
"Jadi, kau menolak ajakan ku?" bertanya tanpa menatap wajah Xin'er. Kekecewaan terdengar dari nada bicara Jihu. "Apa ini balasan untuk kebaikan yang aku berikan untukmu?" tanya Jihu lagi memastikan.
Walaupun tak mengerti dengan apa yang diucapkan Jihu, Xin'er tetap mengangguk yakin. Namun, seketika ia juga menggelengkan kepalanya. "Maksudku, aku tidak akan membalas kebaikan kakak dengan kejahatan. Tapi, aku tak bisa meninggalkan keluarga kecilku demi kakak!" tegas Xin'er memberikan alasan.
Jihu menghela nafas panjang, kemudian mundur beberapa langkah. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan! Ingat, kau tak boleh menyesal Yoona!" peringat nya pada Xin'er yang menatapnya dengan perasaan sulit diartikan.
Xin'er sendiri bingung dengan perubahan sikap Jihu padanya. Bukan karena dia tak peka, tapi justru karena ia menganggap pria dihadapannya itu tak lebih hanya sebagai kakak. Seorang kakak yang selalu melindungi dari bahaya yang mengancam, juga memaafkan kesalahannya jika ia berbuat salah. Tapi kini, Jihu justru bersikap selayaknya kekasih yang ditinggal selingkuh oleh pacarnya.
Belum sempat Xin'er sadar dari lamunannya, sebuah tebasan pedang tertuju kearahnya.
Srek
"Argh," ringisan keluar dari mulutnya seiring tetesan darah yang mengalir dari lengan kirinya.
"Xin'er!" teriak semuanya serempak, ketika wanita itu meringis menahan sakit di lengannya.
Amarah Zhaoling membara. Dia menarik istrinya untuk mundur, kemudian mengeluarkan sebuah jurus yang langsung ditujukan kepada orang yang menyerang Xin'er. "Beraninya kau menyerang istriku! Rasakan ini,"
"Jurus cakar Naga tahap tiga," gumam Zhaoling mengeluarkan sebuah jurusnya.
Srek
Tiba-tiba, Zhaokang menjerit kesakitan akibat tubuhnya yang terasa dicakar sebuah kuku panjang hingga mengeluarkan banyak darah. Padahal, jarak antara tangan Zhaoling dan tubuh Zhaokang lumayan jauh. Namun, pria itu bisa melukai adik tirinya itu tanpa menyentuh sedikitpun.
Ya. Orang yang telah melukai Xin'er menggunakan pedangnya itu adalah Zhaokang. Dia kesal sebab Xin'er selalu memilih untuk bersama Zhaoling, saudara beda ibu tersebut. Sikap keras kepalanya Xin'er itu membuatnya tak sabar dan ingin segera membunuhnya. Karena Xin'er lah peperangan ini terjadi, pikir Zhaokang.
__ADS_1
Zhaokang yang masih terkejut dengan luka cakar di dada sampai perutnya pun segera berlutut di tanah sembari memegang lukanya tersebut. Darah yang keluar cukup banyak karena, luka cakaran itu bukan hanya menggores tapi sedikit menarik dagingnya keluar. Sehingga, darahnya tak bisa dihentikan menggunakan apapun. Kecuali, ia segera berobat kepada Tabib. Namun, bisakah ia pergi ke Tabib sekarang? Tidak, karena Zhaoling tak kan membiarkannya pergi begitu saja.
Orang yang telah berani menyakiti Xin'er berarti dia mempersiapkan kematiannya. Maka dari itu, ia tak kan selamat jika sudah berurusan dengan Zhaoling.
Zhaohan dan Jihu segera mundur dengan terkejut. Keduanya baru tahu jika Zhaoling pun mempunyai jurus seperti ini. Berbeda dengan Luo dan Jin, karena keduanya adalah Guru Besar di Perguruan Naga Bayang. Jadi, keduanya tahu betul apa yang dikeluarkan oleh mantan muridnya itu.
"Ternyata, jurus paling dasar itu jika digunakan oleh murid berbakat, akan menjadi sangat kuat dampaknya! Hebat," puji keduanya namun terselip sebuah ejekan dari nada bicaranya.
Tapi, Zhaoling tak menghiraukan pujian keduanya. Dia menatap tajam kearah musuhnya yang berbaris dengan ekspresi terkejut. Pasalnya, jurus yang dikeluarkan Zhaoling itu tak sedikitpun mereka tahu. Cuma kabar dari para prajurit saja yang mengatakan bahwa Zhaoling mempunyai kekuatan menakutkan, serta bisa membunuh ratusan prajurit musuh.
Tanpa banyak kata lagi, kedua Guru itu pun mengeluarkan jurusnya untuk melawan Zhaoling. Namun, Qianfeng berusaha untuk membantu Zhaoling menahan serangan dari keduanya, sehingga mengakibatkan ledakan cukup besar.
Wush ... blar ... blaaarrr
Suara ledakan terdengar seiring hembusan angin yang sangat kuat, mengakibatkan debu berterbangan menghalangi pemandangan. Tak hanya cukup sampai disitu, serangan mereka pun kembali terjadi di udara. Sambil melayang, mereka mengadu kekuatan lagi hingga musuh dari mereka jatuh terlebih dahulu.
Rasa kebencian dan amarah semakin berkobar di tempat yang menjadi medan peperangan ini. Pasukan dari kedua belah pihak pun saling menyerang satu sama lain untuk melumpuhkan pasukan musuh.
Trang ... trang ... trang
Suara besi terdengar saling membenturkan satu sama lain. Bukan hanya pedang ataupun perisai, melainkan tombak pun mereka gunakan untuk membantai pasukan musuh. Prajurit yang berada dibarisan belakang tengah bersiap untuk serangan jarak jauh. Ribuan anak panah melesat dengan garis melengkung ke atas langit, kemudian menukik ke bawah supaya bisa melukai pasukan musuh.
Peperangan kali ini adalah pertempuran paling besar diantara peperangan yang pernah terjadi di seluruh daratan Jhajhanan. Perebutan kekuasaan memang mengakibatkan rasa haus akan darah semakin tinggi. Ditambah lagi jika orang yang berperang adalah mereka yang memiliki kekuatan menakutkan dengan jurus-jurusnya.
Banyak korban berjatuhan dimana-mana dengan darah mengalir deras di tanah. Namun, bukan pasukan dari pihak Xili dan Xiang, melainkan pasukan gabungan yang dipimpin Zhaohan. Karena mereka tak memiliki lagi bantuan dari kerajaan lain, sehingga mereka mudah di bantai. Dengan jumlah yang sedikit itu, akhirnya kemenangan diraih oleh kerajaan Xili dan Xiang.
__ADS_1
Kini, tinggal para pemimpin mereka yang bertarung dengan mempertaruhkan nyawa. Walaupun sudah banyak luka disekitar tubuhnya, namun mereka tetap berusaha melawan sekuat tenaga agar bisa membunuh musuhnya.
Wush ... bruk
Satu telah ambruk di tanah dengan luka berat yang ia dapat sebelumnya. Jin menatap sinis kearah Qianfeng sembari memegangi dadanya yang terasa sakit. Sejujurnya, ia masih tidak terima dengan kekalahan yang didapatnya karena melawan mantan muridnya sendiri. "Qianfeng. Kau sungguh murid yang tak berbakti! Beraninya kau menyerang Gurumu ini, hah!" bentaknya dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Qianfeng tertawa renyah mendengar teriakan gurunya, lebih tepatnya gerutuan tersebut. "Kau bukan lagi Guruku semenjak kau meninggalkan Perguruan! Jadi, untuk apa aku harus hormat dan patuh kepadamu yang hanya seorang pengkhianat?!" ujar Qianfeng setelah berhenti tertawa.
Guru Jin bukan hanya terkejut karena kekuatan Qianfeng yang meningkat, melainkan karena sikap arogan pria itu yang mirip dengan Zhaoling dan juga Guru Tertinggi Lon Thong.
Jika terus melawan, ia pasti akan mati di tangan mantan muridnya tersebut. Tak ada cara lain selain mengemis maaf kepada pria sombong yang menjadi musuhnya itu. Dengan menahan malu, Jin berlutut di tanah berharap mendapat pengampunan dari Qianfeng, mantan muridnya.
Kekuatan Guru Jin sudah habis terkuras akibat melawan mantan muridnya itu. Kini, tak ada kekuatan yang tersisa lagi dalam tubuhnya walaupun hanya untuk menggerakkan tangan dan kaki saja. Tapi, dia berniat membunuh Qianfeng disaat pria itu lengah.
Qianfeng kembali tertawa melihat gurunya yang berlutut di tanah, meminta maaf pada dirinya. Bahkan, tawa Qianfeng menggelegar bagai petir yang menyambar. Dia teringat akan masa dulu, ketika berada di Perguruan, Guru Jin selalu melakukan perbuatan semena-mena terhadap seluruh muridnya.
Pria itu berjalan mendekat kearah Guru Jin, kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Kau ingin pengampunan?" Jin mengangguk dengan wajah sumringah. "Baiklah! Ayo, Guru harus berdiri dulu! Tidak pantas Anda berlutut dihadapan murid seperti itu," ucapnya sembari membantu Jin berdiri.
Guru Jin mengira jika Qianfeng benar-benar tertipu oleh siasatnya, sehingga ia akan mengeluarkan jurus terakhir yang akan digunakan untuk membunuhnya. Namun, siapa sangka malah Qianfeng memiliki siasat sama sepertinya.
Setelah pria tua itu berdiri, Qianfeng berbalik badan dengan senyum menyeringai. Tangannya terulur ke depan dengan secepat kilat mengeluarkan jurusnya. "Jurus penghancur jiwa,"
"Aaaarrrggghhh,"
Blaaaaarrrrrr
__ADS_1
Tubuh Guru Jin hancur lebur setelah terkena jurus mematikan dari mantan muridnya itu. Sedangkan Qianfeng tertawa puas walaupun seluruh wajah serta tubuhnya dipenuhi darah gurunya sendiri.
Bersambung ...