
Seekor burung Elang tengah terbang di langit, kemudian mendarat setelah melihat orang yang dimaksud. Menempuh perjalanan cukup jauh dengan melewati beberapa daerah tentu tak mudah bagi burung Elang tersebut mencapai tujuannya. Namun, burung Elang itu cukup pandai dan cepat sehingga bisa menemukan orang yang dicari Tuannya.
Zhaoling yang mendapati burung Elang dengan sepucuk surat di kakinya tentu terheran. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapakah pengirim pesan jauh ini? Tapi, pertanyaannya terjawab sudah saat secarik kertas itu dibuka lebar.
'Pulanglah! Kami membutuhkanmu,'
"Ayah," gumamnya lirih. Sebuah pesan lebih tepatnya kata permohonan tertulis di secarik kertas dengan tinta hitam. Zhaoling hanya menggenggam surat tersebut dengan perasaan yang sulit diartikan.
Rasa penasaran dan kekhawatiran bercampur jadi satu, mengisi pikirannya saat ini. Haruskah dia menuruti permintaan ayahnya? Tapi, bagaimana dengan istrinya? Kondisi Xin'er yang tengah hamil tua, ditambah dirinya yang masih mengeluh dengan ngidamnya.
Terkadang, ia sering memakan makanan yang menurutnya aneh, atau merajuk bila tak mendapat keinginannya, serta bersikap manja jika bersama istrinya walaupun di depan banyak orang. Sepertinya sang buah hati memang sengaja membuat dirinya terlihat memalukan. Sungguh sangat merepotkan bagi Zhaoling, karena tak sesuai citranya sebagai pria dingin.
"Ada apa?" tanya Liu Wei ketika melihat ekspresi wajah Zhaoling. Dia bahkan mengerutkan keningnya saat Zhaoling menunjuk kearah langit, "sebuah pesan?" cetusnya menebak isyarat sahabatnya tersebut.
Zhaoling hanya mengangguk lemah. "Mereka menyuruhku pulang! Haruskah aku menurutinya?" bertanya sambil membalikan tubuh menghadap Liu Wei.
Helaan nafas berat terdengar dari mulut Liu Wei sebelum menjawab ucapan Zhaoling. "Mungkin terjadi sesuatu di sana. Pulanglah! Aku dan Yu Xuan akan menjaga istrimu dengan nyawa kami," ujarnya menenangkan hati Zhaoling yang tengah dilanda kebingungan.
Memang, mereka bertiga seolah sudah saling memahami satu sama lain. Apapun masalah yang sedang mereka hadapi pasti tak lepas dari dukungan satu sama lain. Termasuk urusan pribadi, ketiganya pasti turut campur walaupun orang menganggap itu tak sopan atau melanggar hak asasi masing-masing.
"Tapi, aku tak bisa meninggalkan Xin'er di sini dalam keadaan hamil tua. Aku ingin berada disampingnya disaat-saat seperti ini," ungkap Zhaoling. Dia enggan meninggalkan Xin'er hanya semenit saja, apalagi untuk waktu yang lama.
Jarak antara daratan Xung Shang dengan daratan Jhajhanan sangat jauh, ditambah perjalanan ke Xili membutuhkan waktu lima hari dari perbatasan daratan Shotokoyah gerbang belakang Kota Sharimie. Jika dihitung, perjalan dari tempatnya sekarang ke Xili itu butuh waktu sebelas hari. Pasti sangat melelahkan kalau harus melakukan perjalanan selama itu.
"Apa kau tak mempercayaiku dan Yu Xuan? Kami akan menjaganya dengan baik," cetus Liu Wei. "Tapi, kau harus membicarakannya dulu dengan istrimu. Apa dia setuju atau tidak," lanjutnya kemudian.
Zhaoling mengangguk ragu. Sejujurnya, dia sangat ragu jika harus memberitahu Xin'er masalah di Istana. Takut istrinya itu terbebani dan membuatnya harus terpaksa menyetujui semua keputusannya tanpa memberikan pendapat.
Bergegas pria itu menemui istrinya. Dia tak mau menyembunyikan apapun lagi dari Xin'er, apalagi menyangkut urusan keluarganya. "Sayang. Bisakah kita bicara sebentar," ujarnya setelah bertemu Xin'er di dapur.
__ADS_1
Istrinya tersebut mengangguk seraya menaruh centong yang digunakan untuk memasak. Ia pun melangkah mengikuti arahan sang suami. "Ada apa?" bertanya dengan penasaran.
Tampak sekali jika saat ini Zhaoling sedang ragu. Tapi, bagaimana pun masalah ini harus dibicarakan kepada istrinya. "Umm, begini. " ia menetralkan dengan sedikit berdehem. "Aku dapat surat dari Ayah," mengulurkan tangan untuk memperlihatkan secarik kertas yang didapatkannya dari burung Elang tadi.
Xin'er segera membaca isi pesan di kertas tersebut. "Kau mau pulang?" bertanya tanpa menoleh. Netra mutiaranya tetap tertuju pada secarik kertas di genggamannya.
"Tidak! Aku tak berniat pulang untuk sekarang. Aku ingin menunggu kelahiran anak kita, setelah itu baru aku akan membawa kalian pulang ke Istana." sahut Zhaoling memberikan alasan.
"Jika itu masalah penting, apa kau tetap akan mengabaikannya?" tanya Xin'er lagi.
Zhaoling sedikit berpikir mendengar pertanyaan istrinya. Ada sesuatu dibalik kata yang terucap, seperti sebuah larangan namun ada juga kekhawatiran. Dia menganggukkan kepalanya cepat, tak ingin Xin'er berpikir yang tidak-tidak.
Helaan nafas terdengar panjang. Xin'er menarik diri menghadap suaminya sambil menggenggam erat tangannya. "Aling. Kau milikku, tapi kau juga milik Ayah dan Ibumu. Mereka pun berhak mendapat perhatian darimu, Aling. Aku tahu, mungkin rasa sakit hati yang kau rasakan dulu itu berubah menjadi kebencian terhadap mereka. Tapi, bagaimana pun juga mereka adalah orang tuamu. Sudah sepatutnya seorang anak patuh terhadap orang tuanya," tutur Xin'er menasehati.
"Tapi, bagaimana denganmu? Kau pun saat ini sangat membutuhkan keberadaan ku di sampingmu. Anak kita akan segera lahir, Xin'er!" ucap Zhaoling seraya mengelus perut buncit istrinya.
"Kau yakin agar aku pergi?" bertanya untuk memastikan jawaban istrinya supaya tak ada keraguan dalam bertindak.
Xin'er kembali tersenyum sambil mengangguk. "Berangkatlah besok pagi, setelah kau sarapan. Selalu berhati-hati di jalan, agar aku tenang di sini menanti kedatangan mu."
"Baiklah, jika kau mengizinkanku pergi. Tapi ingat, kau harus menjaga kesehatanmu agar bisa melahirkannya ke Dunia ini. Aku harap, saat pulang nanti dia sudah keluar!" ucap Zhaoling terkekeh.
Plak
"Hei. Kau tak ingin menungguinya keluar seperti saat Mengshu melahirkan putranya? Kau jahat sekali," ucap Xin'er merajuk setelah memukul lengan suaminya.
"Bukan begitu maksudku! Aku hanya tak ingin kau kesusahan melahirkan hanya karena menunggu kedatanganku. Biarkan dia keluar kapan waktunya keluar. Jangan bebani dia untuk menunggu kedatangan ayahnya!" ucap Zhaoling menjelaskan. Dia tak ingin istrinya itu kesakitan atau kerepotan saat waktu melahirkan tiba, hanya karena menunggu kedatangannya.
Setelah mendengar penjelasan Zhaoling, Xin'er baru mengangguk paham. Dirinya tak merajuk lagi dan tersenyum memeluk suaminya.
__ADS_1
Bukan Zhaoling tak ingin Xin'er ikut pulang. Tapi, karena kondisi istrinya yang tengah hamil besar membuat pria itu tak berani membawa ibu hamil untuk melakukan perjalanan yang jauh seperti ini. Dan itu juga sungguh mempermudah Zhaoling untuk mempersingkat waktu perjalanan, yang harusnya di tempuh dalam waktu sebelas hari, bisa dia tempuh hanya dengan waktu tujuh hari. Sangat cepat, bukan!
•
•
Pagi ini sesuai janjinya. Zhaoling berpamitan untuk pulang ke Xili kepada istri serta kedua pasangan sahabatnya. Ada keraguan dihatinya kala menatap wajah cantik istrinya tersebut, karena harus meninggalkannya cukup lama. Namun, ia bertekad akan segera menuntaskan apapun masalah yang terjadi di sana, kemudian pulang kembali kepada istri dan keluarga kecilnya di sini.
"Aku pergi, Xin'er. Jaga dia untukku, dan pastikan kalian baik-baik saja saat aku kembali!" pesan Zhaoling saat berangkat pagi ini.
Dengan menunggangi kuda, dia berlari sekencang mungkin agar segera sampai di Xili secepatnya. Tapi, tentu harus beristirahat sejenak di perjalanan untuk mengistirahatkan diri dan juga kudanya.
Selepas kepergian Zhaoling, Liu Wei dan Yu Xuan mengetatkan pengawasannya kepada Xin'er. Keduanya tak mau kecolongan apapun dan memastikan keselamatan istri sahabatnya tersebut agar tetap aman. Begitupun dengan Mengshu dan Yuelie, yang selalu menjaga Xin'er siang dan malam. Mereka pun tak mau sahabatnya itu merasa kesepian karena ditinggal pergi suaminya ke Xili.
Dua minggu telah berlalu semenjak Zhaoling pergi. Xin'er merasakan mulas yang cukup menyakitkan, mungkin ini waktunya untuk melahirkan. Liu Wei, Yu Xuan, Mengshu, serta Yuelie bergegas mempersiapkan segalanya. Mereka membawa Xin'er menemui Tabib Ji'en atas permintaan Zhaoling sebelumnya.
'Jika Xin'er akan melahirkan, bawa dia kepada Tabib Ji'en. Karena hanya dia lah yang aku percayai untuk menangani persalinan istriku,'
Memang, keahlian Tabib Ji'en tidak diragukan lagi dalam ilmu kebidanan. Dia memiliki keterampilan dan tehnik yang baik dalam menangani kelahiran, walaupun usianya terbilang masih muda.
Tabib Ji'en segera mengambil tindakan untuk menolong Xin'er agar bisa melahirkan dengan normal dan selamat. Segala cara dia lakukan sebaik mungkin supaya bisa menyelamatkan keduanya.
Cukup lama Tabib Ji'en berada dalam ruangannya, sampai suara tangis Bayi pun terdengar dari dalam.
"Ooeeeeee ... oooeeeeee,"
Keempat orang yang menunggunya di luar ruangan pun tersenyum lega. Mereka saling berpelukan satu sama lain karena bahagia, "Selamat untuk kita karena telah mendapatkan keponakan!" ujar mereka saat berpelukan.
Bersambung ...
__ADS_1