
"Lapor, Panglima! Ada pemberontakan di wilayah Utara dekat Pegunungan Fujiko!" seorang prajurit berjongkok menghadap Zhaoling di markas militer.
Zhaoling yang sedang duduk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya, segera mendongak menatap prajurit tersebut. "Berapa banyak jumlah pemberontak tersebut?" tanya Zhaoling.
"Sekitar tiga puluh orang, Panglima." jawab prajurit itu cepat.
Mendengar jawaban prajurit tersebut, Zhaoling kembali mengerjakan pekerjaannya sambil berkata tanpa memandangnya. "Aku akan menyuruh Jendral Jiu untuk berangkat. Kau beritahu prajurit lain untuk ikut bersamanya!" jelasnya.
"Siap, Panglima!" Kemudian, prajurit itu beranjak dan keluar dari ruangan Zhaoling.
Tanpa beranjak dari tempatnya, Zhaoling berteriak memanggil orang kepercayaannya. "Liu Wei, Yu Xuan!"
Si pemilik nama segera muncul dan menunduk hormat dihadapan Zhaoling. "Ya, Tuan!"
"Selidiki siapa pemimpin pemberontak di wilayah Utara dekat Pegunungan Fujiko! Jika ilmunya rendah, kalian langsung habisi dia. Tapi, jika dia berilmu tinggi, segera kembali dan jangan bertindak gegabah!" tegas Zhaoling tanpa menoleh.
Liu Wei dan Yu Xuan segera mengangguk. "Baik, Tuan!" keduanya bersiap pergi, namun Zhaoling menghentikannya lagi sambil menatap mereka berdua.
"Pastikan kalian selamat! Jangan membuatku harus menyusul kesana!" lanjutnya lagi dengan nada khawatir.
Sebenarnya, ilmu Liu Wei dan Yu Xuan cukup tinggi. Namun, entah mengapa ada rasa khawatir yang timbul saat ini. Apa mungkin itu hanya perasaannya saja? Ataukah, memang ada bahaya yang menunggunya? Tapi, mendengar penuturan prajurit tadi, pemberontak hanya berjumlah tiga puluh orang dan dia pun sudah menugaskan Jendra Jiu untuk kesana. Jadi, sekarang dia tak harus khawatir bukan! Keduanya pun pergi diam-diam sebelum pasukan Jendral Jiu berangkat.
Zhaoling segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas ke Istana Zhoseng untuk menemui istrinya tanpa diketahui siapapun. Tak lupa ia memakai pakaian Pangeran Ketiga dan cadar hitam yang selalu menutupi wajahnya.
Sebelum Pangeran tiba di Istananya, seorang pria telah lebih dulu kesana menemui Xin'er yang tengah duduk minum teh bersama kedua pelayan pribadinya.
Pria itu tersenyum ramah dan berkata sopan untuk menarik perhatian darinya. "Hai, Putri cantik jelita! Lama tidak berjumpa," cetusnya dengan nada menggoda seraya duduk tanpa di persilahkan
Melihat pria tersebut yang datang dan langsung duduk didepannya, membuat Xin'er kesal sampai menatapnya tajam. "Apa sifat asli Anda memang seperti ini, Pangeran Zhaohan? Tidak tahu sopan santun!" ketusnya seraya berdiri.
Pangeran Zhaohan langsung menarik tangan Xin'er supaya duduk kembali. "Kenapa memangnya? Aku seorang Pangeran dan sudah seharusnya tidak bersikap merendah seperti seorang pelayan, bukan? Tapi, jika kau ingin aku merendah seperti seorang pelayan, aku bisa melakukannya asalkan kau jadi Selirku." ungkapnya langsung.
__ADS_1
Xin'er dan kedua pelayan pribadinya langsung membulatkan mata mendengar perkataan Zhaohan. Pria itu dengan mudah mengatakan hal yang tak mungkin dilakukan seorang Pangeran terhadap Istri adiknya sendiri, walaupun mereka beda ibu.
Zhaohan melanjutkan ucapannya lagi. "Xin'er. Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar saja. Apa harus ada aturan untuk itu?" tanya pria itu sedikit merajuk.
Bagi Xin'er, sikapnya itu sangat menjijikan. Dia tak ingin berlama-lama bersama pria tak tahu malu ini. "Pergilah dari sini, Pangeran Zhaohan! Aku tak kan pernah mau menjadi Selir mu sampai kapanpun." ketusnya lagi sambil menepis tangan Zhaohan yang sempat menggenggam tangannya .
"Uh, manis sekali kalau kau sedang marah." pujinya dengan senyum mengembang. "Kau tahu, Xin'er. Saat melihat kau beraksi waktu itu, aku sungguh sangat kagum padamu. Aku menyesal, kenapa waktu dulu aku tak langsung membawamu ke Istanaku!" ucapnya dengan nada sedih. "Tapi, tidak apa-apa! Masalah dulu lebih baik dilupakan. Sekarang, aku akan memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita!" lanjutnya kemudian.
Mendengar perkataan Zhaohan, membuat Xin'er ingin muntah. Apa katanya tadi? Memberikan kesempatan Xin'er untuk memperbaiki hubungan? Hubungan apa yang dia maksud?
Huh, rasanya sangat kesal melihat wajah sombong si pria mesum ini. Setiap hari dipikirannya yaitu hanya bersenang-senang dan mencicipi daun muda dengan alasan menjadikannya Selir. Sudah banyak gadis yang tergoda oleh bujuk rayu setan bermuka Pangeran ini.
"Maaf, Pangeran Zhaohan! Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Anda. Bisakah Anda pergi dari tempat saya? Rasanya, saya ingin muntah jika terus mendengar perkataan melantur serta melihat wajah busuk Anda disini!" sarkas Xin'er namun dengan nada hormat.
Diejek seperti itu, tak membuat Zhaohan patah semangat. Dia terus mendekati tubuh Xin'er sampai gadis itu mundur kebelakang dan hampir jatuh. Namun, tangan Zhaohan segera melingkar di pinggang ramping Xin'er dengan sedikit memeluk. "Aku suka pujian darimu, Xin'er. Andaikan kau mau jadi Selir ku, aku berjanji akan mengusir semua Selir di Istana Harem ku hanya demi kamu. Dan jika kau mau, aku bisa mengusir Istriku juga saat ini. Jadi, bagaimana tawaranku?" tanya Zhaohan penuh harap.
Xin'er segera mendorong tubuh tegap Zhaohan dengan kekuatan penuhnya. "Beraninya berkata seperti itu kepadaku, pria mesum! Mendengar perkataan seperti ini, aku merasa terhina menjadi seorang wanita." hardiknya kesal. "Aku bukan wanita yang tega merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaanku! Lagipula, aku cukup bahagia menikah dengan satu pria dan dia hanya memilikiku sebagai wanitanya. Jadi, jangan pernah berharap agar aku mau bersamamu!" bentak Xin'er lagi.
Hancur sudah tembok pertahanan Xin'er untuk menahan emosi. Dia sungguh geram mendengar perkataan tak senonoh pria dihadapannya itu. Bagaimanapun, pria itu adalah kakak iparnya sendiri. Tapi, dia dengan terang-terangan menggoda istri adiknya tersebut dengan berbicara tak sopan.
Plak
"Beraninya kau ..." Xin'er tak mampu melanjutkan perkataannya setelah menampar wajah Zhaohan, karena kini seseorang datang ke tempatnya dengan teguran keras.
"Gadis lancang!" teriak seorang wanita tua yang ternyata adalah Ibu Suri. Nenek itu mendekat dan kemudian menampar balik Xin'er dengan keras.
Plak
Wajah Xin'er sampai memerah akibat pukulan keras yang didaratkan wanita tua tersebut. Bahkan, ada sedikit darah keluar dari sudut bibir, dan itu membuktikan bahwa seberapa kuat Ibu Suri menamparnya.
Mengshu dan Yuelie segera mendekati Xin'er dengan memegang bahu di kiri dan kanannya sebagai penguat. Mereka tak bisa membantu apa-apa karena keduanya hanya seorang pelayan. "Nona, tidak apa-apa?" tanya keduanya khawatir dan Xin'er hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Wanita tua itu mendekat dan kembali mencengkram wajah Xin'er dengan kuat. "Kau berani menampar Putra Mahkota Kerajaan ini? Apa kau tak takut mati?" bentak Ibu Suri tanpa tahu alasannya.
Xin'er tak menjawab apapun dan hanya diam tanpa meringis kesakitan, walaupun kedua pipinya ditekan kuat oleh Ibu Suri.
"Kau hanya memiliki wajah lebih cantik dari para putri yang lain saja sudah begitu sombong. Apalagi jika kau memiliki segalanya," cerca Ibu Suri sambil menghempaskan wajah Xin'er dengan keras.
Zhaohan tersenyum senang karena Ibu Suri selalu membelanya tanpa bertanya yang sesungguhnya. Namun kini, ia berpura-pura baik untuk menarik simpati semua orang.
"Ibu Suri. Jangan seperti itu! Bagaimanapun, Putri Xin'er masih sangat muda dan belum tahu tatakrama Kerajaan kita. Aku yang salah disini," ucapnya penuh penyesalan.
Baik itu Xin'er, Mengshu, dan Yuelie. Ketiganya sangat ingin memukul pria bermuka dua itu dan menendangnya keluar angkasa. Zhaohan memang pandai mencari perhatian, apalagi orang-orang yang menyayanginya lebih dari apapun.
Ibu Suri selalu memanjakan dirinya, walaupun Beliau tahu bahwa Zhaohan hanya putra dari seorang Selir. Awalnya, Ibu Suri tak menyukainya dengan alasan tersebut. Namun, saat kematian Pangeran Zhaoliang dan Pangeran Zhaozu dinyatakan cacat, Beliau gencar memperhatikan Zhaohan serta memberikan kasih sayang berlebihan dan balik membenci Zhaozu.
Zhaozu selalu dihina dan diremehkan layaknya seorang anak pungut. Padahal, pemuda itu adalah pewaris yang sah dan Putra Mahkota sesungguhnya Kerajaan Xili. Tapi bagi Ibu Suri, Zhaohan lah yang pantas menjadi Putra Mahkota.
Ibu Suri menatap tajam Xin'er, kemudian menarik tangan Zhaohan. "Ayo, pergi dari sini! Jangan sampai kau tergoda oleh gadis busuk ini! Wajah cantiknya itu hanya topeng belaka agar bisa menggoda banyak pria. Sesungguhnya, dia memiliki banyak tipu muslihat untuk menjerat para Pangeran seperti kamu." ketusnya seraya pergi dan Zhaohan pasrah mengikuti.
Para pelayan yang mengikuti Ibu Suri dan Zhaohan cekikikan melihat Xin'er yang dipermalukan seperti itu oleh Ibu Suri. Mereka berbisik sambil sesekali menatap sinis kearah Xin'er dengan mengejek.
Tangan Xin'er terkepal mendengar perkataan nenek tua itu. Tapi, ia memilih untuk tak melakukan apa-apa karena tak ingin menambah buruk citra Pangeran Zhaozu dihadapan Ibu Suri. Bagaimana pun, saat ini dia adalah istri dari Pangeran Ketiga. Dia tidak boleh memberikan kesempatan orang lain untuk menghina suaminya.
"Nona. Ayo, kita bersihkan luka Anda!Tamparan Ibu Suri sangat keras, sampai meninggalkan luka lebam cukup parah dan sedikit luka." ujar Yuelie menarik Xin'er untuk duduk.
Setelah itu, ia berlari masuk kedalam ruangan dan kembali dengan baskom berisi air hangat. Mengshu lekas membantu membersihkan luka dan menutupinya dengan obat.
Pandangan Xin'er saat ini kosong. Ia bahkan tak mendengar ocehan kedua pelayannya yang sedang menjelek-jelekkan Ibu Suri dan Zhaohan. Xin'er diam tanpa bersuara sepatah katapun. Dia terlalu geram dengan perbuatan yang dilakukan Ibu Suri padanya.
"Jadi, ini yang selalu ayah takutkan! Keluarga Kerajaan memang sangat berbahaya. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk bisa bertahan disini? Hah, Dewa. Bantu aku untuk lebih kuat dan bisa bertahan hidup didalam neraka jahanam ini!"
...Bersambung gaes ......
__ADS_1
Update tak menentu, diharap sabar menunggu ya gaes!