa?" Yoona kembali terkejut mendengar penjelasan Jerry. "Lalu, bagaimana Dokter mengetahui semua itu?" bertanya lagi.


Jerry menghela nafas, kemudian menghentikan mobilnya tepat diparkiran Rumah Sakit. Dia mengulurkan tangan kearah Yoona sambil berkata, "Perkenalkan, Letnan Jendral Jerry Chan."


"Apa?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2