
Panglima Perang Xili yang mendapatkan julukan sebagai Iblis Kematian, memang pantas disandang oleh Zhaoling. Ia takkan ragu untuk membunuh musuh yang ada didepan matanya. Selama musuh itu terus melawan, maka pedang Naga Kembar miliknya akan langsung menebas leher musuh tanpa ampun.
Setelah memenggal kepala Jendral Chang, Zhaoling berdiri dengan sombong menatap kedua Jendral didepannya, Ching dan Chong. Mereka terkejut melihat saudaranya, Jendral Chang mati dengan mudah hanya sekali tebas sesuai perkataan Zhaoling sebelumnya.
Darah segar melumuri pedang Naga Kembar milik Zhaoling sepenuhnya. Tak ada keramahtamahan yang terlihat dari ekspresi wajahnya, yang ada hanya tatapan dingin dan datar serta kebencian untuk mereka.
Aura pembunuh mulai terasa kuat dari tubuh Zhaoling. Dia bagaikan seekor Singa yang lapar akan daging segar di hadapannya. Walaupun Ching dan Chong mulai ketakutan, tapi karena emosi, akhirnya keduanya menyerang Zhaoling secara bersamaan.
Pertarungan tak terhindari. Zhaoling sudah mempersiapkan diri atas penyerangan kedua Jendral itu, bahkan gerakan tiba-tiba sekalipun.
Trang ... trang ... sring ...
Pedang ketiganya saling membentur dengan sangat keras dan terus menyerang tanpa henti, sampai si pengguna berhenti karena terluka.
Trang ... crash ...
"Argh," Jendral Chong meringis kesakitan saat pedang milik Zhaoling menggores bagian punggungnya cukup lebar.
Melihat adiknya mendapatkan luka, Ching tak tinggal diam. Dia maju dengan cepat kearah Zhaoling dan menyerang tanpa henti, namun Panglima Xili itu tak merasa kesulitan melawan Jendral Ching. Ia bahkan tertawa puas karena Ching melawannya sekuat tenaga.
Selama ini, tak ada yang bisa mengalahkannya, dan Zhaoling sangat bangga dengan hal tersebut. Dia bahkan sengaja memamerkan kekuatannya itu supaya musuh gentar hanya mendengar namanya saja.
Ching terus menyerang Zhaoling sekuat tenaga, walaupun ia sadar bahwa sangat sulit mengalahkan Panglima Xili tersebut. Tapi, dia percaya dengan kemampuannya dalam bertarung tanpa pedang. Akhirnya, Ching melempar pedang ke sembarang arah dan bertarung dengan tangan kosong.
Zhaoling yang melihat hal tersebut tentu tidak mau dianggap curang. Ia pun segera menaruh pedang miliknya di tanah dan mulai melawan dengan tangan kosong juga.
Bagi Zhaoling, apapun cara bertarung mereka tak masalah dan ia akan melayaninya. Karena, keahlian Zhaoling bukan hanya pengguna pedang, tapi juga ilmu bela diri. Dirinya mendapat julukan Pendekar Cakar Naga saat di Perguruan Naga Bayang, dan juga sudah terkenal di seluruh daratan Jhajhanan.
Ching yang terlalu percaya diri dan mengganggap dirinya hebat itu segera maju dengan cepat kearah Zhaoling, untuk memberinya pelajaran. Namun, ia tak tahu jika pria dingin itu dapat menggunakan pukulan jarak jauh yang bisa melumpuhkan pergerakan musuh dalam sekali pukul.
Bak ... bugh ...
__ADS_1
Dengan hanya menggerakkan tangannya saja, Zhaoling bisa membuat Ching terlempar beberapa meter ke belakang, hingga akhirnya jatuh ke tanah. Ching yang jatuh langsung memuntahkan darah dari mulutnya, itu menandakan bahwa seberapa kuatnya Zhaoling memukul tubuh Jendral Ching.
Padahal, pria dingin itu tak menyentuh tubuh musuhnya secara langsung, hanya dengan bantuan elemen angin saja. Tapi, tubuh Ching dapat terlempar jauh dan ia terluka cukup dalam.
"Ukhuk ... ukhuk," Ching terbatuk karena lukanya cukup parah akibat pukulan tenaga dalam Zhaoling. Bahkan, tubuhnya gemetaran karena tak bisa menopang bobotnya sendiri. Ching berusaha berkata dengan kesulitan serta nafas yang menderu. "Kkau ... memang cukup kuat. A-aku salah karena meremehkan mu dari awal. Ta-tapi, kau belum tahu kemampuan kk-kami!" teriak Ching sambil mencoba berdiri lagi dan lagi.
Zhaoling menggelengkan kepalanya sambil berdecak. "Ckk ... ckk, kau sungguh keras kepala! Saat ini, organ penting di tubuhmu sudah hancur dan tak bisa disembuhkan lagi. Ku sarankan padamu, agar menyimpan tenaga yang tersisa untuk menerima serangan akhir dariku. Karena ... rasanya akan sedikit sakit," ejek Zhaoling terkekeh.
"Kkk-kurang ... aaa-ajar, kau. Hiyaaa," Ching yang tak terima segera berlari kearah Zhaoling setelah mengambil pedangnya lagi. Dia memanfaatkan situasi dimana Zhaoling lengah dan tak memegang senjatanya.
Namun, hal yang tak diduga olehnya dan membuat dirinya harus membelalakkan mata. Pedang yang terayun miliknya dihentikan Zhaoling hanya menggunakan tangan kosong. Tangannya memegang erat bilah pedang yang tajam itu tanpa terluka sedikitpun.
Zhaoling tersenyum menyeringai. Terlihat jelas sangat menakutkan dibalik senyum penuh arti tersebut. Tanpa membuang waktu, pedang yang tengah dipegang kuat oleh Jendral Ching untuk menyerang Zhaoling, kini berbalik arah kepadanya.
Dengan gerakan tercepatnya, Zhaoling menebas leher Jendral Ching menggunakan pedangnya sendiri tanpa dilihat siapapun. Seolah, Jendral Ching mengakhiri hidupnya sendiri karena senjata yang digunakan adalah miliknya.
Sreetttt ... tak ... tak ...
"Kak Ching!" seru Chong berteriak histeris. Dia tak menyangka kejadiannya akan seperti ini, sampai dirinya terjatuh dengan bertumpu di kedua lututnya. Terlihat jelas wajah frustasinya saat ini, melihat kedua saudaranya yang telah mati dengan cara terpenggal oleh Panglima Xili tersebut.
Zhaoling berdiri sambil menyeringai. Dia mengibaskan tangannya, seolah telah menyentuh sesuatu yang kotor dan ingin segera membersihkannya. Telapak tangannya ditepuk-tepuk berulang kali, kemudian pakaiannya yang terkena noda darah dari Chang dan Ching.
Kini, tinggal hanya Chong yang masih hidup dan masih berlutut dengan perasaan yang sulit diartikan. Dia merasa hidupnya sudah tidak ada harapan lagi, karena kedua kakaknya saja yang berilmu paling tinggi bisa kalah dengan mudah.
Wajahnya mendongak menatap Zhaoling dengan sinis. Kemudian, dia berdiri sambil menggertakan giginya. "Kau telah membunuh kedua kakakku! Kau seperti Iblis yang haus akan darah. Aku pasti akan membalas hutang nyawa ini beserta bunganya," teriak Chong dengan penuh kebencian.
Sedangkan yang dimaki hanya tertawa geli mendengar ocehan pria dihadapannya. Dia seolah tak perduli dengan teriakan Jendral Chong padanya. Zhaoling berbalik untuk pergi meninggalkan medan perang, karena menurutnya perang ini telah berakhir dan kemenangan ada ditangannya. Dia berbaik hati untuk membiarkan Chong hidup dan pulang ke darah asalnya.
Tapi, bukan itu yang ada dalam pikiran Chong saat ini. Dia menjadi marah karena Zhaoling pergi begitu saja tanpa menghiraukan perkataannya. "Zhaoling! Kau terlalu sombong," teriak Chong seraya berlari mengejar dengan mengayunkan pedangnya.
Namun, sebelum pedang Chong menyentuh Zhaoling, Ming He yang sedari tadi diam hanya melihat pertarungan itu langsung bergerak dengan cepat untuk menghentikan Chong. Pedang Ming He menusuk perut Chong sampai tembus ke belakang. Darah segar keluar dari mulutnya, dengan wajah meringis kesakitan. "Argh,"
__ADS_1
Zhaoling berbalik dan melihat Chong yang sudah bersimbah darah dengan sebuah pedang menancap di perutnya. Lebih tepatnya, pedang itu masih dipegang oleh Ming He karena dia pemiliknya. "Ming He,"
"Pangeran. Aku terpaksa membunuhnya, karena dia akan menyerang Anda!" ujar Ming He.
Zhaoling mengangguk dan segera berbalik lagi. Tapi sebelum itu, ia menyuruh prajuritnya untuk mengantarkan ketiga jasad Jendral itu ke Kerajaannya. Tak lupa, mereka membungkus dua kepala Jendral Chang dan Ching sebagai hadiah untuk dipersembahkan kepada Kaisar mereka.
Zhaoling ingin menunjukan kepada Dunia, bahwa tak ada yang bisa melawannya. Dengan ini, ia ingin membuat seluruh musuh gentar dan ketakutan saat mendengar namanya saja.
"Aku, Zhu Zhaoling. Pendekar Cakar Naga dari Perguruan Naga Bayang, dan juga adalah Iblis Kematian dari Kerajaan Xili. Dengan ini menyatakan, bahwa Kerajaan Chimol telah resmi kalah dan Kaisar Chengqi harus turun dari tahtanya."
Itulah isi tulisan dari gulungan yang dikirimkan beserta dua kepala Jendral Kerajaan tersebut kepada Kaisar Chengqi.
"Kurang ajar," teriak Kaisar dengan geram.
...💫💫💫💫...
Di wilayah dataran Gumoh. Orang yang ditakuti dan disegani adalah tiga bersaudara Chang, Ching, dan Chong. Mereka merupakan seorang Jendral Besar Kerajaan Chimol, yang dipimpin oleh Kaisar Chengqi.
Ketiga bersaudara itu juga terkenal dengan kekejamannya, yang bertindak semena-mena terhadap rakyat mereka. Bukan hanya mereka bertiga, bahkan Kaisar mereka pun sangat kejam dan tidak berlaku adil kepada rakyat miskin di wilayah kekuasaannya. Namun walaupun seperti itu, tak ada yang berani melawan kekejaman mereka.
Rakyat sangat takut terhadap para petinggi kerajaan Chimol itu, terutama Kaisar Chengqi yang selalu menghukum rakyat tak berdosa hanya karena meminta keadilan terhadap kehormatan seorang gadis yang dilecehkan Menterinya.
Seluruh rakyat sangat membenci para petinggi kerajaan tersebut, sampai berani mengutuk mereka semua agar mendapatkan hukuman dari Dewa. Tapi, hari ini Dewa mengabulkan doa seluruh rakyat yang teraniaya itu.
Tewasnya ketiga Jendral Besar milik Kerajaan Chimol tentu membuat rakyat senang. Dengan kematian ketiga orang itu, maka penderitaan mereka akan berkurang walaupun hanya sedikit saja.
Tapi, rakyat sangat puas, apalagi melihat kematian ketiga Jendral yang sangat tragis itu. Mereka bahkan mengucap syukur kepada Dewa atas kematian Chang, Ching, dan Chong.
"Puji Dewa!"
...Bersambung, Gaess ......
__ADS_1