
Hari itu Moheng, kakak dari Mingna. Baru saja pulang setelah berpesta kecil di bar Kota Yongsheon. Semalaman dia gak pulang karena menikmati tidur indahnya di sana bersama wanita-wanita penghibur.
Setiap hari, kerjaan Moheng hanya minum-minum keras, bermain wanita, serta berjudi. Namun, kelakuan buruknya itu hanya dilakukan saat ayah tirinya tak ada di rumah. Ibunya sering memperingatkan untuk tidak pulang setelah melakukan kebiasaan buruknya. Dengan alasan, takut suaminya datang tiba-tiba dan mengetahui kelakuan buruk putranya tersebut.
Xin'er dan Xiaolang sendiri tahu bagaimana sifat asli putra Muning itu. Tapi, mereka tak berani berkata pada ayahnya perihal itu karena takut ayahnya emosi dan kesehatannya menurun.
Dengan berjalan sempoyongan, Moheng melangkahkan kaki menuju kamarnya. Para penjaga dan pelayan yang melihatnya lantas dibentak serta diancam olehnya agar tidak ikut campur serta tidak boleh melaporkan pada Perdana Mentri. Mereka pun akhirnya bubar karena takut ancaman Moheng.
Mata Moheng menyipit saat melihat Tabib Jang baru saja keluar dari kamar Xin'er. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu adik tirinya. Kecantikan Xin'er tidak diragukan lagi dan Moheng pun tertarik. Karena pengaruh dari alkohol, dia pun berani masuk ke kamar Xin'er dan berniat melecehkan gadis itu.
Dengan susah payah pria itu mencoba melakukan apa yang ingin dilakukan, namun Xin'er selalu melawan. Menggunakan cara licik agar Xin'er kalah, itulah pikirannya. Dia pun melemparkan sesuatu kearah Xin'er agar membuat gadis itu tak bisa berontak.
"Hahaha. Gadis lemah sepertimu tak bisa mengalahkan kekuatanku, Xin'er! Menurutlah! Aku akan bersikap lembut padamu," cetus Moheng tertawa girang.
Namun, pria mesum itu tak tahu jika sepasang mata tengah menatapnya penuh amarah. Tangannya terkepal seiring emosi yang memuncak. Dicengkramnya dengan kuat leher Moheng sampai pria itu tak bisa bergerak karena tubuhnya terangkat.
"Kkkkk," si mesum tak bisa mengeluarkan walau sepatah katapun.
Begitu marahnya Zhaoling melihat sang istri yang berusaha dilecehkan oleh kakak tirinya dihadapan dirinya. "Kau berani menyentuhnya!" namun, perkataan itu hanya terlontar lewat sorot mata tajamnya saja. Karena, Zhaoling tak mengeluarkan sepatah katapun sebagai ancamannya.
Tapi, Moheng tahu pria dihadapannya itu tengah mengancam nyawanya. "Ma-maafkan akk-kuuhh!" Dia berusaha berbicara walau kesulitan.
Tapi, Zhaoling terlanjur marah karena tindakan si pria mesum ini. "Kau ingin mati dengan cara bagaimana? Tangan kosong? Atau pedang? Pilih salah satu!" Tegasnya membuat Moheng bergidik.
Moheng mencoba menggelengkan kepalanya. Aura pembunuh yang keluar dari diri Zhaoling begitu kuat, sampai dirinya tak mampu menggerakkan tangan untuk melepas cengkraman Zhaoling. "Tuu-tuan Panglima. Ja-jangan lakukan itu! A-aampuni nya-nyawaku," pintanya lirih dengan kaki masih mengambang diatas lantai.
Zhaoling menyeringai. "Bagiku, tak ada maaf untuk pria yang berani melecehkan wanitaku!" Moheng menggelengkan kepala dengan ketakutan. "Baiklah. Karena kau tak memilih salah satunya, berarti kau ingin mati secara perlahan." bisik Zhaoling.
__ADS_1
Tiba-tiba, tangan Zhaoling menarik sebuah bungkusan yang ada di kantong celana Moheng dengan satu tangannya. Dia segera membuka isi bungkusan tersebut yang ternyata racun pelumpuh syaraf. Entah darimana dan untuk siapa racun itu, yang pasti Zhaoling tak perduli saat ini.
Moheng terkejut karena Zhaoling tahu bahwa dirinya membawa obat mematikan. "Bagaimana dia bisa tahu jika aku membawa racun pelumpuh syaraf?" batin Moheng keheranan.
Melihat ekspresi yang ditunjukan Moheng, Zhaoling terkekeh. "Kau ternyata membawa barang bagus di kantong celanamu," ejek Zhaoling seraya mengeluarkan racun pelumpuh syaraf berupa pil itu. "Kau ingin mencelakai orang lain, maka coba dulu khasiatnya pada tubuhmu sendiri. Jika obat ini sangat mujarab, maka aku ingin pesan yang banyak untuk ku gunakan pada para pengkhianat negara. Tapi, itupun jika kau masih hidup!" cibirnya seraya memasukkan semua butiran pil tersebut ke mulut Moheng setelah menurunkan kembali tubuh pria itu.
Dengan susah payah Moheng menolak, tapi kekuatan Zhaoling lebih besar. Sehingga, Moheng tak bisa menahan semua pil yang meluncur bebas di tenggorokannya.
"Ukhuk ... ukhuk," beberapa pil terjatuh karena Moheng sengaja batuk. Namun, Zhaoling tidak membiarkan usahanya gagal. Dia mendongakkan wajah Moheng supaya pil itu masuk semua, tentunya dibantu arak yang dibawa pria mesum tersebut.
Setelah memastikan semua sisa pil tertelan, Zhaoling pun melepaskan Moheng dengan cara menghempaskan kasar ke lantai.
Bruk
Tubuh Moheng terjatuh dengan keras. "Akkh," ringisan keluar dari mulutnya. "Kau pria kejam, Zhaoling." teriak Moheng memakinya.
"Aku memang kejam. Kau baru tahu itu? Tapi, itu belum seberapa. Jika kau ingin melihat kekejaman sesungguhnya, maka dengan senang hati akan ku tunjukan!" ucap Zhaoling menyeringai.
Sementara, Xin'er yang tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya terikat, serta matanya yang tak bisa melihat karena serbuk yang dilempar Moheng. Dia melewatkan banyak pemandangan mengasyikan saat Zhaoling mengancam kakak tirinya. Hanya, telinga Xin'er yang menangkap suara-suara benda jatuh dan teriakan Moheng yang memaki Zhaoling dengan sebutan pria kejam.
"Aling. Kau kah itu?" tanya Xin'er masih dengan keadaan buruknya.
Mendengar namanya dipanggil, Zhaoling memutar tubuhnya, kemudian menghampiri Xin'er. "Ya, ini aku!" sahutnya seraya membantu Xin'er melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kakinya.
Zhaoling juga membantu Xin'er ke bilik mandi untuk membasuh wajahnya, supaya serbuk di mata Xin'er hilang. "Bagaimana? Apa matamu masih pedih?" tanya Zhaoling lembut.
"Tidak. Ini sudah lebih baik," sahut Xin'er sambil mengerjapkan berulang. Saat matanya terbuka sempurna, Xin'er terkejut karena melihat dada polos Zhaoling yang masih terbuka. Ia pun segera mengalihkan pandangan kearah lain guna menghindar. "Mmm-Moheng ... tadi, kamu melakukan apa padanya sampai dia berteriak memakimu kejam?" tanya Xin'er gugup.
__ADS_1
Zhaoling terkekeh melihat istrinya malu-malu. "Tubuhku bagus, bukan? Apa kamu ingin mencoba menyentuhnya?" tanya Zhaoling menggoda.
Xin'er membulatkan mata mendengar perkataan Zhaoling. "Hei. Kau pikir aku gadis seperti apa!" bentak gadis itu seraya melayangkan pukulan.
Namun, dengan satu gerakan saja, Zhaoling dapat menangkapnya. Tubuhnya mendekat mengikis jarak antara dirinya dan Xin'er. Wajahnya perlahan maju seperti ingin mencium gadis dihadapannya itu.
Jantung Xin'er berdegup kencang kala tangan Zhaoling mengelus pipi mulusnya. Sensasi geli yang dirasakan olehnya terasa luar biasa, membuat dirinya tak sadar memejamkan mata menikmati sentuhan tangan halus Zhaoling yang kini bergerak mengusap bibir tipisnya.
Zhaoling tersenyum seraya memajukan wajahnya. Bibirnya tebalnya mendarat mulus di bibir merah Xin'er, membuat gadis itu terkejut.
Tangan Xin'er tak tinggal diam. Dia mendorong dada bidang Zhaoling seraya memundurkan wajahnya. Namun, dengan cepat pria itu menahan tengkuk Xin'er sambil terus memperdalam kecupannya.
Xin'er akhirnya tak bisa melawan, karena sentuhan Zhaoling benar-benar membuatnya melayang. Tanpa sadar, dia mengalungkan tangan di leher pria dingin dan sombong tersebut.
Dari keduanya, tak ada niat untuk menyudahi permainan bibir mereka. Walaupun awalnya, Xin'er kesulitan untuk mengimbangi permainan Zhaoling, tapi pria itu memberikan jeda sedikit supaya Xin'er nyaman.
"Aku mencintaimu, Xin'er!" lirih Zhaoling saat bibirnya terus menelusuri leher jenjang istrinya dan meninggalkan beberapa tanda merah.
Xin'er yang terbuai oleh perlakuan Zhaoling pun tak kuasa menahan hasratnya. Dia meremas rambut Zhaoling dengan nafas memburu. Tapi, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahan yang disematkan Pangeran Ketiga berada tepat didepan matanya, membuat ia mendorong keras Zhaoling ke belakang.
"Ti-tidak!" telapak tangan membekap mulutnya karena tak mampu berkata-kata.
Zhaoling yang sudah terbakar hasrat segera terkejut melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba mendorongnya. "Ada apa, Xin'er?" tanya pria itu dengan nada berat.
Xin'er membuang wajahnya kesamping dengan diikuti pergerakan balik badan. "Jangan dekati aku, Aling! A-aku seorang wanita bersuami," lirihnya dengan air mata menetes. Tanpa berbicara lagi, dia pun berlari meninggalkan Zhaoling yang mematung di tempatnya.
"Xin'er, tunggu! Aku adalah suamimu," namun sayang, ungkapan kejujuran Zhaoling tak didengar oleh istrinya itu. Karena, Xin'er sudah berlari tanpa perduli teriakan darinya.
__ADS_1
Helaan nafas berat terdengar dari mulutnya. Zhaoling mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menendang udara. "Dasar bodoh kau, Aling. Harusnya kau tak melakukan ini!" sesalnya kemudian.
...Bersambung gaess ......