Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Menemui Ibu Suri


__ADS_3

Sesampainya di daratan Jhajhanan, Kerajaan Xili. Zhaoling bergegas masuk kedalam Istana melewati gerbang utama. Para penjaga pun segera membuka gerbang pada saat melihat sang Pangeran Ketiga, atau Panglima Perang mereka datang. Walaupun Zhaoling telah pergi meninggalkan Xili beberapa tahun, tapi jabatan Panglima masih belum ada yang mengisi dengan alasan tak ada yang sebaik Zhaoling dalam mengatur Kemiliteran.


Tapi, Zhaoling tak perduli akan hal itu karena kedatangannya bukan untuk kembali tinggal di Istana, melainkan mengunjungi kedua orang tua serta neneknya.


Semua orang menunduk hormat kepadanya ketika Zhaoling lewat. Ada juga yang tak tahu siapa dirinya karena penampilan Zhaoling yang sederhana dengan memakai pakaian rakyat jelata. Para pelayan dan prajurit yang tak menunduk hormat kepadanya adalah mereka yang baru direkrut oleh para Selir dan Pangeran untuk melayani mereka.


"Hei. Kenapa ada rakyat jelata masuk ke Istana dengan bebasnya! Berjalan dengan begitu sombong tanpa menunduk hormat kepada prajurit di sini. Apa kau ingin dihukum!" tegur prajurit yang berjaga di Istana dalam.


Mereka menghalangi langkah pria itu dengan menyilangkan kedua tombak di depan.


Zhaoling yang mendapatkan teguran lantas menoleh. "Maaf. Apa kau orang baru di sini?"


"Aku sudah lama di sini, hampir dua tahun. Dan kau yang baru datang bersikap seolah kau pemilik Istana ini. Cepat berlutut dan meminta maaf kepadaku, maka aku akan melepaskan mu!" ujarnya dengan kasar.


Pria itu hanya tersenyum kecut. Ternyata, sudah dua tahun dia meninggalkan Kerajaannya. Pantas ayahnya memanggilnya pulang, mungkin mereka merindukannya. Zhaoling belum tahu alasan dirinya dipanggil ke Istana lagi oleh Kaisar lewat pesan terbang.


"Jadi, kau tak mengizinkanku masuk ke Istana dalam jika aku tak berlutut padamu?" tanya Zhaoling dengan dingin.


"Tentu saja! Aku pun harus tahu tujuanmu datang kemari dan menerobos penjaga gerbang depan! Bisa-bisanya mereka membiarkan rakyat sepertimu masuk dengan leluasa ke Istana," timpal prajurit yang lain.


Sebelum berucap lagi, Zhaoling menepuk bahu kedua prajurit tersebut. "Sangat bagus sikap tegas kalian ini. Pertahankan!" ujarnya memuji.


"Cih, kau memuji kami agar diizinkan masuk!" cibir keduanya seraya mendorong tubuh Zhaoling dengan keras, namun ternyata tubuhnya tak bergerak sedikit pun dari tempatnya. "Hei, kau ini sebenarnya siapa? Kenapa sangat keras kepala sekali?!"


Sebelum Zhaoling menjawab pertanyaan kedua prajurit itu, seorang prajurit kemiliteran datang menghampiri. Dia langsung berlutut dihadapan Zhaoling, "Hormat kepada Panglima!"


Sontak mereka menoleh kearah prajurit tersebut. Bahkan, kedua prajurit tadi saling pandang mendengar ucapan prajurit kemiliteran itu. "Pa-Panglima!" gumam keduanya lirih.


Zhaoling mengangkat tangannya. "Bangunlah!" ujarnya seraya mendekat. "Aku ingin bertemu dengan Kaisar," lanjutnya kemudian.


Prajurit itu segera berdiri dan mempersilahkan Zhaoling untuk berjalan terlebih dahulu. "Silahkan, Panglima. Kaisar sudah menunggu Anda di ruang baca,"

__ADS_1


Pria itu hanya mengangguk dan segera melangkahkan kaki menuju ruang baca tanpa menoleh lagi ke belakang. Sedangkan kedua prajurit itu terlihat merutuki kebodohannya karena telah menghalangi jalan seseorang yang memiliki jabatan tertinggi di kemiliteran itu. Bukan cuma di militer, jabatan orang ini juga paling tinggi diantara para Pangeran lainnya.


"Matilah kita. Ternyata pria itu adalah Panglima Zhaoling,"




Zhaoling memasuki ruang baca yang dimana terdapat ayahnya di sana, sudah menunggu kedatangannya dengan perasaan rindu. Dia mendekati pria paruh baya tersebut yang sedang fokus pada tumpukan kertas di mejanya. "Hormat kepada Kaisar. Semoga Anda panjang umur dan sehat selalu!" ucapnya tepat di depan sang ayah.


Kaisar mendongak menatap haru kepada putranya itu. Beliau beranjak dari duduknya, kemudian memeluk Zhaoling begitu erat. "Aku masih belum percaya bahwa kau datang, Zhaozu." ucapnya seraya mengurai pelukannya. "Dimana Xin'er dan kedua pengawal bayanganmu?" bertanya sambil melirik ke belakang tubuh putranya.


"Dia tidak bisa ikut, Ayah. Sebab, Xin'er sedang mengandung!" sahutnya pelan agar tak ada orang yang mendengarnya. Zhaoling takut ada mata-mata dari musuh yang mengetahui jika istrinya sedang mengandung dan akan berusaha mencelakai mereka disaat dirinya berada di Xili.


Kaisar tampak bahagia mendengar kabar tersebut. "Ya Dewa, terima kasih karena engkau memberikan kami keturunan dalam rahim menantuku." ucapnya bersyukur dengan mengatupkan kedua tangan. "Tapi, kau sudah memastikan keselamatannya, bukan!"


"Tentu, Yang Mulia. Liu Wei dan Yu Xuan pasti menjaganya untukku," sahut Zhaoling.


Semua kejadian diceritakan pada Zhaoling tanpa kurang sedikitpun, karena Beliau lebih mempercayai putra ketiganya itu dibanding yang lainnya. Sementara Zhaoling sendiri menyimak semua ucapan ayahnya dengan seksama, dan tentunya dengan perkiraan yang ada.


Kabar yang membuat Zhaoling terkejut yaitu pengkhianatan Zhaohan terhadap kerajaan. Bukankah pria sombong itu menginginkan tahta kekaisaran Xili? Mengapa dia memilih meninggalkan kerajaan dan bergabung dengan kerajaan lain demi menjatuhkan kerajaannya sendiri? Dan yang paling mengejutkan yaitu kerajaan yang mendukung Zhaohan ialah Kerajaan Jhixang yang sekarang dipegang oleh Kaisar Jhianglie, pria yang mengaku sebagai jodoh masa kecil istrinya.


Bagaimana bisa Jhianglie memberikan dukungan kepada Zhaohan yang memiliki tempramen seperti itu? Kesepakatan apa yang terjadi diantara keduanya, yang membuat Jhianglie setuju dengan Zhaohan?


Kepala Zhaoling rasanya sangat sakit saat mendengar cerita ayahnya tentang semua kejadian di Istana ini. Walaupun dirinya sudah tak mau ikut campur urusan kerajaan, bukan berarti dia harus tidak perduli akan kekacauan yang terjadi di sini. Dengan begitu, Zhaoling harus tinggal lebih lama di Istana. Lalu, bagaimana dengan Xin'er dan calon anaknya? Andai saja dia bisa membelah diri, pasti tak kan bingung seperti ini! Pertanyaannya, apa Manusia bisa membelah diri?


"Yang Mulia, aku akan menyelidiki semuanya sampai tuntas. Tapi sebelumnya, aku ingin menemui Ibu Suri terlebih dahulu!" ucap Zhaoling berpamitan.


"Baiklah, nak! Temui dulu Nenek dan Ibumu. Mereka sangat merindukanmu," balas Kaisar sambil menepuk bahu putranya.


Pria itu mengangguk dengan ucapan ayahnya. Dia melangkahkan kaki keluar dari ruang baca setelah menunduk hormat.

__ADS_1


Kini, Zhaoling tengah berada di kamar Ibu Suri. Netra elang itu kini menunduk sayu, menatap dengan penuh haru. Dia duduk bersimpuh sambil menggenggam tangan yang sudah mulai keriput. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, hanya ada keheningan di dalam kamar tersebut. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


Perlahan, mata yang tertutup itu sedikit demi sedikit terbuka. "Kamu di sini, Nak?" lirihnya berusaha berbicara.


Zhaoling mendongak menatap wajah yang sudah dipenuhi banyak kerutan itu dengan tersenyum tipis. "Anda sudah sadar?" ia balik bertanya.


Ada rasa sakit saat mendengar cucunya masih bersikap formal pada dirinya. Ibu Suri tersenyum hambar, "kesalahanku sangat banyak. Wajar jika kau masih belum bisa memaafkan ku, Zhaozu!" ucapnya kemudian.


Pria itu segera menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, Yang Mulia. Tapi, itu bentuk rasa hormat kepada Anda!" tampik Zhaoling memberikan alasan. Dia mengerti betul apa yang di maksud neneknya.


Keduanya terdiam cukup lama, sebelum Ibu Suri berucap lagi. "Apa Xin'er tidak ikut kemari?"


"Tidak!" sahutnya singkat.


"Kenapa? Apa dia masih marah kepadaku?" tanya Ibu Suri lagi.


"Tidak! Kondisinya saat ini mengharuskan dia untuk banyak istirahat dan tidak boleh melakukan perjalanan jauh," jawab Zhaoling menjelaskan.


"Apa dia sakit?"


Zhaoling menggelengkan kepalanya, kemudian sedikit lebih mendekat. "Dia sedang mengandung!" bisiknya tepat di telinga Ibu Suri.


Wajah Ibu Suri menjadi sumringah ketika mendengar cucu menantunya itu tengah mengandung. Kabar itu yang ditunggunya selama ini dan baru Beliau dapatkan sekarang saat dirinya sedang terbaring lemah. Kabar itu juga seolah menjadi obat penyembuh bagi penyakit yang dideritanya selama ini. "Terima kasih, Ya Dewa!"


"Anda harus segera sembuh agar bisa melihat anak kami lahir," bisik Zhaoling yang hanya di dengar oleh Ibu Suri.


Beliau mengangguk sambil tersenyum senang. "Bawa mereka pulang kembali ke Istana, karena di sini adalah tempat tinggal kalian!" titahnya yang langsung diangguki Zhaoling.


"Semoga aku bisa membujuknya," kini Ibu Suri yang mengangguk dengan perkataan cucunya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2