Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kembalinya Yoona


__ADS_3

Segerombolan Anjing hutan yang tengah kelaparan menuju kearah mereka. Tatapan tajam dengan seringai menakutkan jelas terlihat. Para Serigala itu langsung berkumpul seperti membentuk formasi penyerangan saat melihat kaumnya yang tergeletak ditanah.


Aaauuuuuuuuuu


Sekali lagi, lolongan terdengar sebelum penyerangan dimulai. Para Serigala itu menjadi bringas ketika mencium bau amis darah yang berceceran ditanah. Mereka seolah mengerti akan apa yang dirasakan kawannya yang telah mati akibat ulah Manusia.


"Seraaaaang," teriak Tuan Khong saat Anjing hutan itu berlari kemudian menerkam kearah mereka.


Semua senjata digunakan sebagai alat pertahanan. Mereka terus berusaha melindungi diri dengan berbagai upaya. Tapi pada akhirnya, semuanya tetap kalah melawan keberingasan binatang buas itu.


"Aarrgggh," jeritan kesakitan melengking ditengah hutan angker itu.


Mereka digigit, dicakar, dicabik, bahkan ada yang sudah dimakan langsung saat itu juga. Semua orang yang tersisa tentu merasa ketakutan melihat keganasan Serigala itu.


"Mundur!" Khong Guan memerintahkan anak buahnya mundur.


Akhirnya, sisa dari bawahannya bergegas pergi meninggalkan tempat mengerikan tersebut, termasuk Xin'er dan Xiaolang yang sudah berlari lebih dulu. Saat berlari, jepit rambut Bunga Matahari yang diberikan Zhaozu dulu jatuh di tanah.


"Kak, jepit rambutku jatuh!" seru Xin'er berbalik dan akan mengambilnya. Tapi, Xiaolang segera menarik tangan adiknya dan tak memperdulikan rengekan Xin'er. Akhirnya, gadis itu hanya bisa pasrah melihat jepit rambut pemberian suaminya terjatuh bahkan sampai terinjak oleh kaki orang-orang yang berlarian.


'Mungkin dengan hilangnya barang itu, dapat menghilangkan juga perasaanku kepadanya.' batin Xin'er. Ia berusaha berjalan lebih cepat agar tidak menjadi korban keganasan Serigala yang kelaparan itu.


"Aaaakkkhh," lengkingan kesakitan seorang wanita terdengar dari belakang membuat semua orang berbalik untuk melihat.


Saat tubuh wanita itu terjatuh, para Serigala langsung mengerumuninya dan mencabik tanpa ampun.


Seorang lelaki paruh baya berhenti dengan panik setelah mendengar suara yang diyakini putrinya. "Astaga, Yunqi. Tidak!" ia berbalik dan akan menolong putrinya, tapi semua orang menghentikannya.


"Boqing, kau tidak bisa menolong putrimu. Kau akan terluka," cetus mereka semua.

__ADS_1


Tetapi, lelaki itu tak perduli dan langsung membantu menyingkirkan para Serigala dari tubuh putrinya. Boqing berusaha melawan dengan sekuat tenaga, tapi tetap saja kekuatannya bukan tandingan Binatang ganas yang sedang kelaparan itu. Akhirnya, dia pun mati dimakan Serigala lapar bersama putrinya.


Entah kebetulan atau bagaimana? Ternyata, ciri-ciri fisik dan DNA dari putri Boqing, yaitu Yunqi, sama dengan Xin'er. Jadi, pada saat Zhaoling menemukan jasad tersebut dan diperiksa oleh tim Forensik, mereka dapat memastikan bahwa jasad itu adalah Putri Xin'er.


Setelah keluar dari hutan angker tersebut, Xiaolang dan Xin'er mengikuti para perampok bertopeng itu. Lebih tepatnya, keduanya dibawa dan ditolong oleh mereka. Kondisi keduanya membuat mereka bersimpati dan mau membantu untuk merawat lukanya.


Namun, karena kondisi luka Xiaolang yang sangat parah, sehingga dia tak bisa bertahan lama. Dia pun meninggal setelah lima hari dirawat para perampok bertopeng itu. Keadaan Xin'er tak jauh berbeda. Dia saat itu kritis dan tak sadarkan diri selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, Tabib mengatakan bahwa kemungkinan hidupnya cukup besar karena, dalam dirinya masih ada tekad yang kuat untuk bertahan hidup. Bisa dibilang, saat ini dia sedang koma.


Entah apa yang membuat tubuh lemah Xin'er bertahan dalam kondisi yang parah seperti itu. Tapi, Tuan Khong meyakini bahwa gadis itu menyimpan rasa dendam yang mendalam terhadap seseorang akibat tersakiti.


"Rawat dia sampai pulih! Kita tidak boleh membiarkan hidupnya menjadi sia-sia," titah Tuan Khong pada Tabib kelompoknya, Tabib Hiun.


"Baik!" sahut Tabib Hiun.


Tubuh lemah Xin'er akhirnya dirawat sepenuhnya oleh Tabib Hiun sampai luka di sekujur tubuhnya pun sembuh total. Setelah empat bulan lamanya, akhirnya Xin'er kembali sadar dan terbangun dengan perasaan bingung. Dia masih mengingat saat-saat dimana kejadian naas itu menimpanya.


"Ayah, kakak!" desis Xin'er dengan suara lirih.


Tabib Hiun menatap kearah Tuan Khong dan Jihu, kemudian tersenyum lebar. "Dia sudah pulih sepenuhnya, Tuan Besar. Hanya butuh waktu beberapa hari untuk bisa beraktifitas seperti biasa," sahut Tabib Hiun menjelaskan.


Tuan Khong dan Jihu mengangguk. "Lalu, untuk makanan dan obat-obatan. Kami harus menyiapkan apa saja?" bertanya kemudian.


"Tolong berikan sup dulu selama masa pemulihan, dan untuk obat-obatan saya sudah menyiapkan semua ramuannya." sahut Tabib Hiun lagi sebelum akhirnya pamit.


Keduanya bernafas lega setelah mendapatkan jawaban dari Tabib Hiun. Kini, tatapan mereka tertuju pada gadis yang sedari tadi diam kebingungan. "Apa kamu masih merasakan sakit di bagian tubuhmu?"


Xin'er lekas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Jihu. Dia menatap intens kedua pria beda usia di hadapannya. "Maaf, Tuan! Dimana kakak saya? Saya ingin bertemu dengannya," ujarnya masih dengan suara lirih.


Jihu dan ayahnya saling pandang sebelum menjawab pertanyaan Xin'er. Keduanya tidak tahu harus berkata apa kepada gadis malang ini. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Tuan Khong menceritakan semuanya bahwa Xiaolang telah meninggal, lima hari setelah mendapat perawatan. Xiaolang pun menitipkan pesan terakhir untuk disampaikan kepada Xin'er melalui Jihu.

__ADS_1


Pada saat terakhir kematiannya, Xiaolang sempat berbicara kepada Jihu walaupun dengan kesusahan. Dia menyampaikan bahwa Zhaozu dan Zhaoling itu adalah orang yang sama. Sebenarnya, Xiaolang telah mengetahui rahasia Zhaozu dari dulu saat dirinya tak sengaja memergoki Zhaoling mengganti pakaian menjadi Pangeran Ketiga.


Saat itu, Xiaolang tak langsung percaya dan beranggapan bahwa dirinya telah salah melihat. Tapi untuk memastikannya, dia pun akhirnya membuntuti Zhaoling saat dirinya pulang ke Istana Zhoseng. Dari situ, Xiaolang tahu bahwa Zhaoling benar-benar Zhaozu atau Pangeran Ketiga.


Karena merasa dibohongi, akhirnya Xiaolang menegur dan mempertanyakan alasan Zhaozu menipu semua orang, terutama Xin'er. Tapi, Zhaozu pun memberikan alasan yang membuat Xiaolang akhirnya mendukung penyamaran itu. Dengan kepercayaan penuh, Xiaolang mengunci rapat-rapat mulutnya agar rahasia Zhaozu aman dan musuhnya segera ditangkap.


Sejujurnya, Xiaolang tidak tega untuk membohongi adiknya karena mengetahui dari Mengshu, bahwa Xin'er lebih mencintai Zhaoling daripada Zhaozu. Namun, insiden naas itu. Istana digemparkan dengan terlukanya Permaisuri oleh penyusup yang diduga orang suruhan adiknya. Lalu, Xin'er pun diusir karena dituduh melakukan pembunuhan berencana dan melibatkan semua keluarga. Akhirnya, mereka di tahan dan diasingkan ke Kuil Dewa Angin.


Xiaolang berencana mengatakan rahasia itu pada adiknya jika telah tiba di Kuil Dewa Angin. Tapi, nasib baik tak berpihak pada mereka. Ternyata, mereka harus di sergap Serigala Hutan dan terluka separah ini, hingga ayah mereka pun mengorbankan nyawanya. Sungguh malang nasib Xin'er. Bukan hanya ayahnya yang harus tewas di mangsa Serigala, kakaknya itupun tak bisa selamat walaupun kelompok Tuan Khong berusaha menyelamatkan nyawanya.


Beruntung, Xiaolang masih bisa berbicara disaat terakhirnya, dan memberitahukan segalanya kepada Jihu untuk disampaikan pada Xin'er.


Hatinya saat ini sangat hancur sehancur-hancurnya. Orang yang sangat ia percayai, tega mempermainkan perasaannya. Bahkan dulu, Xin'er pernah berpikir bahwa dia melakukan dosa besar dengan mencintai pria lain selain suaminya. Tapi ternyata, pria itu dan suaminya adalah orang yang sama. Sama-sama menipu dirinya.


Apapun alasan Pangeran Ketiga melakukan itu, bagi Xin'er tetap salah. Jika suaminya sangat mencintai dirinya, pasti Zhaozu akan percaya pada Xin'er dan memberitahukan semua rahasianya. Tapi, sampai keributan terjadi sebelum Permaisuri terluka di kediamannya, Zhaozu memilih pergi dan masih tak mau jujur padanya. Alasan itu memperkuat kebencian Xin'er pada Zhaozu semakin mendalam. Dengan tekad yang penuh, Xin'er berjanji akan membalas semua rasa sakit yang pernah Zhaozu berikan.


Melihat gadis itu menangis dihadapannya, Jihu menjadi tak tega. Dipeluknya tubuh lemah itu dengan lembut, seraya memberikan usapan di kepalanya. "Tidak usah menangisi apa yang telah terjadi! Yang sudah berlalu biarlah berlalu, kini kau harus menata hidupmu dan masa depanmu kembali." nasihatnya pada Xin'er.


Xin'er merasakan damai saat berada di pelukan Jihu seperti sedang memeluk kakaknya. Rasanya, beban hidupnya sedikit berkurang saat ini. "Terima kasih, Tuan!" ucapnya sopan.


"Tidak perlu formal seperti itu! Panggil aku kakak pertama, atau kak Jihu juga boleh." tukas pria tampan itu dengan senyum manis. "Oh ya, aku belum tahu namamu. Siapa namamu, dek?" tanya Jihu kemudian.


Xin'er terdiam. Sejenak ia berpikir, kemudian menjawab dengan pasti. "Namaku, Yoona. Sin Yoona!"


Awalnya, dia akan menjawab Yun Xin'er. Tapi, dengan meninggalnya ayah serta kakaknya, dia pun menganggap Xin'er sudah mati dan mengembalikan Yoona lagi. Walaupun memang Xin'er sudah mati sebelumnya, tapi tubuh ini tetap milik Xin'er, dan Yoona hanya menggunakannya saja sebagai balasan kehidupannya. Tapi kini, dia harus membangkitkan kembali Yoona untuk bisa membalaskan dendam mereka. Orang-orang yang menyayanginya di kehidupan ini.


Jihu mengangguk. "Baiklah, Yoona. Mulai hari ini, kau adalah adikku. Putri Kelima Tuan Besar Khong Guan. Sekarang, buang semua beban di hatimu dan belajarlah ilmu bela diri dengan sungguh-sungguh. Tunjukan kepada Dunia, bahwa kau bukan gadis lemah seperti yang dulu. Biarkan semua orang yang menyiksamu dulu tahu, bahwa kau bukan lagi gadis yang mudah ditindas." ujar Jihu.


"Iya, kak. Aku akan mempelajari semua ilmu yang kalian ajarkan kepadaku, agar aku bisa membalas rasa sakit ini!" ucap Yoona penuh tekad.

__ADS_1


"Akhirnya. Aku bisa memakai identitas dan menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Tunggi kedatanganku, Panglima Zhaoling!"


...Bersambung ......


__ADS_2