Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Datangnya pertolongan


__ADS_3

Wuuuusshhh ...


Bugh


"Aaaaaarrrgggghh,"


Daaaaamm


Seseorang terpental puluhan meter jauh ke belakang menabrak beberapa orang dan ikut terseret, hingga akhirnya ambruk di tanah dengan keras. Darah segar keluar dari sekujur tubuhnya, tulangnya sudah remuk tak berbentuk, kemudian dia mati di tempat akibat jurus Legendaris yang dimiliki Perguruan Naga Bayang.


Tapi, orang itu bukanlah Zhaohan, melainkan Jhianglie. Pria itu dijadikan tameng untuk melindungi dirinya dari pukulan yang Zhaoling tujukan kearahnya. Pada saat angin berhembus, secepat kilat Zhaohan menarik Jhianglie untuk bertukar posisi dan akhirnya pria malang itu yang terkena pukulan mematikan Zhaoling hingga meregang nyawa.


Tatapan takut sekaligus tak percaya pada apa yang dilihatnya, Zhaohan dan Jihu bergegas melarikan diri setelah saling menatap. Keduanya berlari begitu saja saat perhatian Zhaoling lengah.


Namun, Panglima Xili itu tak tinggal diam. Ia melompat lebih tinggi, sedikit melayang di udara, melewati puluhan prajurit dibawahnya untuk mengejar kedua orang yang telah bermain-main dengannya. Sesekali kakinya menapak menginjak orang yang berada dibawahnya tepat, agar dia terus bisa melayang di udara. Api amarah dalam hatinya terus berkobar akibat ulah Zhaohan yang sengaja menyulutnya. Api itu tak kan pernah bisa dipadamkan sebelum bisa membakar seseorang yang menyalakannya.


"Mau lari kemana kalian, pengecut!" teriak Zhaoling yang masih mengejar keduanya di belakang.


Zhaohan dan Jihu berlari kearah para Jendral dan pasukan baris belakang. Berharap meminta bantuan mereka untuk menyelamatkan nyawanya. Sesampainya dibarisan belakang, dia meminta pasukannya menembakan anak panah kearah Zhaoling yang terus mengejarnya.


Bukan anak panah biasa, melainkan anak panah berapi yang ditembakkan mereka kearah Zhaoling.


Shuuuuuuutt ... sleb ... sleb


"Aaaarrrggghhh," terdengar ringis kesakitan dari orang-orang yang terkena anak panah berapi itu hingga menewaskannya. Namun, Zhaoling masih berdiri dengan tegak tanpa terluka sedikitpun.


Tembakan seperti itu mampu ia hindari walaupun jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Hanya dengan gerakan membuka tangan saja, ia mampu menerbangkan anak panah itu untuk menghindarinya. Tatapannya matanya semakin menajam saat melihat sekelompok orang yang ada dihadapannya, lebih tepatnya para petinggi pasukan musuh.

__ADS_1


Bukan hanya Zhaohan dan Jihu, melainkan Zhaoyan dan Zhaokang juga ada di sana, serta Guru Besar Luo dan Guru Besar Jin. Kedua orang yang telah berkhianat pada Perguruan Naga Bayang dibawah pimpinan Kakek Lon Thong langsung.


Zhaoling tersenyum menyeringai, "nampaknya di sini memang tempat berkumpulnya para pengkhianat!" ejeknya.


Mendengar ejekan Zhaoling, mereka malah tertawa begitu keras bahkan Guru Luo bertepuk tangan menanggapinya. "Murid berbakat kesayangan Tetua Lon Thong, Zhaoling. Oh, bukan. Yang Mulia Pangeran Ketiga Xili, Zhaozu." kata Guru Luo meralat ucapannya kembali.


Kakek tua itu lantas berjalan menghampiri Zhaoling yang masih menatapnya sinis. Si tua itu memutari Zhaoling kemudian berdiri tepat dihadapannya, "sudah merasa kuat?" tanya nya singkat. Kemudian ia membelakangi Zhaoling sambil berkata lagi. "Kau memang murid paling berbakat yang dimiliki Perguruan Naga Bayang. Setelah kau menelan Pil Dewa waktu itu, kekuatanmu berkembang pesat. Hebat, aku salut padamu!" pujiannya terdengar meremehkan.


Guru Luo kemudian berbalik lagi dengan tatapan tajam serta kebencian. "Karena itulah aku membencimu! Kau merebut Pil Dewa yang terbuat dari tumbuhan khusus yang hanya tumbuh sepuluh tahun sekali di puncak Gunung Dewa. Seharusnya Pil Dewa menjadi milikku, bukan kau anak ingusan!" bentak Guru Luo. "Karena kau, aku tak bisa mengembangkan Jurus Naga Terbang serta Jurus Seribu Bayangan. Kau merebut itu semua dariku," teriaknya lagi.


Zhaoling tersenyum tipis mendengar ucapan kakek tua dihadapannya. Dia terkekeh karena seorang Guru Besar seperti Luo ini ternyata iri kepadanya yang bisa mendapatkan Pil Dewa sebagai obat paling mujarab untuk meningkatkan kekuatan. Namun, Zhaoling juga baru mengetahui bahwa kandungan di dalam Pil Dewa itu ternyata tumbuhan langka yang tumbuh sepuluh tahun sekali. Kebayang bukan sulitnya mendapatkan tumbuhan itu? Di tambah lagi, keberadaannya yang hanya tumbuh di puncak Gunung Dewa yang memiliki ketinggian mencapai lebih dari (17509 mdpl).


Gunung Dewa sendiri terletak di sebuah Pulau Dewa yang ada di bagian barat daya, tepatnya di tengah laut Grush. Untuk mencapai kesana sangatlah sulit, dan juga berbahaya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa kesana, termasuk kakek Lon Thong.


Melihat Zhaoling hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya, Guru Luo menjadi geram. Dia mengeluarkan jurusnya untuk menyerang Zhaoling dengan dibantu oleh Guru Jin.


Perkelahian tiga orang terjadi antara dua orang Guru Besar dengan mantan muridnya. Ketiganya nampak tak ada yang mengalah dan terus saling menyerang tanpa menggunakan senjata apapun.


Darah keluar dari mulut ketiganya. Baik itu Zhaoling, Guru Jin ataupun Guru Luo sama-sama terluka. Ketiganya berlutut ditanah sambil memegangi dadanya, akibat pukulan yang diarahkan masing-masing. Nafas ketiganya terengah, merasakan sedikit sesak di dadanya. "Ukhuk ... ukhuk,"


Hal ini dijadikan kesempatan Zhaohan untuk menyerang Zhaoling yang sedang terluka. Dia mengangkat pedangnya ketika Zhaoling tertunduk lemah tak berdaya. "Rasakan ini,"


Pedang milik Zhaohan terayun keatas untuk memenggal kepala Zhaoling. Namun, sebelum itu terjadi, sebuah anak panah melesat kencang menabrak pedang tersebut hingga terlempar dan jatuh ke tanah.


Trang ... prang ...


Senyum kemenangan Zhaohan lenyap sudah karena gagal membunuh Zhaoling, begitupun dengan sekutunya. Mereka mengalihkan pandang kearah lain. Jauh didepan sana, seorang pria berlari dengan kudanya sambil membawa busur di tangan. Pria itu menarik busur tersebut dan melepaskan anak panahnya dengan cepat.

__ADS_1


Shuuutt ... sleb


"Aaakkkhhh," salah satu dari mereka terkena anak panah yang ditembakkan pria tersebut.


Melihat temannya tertembak, bergegas yang lain melindungi diri dengan berlindung menggunakan perisai perang. Mereka tak tinggal diam mendapatkan serangan dari pria itu, dengan balas menembaki pria tersebut menggunakan panah dan juga tombak.


Tapi, sepertinya pria itu cukup pandai menghindari serangan mereka dengan cara berlari zigzag. Bukan hanya menghindar, pria itu juga terus menyerang kearah sekelompok pengkhianat itu.


Pria itu melihat Zhaoling yang terduduk lemah karena tenaganya sudah terkuras cukup banyak. Melawan dua Guru Besar sekaligus bukan perkara gampang, apalagi dirinya yang hanya seorang murid yang tentu saja belum menguasai banyak jurus seperti kedua Guru tersebut. Tapi hebatnya, Zhaoling mampu mengimbangi ilmu kedua Guru Besarnya dan masih bertahan sampai saat ini.


Setelah mendekat, pria itu berteriak kepada Zhaoling menyuruhnya bangkit. "Aling, bangunlah! Lihat, siapa yang ku bawa untukmu!"


Zhaoling mengarahkan pandang kearah yang ditunjuk pria itu setelah wajahnya mendongak, dengan senyum yang melebar seiring mata berkaca.


Terlihat dari kejauhan, tiga orang yang sangat ia kenali berlari menghampiri dengan kuda masing-masing. Satu wanita dan dua pria, adalah orang-orang yang Zhaoling rindukan selama ini, terutama sang wanita. Karena, dia adalah hidup dan matinya Zhaoling.


"Aling," teriak ketiganya bersamaan.


Senyum Zhaoling semakin lebar setelah melihat dengan jelas ketiga orang tersebut. "Xin'er, Yu Xuan, Liu Wei." gumamnya seraya bangkit.


Pria yang tadi menyelamatkan Zhaoling langsung turun dari kudanya dan membantunya berdiri. "Maaf atas keterlambatan ku!" sesalnya dengan menepuk bahu Zhaoling.


"Qianfeng. Terima kasih atas bantuan mu!" pria itu tersenyum seraya mengangguk kearah Zhaoling.


Xin'er melompat turun dari kudanya dan langsung menubruk tubuh Zhaoling. "Aling, kau membuatku khawatir!" ucapnya seraya menangis.


"Maafkan aku, Xin'er! Aku tak menepati janjiku padamu," lirihnya sambil memeluk erat tubuh sang istri.

__ADS_1


Qianfeng menepuk bahu Zhaoling supaya pria itu menoleh kearahnya. "Bukan cuma kami yang datang, Aling. Tapi, mereka juga!" tunjuknya kearah pasukan yang dibawa oleh Qianfeng dari kerajaan Xiang.


Bersambung ...


__ADS_2