
Warning 21+
Si Anwar sama ceu Nining yang bersatu menjadi Warning, atau Wareg geuning.
Bocil diharap skip, karena ada adegan yang bisa membuat emosi jiwa dan raga. Mohon untuk di mengerti dan tidak coba-coba membacanya.
Happy reading, gaess ...
...💫💫💫💫...
Zhaoling, Yoona, Liu Wei dan Yu Xuan. Saat ini keempatnya tengah melakukan perjalanan menuju ke Selatan, tepatnya menuju Kuil kuno tempat mereka dulu menikah. Disana adalah tempat teraman untuk mereka semua bersembunyi dari kejaran pasukan Xili yang tak henti mengejar mereka siang dan malam.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan sekalian menunggu beberapa orang yang akan ikut bersama mereka.
Saat ini, keempatnya sedang berada di sebuah penginapan di Kota Gethuk. Mereka hanya mendapatkan dua kamar karena semuanya sudah penuh oleh pengunjung.
Yoona menatap sinis kearah tiga pria dingin dihadapannya saat ini. "Kalian tidur bersama, dan aku akan tidur sendiri." ucapnya seraya berlalu dari hadapan mereka menuju kamar yang disiapkan pelayan.
Tangan Yoona ditarik sampai si empunya berbalik menghadap dengan wajah terkejut. "Hei, kau curang sekali! Kau tidur sendirian sedangkan kami bertiga," protes Zhaoling tak terima.
Wanita itu berdecak. "Aku kan wanita dan kalian pria. Kalian bisa tidur bersama dan berbagi tempat tidur. Sedangkan aku?!" ucap Yoona membela diri seraya menunjuk dirinya.
Zhaoling bersidekap menatap Yoona. "Oh, jadi aku harus berbagi kamar dan tempat tidur bersama mereka, sedangkan semua biaya aku yang membayar? Besar juga nyali mu ini, Xin'er! Jika mau, kau saja yang tidur bersama mereka dan aku tidur sendiri tanpa berbagi tempat bersama siapapun!" cetus Zhaoling dengan datar membuat mata Yoona membulat sempurna.
"Apa kau bilang? Aku harus tidur bersama mereka?" Zhaoling mengangguk acuh. "Kau ini jahat sekali. Mentang-mentang kau yang bayar biaya sewanya, seenaknya saja memerintah untuk tidur dengan mereka. Suami macam apa kau ini," hardiknya kesal.
Ketiga pria itu terkekeh mendengar keluhan Yoona. "Baru sadar kalau dia itu suaminya," cibir Liu Wei dan Yu Xuan membuat Yoona menoleh. Keduanya langsung mengatupkan bibir ketika melihat tatapan tajam istri tuannya tersebut. Sedangkan Zhaoling hanya bersikap cuek dengan tangan masih bersidekap di dada.
__ADS_1
Tatapan sengit terlempar kearah ketiga pria dingin dihadapannya itu, terutama Zhaoling. Yoona menghela nafas panjang, kemudian masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan sambil berkata, "masuk lah!"
Seketika ajakan Yoona membuat ketiganya saling pandang. "Haruskah aku mengulangi perkataan ku lagi?" mereka langsung menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Haaah, menyebalkan! Kalian sangat kompak," ejeknya sambil membuang wajah dan berjalan masuk kedalam kamar.
"Yes!" sorak Zhaoling dan mendapat tepukan di bahu oleh kedua pengawal bayangannya.
"Semangat!" seru keduanya sambil tersenyum lebar.
Akhirnya, mereka pun masuk kedalam kamar masing-masing dengan Zhaoling bersama Yoona, dan Liu Wei bersama Yu Xuan. Senyum pria dingin itu terlukis indah ketika melihat Yoona duduk sambil menatapnya sinis.
Entah mengapa, Yoona yang galak selalu membuat hati Zhaoling berbunga-bunga. Memang aneh, tapi itu nyata. Bukan gadis centil dan manja yang bisa menyentuh hati seorang Panglima Zhaoling ini, tapi gadis galak seperti Yoona lah yang bisa meluluh lantahkan hati serta pikirannya.
Langkah kaki terayun mendekati wanitanya yang tengah duduk bersila di ranjang. Dengan posisi siap duduk, ia mulai menurunkan tubuh tingginya namun segera di dorong oleh Yoona sampai jatuh tersungkur dilantai.
"Hei!" pekik Zhaoling ketika wajahnya hampir saja mencium kerasnya lantai. "Kenapa kau begitu kasar?" hardiknya dengan jari menunjuk Yoona.
"Apa?" Zhaoling terkejut bukan main sampai giginya menggertak. "Kau menyuruhku tidur di lantai yang dingin dan keras ini setelah mendorongku begitu keras! Bagaimana kalau aku terluka?" sungguh, Zhaoling sangat kesal dengan sikap Yoona kali ini.
"Tapi kau kan tidak terluka," sahutnya cuek.
Astaga. Kali ini tingkah Yoona benar-benar kelewat batas, sampai lelaki dingin itu tak mengeluarkan sepatah katapun lagi. Sambil berdecak sebal, Zhaoling duduk di lantai yang dingin dan keras itu dengan kaki tertekuk seperti anak yang terbuang.
Dengan kedua alis yang bertautan, Yoona turun dari ranjang mendekati Zhaoling yang diam tanpa suara. "Kau kenapa?" tanya nya penasaran. Ingin tertawa melihat tingkah Zhaoling seperti itu, namun takut ia tersinggung. Mimik wajahnya dibuat se-biasa mungkin agar tidak terbahak, "kau ingin tidur diatas ranjang bersamaku?"
Mendengar pertanyaan Yoona, seketika Zhaoling mengangguk sambil tersenyum. Namun, tak lama kemudian ia cemberut kembali karena Yoona bilang ... "mimpi!" cetusnya seraya berbalik.
Hilang sudah senyum di bibir Zhaoling dan berganti dengan kekesalan. "Ckk, hemh!" decak Zhaoling kesal seraya menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Hei, apa maksud decak suaramu itu?" tanya Yoona yang berbalik lagi karena mendengar Zhaoling merajuk. Melihat suaminya merajuk seperti anak kecil, seketika membuatnya terkekeh. Yoona menepuk bagian ranjang di sampingnya dan menyuruh Zhaoling untuk segera menghampiri. Namun, pria itu tak langsung menuruti karena dia pikir Yoona sedang mempermainkannya. "Ya, sudah!"
Melihat keseriusan di wajah istrinya, tanpa berkata lagi, Zhaoling melompat keatas ranjang dan mengurung Yoona dibawah kungkungannya. "Kyaaaa, apa yang kau lakukan?" pekik Yoona terkejut.
Zhaoling tersenyum seraya memajukan wajah mendekatkan bibirnya ke telinga Yoona. "Kau yang memberiku izin," bisiknya lirih.
Seketika, desiran hangat menjalar dengan hati yang bergetar. Posisi seperti ini membuat wajah Yoona memerah bak kepiting rebus, dengan jantung yang berdegup kencang. "Bi-bisa tidak jangan seperti ini? Tidur yang be ... hmmpphh," ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun lagi, karena bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Zhaoling.
Menggigit bibir bawah, memaksa untuk membukanya, lidah Zhaoling menerobos mengobrak-abrik rongga mulut dan membelit lidah Yoona. Tangannya menggenggam tangan Yoona saat istrinya itu akan memberontak. Memberikan sentuhan lembut agar istrinya lebih santai, dan menikmati permainan yang dilakukannya. Tangannya perlahan turun membuka pakaian Yoona sebelum disadari oleh istrinya.
Terpampang dua gunung kembar yang pernah ia lihat waktu di Goa dengan keadaan yang sama. Tanpa pikir panjang, dia pun melahap gundukan kembar itu membuat Yoona memekik mengeluarkan suara indah yang membuatnya sangat bergairah.
Tangan Yoona menjambak rambut Zhaoling karena merasakan sesuatu yang aneh menjalar di tubuhnya, merangsang kerja otaknya untuk menikmati setiap sentuhan suaminya. Yoona terbuai dalam kabut gairah cinta sang suami, yang tak pernah ia rasakan dalam keadaan sadar. Tanpa mereka sadari, pakaian keduanya sudah berserakan di lantai.
"Aku menginginkanmu malam ini," desis Zhaoling dengan suara yang semakin berat. Tatapan penuh harap itu terpancar dengan senyum manis yang bisa membuat hati meleleh begitu saja. Yoona hanya bisa mengangguk, karena sejujurnya dirinya pun sudah tak sanggup menahan rasa yang membuncah dalam dada.
Mendapat jawaban yang diinginkan, seketika membuat Zhaoling bersemangat. Sebelum melakukannya, ia mendaratkan kecupan sayang di kening sang istri. Kemudian, ia membuka sedikit lebar kaki istrinya agar memberikan ruang Junior untuk ber-kultivasi di dalam sangkarnya.
Perlahan tapi pasti. Junior bergerak maju mundur seiring irama nyanyian keduanya. Zhaoling membiarkan Yoona mencakar punggungnya, saat Junior terus meringsek masuk semakin dalam. Suara indah terus mengalun lembut seiring berlangsungnya hentakan Junior.
Keringat bercucuran mengiringi perjalanan kultivasi Junior dalam sangkarnya. Mereka tak henti-hentinya mengerang ketika Junior menunjukan kekuatan sesungguhnya. Keadaan malah semakin memanas, saat jari tangan Yoona bermain di dada Zhaoling. Entah sadar atau tidak, kegiatan Yoona itu memancing Junior semakin bergerak lebih cepat.
Sudah satu jam berlalu, namun belum ada yang terlihat akan menyudahi permainan panas mereka. Setelah sampai puncak kenikmatan, Zhaoling memeluk tubuh istrinya begitu erat sambil mendaratkan kecupan di bibir sang istri. Ia membiarkan bibit unggulnya masuk kedalam rahim Yoona agar bisa menumbuhkan Zhaoling kecil di sana. Sesungguhnya, ia tak sabar ingin segera memiliki seorang anak agar Yoona tidak bisa pergi lagi darinya.
"Terima kasih, sayang." ucap Zhaoling seraya mengecup kening Yoona.
Istrinya itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia sudah tak punya tenaga untuk sekedar menjawab ucapan suaminya. Keduanya pun tidur dengan saling memeluk dan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Bersambung ...