Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Tekanan besar


__ADS_3

Rumah adalah tempat tinggal yang paling nyaman. Tempat itu bisa melindungi kita dari panas dan hujan, dari dinginnya cuaca, serta dari bahaya yang mengintai. Tapi, bagaimana jadinya jika rumah itu malah menjadi tempat yang paling berbahaya bagi mereka?


Itulah yang terjadi pada keluarga Hui Dongju atau Jendral Hui. Mereka yang tinggal dirumah tak tahu jika bahaya akan datang kapan saja. Bahaya yang datang tanpa diundang itu datang disaat Hui Dongju pergi bertugas. Dia tak tahu jika rumahnya kedatangan tamu tak diundang dari Istana Hangseng, Istana bagian Ibu Suri.


Jendral Hui saat itu sedang menyelidiki kasus perampok bertopeng yang selalu meresahkan Bangsawan, namun membuat rakyat bahagia. Dia pun tak mengerti dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Dari sudut mana dia harus berpikir? Maka dari itu, Jendral Hui diam-diam menyelidiki sendiri kebenaran tentang perampok bertopeng tersebut.


Setelah menyelidiki kasus ini lebih dalam, Hui mendapatkan fakta yang mengejutkan tentang kebenaran dari laporan yang ia terima. Kenyataannya adalah Rakyat sangat mendukung aksi perampok bertopeng yang merampok hanya kalangan Bangsawan saja.


Apa penyebab besarnya dukungan rakyat pada perampok bertopeng? Yaitu, karena Bangsawan selalu menindas rakyat jelata seperti mereka untuk membayar pajak yang hanya masuk kedalam kas pribadi mereka.


Jendral Hui segera melaporkannya pada Panglima untuk menindak lanjuti kasus ini. Namun, saat kembali ke kamp militer, dia tak menemukan Zhaoling dan mendapatkan laporan bahwa Panglima Besar itu sedang pergi ke ke wilayah Selatan untuk menangani perampok bertopeng.


Hui akan menyusul Zhaoling untuk menyampaikan kebenaran yang ia temukan saat penyelidikan. Namun, sebuah titah dari Kaisar datang kepada tepat disaat akan pergi. Dia pun segera memenuhi panggilan Kaisar dan datang ke Aula Istana. Tapi, di sana tak ada siapapun yang berkumpul kecuali Mentri dibawah Ibu Suri.


Ini sungguh aneh menurut Hui. Bukankah Kaisar yang menyuruhnya datang? Tapi, dimana Kaisar Zhihu sekarang?

__ADS_1


Para Mentri itu segera mendekatkan diri dan mempersilahkan Jendral Hui untuk mengikuti langkahnya menuju Istana Hangseng, kediaman Ibu Suri. Awalnya, Hui tak mencurigai apapun dan segera mengikuti para Mentri tersebut tanpa bertanya terlebih dulu. Namun, saat berada tepat di Istana Hangseng, di baru mengerti bahwa ini adalah suatu pengalihan. Titah Yang Mulia Kaisar dipalsukan.


Hui pun bertanya, kenapa mereka melakukan ini terhadapnya? Apa mereka tidak takut jika dilaporkan kepada Kaisar dan mendapatkan hukuman? Tapi, ancaman Hui tak mempan karena mereka mendapat dukungan penuh dari wanita penguasa Istana Hangseng, Yang Mulia Ibu Suri Hangsung'in.


Kedatangan wanita tua itu membuat para Mentri menundukkan kepalanya, namun mengembangkan kesombongan dalam diri mereka. Bagaimanapun, para Mentri itu adalah para pengikut setia Ibu Suri. Jadi, Ibu Suri pasti tak kan membiarkan para pengikutnya celaka, bukan!


Ibu Suri segera menyampaikan apa tujuan utama pemanggilannya terhadap Jendral Hui. Beliau mengatakan keresahan para Bangsawan terhadap aksi perampok bertopeng yang akhir-akhir ini menjadi ancaman untuk mereka.


Hui yang sudah mengetahui duduk permasalahan yang sesungguhnya pun menyampaikan pendapat dan meminta izin agar diberikan kesempatan kepada para perampok bertopeng. Hui juga menjelaskan perihal kekejaman para Bangsawan kepada rakyat miskin, yang memicu terbentuknya kelompok perampok bertopeng tersebut.


Dia juga berencana untuk menyampaikan kasus ini kepada Kaisar dan Panglima Zhaoling agar melindungi orang-orang tak berdosa dari kekejaman Istana dengan hukuman yang tak adil. Seperti yang pernah dialami mendiang Perdana Mentri Yun dan kedua anaknya, Xin'er dan Xiaolang.


Ya. Ibu Suri ingin Yoona mati. Baik itu sebagai Yoona ataupun saat menjadi Xin'er, wanita tua ini tetap tak menyukai istri Zhaoling tersebut. Beliau ingin cucunya bersanding dan menerima wanita pilihannya, Ming He.


Tapi, melihat sifat keras kepala Zhaoling, rasanya tak kan mungkin untuk membujuknya agar melupakan Xin'er. Apalagi, jika dia tahu bahwa Xin'er masih hidup dan bergabung dalam kelompok perampok bertopeng itu.

__ADS_1


Ibu Suri tak kan membiarkan itu terjadi. Beliau memaksa Jendral Hui untuk menumpas para perampok itu dengan cara apapun, tapi Hui menolak dengan tegas dan mengatakan bahwa ia akan berunding dengan Kaisar atau Zhaoling terlebih dulu. Namun, apa yang dikatakan Ibu Suri selanjutnya membuat dia tak bisa menolak.


Ibu Suri mengancam akan membunuh seluruh anggota keluarganya, termasuk bayi yang baru dilahirkan istri Jendral Hui beberapa hari yang lalu. Hui terkejut mengetahui bahwa istrinya sudah melahirkan. Dia sangat senang sampai air mata keluar begitu saja disela senyumnya. Tapi, ia pun sedih karena ternyata kabar itu diketahuinya dari orang yang mengancam keselamatan keluarganya.


Sungguh malang nasib Jendral Hui saat ini. Disaat dirinya sedang memperjuangkan nasib rakyat, disaat bersamaan hidup keluarganya terancam. Apa yang harus dia pilih?


Walaupun titah Ibu Suri terkesan aneh menurutnya, tapi Jendral Hui tak banyak bertanya. Dia menyetujui perintah Ibu Suri dengan memohon agar keluarganya dibebaskan. Hui pun hanya bertanya dalam hatinya. Kenapa Ibu Suri melakukan ini dan bersikeras untuk menumpas perampok bertopeng, padahal ia sudah menjelaskan alasannya? Dan, kenapa Ibu Suri tega menjadikan keluarganya sebagai tawanan untuk mengancamnya? Apa alasan dibalik sikap tidak adil Ibu Suri pada rakyat?


Sungguh. Hal ini mengejutkan Jendral Hui, bahwa seorang Penguasa bisa bersikap tidak memperdulikan kebenaran dan mendukung kejahatan. Dia menyesal telah menemui dan membicarakan apa yang telah ia temukan kepada Ibu Suri, dan ternyata malah membuatnya terpojok.


Hari itu juga, Jendral Hui membawa pasukannya menuju kearah Selatan, sesuai petunjuk prajurit tentang keberadaan perampok bertopeng. Dia diberikan kuasa penuh untuk membunuh semua perampok bertopeng tanpa menyisakan sedikitpun. Sebuah token berlambang Istana Xili telah dipegangnya, namun token itu berwarna hijau yang melambangkan bahwa dirinya utusan Ibu Suri. Token dari Kaisar berwarna kuning keemasan, token milik Permaisuri berwarna coklat, dan milik para Pangeran berwarna merah.


Semua itu digunakan jika keadaan darurat, atau hal yang mendesak, maka mereka bisa menggunakan lencana tersebut untuk memberikan perintah kepada para pengikutnya.


Helaan nafas terdengar berat dari mulut Jendral Hui. Sebelum ia bisa bertemu keluarga terutama anaknya yang baru lahir, ia harus menuntaskan tugas yang diberikan Ibu Suri padanya. Tugas itu juga bersifat rahasia dan hanya para pengikut Ibu Suri yang tahu, termasuk Pangeran Zhaohan dan Pangeran Zhaokang.

__ADS_1


"Aku seorang kesatria pembela Negara, harus menumpas rakyat tak bersalah hanya karena mereka membela diri dari kejahatan para Bangsawan. Jika aku menolak, maka nyawa keluargaku yang menjadi taruhannya. Haah, kenapa hidupku seperti ini? Andai saja aku menjadi rakyat biasa, mungkin aku tak akan merasakan tekanan yang begitu besar ini!" keluh Jendral Hui saat berada dalam perjalanan menuju Selatan.


Bersambung ...


__ADS_2