Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Penolakan Xin'er


__ADS_3

Pasukan militer Xiang dibawah kepemimpinan Panglima Perang Qianfeng, bergegas menuju perbatasan yang dijadikan tempat pertempuran. Prajurit yang kebanyakan pasukan elite serta kaveleri, membawa senjata mereka untuk membantu pasukan Xili dengan berani. Walaupun jumlah mereka tak lebih dari lima ribu prajurit, namun semuanya adalah prajurit terlatih yang cukup tangguh.


Qianfeng yang berlari dengan kudanya di depan mereka segera mengangkat bendera tinggi-tinggi. Tujuannya adalah untuk memberitahu pasukannya bahwa perang kali ini tidak mudah. Mereka harus melawan musuh yang mungkin saja jumlahnya bisa berkali-kali lipat dari mereka. Tapi sepertinya, pasukan Qianfeng tak pernah takut akan kematian. Asalkan sudah bisa membunuh musuh, maka hati mereka sangat bahagia.


Ada kepuasan tersendiri ketika membunuh musuh di medang perang. Bagi seorang prajurit, peperangan menjadi makanan pokok mereka.


Xin'er menitipkan putranya pada Yuelie dan Mengshu untuk dibawa pulang ke Xili setelah mereka mengantarnya ke Kota Yongsheon. Bergegas mereka kembali menyusul pasukan Qianfeng yang sudah lebih dulu berangkat ke medan perang untuk membantu Zhaoling yang berperang sendirian.


Xin'er, Liu Wei, dan Yu Xuan memakai kudanya masing-masing untuk mengejar pasukan Qianfeng. Sesampainya di sana, mereka melihat banyak prajurit dari kedua belah pihak yang sudah tewas dengan kondisi mengenaskan. Jantung Xin'er berdegup kencang ketika tak mendapati Zhaoling dalam pasukannya.


"Dimana Aling?" perasaan takut mulai menyerangnya kala itu.


Liu Wei bertanya pada salah satu prajurit yang masih hidup, tentang Panglima mereka dan prajurit itu menunjuk jauh kearah depan. Prajurit tersebut juga menceritakan bahwa Panglima Zhaoling mengejar musuh sampai ke tempatnya.


Qianfeng bergegas menghentak laju kudanya supaya bisa membantu Zhaoling, karena dia takut terjadi sesuatu kepada sahabatnya. Dan ternyata benar saja, jika Zhaoling tengah melawan dua orang yang berilmu cukup tinggi, yaitu Guru Besar mereka yang berkhianat.


Dari kejauhan, Qianfeng melihat Zhaoling berlutut di tanah karena kelelahan. Begitu juga dengan kedua Guru Besar mereka, Luo dan Jin. Pria itu melepaskan anak panah ketika melihat Zhaohan mengarahkan pedang kearah Zhaoling untuk menebas kepalanya.


Trang ... prang


Terdengar benturan anak panah menabrak pedang Zhaohan hingga membuatnya terlempar dan jatuh ke tanah. Si pemilik pedang sangat terkejut dengan hal itu, sehingga ia menoleh kearah Qianfeng.


Melihat seorang Panglima Perang Kerajaan Xiang datang kemari, Zhaohan yakin pasukannya pasti akan kalah. Namun, dia tetap percaya pada kemampuan kedua Guru pengkhianat yang berada di pihaknya, bahwa mereka pasti bisa menang kali ini.

__ADS_1


Untuk urusan pasukan, dia tak perduli. Selama dirinya bisa membunuh Zhaoling dan Qianfeng, maka pasukannya pasti tunduk dibawah kekuasaan Zhaohan. Tapi, semenit kemudian dia dibuat terkejut atas kedatangan tiga orang lain lagi yang membantu Zhaoling yaitu, kedua pengawal bayangan dan Xin'er.


Zhaohan tersenyum kecut ketika melihat Xin'er melompat dari kudanya, kemudian langsung memeluk Zhaoling. Hatinya merasa panas melihat kemesraan yang ditunjukan pasangan tersebut, begitupun dengan Jihu yang merasakan hal sama seperti yang Zhaohan rasakan.


Xin'er melompat turun dari kudanya dan langsung menubruk tubuh Zhaoling. "Aling, kau membuatku khawatir!" ucapnya seraya menangis.


"Maafkan aku, Xin'er! Aku tak menepati janjiku padamu," lirihnya sambil memeluk erat tubuh sang istri.


Xin'er menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa Zhaoling memiliki alasan kuat dibalik tak pulangnya. "Aling, kau tidak apa-apa?" raut wajah emas jelas terlihat dari Xin'er. Dia terus mengusap wajah tampan suaminya yang terdapat luka lebam akibat terkena pukulan yang diberikan Guru Luo dan Guru Jin.


"Tidak! Kau jangan mengkhawatirkan ku, Xin'er! Bagaimana dengan anak kita?" tanya Zhaoling balik.


"Dia baik-baik saja. Sekarang, dia ada ditempat aman. Dia tampan sepertimu," ucapan Xin'er seketika membuat Zhaoling terkejut. Xin'er tahu jika suaminya meminta penjelasan lebih lanjut darinya, dan ia pun tersenyum mengatakannya. "Kelak dia akan menjadi pria kuat seperti ayahnya,"


Liu Wei, Yu Xuan, dan Qianfeng menepuk bahu Zhaoling untuk menyadarkannya bahwa musuh masih berada di sana dan menunggu untuk dihabisi. "Kebahagiaan kita tak lengkap jika belum menghabisi mereka semua!" ujar ketiganya seraya menunjuk ke depan.


Pria itu langsung mengarahkan pandang ke depan setelah sedikit menoleh kearah ketiga temannya. "Kalian benar! Baiklah, kita habisi para pengkhianat itu dulu!" kata Zhaoling dengan nada dingin.


Seketika aura menakutkan keluar dari tubuhnya. Dengan diikuti ketiga temannya, Zhaoling mengarahkan pedang kepada musuh dihadapannya. "Bersiaplah!"


Qianfeng, Liu Wei, dan Yu Xuan menjawab serempak. "Siap!"


Setelah mereka menyahuti, keempatnya bersiap menyerang musuh dihadapannya. Begitupun Xin'er yang telah siap dengan pedang ditangannya. Walaupun Zhaoling mengatakan untuk tidak boleh berperang, namun ia keukeuh ingin ikut menumpas para pengkhianat tersebut.

__ADS_1


Saat mereka sudah siap menyerang, netra mutiara Xin'er melirik salah satu pria yang sangat ia kenali. Pria yang dulu menyelamatkan hidupnya dari bahaya dan kematian. Pria yang selalu membimbingnya untuk menjadi wanita kuat. Dialah Khong Jihu, putra pertama Tuan Khong Guan, ayah angkat Xin'er.


"Kenapa?" sebuah pertanyaan yang Xin'er tunjukan kepada Jihu membuat semua menoleh. Ia pun melanjutkannya lagi, "aku tahu kakak pasti marah! Tapi, aku tak tahu jika kakak masih hidup dan keluar dari hutan untuk mencari ku. Aku sungguh minta maaf, kak Jihu!" ucap Xin'er penuh penyesalan.


Jihu memandangi Xin'er yang tertunduk sembari menangis. Sebetulnya dia tak tega melihat wanita yang dicintainya meneteskan air mata akibat ulahnya. Bagaimana pun juga, dia mempertahankan hidupnya hanya untuk mencari wanita tersebut. Seharusnya mereka saling berpelukan untuk mengobati rasa rindu, bukan malah membuatnya merasa bersalah. Kini Jihu ragu, antara mendukung Zhaohan untuk membunuh Zhaoling, atau memeluk adik angkat yang dicintainya.


Perlahan ia mendekat kearah Xin'er, "kau mengkhianati kepercayaan ku! Sudah tak ada yang harus ku pedulikan lagi," ucapnya lirih.


Walaupun sangat pelan, namun Xin'er mendengar apa yang diucapkan kakak angkatnya itu. Wajahnya mendongak menatap nanar pria dihadapannya. Dia tak menyangka jika kakak angkatnya tersebut akan merasa diperlakukan tak adil seperti itu. Padahal, apa salahnya jika Xin'er kembali kepada suaminya? Bukankah itu yang dulu ia harapkan yaitu, kebahagiaan Xin'er? Namun sekarang, perkataan Jihu seolah bagaikan seorang pria yang ditinggalkan selingkuh kekasihnya. Ada apa dengan dirinya? Itulah yang ada di pikiran Xin'er saat ini.


Tapi, keempat pria disampingnya mengerti jelas dengan sikap dan perkataan Jihu, bahwa pria ini tengah cemburu. "Kau melupakanku, Yoona! Kau tak berusaha mencari keberadaan ku," cecar Jihu berteriak.


Xin'er pun menjelaskan kepadanya, bahwa ia bersama suami dan kedua pengawal bayangannya sudah berusaha mencari bahkan ke area dekat hutan terlarang itu. Namun, tak ada tanda-tanda kehidupan seseorang disana. Tak sampai disitu, Xin'er dan yang lainnya bahkan masuk kedalam hutan larangan, tapi tak menemukan keberadaan Jihu. Saat itu, hanya ada banyak mayat yang tergeletak dengan kondisi mengenaskan. Mereka menyimpulkan bahwa kemungkinan Jihu pun sudah tewas dimangsa para makhluk penunggu hutan larangan.


Jihu tersenyum miring menanggapi cerita Xin'er. "Baiklah! Jika kau sangat mengkhawatirkan ku, maka kembalilah kepadaku! Tinggalkan mereka dan kita akan hidup bersama seperti dulu," ungkapnya seraya mengulurkan tangan.


Semua orang menatap kearah Xin'er yang diam di tempatnya setelah mendengar ajakan Jihu. Xin'er mengulurkan tangan menyambut uluran tangan kakaknya. Dia menarik tangan Jihu dan menggenggamnya erat, membuat semua orang terkejut dan menganggap Xin'er akan menerima ajakan Jihu. Bagaimana bisa Xin'er menerima ajakan Jihu semudah itu?


Zhaoling maju sedikit, menyentuh bahu Xin'er. "Sayang,"


Xin'er menoleh sambil tersenyum hangat kearah suaminya. "Maafkan aku, Kak! Aku memiliki suami dan sekarang aku pun memiliki seorang putra,"


Pernyataan Xin'er membuat semua terdiam, begitu pun dengan Jihu. Bahkan, senyum yang sempat menghiasi bibirnya kini lenyap ditelan penolakan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2