
Hari-hari di Istana dimulai lagi oleh Xin'er seperti biasanya. Semenjak kembali, Xin'er memutuskan untuk melatih tubuhnya dengan latihan fisik.
Awalnya, Pangeran Ketiga tidak mengijinkan istrinya itu masuk ke kamp militer untuk berlatih bersama para prajurit. Bagaimana pun, kenangan buruk di tempat tersebut masih melekat dalam ingatannya sampai saat ini. Walaupun kejadian itu sudah sangat lama, tapi dia masih ketakutan jika insiden mengerikan yang dialaminya dulu menimpa orang lain lagi, terutama yang dicintainya.
Pangeran Ketiga belum menemukan titik terang siapa dalang dibalik insiden kebakaran dua puluh tahun lalu. Dia ingin menangkap orang tersebut dan menanyakan maksud serta tujuan orang itu mencelakai dirinya dan kakaknya sampai mati.
Tapi, hingga kini Pangeran Ketiga belum mendapatkan satu petunjuk pun yang mengarah pada kejadian kebakaran gudang militer itu.
Saat ini, Xin'er sedang duduk dihadapan dua orang pria yang membuat hatinya bimbang. Ya. Dihadapannya kini ada Pangeran ketiga dan juga Panglima Zhaoling, yang duduk dengan tegap menanti ucapan yang akan terlontar dari bibir Xin'er. Suasana menjadi hening seketika, dengan dibarengi rasa canggung.
"Umm, Panglima. Boleh kan aku ikut latihan di kamp militer?" tanya Xin'er memulai percakapan setelah cukup lama diam.
Panglima dan Pangeran Ketiga saling pandang, kemudian menoleh kearah Xin'er yang menunggu jawaban dengan harap-harap cemas. Jarinya sampai saling bertautan karena takut ditolak secara langsung oleh Zhaoling.
"Apa tujuanmu masuk kedalam kemiliteran? Menjadi seorang kesatria? Atau, hanya ingin pamer dan menggoda para prajurit di kamp?" tuding Zhaoling dengan nada ketus.
Pangeran Ketiga segera menoleh saat Zhaoling berbicara dengan nada tinggi kepada Xin'er. "Panglima Zhaoling. Bisakah kau menurunkan nada bicaramu pada istriku? Dia terlihat ketakutan saat mendengar bentakkanmu," decak Zhaozu seraya melirik Xin'er yang terlihat biasa saja walaupun dibentak. "Lagipula, dia memang berniat berlatih, bukan mencuri perhatian prajurit! Jangan menuduh sembarangan, Panglima! Ingat batasan mu," imbuhnya lagi.
Kemudian, Pangeran memperhatikan wajah Xin'er dari balik cadar hitamnya. Gadis itu seakan tak perduli dengan nada ketus Panglima Xili tersebut. "Aneh. Apa Xin'er memang sudah mempersiapkan mental untuk masuk ke kamp militer? Dia bahkan tak terpengaruh walaupun Zhaoling sangat kasar!" batin Zhaozu bermonolog.
Sementara, Zhaoling masih tetap santai walaupun Pangeran menegurnya. Tak ada sedikitpun rasa takut dari wajahnya, saat Pangeran menekan setiap ucapannya. "Aku takkan menerima murid yang hanya ingin bermain-main," tutur Zhaoling menjelaskan.
"Tapi aku bersungguh-sungguh, Aling!" Xin'er bersikukuh pada tekad sebelumnya, sambil menyentuh tangan Zhaoling, membuat Pangeran Ketiga terkejut. "Mm-maksudku, Tuan Zhaoling!" ralat Xin'er seraya melepaskan tangannya dari tangan Zhaoling.
Gadis itu merutuki kebodohannya karena bersikap lebih akrab kepada Zhaoling dibanding suaminya. Dia menunduk sambil mengetuk kepalanya pelan. "Bodohnya kamu, Xin'er! Jika Zhaozu tahu bahwa kau dekat dengan Zhaoling, pasti dia akan marah dan menarik kembali izinnya untuk masuk kamp militer." batin Xin'er.
Zhaoling tersenyum seraya berdiri. "Apa yang akan kau lakukan untuk membuatku percaya, bahwa kau benar-benar ingin belajar?" tanya pria dingin itu tanpa menoleh.
__ADS_1
"Kamu bisa memantau ku tiap hari," sahut Xin'er.
"Itu tidak cukup!" kata Zhaoling sambil melirik sekilas.
Xin'er terdiam sambil memikirkan hal lain yang bisa digunakan untuk membuktikan kesungguhannya. Tiba-tiba, Zhaoling berkata sesuatu yang bertujuan untuk menggodanya dan juga supaya Xin'er tak mau masuk militer lagi. "Seorang kesatria harus bangun lebih awal untuk mengisi seluruh tong air, membersihkan semua peralatan perang, membersihkan seluruh kuda, dan berlatih fisik dibawah panasnya Mentari. Apa kau sanggup?" seringai Zhaoling tampak terlihat.
Gadis itu terdiam mendengar ucapan Zhaoling. Begitu sulitnya menjadi seorang kesatria seperti idamannya. Menjadi yang kuat dan tak terkalahkan, itu yang diinginkan Xin'er saat ini. Dia harus bisa melindungi diri sendiri dan juga orang-orang disekitarnya yang memerlukan bantuan. Dia tak mau jadi bahan olokan semua orang, hanya karena berasal dari keluarga biasa. Xin'er harus membuktikan bahwa dirinya layak berada di Istana ini dengan kemampuan yang dimiliki.
Bagi Yoona, pelatihan di kemiliteran sudah biasa dilakukan, bahkan pelatihan paling sulit pun sudah ia lewati. Tapi, bagaimana dengan kondisi tubuh yang lemah milik Xin'er ini? Apakah daya tahan tubuh Xin'er akan sekuat Yoona? Walaupun sedikit ragu, Xin'er berkata. "A-aku ... aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan padaku!" sahut Xin'er cepat.
"Benarkah!" seru kedua pria itu terkejut. Keduanya saling pandang, kemudian mengangguk penuh arti. Mereka tak menyangka, jika syarat itu malah disetujui Xin'er. "Pelatihan ini sangat berat. Kau pasti akan lelah," imbuh Zhaoling.
"Ah, tidak masalah! Selama aku bisa melatih otot-ototku ini, aku akan tetap bertahan di tempat pelatihan!" pungkasnya penuh semangat, seraya mengangkat kedua tangan dan memperlihatkan ototnya.
"Gadis keras kepala," batin keduanya.
Pangeran Ketiga segera menarik tangan Xin'er untuk duduk. "Sudah ... sudah! Ayo, duduk dulu!" Xin'er pun menuruti perkataan Pangeran Ketiga, namun matanya sekilas melirik Zhaoling yang terlihat menahan amarah. "Aku cuma mau tanya. Apa kamu benar-benar yakin akan masuk kemiliteran? Kalau kamu setiap hari di kamp militer, aku akan kesepian dong!" ucap Pangeran Ketiga merajuk seraya menggoyangkan pegangan tangannya Xin'er.
Sedangkan Zhaoling terlihat mengepalkan tangannya kesal. "Cih, minta dihajar tuh bocah!" batin Zhaoling seraya memalingkan wajahnya kearah lain.
Xin'er tak enak hati melihat Pangeran yang manja kepadanya dan membuat Zhaoling cemburu. Dia segera tersenyum canggung sambil melepaskan genggaman tangan Pangeran. "Aku hanya latihan dari pagi sampai sore. Malemnya kan ama kamu,"
"Janji, ya!" Pangeran mengulurkan jari kelingkingnya kearah Xin'er membuatnya mengerutkan kening.
"Apaan ini?" tanya Xin'er heran.
Pangeran berdecak. "Bukankah ini janji persahabatan? Kamu sendiri yang bilang padaku,"
__ADS_1
Ucapan Pangeran berhasil menarik perhatian Zhaoling. Dia menatap tajam kearah pria itu, kemudian menoleh kearah Xin'er dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Apa dia mengatakan itu kepada pria lain juga selain diriku? ckk, aku tak percaya itu!" batin Zhaoling kesal.
Xin'er tertegun mendengar penuturan suaminya. Dia memang mengatakan itu pada suaminya saat mereka berdua ngobrol di kamarnya. Namun, Xin'er menjadi tak enak hati pada Zhaoling yang sedari tadi diam tanpa berkata apapun. Akhirnya, Xin'er tertawa hambar. "Hahaha. Benar! Aku memang mengucapkan itu. Baiklah, aku janji!" jari kelingkingnya pun dikaitkan di jari kelingking Pangeran. Setelah itu, ia lekas berdiri dan menghampiri Zhaoling yang berdiri sambil bersidekap. "Aku pun berjanji akan berlatih sungguh-sungguh!" diulurkan jari kelingkingnya kearah Zhaoling sambil tersenyum. Namun, pria itu malah mengacuhkannya.
"Baiklah. Mulai besok, kau harus sudah mempersiapkan segalanya dan datanglah tepat waktu!" ucapnya seraya berlalu pergi.
"Apa dia benar-benar cemburu?"
...💫💫💫...
Hati Zhaoling saat ini lagi kesal setelah melihat kemesraan Pangeran Ketiga dan Xin'er dihadapannya tadi. Dia terus memukul alat pelatihan di kamp tanpa henti. Ingin sekali pukulan ini melayang di wajah pria bercadar hitam itu.
"Dasar brengsek!" umpatnya kesal seraya terus memukul alat latihannya.
Seorang pria datang ke tempat dimana Zhaoling sedang latihan memukul. Dia terkejut melihat ungkapan amarah yang Zhaoling salurkan kearah alat pelatihan, sampai melukai tangannya. "Tuan, hentikan!" ucapnya menghentikan pukulan Zhaoling. "Apa yang membuatmu marah seperti ini? Apa karena gadis itu?" tebaknya.
Zhaoling melirik sekilas, kemudian melanjutkan kembali pelatihannya. "Jangan menggangguku! Pergi sana," usirnya pada pria itu.
Bukannya pergi, pria itu tetap bersikukuh menahan pukulan Zhaoling di alat latihan. "Tuan. Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak melakukan ini! Cinta itu buta. Kau pasti akan marah jika melihat gadis yang dicintai justru bermesraan bersama pria lain di hadapanmu!" tuturnya.
Zhaoling pun menghentikan aksinya dan segera duduk di lantai. Mereka terdiam cukup lama, sampai Zhaoling membuka suaranya. "Yu Xuan. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan agar Xin'er tidak marah dengan masalah ini? Aku takut jika dia tak bisa memaafkan kesalahanku," ungkapnya sedih.
Helaan nafas terdengar dari mulut Yu Xuan. "Tuan, sebaiknya dicoba dulu! Kamu itu harus yakin jika Tuan Putri akan menerima semua penjelasanmu. Jangan membuat dia semakin salah paham atas semuanya! Sebaiknya kau mengatakan kejujurannya, sebelum dia tahu dari orang lain." nasihat Yu Xuan.
"Kau benar, Yu Xuan! Aku harus mengatakannya. Tapi saat ini, aku ingin memukul seseorang. Apa kau mau menggantikannya?" Yu Xuan mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Zhaoling.
"Apa aku pantas dipukul? Oh, ya Tuhan. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku tak pernah datang kemari!" ucap Yu Xuan datar dan segera berlari.
__ADS_1
"Hei, tunggu! Tak sopan kau, Yu Xuan. Aku belum memukulmu dan kau malah pergi begitu saja!" teriak Zhaoling segera mengejarnya. "Yu Xuan. Kemari, kau!" teriaknya lagi sambil terus mengejar Yu Xuan dan temannya itu tetap berlari untuk menghindari amukan Zhaoling.
...Bersambung, gaess ......