
Setelah selesai membagikan barang rampasan kepada para penduduk yang membutuhkan, mereka pun bergegas kembali ke tempat dimana Zhaoling dan pengawal bayangannya di kurung.
Bagaimana pun, mereka tak mau jika Panglima Xili itu bebas dari sini dan mengacaukan semua kegiatan mereka. Dia terlalu kuat untuk di lawan, kata Yoona.
Tuan Khong segera menyuruh anak-anaknya untuk kembali ke tempat itu, agar mereka bisa menjaga Zhaoling dengan ketat. Dia tak mau kecolongan disaat lengah, dan membiarkan pria dingin itu mengacaukan semuanya.
Setelah lelah bekerja seharian, tentu mereka sangat kelaparan. Untungnya, tempat yang dijadikan markas mereka itu dekat dengan hutan. Makanya, mereka mencari hewan buruan dan memasaknya, kemudian dimakan bersama-sama.
Melihat mereka yang makan dengan lahap, tentu membuat ketiga pria tahanan itu meneteskan air liur. Perut ketiganya berbunyi nyaring minta diisi sesuatu yang namanya makanan. Soalnya, mereka bertiga tidak diberikan makan selama dua hari agar kehabisan tenaga dan tidak bisa berontak lagi.
Mata ketiganya berbinar kala menatap Rusa guling yang ada di pemanggangan. Tubuh Rusa itu cukup besar, pasti dagingnya banyak dan sangat lembut. Dilihat dari teksturnya saja, Rusa itu dimasak sampai benar-benar matang. Aromanya sangat menggiurkan siapapun yang mencium baunya, membuat perut langsung keroncongan ingin memakannya.
Ugh, sungguh menggoda. Daging Rusa itu benar-benar membuat air liur menetes. Ditambah, nasi hangat yang baru saja diangkat dari pancinya, serta sayuran daun hijau sebagai pelengkap. Sangat nikmat.
Semua orang makan dengan lahapnya. Tapi, ketiga orang yang ada di kurungan itu hanya bisa melihat tanpa bisa ikut merasakannya. Mereka hanya bisa terdiam sambil menggigit jarinya.
Walaupun Yoona marah dan membenci mereka. Tapi, rasa kemanusiaannya tetap ada. Dia melirik ketiganya yang menunduk sedih seperti anak kecil yang tak diberikan makan oleh ibunya, hatinya tak kuasa untuk membiarkan mereka kelaparan. Apalagi, ketiganya tidak diberikan makan selama dua hari. Yoona mengingat kejadian dimana ia dan ayah serta kakaknya yang waktu itu tak diberikan makan dan minum saat dalam perjalanan ke Kuil Dewa Angin.
Tanpa disadari semuanya, ia berjalan menghampiri seraya membawa makan untuk ketiga tahanan itu. Dia mengulurkan tangannya kedalam jeruji besi itu sambil berkata, "makanlah!"
Sontak ketiganya mendongak menatap kearah wanita yang sedang berdiri dihadapan mereka. "Hah, apa?"
"Ckk, ambil dan makanlah!" decak Yoona sebal.
__ADS_1
Liu Wei dan Yu Xuan segera mengambil makanan dari Yoona tersebut. Keduanya langsung makan karena memang perutnya sudah mulai kesakitan. "Terima kasih!" ucapnya dengan mulut penuh.
Sedangkan Zhaoling hanya diam menatap wanita dihadapannya. Yoona sendiri bingung, kenapa pria dingin itu hanya diam dan terus menatapnya. "Ada apa? Apa kau tidak lapar?"
Kedua pengawal bayangan Zhaoling pun menoleh kearah Tuannya. Mereka saling pandang dan langsung terdiam. "Apa makanan ini ada racunnya?" gumam keduanya lirih.
Namun Zhaoling hanya terdiam dan terus mengamati wajah dibalik topeng tersebut. Karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkan, Yoona pun berbalik dan melangkah pergi. Tapi, suara Zhaoling tiba-tiba menghentikannya. "Xin'er!"
Deg
Ada sesuatu yang langsung memukul jantung Yoona begitu keras. Sesuatu yang membuat dirinya mematung seketika. Sesuatu, yang mengingatkan ia akan kepahitan dua tahun yang lalu. Kematian.
Xin'er. Nama yang telah ia lupakan selama dua tahun ini, membuat ia mengingat kembali akan peristiwa menakutkan di waktu dulu. Nama yang sudah tercoreng di seluruh Negri ini karena ulah seseorang yang memfitnahnya. Nama yang tak mau Yoona sebutkan lagi itu, mengingatkan dirinya atas kematian ayah dan juga kakaknya.
Sakit, sungguh sakit. Tapi, rasa sakit itu tak berdarah, namun memberikan luka cukup dalam sampai ia harus mengeluarkan air mata. Dengan suara yang lirih, Yoona berkata. "Jika kau tidak mau makan, tidak apa-apa!" ujarnya seraya melangkah.
"Aku tahu itu kau, Xin'er." kata Zhaoling kembali berucap, membuat Yoona kembali berhenti. "Aku merindukanmu, Xin'er. Sangat," lirihnya dengan suara memelas. "Xin'er. Aku mohon, maafkan aku! Aku bisa menjelaskan semuanya," ucapnya lagi dengan mengiba.
Yoona tiba-tiba berbalik dan menarik baju Zhaoling sambil berteriak. "Aku bukan Xin'er! Aku Sin Yoona. Seorang prajurit militer. Jadi, kau jangan memanggil namaku sesuka hatimu!" tatapan kebencian jelas terlihat dari sorot mata Yoona, membuat Zhaoling yakin bahwa wanita itu adalah istrinya.
Semua orang segera mengalihkan pandangan kearah mereka. Bahkan Tuan Khong langsung mendekati mereka. "Ada apa ini?"
Seketika, suasana menjadi sunyi sepi. Mereka terdiam tanpa ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Jihu yang mengetahui sebagian cerita masa lalu Yoona pun melangkah maju, dan mendekati adik angkatnya. Dia menepuk bahu Yoona seraya memintanya untuk melepas cengkraman dari pakaian Zhaoling.
__ADS_1
"Adik. Tak perlu menghiraukan apapun yang dia katakan. Ayo, kau harus segera istirahat! Ini sudah malam," desis Jihu mencoba membujuk Yoona.
Ajaibnya. Mendengar perkataan Jihu, Yoona dengan mudahnya luluh dan segera melepaskan tangannya dari baju Zhaoling. Tatapan kebencian itu seolah memudar dan digantikan dengan rasa pilu. Dia mundur beberapa langkah dengan tatapan kosong, kemudian melangkah pergi menuju tendanya.
Melihat Yoona pergi begitu saja, rasanya Zhaoling sakit hati. Dia menatap terus punggung kecilnya sampai menghilang dibalik tirai tenda. 'Aku yakin itu kau, Xin'er. Walaupun kau berkata bahwa kau bukan Xin'er, tapi aku bisa merasakannya. Perasaanku tak pernah membohongiku!' batin Zhaoling.
...💫💫💫💫...
Malam semakin larut. Semua orang tertidur pulas di tenda masing-masing. Ada yang berjaga di luar tenda untuk mengawasi ketiga tahanan mereka, ada juga yang masih berkeliling memantau keadaan sekitar.
Bagaimana pun ini adalah hutan. Apapun bisa terjadi di alam terbuka. Di tempat seperti ini, bahaya bisa datang kapan saja dan mengintai mereka dari segala arah. Mereka tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi, jika lengah dalam pengawasan.
Saat semua terlelap. Sesuatu bergerak ke tempat mereka berada. Sekelompok orang memakai baju zirah, terlihat bergerak mendekati tenda mereka. Dari pakaian yang di kenakan, mereka seperti pasukan militer Xili, dibawah kepemimpinan Zhaoling.
Mungkin, setelah menyadari jika pemimpin mereka menghilang, mereka pun berusaha mencari informasi keberadaan sang pemimpin. Pencarian di mulai dengan cara mengumpulkan informasi dari prajurit yang melapor waktu itu.
Cahaya api pembakaran mulai meredup meninggalkan bara dan asap yang mengepul, namun tak tebal. Kemudian, bara tersebut mati sepenuhnya menyisakan arang hitam sisa pembakaran.
Suara dengkuran terdengar saling bersahutan. Bagaimanapun, mereka terlalu lelah dengan kegiatan hari ini yang banyak menguras tenaga.
Bahkan, Panglima Xili dan pengawal bayangannya saja sudah memejamkan nata karena kelelahan. Mereka pun tak menyadari akan suatu pergerakan yang menuju tempat itu.
Melihat semua orang tertidur pulas, seorang Jendral tersenyum puas. Dia melambaikan tangannya dan berkata dengan suara lantang. "Serang!"
__ADS_1
...Bersambung ......