
Saat ini, Zhaoling terbaring lemah diatas ranjang dengan wajah yang pucat pasi. Dia tak sadarkan diri selama lebih dari tiga hari. Tak ada respon apapun dari tubuhnya ketika Tabib Jang memeriksa kondisinya serta memberikan ramuan untuknya. Namun, Xin'er tak putus asa dan ia juga bersikeras untuk merawatnya sendiri.
Ya. Kemarin saat Zhaoling pingsan, ia dibawa ke Kediaman Perdana Mentri. Ketiga gadis itu membopong tubuh lemah Panglima sombong tersebut tanpa bantuan siapapun.
Sesampainya di rumah, Xin'er diceramahi ibu dan saudara tirinya karena berani membawa Panglima galak itu ke rumahnya. Namun, Xin'er tak perduli dan segera menyuruh Tangsin memanggil Tabib Jang untuk memeriksa kondisi Zhaoling.
Tabib Jang segera datang memenuhi panggilan Xin'er dan lekas memberikan pertolongan pertama pada Zhaoling. Beliau menyampaikan kondisi Zhaoling secara terus terang. "Sejujurnya, saat ini kondisinya agak memburuk. Tubuhnya lemah akibat kelelahan yang entah itu dari aktivitas yang berlebih atau pikirannya. Suhu tubuhnya pun tinggi, menandakan dia demam." tutur Tabib Jang.
Xin'er terdiam sembari menatap wajah tampan yang terlihat pucat itu. Dalam benaknya, dia bertanya alasan tindakan yang dilakukan Zhaoling kemarin. Apa dia datang kesini karena memenuhi permintaan Pangeran Ketiga untuk menjemputnya?
Xin'er tahu, bahwa tugas seorang Panglima itu sangat banyak. Tidak mungkin kan karena tugas dari Pangeran Ketiga membuat dirinya rela kemari walaupun sehabis berperang? Namun, Xin'er tak tahu, jika Zhaoling saat ini kelelahan karena terlalu banyak beban pikiran yang harus ditanggungnya, serta penyesalan terhadap tingkahnya pada sang istri.
"Aling. Kamu itu sungguh pria bodoh! Untuk apa coba rela kemari demi menjemputku?" cetus Xin'er seraya menaruh kain kecil di kening Zhaoling. "Jika Pangeran menyesal, seharusnya dia sendiri yang datang kemari. Bukan malah menyuruhmu yang sibuk tiap hari!" lanjutnya lagi.
Setiap hari, Xin'er merawat pria sombong itu seorang diri tanpa bantuan yang lain. Dengan alasan, merasa bersalah karena tak mengiyakan permintaan Zhaoling yang ingin membawanya kembali ke Istana.
Nyonya Muning dan Mingna saat ini tengah kegirangan karena mendapatkan bahan untuk mempermalukan Xin'er lagi. Dengan kejadian ini, mereka bisa membuat Xin'er tak diterima oleh Pangeran Ketiga lagi. Mereka berencana untuk melaporkan kejadian ini pada Pangeran Ketiga, supaya Xin'er benar-benar diusir dan tak bisa lagi masuk ke Istana.
"Kau yang menggali lubang kematian mu sendiri, Xin'er. Jangan salahkan kami atas kejadian yang menimpamu esok!" cibir Nyonya Muning dengan nada mengejek.
Mingna pun segera menimpali. "Disini kau merawat pria lain, sedangkan suamimu ada di Istana. Aku gak bisa bayangin, gimana reaksi Pangeran Ketiga jika tahu istri yang dicintainya tengah merawat pria lain di kamarnya!"
__ADS_1
"Pasti wajahnya semakin buruk karena mengetahui kenyataan pahit ini," sahut Nyonya Muning lagi sambil tertawa lepas.
"Aku yakin, bukan cuma Xin'er yang kena hukuman. Melainkan pria sombong dan galak ini juga pasti dihukum karena dituduh menggoda Putri Ketiga Xili. Hahaha," ejek Mingna tertawa seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Keduanya pergi meninggalkan kamar Xin'er dengan tawa mengejek. Sedangkan Xin'er hanya melirik sekilas, kemudian fokus kembali pada Zhaoling yang masih belum membuka matanya. "Kamu tenang saja, Aling! Jika kamu dalam masalah karena ini, aku akan membelamu dan menjelaskan pada Pangeran Zhaozu. Dia sebetulnya orang yang sangat baik," desisnya seraya menyelimuti tubuh Zhaoling supaya tak kedinginan.
Kemudian Xin'er beranjak pergi meninggalkan Zhaoling untuk membiarkannya istirahat. Walaupun gadis itu merawat Zhaoling di kamarnya, namun Xin'er tak tidur di sana dan menyuruh Tangsin menemani Zhaoling, takutnya pria itu terbangun tengah malam dan membutuhkan sesuatu. Sedangkan dirinya tidur di kamar Mengshu dan Yuelie.
Lima hari berlalu. Tak ada tanda-tanda Zhaoling membuka matanya. Xin'er terus meminta Tabib Jang agar selalu datang untuk memeriksa kondisi Zhaoling. Setelah memastikan kondisi pria itu baik-baik saja dan tinggal menunggu kepulihan, Tabib Jang mohon pamit karena harus merawat pasien lain saat ini.
Sepeninggalan Tabib Jang, Xin'er melakukan aktivitas biasa. Mengurus Zhaoling dengan mengelap tubuhnya seperti yang dikatakan Tabib Jang. Jika tubuhnya bersih dan segar, maka kemungkinan bisa sadar akan sangat cepat.
Dengan tangan yang terulur ragu, Xin'er membersihkan tubuh Zhaoling dari keringat yang membanjiri akibat demam kemarin. Nafasnya terengah seperti dikejar setan dengan wajah memerah. Dada bidang dengan perut kotak enam yang membentuk, membuatnya harus meraba sambil memejamkan mata. "Kuatkan hatimu, Xin'er!" rapalnya terus-menerus.
Dia tak tahu jika saat ini Zhaoling sudah siuman dari pingsannya. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang tengah membersihkan tubuhnya sambil menutup mata. "Gadis bodoh," gumamnya lirih.
Sementara si gadis bodohnya masih setia menutup mata tanpa tahu jika pasien yang dirawatnya menatapnya lucu. "Ku rasa itu sudah cukup," desisnya seraya memakaikan pakaian kepada Zhaoling. Matanya terbuka setelah selesai memakaikan pakaian. "Baiklah, Aling. Jika kau sadar nanti, aku akan meminta bayaranku karena merawatmu!" cetusnya sebal.
Ditatapnya kesal Zhaoling yang sedang asyik terbaring dengan mata tertutup. Walaupun kesal, Xin'er tersenyum kala mengingat tingkah sombong dan dinginnya pria dihadapannya itu. "Hemh. Tapi aku ragu untuk meminta bayaran padamu. Kau kan sangat galak dan dingin," celetuknya lagi seraya berdiri.
Belum sempat Xin'er berdiri, seseorang sudah nyelonong ke kamarnya dan langsung memeluk dengan erat. Tangan itu tangan seorang pria, membuat Xin'er terkejut sampai berontak.
__ADS_1
"Hei. Siapa kamu?" bentaknya seraya terus berontak.
Pria itu tak mudah melepaskan dekapannya dan mencoba mencium leher Xin'er dengan paksa. "Aku telah menunggu lama saat-saat ini, Xin'er." ucapnya dengan nafas berat.
Xin'er yang sudah tahu dari suaranya, lekas memukul pria itu dengan sikutnya. "Jangan berani menggangguku, bajing@n!"
Namun, peringatan Xin'er hanya dianggap sebagai lelucon dan dia malah semakin gencar ingin mencium pipi gadis itu. "Jangan sok suci di depanku, manis! Kau memiliki suami tapi masih menampung lelaki lain di kamarmu. Jadi, tidak masalah bukan jika menambah satu lelaki lagi untuk menemanimu malam ini!" cicitnya tanpa berdosa.
"Kurang ajar kau, brengs€k!" Xin'er memutar tubuhnya, kemudian memukul wajah pria itu dengan keras sampai dia tersungkur di lantai. "Kau mencoba melecehkanku, heh!" bentaknya lagi sambil mengarahkan tinju kearah pria tersebut.
Melihat kemarahan Xin'er, pria itu dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Segenggam serbuk dilemparkan ke mata Xin'er, sampai gadis itu tak bisa melihat apapun karena keperihan.
"Dasar pecundang! Kau berbuat curang," teriak Xin'er dengan berusaha menyingkirkan serbuk itu dari matanya.
Pria itu menyeringai kemenangan, dan segera berdiri untuk menghampiri Xin'er. "Bukan curang! Tapi, aku itu lebih pandai." ucapnya mengolok. Tangannya segera terulur dan mengikat kedua tangan Xin'er agar tidak berontak. Dia pun langsung mengikat kedua kaki Xin'er, supaya gadis itu tak mencoba lari atau menendangnya saat melakukan sesuatu.
"Lepaskan aku, brengs€k!" teriak Xin'er lagi yang hanya ditanggapi tawa oleh pria itu.
"Sekarang, kita mulai ritualnya sayang!" ucapnya dengan nada menjijikan.
...Bersambung ......
__ADS_1