
Hari-hari yang biasa disibukan dengan pekerjaan, kini Zhaoling habiskan hanya untuk bermabuk-mabukan dan juga main perempuan. Pria tampan itu melakukan ini semua sebagai bentuk protes terhadap orang-orang yang telah mengkhianatinya. Dia sendiri sejujurnya tak ingin melakukan semua itu, namun apalah daya dengan rasa sakit hati yang sudah terlalu menggunung membuatnya dirinya hancur berkeping-keping.
Orang yang ia cintai telah tiada, akibat kesalahan orang-orang yang ia sayangi. Kepercayaan terhadap mereka telah lenyap seiring rasa penyesalan yang ada di dalam dada. Kematian Xin'er telah merenggut senyuman dari wajah tampannya. Kini Zhaoling berubah menjadi pria pemalas, yang kerjanya hanya menghabiskan uang untuk bersenang-senang.
"Zhaozu. Nenek mohon padamu, tolong kembalilah seperti dulu! Kerajaan ini membutuhkan seorang pemimpin yang tegas seperti dirimu. Kembalilah!" pinta Ibu Suri dengan mengiba. Zhaozu tampak tak perduli dan mengacuhkan setiap perkataan yang Ibu Suri sampaikan pada dirinya.
Merasa tak diperhatikan, membuat Ibu Suri lantas melakukan sesuatu. Beliau berlutut dihadapan cucunya dengan menundukkan kepala. "Aku mohon, Zhaozu! Jika kau tak berpikir untuk dirimu sendiri, pikirkanlah nasib rakyat kita yang menderita akibat ulah kekejaman seseorang. Kita harus segera mengakhiri penderitaan rakyat Xili dan mengungkap dalang dibalik masalah ini,"
Zhaozu terkejut karena Ibu Suri tiba-tiba berlutut dihadapannya seperti seorang bawahan. Dia bergegas mundur lalu menundukkan tubuh jangkungnya untuk membantu Ibu Suri. "Ibu Suri. Apa yang Anda lakukan? Tidak pantas bagi Anda untuk berlutut dihadapan ku!"
Ibu Suri tak bergerak sedikitpun. Beliau rela merendahkan diri dihadapan cucunya dengan alasan tertentu. Senyum tipis terbesit dari wajahnya, namun wanita tua tersebut tak menampakannya sedikitpun kepada Zhaozu. "Apakah kau akan memaafkan orang tua yang jahat sepertiku ini?" tanya Beliau kemudian.
Zhaozu tak bisa berkata apa-apa ketika melihat tatapan sendu dari wajah neneknya. Dia sangat menghormati para orang tua, walaupun pada akhirnya dirinya harus merasakan pengkhianatan mereka. Dengan mengangguk pasrah Zhaozu berucap, "iya. Aku memaafkan Ibu Suri," sahutnya membuat neneknya senang.
Dipeluknya tubuh kekar itu, serta memberikan kecupan sayang. "Aku tahu, dalam dirimu mengalir darah Kaisar Zhihuan. Kau kebanggaanku," cetus Ibu Suri penuh kemenangan.
...💫💫💫💫...
Seorang prajurit terlihat berlari dengan memakai Kudanya dari kejauhan, menuju gerbang utama Kerajaan. Tubuhnya penuh luka lebam serta sayatan benda tajam. Dia berjalan dengan kesulitan setelah turun dari tunggangannya tersebut. Para penjaga gerbang segera membantunya dengan cara memapah ke tempat yang ingin dituju prajurit tersebut.
Setelah sampai ditempat yang dimaksudkan, para prajurit itu bergegas masuk guna melapor kepada atasan mereka. Ternyata, markas militer yang menjadi tujuan mereka saat ini.
Para prajurit militer yang melihat mereka masuk, lekas menghampiri karena penasaran dan membuat keramaian. Pemandangan tersebut mengundang beberapa orang untuk segera keluar dari ruangannya.
"Ada apa ini? Dan ... kenapa kau terluka seperti itu?" tanya seseorang saat melihat kondisi prajurit dihadapannya.
Prajurit tadi berusaha menegakkan tubuhnya setelah ia membungkuk hormat. "Lapor, Panglima! Di wilayah selatan ada sekelompok perampok bertopeng. Mereka merampok para Saudagar yang masuk ke Wilayah kita. Bukan hanya Saudagar, para Bangsawan pun dirampok saat diperjalanan menuju kemari." ucap prajurit tersebut dengan kesulitan.
"Perampok bertopeng? Dan itu terjadi di wilayah ku?" tanya Zhaoling dengan terkejut. "Mengagumkan! Mereka bahkan berani dengan terang-terangan menunjukan diri," ujarnya kemudian mengejek.
"Betul, Panglima! Mereka mengambil semua barang berharga yang para Bangsawan serta Saudagar itu bawa. Bukan hanya itu saja, mereka pun tak segan-segan membunuh para Bangsawan dan Saudagar serta para pengawal mereka!" lanjut prajurit itu melaporkan.
__ADS_1
Zhaoling tampak marah. "Kurang ajar! Berani benar mereka membuat onar di wilayah kita," cetusnya dengan geram. Lalu, Zhaoling terdiam memikirkan suatu rencana. Dia harus membuat rencana seapik mungkin untuk bisa meringkus para perampok tersebut. Sebelum Zhaoling berucap, tiba-tiba Jendral Hui datang ke hadapannya.
"Panglima. Biarkan saya pergi bersama pasukan saya untuk meringkus para penjahat pembuat onar tersebut. Saya yakin dengan kekuatan yang dimiliki pasukan saya, bahwa kami dapat dengan mudah penangkap semua bahkan sampai ke akar-akarnya," kata Jendral Hui dengan percaya diri.
Zhaoling menatap kearah Jendral Hui, kemudian mengangguk setelah terdiam beberapa saat. "Baiklah. Kalian ku perintahkan untuk menangani masalah ini, dan pastikan semuanya terkendali dengan baik. Silahkan, segera berangkat dan jangan menunda waktu lagi!" titahnya.
Jendral Hui mengangguk. "Siap!" memberi hormat pada Panglima, kemudian berteriak memanggil pasukan militer miliknya. "Prajurit. Ayo, kita tumpas semua kejahatan yang ada di wilayah selatan!"
"Baik," serempak para prajurit menjawab.
Mereka pun bergegas pergi menuju arah yang telah ditunjukan prajurit yang terluka tadi. Tak lupa, prajurit tersebut segera mendapatkan perawatan dari Tabib khusus Militer.
Perjalanan menuju arah selatan membutuhkan waktu cukup lama. Namun, mereka tak berhenti dan terus berjalan sampai tiba di tempat yang dimaksud prajurit yang terluka tadi. Semua prajurit dibawah pimpinan Jendral Hui meningkatkan kewaspadaan saat tiba ditempat itu, tapi tak ada pergerakan apapun di daerah perbukitan tersebut.
Setelah menunggu cukup lama, namun tak ada satupun perampok yang muncul di sana. Mereka menjadi ragu akan kebenaran dari perkataan prajurit yang terluka itu. Akhirnya, kewaspadaan mereka menurun karena merasa tak terjadi apapun di daerah tersebut, tepatnya lokasi perampokan.
Mereka pun kembali berbalik arah untuk pulang. Tapi, sebelum mereka turun dari bukit, tiba-tiba beberapa anak panah melesat mengenai para prajurit.
"Aakhh," anak panah itu menusuk para prajurit tepat di dada mereka hingga tewas di tempat. Konsentrasi mereka langsung buyar ketika mendapatkan serangan dadakan tersebut.
Jendral Hui yang memimpin pasukan segera melihat kearah para prajurit yang terluka itu dan berteriak. "Waspada. Angkat perisai kalian untuk melindungi diri!" titahnya. "Ternyata musuh berbuat curang dan menunggu kelengahan kita," ujarnya seraya turun dari kudanya dan berlindung dengan memakai perisai.
Anak panah terus melesat menembak pasukan Jendral Hui tanpa diketahui darimana asalnya, membuat mereka semakin panik. Pasukan yang terdiri dari seratus prajurit itu, kini hanya tinggal setengahnya saja. Mereka mati terkena anak panah yang ditembakkan musuh.
Melihat prajurit yang tersisa setengahnya, para perampok itu langsung keluar dari persembunyiannya untuk menunjukan diri. "Serang!"
Akhirnya, pertarungan pun dimulai antara pasukan Jendral Hui melawan perampok bertopeng. Mereka terus menggempur pertahanan musuh dan saling melindungi diri.
Trang ... trang ... trang ... cras ... sleb
Terdengar suara senjata saling beradu, kemudian menggores hingga menusuk musuh sampai mati. Darah berceceran dimana-mana, dan melumuri pedang mereka.
__ADS_1
Walaupun jumlah perampok bertopeng lebih sedikit daripada pasukan Jendral Hui, namun mereka sangat kuat dan tak terkalahkan. Sehingga, prajurit kerajaan tersebut kalah dengan banyak korban berjatuhan. Sedangkan dari perampok bertopeng, tak ada satupun yang terluka, bahkan sedikit tergores saja.
Wajah Jendral Hui berubah pucat ketika melihat banyak pasukannya yang tewas saat ini. Para perampok bertopeng itu terlalu kuat, sehingga mereka tak bisa mengalahkannya. Jadi, Jendral Hui pun langsung menyuruh pasukannya yang tersisa untuk mundur.
"Mundur," teriak Jendral Hui sambil menaiki kudanya dan bersiap pergi.
Prajurit yang hanya tersisa lima dari seratus orang itu bergegas mundur untuk menyelamatkan diri. Tapi, para perampok bertopeng itu tak membiarkan mereka pergi begitu saja. Mereka langsung mengejar dan membunuh prajurit yang tersisa itu dengan pedangnya. Hanya Jendral Hui yang berhasil melarikan diri dari tempat ini dan tak bisa dikejar mereka, karena dia menunggangi kuda.
Melihat Jendral Hui kabur, para perampok itu akan mengejarnya. Namun, mereka segera berhenti saat mendengar pemimpinnya berteriak. "Berhenti! Biarkan dia kembali dan melapor kepada atasannya,"
Seorang wanita berambut panjang dengan memakai topeng yang menutupi seluruh wajahnya, tengah berjalan ke depan. "Aku ingin melihat pemimpin yang sebenarnya beraksi,"
"Tapi, Nona. Dengar-dengar, Panglima Kerajaan Xili itu terkenal dengan kekejamannya di medan perang. Dia mendapat julukan iblis kematian!" seru salah satu perampok bertopeng itu.
"Oh ya, itu sangat bagus! Biarkan dia datang. Aku ingin menjajal kemampuan bertarungnya," cetusnya menyeringai.
Salah satu pria yang diperkirakan sebagai pemimpin kelompok itu segera menghampiri dan menepuk bahu wanita itu. "Adik Kelima. Jangan bertindak gegabah! Kau belum tahu kekuatan Panglima Zhaoling. Dia bahkan bisa menghancurkan formasi yang dibuat musuhnya dan membunuh seribu pasukan hanya seorang diri,"
Wanita yang dipanggil Adik Kelima itu terkejut mendengar perkataan pria di sampingnya. "Sekuat itu?!"
"Betul yang dikatakan Tuan Muda Khong, Nona. Panglima Zhaoling sangat kuat. Tak ada yang bisa melawannya di daratan Jhajhanan ini," timpal anak buahnya yang lain.
Setelah puas membicarakan kekuatan Panglima Xili tersebut, mereka pun memutuskan untuk kembali ke markas besarnya. Namun, sebelum pulang, Tuan Muda Khong menyuruh para bawahannya untuk mengumpulkan barang-barang dari hasil perang mereka kali ini.
"Baiklah,kita kumpulkan baju zirah dan senjata para prajurit itu! Kita akan membutuhkannya suatu saat nanti!" titah Tuan Muda Khong kepada semua bawahannya.
"Baik!" jawab mereka serempak seraya melakukan apa yang diperintahkan.
Sedangkan wanita yang dipanggil Adik Kelima itu terus menatap kearah Istana megah yang terlihat dari bukit tersebut. Tatapan penuh amarah dan kebencian terlihat jelas dari raut wajah wanita tersebut, namun tak ada satupun yang melihat ekspresinya saat ini.
...Bersambung ......
__ADS_1