Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Serangan Penyusup


__ADS_3

Brak ...


Sebuah gebrakan di meja yang dilakukan seseorang begitu keras hingga menyebabkan retakan. "Apa kalian tidak punya otak? Bisa-bisanya kalian beramai-ramai datang ke kediaman Pangeran Ketiga dan mengusik ketenangan Xin'er?" hardik orang tersebut dengan emosi yang membuncah. "Bagaimana jika Kaisar dan Permaisuri tahu? Kalian semua pasti dihukum," cerca Zhaohan lagi.


Orang tersebut adalah Pangeran Zhaohan. Ya. Dia sudah mengetahui bahwa para selirnya mendatangi Istana Zhoseng dan menggangu Xin'er. Pangeran Zhaohan pun mendengar jika salah satu selirnya menyakiti Xin'er dengan cara menarik rambut, serta melukai kepalanya. Ingin sekali Zhaohan melenyapkan para selirnya yang berbuat kasar pada wanita pujaannya. Tapi, keinginannya hanya sebatas dalam hati. Dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini, karena Ibu Suri selalu mengawasi gerak geriknya.


Walau bagaimanapun juga, para selir ini dipilihkan langsung oleh Ibu Suri dan ibundanya melalu seleksi terbaik. Para selir ini adalah putri dari para bangsawan berbagai jabatan, dan tentunya para pendukung setia mereka. Jika bukan karena dukungan mereka, ibunya yaitu Selir Wang Xiumeng tak kan bisa bertahan lama di Istana. Zhaohan sudah ingin menendang semua selirnya saat ini juga. Tapi, dia harus memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


"Maafkan atas kelancangan kami, Yang Mulia! Kami marah karena kami cemburu," sahut salah satu selir seraya menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatap mata Zhaohan secara langsung.


Keberanian salah satu selir itu menarik selir yang lain untuk berkata juga. "Dia benar, Yang Mulia. Kami tak mau jika, Putri Xin'er menggantikan posisi kami di Istana Harem ini." cetusnya dengan lantang. "Bagaimanapun juga, Putri Xin'er sudah menikah dengan Pangeran Ketiga dan saat ini dia adalah adik ipar Anda, Yang mulia." lanjutnya kemudian.


"Betul, Yang Mulia!" timpal yang lain dengan serempak.


Mendengar ucapan berani para selirnya, kemarahan Zhaohan semakin memuncak. "Kalian ingin mengatur hidupku? Cih. Hanya karena dukungan dari Ibuku dan Ibu Suri, kalian seberani itu terhadapku? Mau menentang semua keinginanku?" bentak Zhaohan dengan keras.


Para Selir menjadi ketakutan saat tatapan tajam mengintimidasi mereka. Sorot mata Zhaohan menggambarkan rasa kebencian serta kemarahan yang teramat sangat. Mereka yakin, jika sepatah kata lagi terucap, maka Zhaohan pasti akan menendang mereka semua.


"Maafkan kami, Yang Mulia! Kami tidak bermaksud ..." ucapan para selir terpangkas karena Zhaohan segera mengangkat tangannya.


"Keluar!" ucapnya singkat.


Para selir saling pandang sebelum melangkah keluar. Wajah mereka saat ini ditekuk karena Zhaohan mengusir semuanya dari ruang pribadi miliknya. Namun, sebelum benar-benar pergi, mereka harus terhenti karena mendengar seruan Zhaohan kembali. "Tunggu!" mereka menoleh dengan kebingungan. "Kamu dan kamu, layani aku!" tunjuk Zhaohan memilih dua selirnya. "Saat ini aku ingin merasakan pijatan istimewa kalian," lanjutnya dengan nada menggoda.


Kedua selir yang ditunjuk pun segera menjadi senang karena terpilih melayani hasrat suami mereka. Itu artinya, mereka masih diinginkan oleh Pangeran Pertama tersebut. Sedangkan untuk yang lain, semuanya keluar dengan perasaan yang sulit diartikan, karena Zhaohan segera mengusirnya. Tapi, mereka juga sedikit senang mendengar perkataan Zhaohan bahwa akan ada saatnya mereka dibutuhkan.


...💫💫💫💫...


Malam ini, udaranya sangat dingin bahkan sampai menusuk tulang. Langit pun gelap gulita tanpa sinar sang Rembulan dan kerlip Bintang. Suara gemuruh terdengar nyaring menemani gelapnya malam. Mungkin, malam ini akan turun hujan lebat. Walaupun cuaca malam ini tak bersahabat, tapi para prajurit tetap semangat berjaga di pos mereka masing-masing.


Pasukan Militer terus berpatroli mengelilingi Istana dari gerbang utama sampai gerbang depan. Para Jendral silih berganti bersama pasukan masing-masing yang ditunjuk Zhaoling untuk berjaga di berbagai gerbang Istana. Mulai dari Gerbang Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Semua kebagian dalam menjaga pertahanan gerbang Istana.

__ADS_1


Tapi, prajurit kemiliteran selalu dipusatkan di gerbang utama dan belakang, yang merupakan jalan keluar masuk bagi semua orang. Gerbang tersebut memiliki pintu yang berukuran besar, sehingga memudahkan kereta kuda untuk melewatinya.


Walaupun gerbang utama dan gerbang belakang dijaga begitu ketat, gerbang lain pun tetap dijaga tak jauh berbeda. Panglima meyakini, bahwa penyusup akan menyelinap diantara gerbang tersebut, karena mengira jika penjagaan diarea tersebut kurang.


Setiap Kerajaan memiliki sistem keamanan masing-masing, sesuai pengaturan Panglima Perang mereka. Begitupun dengan Kerajaan Xili. Seluruh pasukan militer akan terus bergantian mengelilingi luasnya Istana, agar tidak kecolongan oleh musuh.


Walaupun penjagaan begitu ketat, tetap saja para prajurit terkecoh dengan kedatangan musuh. Ditambah lagi, cuaca malam ini benar-benar mendukung untuk para musuh itu bertindak.


Saat para prajurit berpatroli, Sekelebat bayangan terlihat bergerak melompati atap bangunan di Istana dalam. Mereka yang melihat bayangan bergerak diatasnya segera mendongak, tapi tak dapat menemukan apapun di sana.


Mungkin, mereka mengira itu hanya gambaran petir yang membelah di langit, sehingga tak mencurigai apapun saat ini. Mereka kembali berjalan untuk berkeliling lagi.


Sekelebat bayangan itu tampak berjongkok di atap, setelah tahu bahwa para prajurit menyadari keberadaannya. Dia merundukan tubuh serendah mungkin, agar tak terlihat para prajurit yang sedang berpatroli.


Walaupun pakaiannya serba hitam, dan pergerakannya seperti ninja, tapi tetap saja dia tak ingin sampai ketahuan dan mengundang perhatian pasukan militer. Jika sampai itu terjadi, hidupnya pasti dalam bahaya.


Setelah memastikan tak ada yang melihatnya lagi, musuh yang terdiri dari tiga orang itu segera bergerak cepat sesuai rencana awal mereka. Ketiganya bergerak melewati bangunan-bangunan Istana dalam, menuju tempat yang sudah diincarnya.


Mata mereka bergerak mengawasi sekitaran dan memastikan tak ada yang berjaga. Setelah cukup yakin, ketiganya melompat turun dari atap dan mendarat di tanah tanpa menimbulkan suara. Mereka berjalan mengendap seperti seorang maling yang takut ketahuan pemilik rumah, dengan mata yang terus mengawasi situasi dan kondisi sekitaran.


Salah satu ninja tersebut menggerakkan tangan menyuruh mereka berpencar. Satu ke sisi kiri dan satunya ke sisi kanan, sedangkan dia sendiri maju di depan. Ketiganya saat ini sedang mengepung salah satu bangunan mewah di dalam Istana. Bangunan tersebut memiliki halaman yang cukup luas, dengan berbagai keindahannya. Kolam ikan hingga taman bunga sendiri, dengan gazebo yang dihias ukiran kayu jati.


Ya. Bangunan mewah ini adalah Istana Zhoseng, kediaman Pangeran Ketiga. Walaupun Istana Zhoseng terlihat mewah, namun Istana ini tak lebih besar dari pada milik Pangeran yang lainnya. Karena, Pangeran Ketiga meminta agar kediamannya dibuat sederhana namun elegan.


Ketiga penyusup tadi masuk secara bebas ke dalam Istana Zhoseng, karena tak adanya para penjaga diarea halaman. Para penjaga hanya ditempatkan di pintu masuk saja, sedangkan para penyusup melompat melewati atap bangunan. Sehingga, kedatangan mereka tak diketahui penjaga.


Malam yang semakin larut, dengan diselimuti hawa dingin membuat penghuni Istana tak terusik dari tidurnya, walaupun suara langkah kaki terdengar mulai memasuki ruangan.


Ketiga penyusup masuk kedalam Istana Zhoseng dengan tujuan hanya satu, membunuh penghuni Istana tersebut. Baik itu Pangeran Ketiga ataupun Xin'er, keduanya harus dilenyapkan.


Kreeettt

__ADS_1


Pintu perlahan mulai dibuka dari luar, dan segera ditutup kembali saat mereka sudah masuk. Mereka terus waspada, jika ada pergerakan dari penghuni kamar tersebut.


Terlihat, dua orang sedang tertidur di ranjang kamar tersebut dengan saling berpelukan. Wajah mereka tak terlihat karena penerangan di sana dimatikan. Namun, para penyusup yakin bahwa keduanya adalah Pangeran Zhaozu dan Xin'er.


Mengingat jika Pangeran Ketiga adalah pria pesakitan dan tak bisa ilmu bela diri, mereka pun semakin percaya diri saat ini. Walaupun Xin'er pandai menggunakan pedang, tapi mereka yakin jika gadis itu takkan bisa mengalahkan ilmu mereka.


Ketiga penyusup tersebut segera mengeluarkan sebilah pedang dan mengarahkannya ke depan. Setelah mereka saling pandang terlebih dulu, kemudian ketiganya mengangguk secara bersamaan dan maju perlahan seraya mengacungkan pedangnya keatas bersiap untuk menebas.


Trang ...


Sebuah benda yang terbuat dari besi pun segera membentur pedang ketiga penyusup tersebut. Xin'er saat ini sudah terduduk dengan memegang pedang ditangannya guna menghalau serangan tiba-tiba para penyusup.


Ketiga penyusup tercengang, karena Xin'er bisa terbangun tepat waktu dan menahan serangan dari mereka. Padahal, ketiganya ahli dalam menyelinap dan pekerjaan membunuh seperti ini tak pernah gagal. Para korban mereka tak pernah bisa memberikan perlawanan, karena pergerakan mereka hampir sangat senyap dan juga tiba-tiba. Korban akan langsung mati tanpa tahu siapa pembunuh mereka saat itu. Tapi saat ini, Xin'er yang hanya seorang gadis biasa, bisa menyadari akan pergerakan mereka.


"Siapa kalian? Beraninya masuk ke kediaman Pangeran?" tanya Xin'er dengan sengit.


Mereka saling pandang. "Sial. Dia bangun!" seru salah satunya.


"Ayo, kita harus bergerak cepat!" sahut yang lain menimpali.


Mereka bergegas menekan lebih kuat pedang yang ditahan Xin'er dengan sekuat tenaganya. Tangan gadis itu tampak bergetar karena harus menahan tenaga tiga pria secara langsung. Dia tampak kewalahan, namun tetap mencoba menahannya dengan kuat.


Orang yang tidur di samping Xin'er pun lekas bangun karena terkejut mendapati tiga pria memakai penutup wajah sedang mengarahkan pedangnya. Dia segera menendang perut mereka menggunakan kaki dengan sekuat tenaga, hingga mereka mundur ke belakang.


Setelah mendapatkan celah untuk berdiri, ia segera berteriak dengan keras. "Penyusup. Beraninya masuk ke dalam Istanaku! Pengawal, cepat datang! Ada penyusup,"


Melihat orang tersebut berlari kearah pintu dan berteriak, para penyusup itu segera bertindak untuk menghentikannya. Pedang ditangannya segera terayun kearah punggung orang tersebut dan ...


Sreeettt ...


"Akkhhh," Sebuah luka goresan akibat pedang tercetak di punggungnya, membuat ia tumbang dan jatuh ke lantai. Darah seger menetes dari luka tersebut dan membasahi pakaiannya.

__ADS_1


"Tidak!" Xin'er berlari menghampirinya, namun segera dihentikan salah satu penyusup itu. "Minggir kau, sialan!"


...Bersambung, ...


__ADS_2