Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Tantangan dari Ibu Suri


__ADS_3

Baru saja Xin'er merasa lega karena para selir itu membubarkan diri tanpa diusir, sekarang masalah sudah datang lagi tanpa harus dicari.


Sepeninggalan para selir dari kediaman Xin'er, beberapa orang datang kembali. Mereka memakai pakaian prajurit, lengkap dengan senjata di tangannya.


Para prajurit itu berbaris saling berhadapan di depan pintu masuk, kemudian salah satunya berteriak dengan keras. "Ibu Suri tiba,"


Mendengar nama Ibu Suri, Xin'er menghela nafas berat. Pasti nenek tua itu akan membuat masalah besar lagi kepadanya. Pikir Xin'er.


Wanita tua dengan pakaian khas penguasa besar, berjalan masuk dengan sombongnya seraya melempar tatapan tajam kearah Xin'er dan kedua pelayannya. Dibelakang Ibu Suri, dua orang pelayan dan dua orang pengawal mengikutinya dengan tatapan yang sama sombongnya.


Ada yang beda dari kedatangan Ibu Suri kali ini. Selain membawa beberapa prajurit dengan persenjataan lengkap, ada seorang wanita memakai pakaian seperti seorang pendekar. Wanita itu berparas cantik dengan bentuk tubuh langsing serta tinggi semampai, rambut hitam berkilau yang hanya di kuncir kuda. Sebilah pedang bersarung dipegang dengan tangan kirinya yang dililit kain putih dari telapak tangan hingga atas pergelangan.


Xin'er dan kedua pelayannya membungkuk hormat dihadapan Ibu Suri untuk menyambutnya. "Panjang umur untuk Ibu Suri," ucap ketiganya bersamaan.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, wanita tua itu melewati Xin'er dan langsung duduk di bangku gazebo taman Istana Zhoseng, diikuti oleh para pelayan dan pengawalnya, serta pendekar wanita tadi.


Xin'er melirik sekilas kearah pendekar wanita yang sedari tadi mengekor dibelakang Ibu Suri. Ekspresi wanita itu mirip seperti Zhaoling saat pertama kali bertemu. Dingin dan datar.


'Siapa dia? Kenapa Ibu Suri membawa seorang pendekar wanita kemari?' Itulah pertanyaan yang tak bisa Xin'er tanyakan saat ini, karena Ibu Suri sendiri yang langsung memberikan jawabannya.


"Ming He adalah Pendekar dari Perguruan Bangau Putih. Dia memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi, serta mempunyai kemampuan pengobatan." tutur Ibu Suri tanpa menatap siapapun. Kemudian, wanita tua itu berkata seraya mengalihkan pandang kearah Xin'er dengan sinis. "Bukankah Pangeran Ketiga lebih menyukai gadis tangguh untuk melindunginya? Heh, aku akan memberikan dia gadis lebih kuat darimu!" ketusnya sambil melirik Ming He.

__ADS_1


Dari cara bicara dan lirikan Ibu Suri pada wanita yang bernama Ming He itu, Xin'er yakin bahwa nenek tua ingin menyingkirkan dirinya dari tempat ini dan juga Zhaozu. Segitu bencinya Ibu Suri pada Xin'er, sampai melakukan segala cara agar bisa mengusir Xin'er.


Tapi, Xin'er sangat penasaran alasan Ibu Suri membenci dirinya? Padahal, dia tak pernah menyinggung nenek dari suaminya itu. Malah, ia yang selalu di usik ketenangannya di tempat ini. "Maaf, Ibu Suri! Saya tidak mengerti dengan maksud Anda! Kenapa Anda memperkenal wanita itu dan mengatakan bahwa Pangeran Ketiga lebih menyukai gadis tangguh?"


Ibu Suri terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Ternyata, selain kau tak mempunyai bakat khusus, dan juga tatakrama seorang putri, kau juga sangat bodoh." ejeknya seraya tertawa puas. "Baiklah! Tidak usah bertele-tele dan langsung pada intinya saja. Aku menginginkan kau pergi dari kehidupan cucuku secara suka rela. Jika tidak, maka kau harus bersiap menanggung semua resikonya. Bagaimana?" seringai wajah Ibu Suri saat ini lebih menakutkan dari pada nenek sihir di serial film. Bahkan cekikikan tawanya saja membuat bulu kuduk berdiri.


Namun, tanpa rasa takut Xin'er menggelengkan kepala seraya menjawab dengan lantang. "Aku tidak akan meninggalkan Pangeran Ketiga sampai kapanpun. Karena ..." dia tampak ragu mengucapkan kata selanjutnya, "... karena aku menyayanginya!" ya. itulah yang keluar dari mulut Xin'er setelah cukup lama berpikir.


"Hahaha. Kau menyayanginya? Oh, sungguh romantis! Tapi, aku tak melihat rasa apapun darimu untuk cucuku yang buruk rupa itu. Pasti kau sengaja tak ingin pergi karena sudah terbiasa dengan kekayaan, kemewahan, dan kekuasaan, bukan!" tuding Ibu Suri dengan nada menghina. "Dengarkan aku, Xin'er! Jika kau mau pergi atas keinginanmu, akan ku berikan sebagian hartaku untukmu, asalkan kau tinggalkan Zhaozu saat ini juga." tutur Ibu Suri selanjutnya.


Xin'er menghela nafas begitu berat. Rasanya, dia dibuat kesal sama sosok wanita tua yang seharusnya jadi panutan kedepannya. Tapi, justru wanita tua ini meminta Xin'er agar mau meninggalkan cucunya dan memilih harta kekayaan. Apa hubungan suci pernikahan itu bisa dibeli dengan kekayaan? Xin'er benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Ibu Suri ini.


Sambil menunduk hormat dan tersenyum ramah, Xin'er segera membuka suaranya. "Maaf sebelumnya, Yang Mulia. Sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkan Pangeran Ketiga." keukeuhnya dengan tegas.


Namun, sebelum Ibu Suri pergi, Xin'er segera menghentikannya dengan sebuah pertanyaan. "Bagaimana jika aku yang menang?"


Ibu Suri kembali berhenti dan berkata tanpa menoleh sedikitpun. "Aku tidak akan mengganggumu lagi!" sahutnya kemudian pergi begitu saja.


Semua orang yang mengikutinya pun lekas pergi setelah Ibu Suri keluar dari Istana Zhoseng. Tak ada tatapan ramah ataupun kesopanan sedikitpun dari mereka untuk Xin'er. Hanya ada tatapan sinis yang terlihat dari raut wajah semua pengikut Ibu Suri.


Tubuh Xin'er bergetar dengan tangan terkepal menahan emosi. Dia tak bisa melakukan apapun kepada Ibu Suri, walaupun wanita tua itu selalu menghinanya. Ibu Suri adalah ibunda Kaisar dan nenek dari Pangeran Ketiga. Tidak mungkin baginya untuk tidak menghormati Ibu Suri, walaupun dia terus dipermalukan oleh wanita tua tersebut.

__ADS_1


Xin'er terduduk lesu memikirkan hal yang dikatakan Ibu Suri tadi. Walaupun sejujurnya, dia tak mencintai Pangeran Ketiga. Tapi, rasa sayang kepada suaminya sebagai seorang sahabat tentu ada. Apalagi, dari kecil Pangeran Ketiga selalu dikucilkan serta dihina oleh keluarganya yang lain. Xin'er tetap berusaha membuat Pangeran Ketiga bahagia dengan caranya sendiri.


"Tuan Putri. Bukankah Ibu Suri membenci Pangeran Ketiga? Tapi, kenapa Beliau mencarikan jodoh untuk Pangeran? Aku bingung," cetus Mengshu.


"Benar! Aku pun mau menanyakan hal yang sama tadi," timpal Yuelie seraya melirik Mengshu.


Xin'er hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Sesungguhnya, ia sendiri tak tahu niat sebenarnya dari tindakan Ibu Suri itu. Yang Xin'er yakini adalah Ibu Suri sangat membenci dirinya karena Pangeran Zhaohan dan Zhaoyan menyukainya. Padahal, dia tak pernah menggoda kedua pangeran tersebut.


Pangeran Zhaoyan adalah Pangeran Kedua, serta adik se'ayah dan se'ibu dengan Pangeran Zhaohan. Pria itu pernah sekali berpapasan langsung dengan Xin'er pada saat pesta ulang tahun Selir Wang. Wajah cantik Xin'er mampu memikat hati Pangeran Zhaoyan saat itu. Padahal, Xin'er sendiri tak menunjukan keramahan sedikitpun padanya. Gadis itu cenderung bersikap ketus jika dihadapan pria lain, selain Pangeran Ketiga dan Panglima Perang.


Walaupun seperti itu, Pangeran Kedua tersebut tetap menyukai Xin'er yang selalu bersikap dingin dan jutek. Dia melakukan hal yang sama seperti yang Pangeran Zhaohan sering lakukan, yaitu mengganggu dan merayu Xin'er. Dia cenderung merendahkan Zhaozu dan meninggikan dirinya dengan tujuan agar Xin'er terpikat. Tapi nyatanya, tak sedikitpun gadis itu melirik dirinya.


Pangeran Zhaohan mengetahui pasal rasa suka Pangeran Zhaoyan pada Xin'er. Dia pun marah besar dan menantang Zhaoyan untuk mengadu kekuatan. Barang siapa yang menang, maka dia bisa mendekati Xin'er secara bebas. Padahal, siapapun yang menang dari mereka, tetap saja Xin'er takkan memilih diantara keduanya. Karena, Xin'er telah memilih pria idamannya sendiri.


Akhirnya, gosip menyebar ke seluruh istana, bahwa Xin'er membuat kedua Pangeran berselisih sampai bertarung. Kedua Pangeran pun mengatakan jika Xin'er mau dinikahi oleh salah satunya, maka mereka akan mengusir semua selir di istana harem masing-masing.


Melihat Xin'er yang terdiam, Mengshu dan Yuelie pun saling pandang sebelum menyentuh pundaknya pelan sambil berkata. "Tuan Putri. Sepertinya wanita yang bernama Ming He itu bukan orang sembarangan," kata Yuelie.


"Memangnya kenapa kalau dia bukan orang sembarang? Aku sangat yakin, kalau Tuan Putri bisa mengalahkannya dengan mudah! Iya kan, Putri!" cetus Mengshu penuh semangat.


"Aku juga sangat yakin jika Putri bisa mengalahkan wanita itu! Tapi, aku takut jika Ibu Suri melakukan kecurangan untuk membuat wanita itu menang dan Putri terusir dari istana!" tukas Yuelie sedih.

__ADS_1


Xin'er tersenyum menanggapi perkataan kedua pelayannya. Dia tak mengatakan apapun dan hanya menatap kedua pelayannya penuh arti. Pikirannya melayang entah kemana. 'Aku harus bisa membuktikan pada Ibu Suri, bahwa aku bukan gadis yang mudah ditindas! Tapi, bagaimana caraku mengalahkan wanita yang bernama Ming He itu?'


...Bersambung, gaess ......


__ADS_2