Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Awal pertemuan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


"Sayang. Kamu sedang apa?" Jerry menghampiri Yoona yang sedang melamun sendirian di teras rumahnya.


Pria itu mengerutkan keningnya ketika tak mendapat respon dari Yoona. Jerry pun mengulangi pertanyaannya lagi sembari menyentuh pundak istrinya. "Sayang. Apa yang sedang kamu lamun kan hingga suamimu datang saja tak kamu hiraukan?" celoteh Jerry lagi.


Yoona tersentak dengan sentuhan di pundaknya sambil mendongakkan wajahnya. Tanpa berkata apapun, dia berdiri dan langsung memeluk tubuh suaminya. Yoona menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami sembari mengeratkan pelukannya. Terlihat senyuman manis menghiasi bibirnya saat ini.


Jerry yang mendapat perlakuan manis dari sang istri tentu bahagia. Rasa lelah karena seharian bekerja di Rumah Sakit langsung hilang begitu saja, ketika Yoona memeluk tubuhnya dengan sayang. Jerry pun mengecup puncak kepala Yoona sembari mengelus punggung sang istri.


Ya. Mereka telah menikah, lebih tepatnya tiga bulan yang lalu. Setelah kejadian pembalasan untuk Mayor Bang Khong itu, Jerry memutuskan untuk melamar Yoona ketika gadis itu telah pulang dari Rumah Sakit. Waktu itu Yoona sempat dirawat beberapa hari di Rumah Sakit tempat Jerry bekerja. Selain karena luka sayatan belati beracun, Yoona pun mengalami patah tulang di bagian kaki.


Beruntung, luka sayatannya tak cukup parah dan kakinya bisa disembuhkan lagi. Hingga dirinya diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit setelah Jerry memastikan kondisinya baik-baik saja.


Selain karena ingin melindungi Yoona, sebenarnya Jerry sudah menaruh hati sejak lama kepada pasiennya itu. Ketika pria itu merawat Yoona yang dalam keadaan koma, wajah Yoona mengingatkan pria itu kepada seorang gadis kecil yang dulu pernah menolongnya.


Ketika Jerry dikejar-kejar pembunuh bayaran, Yoona datang menolongnya. Gadis kecil itu menyelamatkan Jerry dengan cara menyembunyikannya di mobil milik ayahnya. Beruntung, para pembunuh itu tak mencari di area parkiran dan menggeledah mobil-mobil yang berjejer di sana. Sehingga Jerry dengan mudahnya selamat dari kejaran para pembunuh itu.


Bertahun-tahun Jerry mencari gadis kecil penyelamatnya tersebut tanpa tahu identitasnya. Namun, ketika berkunjung ke rumah Yoona, pria itu menemukan foto Yoona kecil yang sedang tertawa di pantai bersama kedua orang tuanya. Keyakinan Jerry bertambah setelah melihat foto gadis kecil sang penyelamatnya tersebut.


Gadis kecil yang sama yang menyelamatkan Jerry itu dari kejaran para penjahat yang akan membunuhnya ketika dirinya kabur ke area pantai yang tak jauh dari rumahnya.


Orang tua Jerry dibunuh oleh kelompok mafia besar negara tetangga. Mereka mengincar Jerry karena dialah saksi kunci kejahatan para penjahat tersebut. Selain membunuh kedua orang tua Jerry, penjahat itupun menjual barang haram yang diselundupkan melalui jalur laut.


Alasan mereka membunuh kedua orang tua Jerry juga sebenarnya karena ayah Jerry adalah Letnan Jendral Angkatan Darat yang berhasil menangkap bos mereka dan menjebloskannya ke tahanan. Mereka tak terima bosnya ditangkap Prajurit Militer. Oleh sebab itu, mereka mengincar orang yang menangkap bosnya ketika sedang melakukan transaksi di perbatasan negara.


Itulah yang menjadi tekad Jerry untuk menjadi seorang Prajurit Abdi Negara. Selain ingin menangkap para penjahat yang merusak generasi muda, dia juga ingin menangkap mereka yang sudah membunuh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ketika kedua orang tua Jerry di bawa ke Rumah Sakit dalam keadaan sekarat, semua dokter bekerja seperti lambat menurutnya. Mereka tak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya yang sedang sangat membutuhkan penanganan medis.


Jerry geram melihat para medis itu seperti sengaja memperlambat penanganan, hingga ia bertekad jika suatu saat nanti dirinya harus menjadi seorang dokter hebat yang bisa menyelamatkan nyawa banyak orang.


Walaupun Jerry sadar jika takdir seseorang sudah diatur oleh Tuhan, namun ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Selama ada harapan, maka ia akan berusaha menyelamatkan walaupun harapan itu sekecil ujung kuku.


Pada saat Yoona sekarat, Jerry berusaha menyelamatkan nyawanya sebab dirinya merasa terikat dengan gadis itu. Ditambah lagi, Yoona celaka karena menyelamatkan banyak orang yang ditawan oleh musuh di perbatasan.


Hati nurani Jerry tergerak. Selain dirinya juga seorang Prajurit, dia pun adalah seorang dokter ahli dalam di Rumah Sakit Pusat Kota. Melihat kondisi Yoona yang sepertinya masih ada harapan, ditambah lagi permohonan dari kedua orang tuanya yang meminta Jerry untuk menyelamatkan nyawa putrinya. Jerry pun berusaha menyelamatkan walaupun Yoona dalam kondisi koma. Yang penting masih ada harapan, pikirnya lega.


"Terima kasih, Jerry. Karena kamu, aku bisa bertahan hidup lebih lama dan membalaskan dendam kepada para penjahat itu!" cetusnya lirih masih dalam dekapan Jerry.


Jerry mengurai pelukannya, kemudian menatap wajah cantik istrinya sembari tersenyum hangat. "Justru aku yang harusnya berterima kasih padamu, sayang. Karena pertolonganmu itu, aku selamat dan hidup sampai sekarang. Aku juga bisa menyelamatkan nyawa orang lain yang membutuhkan pertolonganku," imbuhnya.


"Jadi, kita tak punya hutang budi dong ya!" cicit Yoona sembari menaik turunkan alisnya.


Kening Yoona mengkerut. "Hutang apa lagi? Perasaan ...."


Sebelum Yoona melanjutkan ucapannya, dengan gerakan cepat Jerry menggendong tubuh istrinya ala bridal style dan membawanya masuk ke rumah. "Kamu masih banyak hutang untuk melayani suamimu, sayang!" ucapnya tersenyum culas.


"Hei!" pekik Yoona namun tetap mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Siap-siap untuk bergadang sampai pagi, sayang!" desis Jerry yang langsung memulai apa yang seharusnya dilakukan.


Wajah Yoona selalu merona ketika Jerry melakukan apa yang menjadi haknya. Dia tak pernah menolak apa yang diinginkan suaminya dan selalu memberikannya dengan penuh keikhlasan. Karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi hak Jerry sebagai suami.


Satu jam berlalu, akhirnya mereka menyudahi kegiatan malam tersebut. Perut yang lapar membuat Jerry menghentikan permainannya dan ia memilih untuk mengisi tenaga terlebih dulu agar siap tempur sampai pagi.

__ADS_1


"Sayang. Ada dua pria yang ingin bertemu denganmu." cetus Jerry tiba-tiba.


"Hemh, siapa?" tanya Yoona heran. Wajahnya bahkan langsung menoleh ketika Jerry mengatakannya.


Jerry mendadak kesal. Istrinya langsung respon ketika dirinya menyampaikan jika ada dua orang pria yang ingin bertemu dengannya. "Ck, kamu itu ya. Giliran aku ngomong gitu kamu langsung respon. Aku kesel," Jerry merajuk.


"Dih, kok ngambek? Aku kan cuma kebetulan lagi fokus sama ucapan mu_tidak seperti tadi. Ngelamun," elaknya.


"Tapi ... Ah, sudahlah! Pokoknya besok ada yang ingin bertemu denganmu. Mereka itu teman-temanku di Markas Pusat. Tapi, mereka bilang kenal denganmu. Jadi, keduanya memaksa ingin bertemu." Jerry melanjutkan ucapannya.


Yoona berpikir sejenak. Siapa dua pria teman Jerry dari Markas Pusat yang kenal dengannya? Sedangkan Yoona saja baru mengenal Jerry sekarang, setelah dewasa tentunya. Lalu mereka? Ah, bodo amat. Terserah saja jika suaminya itu mengizinkan bertemu, berarti mereka tak bermasalah! batin Yoona.


"Hei! Tuh kan_melamun lagi!" gerutu Jerry kesal. "Kamu memikirkan dua orang itu ya?" tebaknya dengan hati dongkol.


Yoona menggelengkan kepala sambil terkekeh. Tingkah Jerry yang selalu cemburuan dan posesif menjadi hiburan tersendiri untuknya. Ditambah lagi, dokter muda itu selalu membuat Yoona terbang melayang dengan perlakuan manisnya. Membuat Yoona makin sayang dan cinta padanya.


Wanita itu segera memeluk erat tubuh yang sedang memunggunginya tersebut. Wajahnya menempel di punggung lebar Jerry, dan tangannya melingkar_mengusap dada bidangnya. "Kenapa semakin hari aku merasa semakin mencintaimu, Dokter tampan!" cicitnya sedikit menggoda.


Jerry tersenyum dibalik tubuh Yoona. Pria itu merasa senang karena istrinya selalu bisa membuatnya tak jadi marah_walaupun sebetulnya dia tak marah.


Pria itu masih bergeming, memunggungi Yoona yang mulai meraba bagian perutnya seperti membentuk petakan sawah Mang Jamidi. Sampai pada akhirnya, tangannya sendiri yang menuntun tangan Yoona untuk turun meraba bagian intimnya.


"Sudah mengeras, sayang!" desisnya terkekeh. Sementara Yoona langsung menarik tangannya dengan wajah yang sudah merona_tentunya.


"Ih, dasar mesum!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2