
Walaupun darah menetes dari luka akibat tebasan pedang Zhaohan, namun Xin'er masih berusaha bangkit untuk melawannya. Dia tak mau mengalah begitu saja kepada pria brengsek seperti kakak iparnya itu.
Zhaohan yang mendapatkan perlawanan dari Xin'er tentu tak gentar. Dia pun terbawa emosi akibat serangan perlawanan dari wanita yang disukainya, lebih tepatnya wanita obsesinya. Cinta Zhaohan kepada Xin'er hanya sebuah obsesi semata, bukan cinta yang tulus seperti Zhaoling pada Xin'er.
"Menyerah lah Xin'er," teriak Zhaohan.
"Kau pikir aku ini bodoh, mau menyerah kepada pria jahat sepertimu!" tukas Xin'er dengan ketus. "Walaupun aku harus mati, setidaknya aku mati dengan cara terhormat." lanjutnya kemudian.
Zhaohan hanya bisa menggertakan giginya karena Xin'er tak mau mengalah sedikitpun kepadanya. Tak ada cara lain selain membuat Xin'er terluka, sampai ia tak bisa bergerak untuk melawannya lagi. Dia pun melesat kearah Xin'er dengan cepat sambil mengulurkan tangannya. Tapi siapa sangka, bahwa pergerakannya itu terbaca oleh Xin'er, sehingga wanita itu menarik nafas untuk mengeluarkan tenaga dalamnya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka kau harus mati di tanganku agar dia juga tak bisa memilikimu." teriak Zhaohan sambil memperkuat tenaga dalamnya untuk menyerang Xin'er.
Saat Zhaohan akan memukul Xin'er, wanita itu pun mengulurkan tangan membentuk tinju dan memukulkannya kearah Zhaohan menggunakan tenaga dalamnya.
Bugh ... ugh ... bruuukkkk
Terdengar suara pukulan yang sangat keras, disusul jatuhnya kedua tubuh ke tanah dengan luka dalam masing-masing.
"Argh," ringis keduanya menahan sakit di bagian perut dan dada. Keduanya memuntahkan seteguk darah akibat terkena pukulan tenaga dalam. Kondisinya benar-benar memprihatinkan, dengan tubuh yang tak bisa bergerak lagi.
Zhaoling menghentikan pertarungannya karena melihat sang istri yang tergeletak lemah tak berdaya. Dia berlari secepat kilat untuk menghampiri tubuh lemah yang tergeletak ditanah dengan luka yang sangat parah. "Xin'er,"
Sedangkan Qianfeng, Liu Wei, dan Yu Xuan tak ada kesempatan untuk melepaskan diri dari musuh dan bergabung bersama Zhaoling untuk membantu Xin'er. Ketiganya terus disibukan oleh serangan-serangan bertubi dari musuh masing-masing. "Aling. Bawa dia ke tempat aman. Urusan mereka, serahkan pada kami!" teriak ketiganya serempak.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan ketiga temannya, Zhaoling segera mengangkat tubuh istrinya dan pergi meninggalkan medan perang. Dia tak mau terjadi sesuatu pada Xin'er. "Bertahanlah, sayang!" lirihnya sambil menggendong tubuh lemah istrinya itu.
Namun, sepertinya Lujing dan Guru Luo tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Di saat pikiran Zhaoling terbagi karena kecemasan terhadap istrinya, kekuatannya pun pasti menurun. Maka dari itu, keduanya mengangguk setuju untuk menyerang Zhaoling dalam keadaan menggendong Xin'er. Karena ketidaksiapannya, pasti Zhaoling akan kalah dalam sekali serang. Pikir keduanya menyeringai.
"Jurus Pemakan Jiwa," Kakek dan Cucu itu menerjang kearah Zhaoling dengan menggunakan jurus rahasia Perguruan Bangau Putih. Jurus itu bisa mengakibatkan kematian dengan cara mengerikan, seperti menghancurkan tubuh orang yang terkena jurus tersebut secara perlahan.
Seperti Jurus Penghancur Jiwa milik Zhaoling dari Perguruan Naga Bayang. Namun, Jurus Pemakan Jiwa milik Bangau Putih kekuatannya tak sedahsyat itu. Ada proses dalam penghancuran jiwa terhadap tubuh yang terkena jurus tersebut.
Melihat serangan datang secara cepat, Zhaoling berusaha menghindar sebaik mungkin agar tidak terkena jurus mematikan itu. Sambil menggendong tubuh lemah istrinya, Zhaoling bergerak kesana-kemari untuk menghindarinya. Tapi, karena orang yang menyerang Zhaoling berjumlah dua orang. Maka Zhaoling sangat kerepotan dibuatnya.
Dia tak bisa mengelak ketika musuh datang dari dua arah mengepungnya dengan cara menghadang. "Kau tidak bisa pergi lagi, Zhaoling!" kata keduanya tertawa begitu keras, karena berhasil memojokkan Zhaoling.
"Cih, walaupun kalian berdua dan aku sendiri, aku tetap bisa mengalahkan kalian." sahut Zhaoling seraya menaruh tubuh lemah Xin'er di bawah pohon terlebih dahulu. "Xin'er. Tunggu aku sebentar saja, untuk mengakhiri hidup mereka! Aku janji tak kan lama," ucapnya seraya memberikan kecupan sayang di kening istrinya.
Zhaoling lekas berdiri dan memasang kuda-kuda untuk melawan kedua musuh beratnya itu. Walaupun hanya seorang diri, tapi dia tak gentar sedikitpun untuk menyerang kedua musuh dihadapannya itu.
Bugh ... bugh ... plak ... plak ... tap ... tap
Pukulan demi pukulan terus terarah dari ketiganya. Saling menyerang dan melindungi diri dari serangan musuh, membuat ketiganya sibuk tanpa memperdulikan sekitaran.
Dari kejauhan, seorang wanita paruh baya berjalan mendekati Xin'er di bawah pohon yang tengah terkapar tak berdaya dengan luka dalam. Wanita paruh baya tersebut menyeringai melihat Xin'er kesakitan sambil memejamkan mata.
"Xin'er. Kali ini kau tak kan selamat," gumamnya sembari berjalan menghampiri.
__ADS_1
Karena Zhaoling tengah sibuk melawan Guru Luo dan Lujing, sehingga perhatiannya teralihkan dari Xin'er. Dia tak menyadari jika istrinya kini sedang dalam bahaya.
Seringai jahat terlihat dari bibir yang melengkungkan senyum mengejek. Setelah memperhatikan keadaan sekitar, wanita paruh baya itu segera menancapkan belati ke perut Xin'er, yang sontak membuat matanya terbuka lebar. "Aaaakkkhhh,"
Xin'er menatap wanita dihadapannya itu dengan rasa tidak percaya. Dia tidak pernah menyangka jika wanita itu akan datang membunuhnya seperti ini. "Kkkaaauuuu," susah payah Xin'er berusaha berbicara tapi wanita itu menekan belatinya semakin dalam. Sehingga, Xin'er merasakan kesakitan yang luar biasa. "Aaaaaarrrggghhh,"
Perlahan, tubuh Xin'er ambruk karena tak kuasa menahan kesakitan akibat luka pukulan dalam ditambah luka tusukan. Dia sempat memandang kearah suaminya yang tengah melawan musuh seorang diri. Tangannya menggapai kearah Zhaoling sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
'Aling. Maafkan aku karena tak bisa menunggu mu! Ternyata, kebersamaan kita hanya cukup sampai di sini saja.'
Cairan bening meluncur dari ekor mata ketika matanya tertutup sempurna. Xin'er tak bisa bertahan lagi karena rasa sakit yang teramat. Sedangkan wanita paruh baya itu tersenyum puas setelah memastikan bahwa Xin'er mati ditangannya.
Sebelum ada yang melihatnya di sana, wanita itu bergegas pergi meninggalkan area tempat jasad Xin'er tergeletak. Dia juga mencabut belati yang digunakan untuk menusuk Xin'er, agar tak ada yang mengetahui penyebab kematian wanita malang itu.
Sementara itu, Zhaoling telah membunuh Guru Luo dan membuat Lujing terluka berat. Dia meninggalkan kedua musuhnya untuk segera memberikan pertolongan untuk istrinya. Lagi pula, tak ada yang perlu di khawatirkan lagi dari kedua musuhnya itu. Selain kematian Guru Luo, Lujing pun ajan segera menyusul karena luka dalamnya cukup parah, yang mengakibatkan dia akan mati secara perlahan.
Namun, ketika Zhaoling menghampiri Xin'er, dia terkejut melihat keadaan istrinya yang sudah tak sadarkan diri dengan darah keluar dari perutnya.
Seketika Zhaoling panik dan segera memangku kepala istrinya. Ia mengguncangkan tubuhnya perlahan, seraya menepuk pipinya pelan. "Xin'er. Apa yang terjadi?"
Sekeras apapun ia berusaha, tapi Xin'er tak merespon sedikitpun. Bahkan, ia sudah tak bergerak sama sekali, membuat Zhaoling semakin panik.
"Xin'er. Ku mohon, bangunlah!" pintanya dengan mata yang berkaca. Sekali lagi, Zhaoling menepuk pipi istrinya namun tetap tak ada gerakan sedikitpun. "Xin'er!" teriakan Zhaoling melengking sampai membuat semua orang menghentikan pertarungannya.
__ADS_1
Bersambung ...