
Setelah mendapat izin dari Pangeran Ketiga ataupun Zhaoling, kini Xin'er mendapat pelatihan di kamp militer. Dia sangat berantusias mengikuti pelatihan bersama para prajurit dan berjuang keras supaya bisa menyamai pergerakan mereka.
Namun, kehadirannya di kamp malah membuat semua prajurit tak fokus. Bukannya berlatih, mereka malah terus menatap kearah Xin'er yang bergerak dengan gemulai. Paras cantik yang terbias sinar mentari, membuat semua orang terpana. Kulit putih bersih, serta tubuh rampingnya menjadi sorotan tatapan lapar para prajurit mata keranjang.
Zhaoling yang melihat istrinya menjadi bahan tontonan gratis semua prajurit, tentu sangat marah. Ingin rasanya ia memukul wajah seluruh pria itu, serta mencongkel bola mata mereka karena berani menatap tubuh Xin'er secara langsung.
Tapi, saat ini Zhaoling tidak boleh gegabah dalam bertindak. Dia takut jika ada mata-mata yang mengikuti Xin'er dan membahayakan nyawanya. Jalan satu-satunya yaitu dengan cara memberikan pelatihan khusus pada Xin'er, agar terpisah dengan para prajurit yang lain.
Akhirnya, Zhaoling memutuskan mengajak Xin'er kesebuah pegunungan tak jauh dari Istana. Dia beralasan karena Xin'er tak fokus berlatih di kamp dan menggoda para prajurit di sana, serta agar Xin'er cepat pandai tanpa gangguan apapun.
Xin'er tentu saja tak terima dengan tudingan itu. Tapi, untuk membuktikan kesungguhannya berlatih, tanpa curiga ia pun mengikuti kemauan Zhaoling dengan cara berlatih diatas gunung.
Senyum kemenangan terpancar jelas dari wajah Zhaoling yang tak terlihat oleh istrinya. Walaupun begitu, ia akan tetap mempersulit Xin'er agar mau menyerah. Tujuannya adalah mencari tahu alasan Xin'er yang tiba-tiba ingin berlatih ilmu bela diri.
'Kau tak mau jujur padaku. Maka, aku akan mencari tahu sendiri kebenarannya, tentu dengan caraku sendiri.' Zhaoling bermonolog dalam hatinya. Pendiriannya tak bisa digoyahkan hanya karena Xin'er istrinya. Dia akan tetap mencari tahu alasan dibalik semua keinginan Xin'er yang menurutnya aneh dan tiba-tiba. Apa ada hubungannya dengan Ibu Suri dan kakak tirinya? Ataukah dengan yang lain?
...💫💫💫💫...
"Ciyaaat," teriakan seseorang ditengah pagi buta. Dia menggerakkan tangan serta kakinya ke kakan dan kiri dengan sedikit kaku.
Plak ... plak ...
"Turunkan tangannya sedikit rendah, dan kaki sedikit naik keatas!" ujar seseorang menginstruksi setelah memukul bagian yang disebutkan olehnya tadi.
Walaupun sambil mencebik kesal, dia tetap menuruti sesuai perintah orang tersebut. Gerakan ini sudah diulang beberapa kali, tapi tetap saja dia salah dan mengulangi kesalahannya. Padahal, menurutnya gerakannya sudah benar. Tapi, menurut orang yang melatihnya itu masih salah dan perlu diperbaiki lagi.
Tak ada pilihan lain bagi Xin'er saat ini selain diam dan menurutinya. Setelah Zhaoling menyetujui menjadi gurunya, gadis itu harus siap atas pelatihan yang diberikan Zhaoling padanya. Walaupun terkesan tak mau, tapi Zhaoling tetap memberikan pelatihan dasar dengan benar.
"Ciyaaaat," teriak Xin'er lagi dengan gerakan seperti yang dikatakan Zhaoling. Lagi dan lagi, gerakan yang ditunjukan Xin'er masih salah menurut Zhaoling.
Plak ...
__ADS_1
"Pukulan tanganmu terlalu lambat," ucap sang guru setelah memukul tangan muridnya. Dia sepertinya sengaja melakukan itu agar Xin'er menyerah dan tak mau bergabung di kemiliteran.
Habis sudah kesabaran Xin'er saat ini. Dia berbalik memukul perut Zhaoling karena kesal. Walaupun pukulannya tak terasa ditubuh Zhaoling, tapi itu cukup membuatnya terkejut. "Hei. Apa-apaan kau ini? Kenapa kau memukulku?" tanya Zhaoling dengan marah.
"Kau yang apa-apaan? Dari pagi sampai hampir pagi lagi, aku cuma disini bersamamu dengan pelatihan tak berguna seperti ini. Apa kau sengaja menjadikanku bahan lelucon, karena aku tak bisa melakukan pelatihan dasar!" seru Xin'er kesal dengan menghardiknya.
Zhaoling tersenyum tipis sebelum berbalik badan. Dia menggelengkan kepala sambil berkata, "sudah cukup! Jangan pernah datang kemari lagi!" ucapnya tiba-tiba. Dia pun melambaikan tangan seraya melangkah pergi meninggalkan Xin'er yang tampak melongo ditempatnya.
'Apa maksudnya dengan jangan datang lagi? Apa dia ...'
Ah, sial!
"Zha ... Zhaoling ... Aling," Xin'er berlari mengejar Zhaoling yang sudah berjalan jauh di depan. Dia berteriak memanggil nama pria itu, namun teriakannya hanya diabaikan olehnya. Xin'er sangat geram sampai berlari dengan kecepatan penuh. Saat posisinya sudah hampir dekat, gadis itu melompat kearah punggung Zhaoling. Tangannya mengait dileher pria itu dengan kaki yang melingkar diperutnya. Untungnya, tubuh Zhaoling yang kekar serta tegap itu tak oleng dan terjatuh, walaupun diterjang oleh Xin'er dengan kencang. "Kau berani mengabaikan ku," cebiknya kesal.
Zhaoling yang terkejut dengan tingkah Xin'er, seketika membeku ditempat. Dia tak percaya jika Xin'er akan melakukan hal bodoh sampai melompat ke punggungnya. Cukup lama dia diam tanpa mendengar celotehan Xin'er sedari tadi yang memakinya. Setelah tersadar, baru ia menoleh dengan tatapan tajamnya. "Bisakah kau turun dari punggungku?"
Nada bicara yang dingin itu seolah menampar Xin'er untuk tersadar akan tingkah barbarnya. Dia tersenyum canggung sambil melonggarkan kaitannya dan langsung turun. "Maaf!" ucapnya tak enak.
Sungguh. Hatinya saat ini buat resah karena ketidakberdayaan pada keadaannya. Ingin rasanya Zhaoling jujur tentang yang sebenarnya, namun ia terlalu takut akan apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin, Xin'er akan memaafkan dirinya. Tapi, jika semua orang tahu kebenarannya, maka usaha yang selama ini dilakukan akan gagal begitu saja. Dalang pembunuhan kakaknya belum terungkap. Dan juga, ada sebab lain dari identitas tersembunyi Zhaoling.
"Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang kamu percayai ternyata membohongimu karena suatu alasan? Apa kau akan memaafkannya atau malah membencinya?" tanya Zhaoling tiba-tiba tanpa menoleh sedikitpun.
Xin'er mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan dari pria dihadapannya itu. "Maksudmu?" bertanya balik dengan heran.
Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu?
Wajah Zhaoling mendongak menatap Xin'er yang masih berdiri dengan bingung. "Memaafkan atau membencinya?" bertanya lagi tanpa mengulangi perkataan sebelumnya.
Sejenak, Xin'er mencerna maksud dari pertanyaan Zhaoling tadi. Dia berpikir apakah maksud pria ini adalah meminta pendapatnya akan masalah yang sedang dihadapi Zhaoling? Apakah dia ...? "Ah, aku tak usah ikut campur masalah dia." batin Xin'er.
Setelah diam cukup lama, Xin'er segera menjawab pertanyaan Zhaoling. "Kalau aku yang dibohongi, tentu akan marah. Tapi, itu semua tergantung apa alasan dia membohongiku. Jika dia menipuku dengan mempermainkan perasaan, aku akan sangat ... sangat marah. Bahkan aku akan membencinya," cetus Xin'er membuat Zhaoling terhenyak.
__ADS_1
Astaga. Apa yang harus dilakukan?
Apa Zhaoling harus jujur dan meminta maaf sekarang juga? Tapi, bagaimana jika Xin'er marah dan pergi dari sisinya?
Raut wajah Zhaoling berubah murung. Dia tak bisa berkata apapun juga, dan hanya bisa diam dengan perasaan bersalahnya. Zhaoling kembali terhanyut dalam lamunan kesedihan. Bayangan ketakutan akan ditinggalkan jelas menari dipikirannya, seolah ingin membunuhnya secara perlahan.
"Aling!" panggilan Xin'er menyadarkannya kembali ke kehidupan nyata. "Apa kau tidak mau melatihku?" tanya Xin'er dengan nada sedih.
Zhaoling menautkan kedua alisnya melihat Xin'er menundukkan wajah sambil memainkan jari jemarinya. "Bisakah kau jujur padaku tentang semuanya?" bertanya balik mengharap pengakuan.
Tampak Xin'er mendongak mendengar pertanyaan Zhaoling barusan. Tak lama kemudian, ia berbalik dan menatap lurus ke depan. Sebuah pemandangan yang terlihat dari atas gunung tampak indah bila dilihat menjelang pagi. Langit yang masih gelap dengan hanya dihiasi cahaya bulan, bahkan rasi bintang pun masih pada tempatnya.
Setelah Xin'er meraup udara dalam-dalam, ia pun berkata dengan lirih. "Aku ingin menjadi yang terkuat diantara para wanita di Istana Harem,"
Zhaoling lekas berdiri dan menghampiri. "Maksudmu?" kini pria itu yang kebingungan akan ucapan Xin'er barusan.
"Ya, Aling. Aku ingin menjadi yang terkuat, agar semua orang tak menindasku! Mereka yang memiliki kekuasaan cenderung selalu memojokkan orang lain yang lemah. Mereka selalu bertindak sesuka hati, tanpa mengerti perasaan orang lain." ungkap Xin'er dengan wajah sedihnya. "Aku ingin bisa bertahan di neraka ini, Aling!" lanjutnya dengan lirih.
Zhaoling terkejut mendengar pengakuan istrinya tersebut. Begitu sengsara kah Xin'er dalam istana, sampai dia sedih seperti itu? Dia bahkan menyebut istana adalah sebuah neraka, yang seolah menghimpitnya dan mendorong dirinya kedalam lubang kematian.
Dengan gerakan tiba-tiba, Zhaoling memeluk Xin'er begitu erat. "Apa kau tersiksa tinggal di Istana?" walaupun ragu, Xin'er tetap mengangguk perlahan dengan mata berkaca. "Kalau begitu, maukah kau ikut bersamaku dan kita akan hidup bersama selamanya tanpa ada yang mengganggumu lagi!" ajak Zhaoling pada Xin'er setelah mengurai pelukannya.
Runtuh sudah pertahanan Xin'er. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini tumpah bagaikan air bah yang membanjiri seluruh daratan. Xin'er menangis dalam dekapan Zhaoling, menumpahkan rasa sesak di dadanya yang selama ini ia pendam. Walaupun terlihat tegar di luar, ternyata Xin'er sangat rapuh didalam. Bahkan, ia terus memeluk tubuh Zhaoling tanpa berniat melepaskannya.
Hati Zhaoling semakin sakit, saat wanita terkasih menangis dengan pilu. Nampaknya, Xin'er memang sangat tersiksa hidup bersamanya didalam Istana yang megah itu. Dia tak menyangka, jika keputusannya mengikat Xin'er sebagai Pangeran Ketiga itu ternyata salah. Andai saja waktu itu dia mengikat Xin'er sebagai Panglima, mungkin kejadiannya tak kan seperti ini.
Xin'er akan terbebas tanpa tersakiti oleh orang-orang serakah yang berada dalam istana. Mungkin saja, hidup mereka sekarang akan bahagia, dan bahkan mempunyai seorang anak.
'Maafkan aku, Xin'er!' Zhaoling hanya berkata dalam hati, karena dia teramat sangat menyesal. Perasaan bersalah ini harus ia tebus dengan kebahagiaan istrinya.
...Bersambung, gaess ......
__ADS_1