Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Bertemu dengannya


__ADS_3

Semua pemberontak yang mati telah dimakamkan secara masal. Walaupun mereka para penjahat, tapi tetap saja diperlakukan dengan layak.


Kaisar Xiang telah mengumumkan agar memperketat penjagaan untuk mengantisipasi jika ada pemberontak lain yang menyerang kerajaannya. Beliau juga berterima kasih pada Zhaoling karena telah membawa para pemberontak yang meresahkan rakyat kemari, dan menjebaknya untuk masuk ke wilayah Istana. Dengan begitu, mereka semua dibasmi tanpa harus susah payah mencari.


Padahal, Zhaoling sendiri tak tahu jika dirinya akan dibawa ke Kerajaan Xiang oleh Gu Yen yang ternyata untuk menyelamatkan ayahnya. Panglima Xili itu pun mendapatkan hadiah istimewa dari Yang Mulia Raja berupa emas dan koin perak. Namun, Zhaoling menolak dengan alasan tak menginginkan semua harta tersebut.


Karena Zhaoling menolak kekayaan, Kaisar Choi pun menawarkan salah satu putrinya untuk dipersunting oleh Zhaoling. Beliau tak masalah menikahkan salah satu putrinya kepada seorang Panglima. Toh, kedudukan Panglima tak kalah tinggi dibandingkan Mentri atau Kasim.


Zhaoling tersenyum sebelum berkata, "Terima kasih atas perhatian Yang Mulia. Tapi, maaf! Saya sudah memiliki seorang istri dan tidak berniat mencari lagi. Bagi saya, istri cukup satu!" tolaknya secara halus.


Kaisar Choi terkejut mendengar pengakuan Zhaoling, bahwa pria itu telah beristri. Apakah benar bahwa pria tampan itu sudah menikah? Ataukah, dia hanya berpura-pura untuk menolak putri dari Raja Xiang tersebut.


Namun, Qianfeng ikut menjelaskan bahwa dirinya pun tahu perihal pernikahan Zhaoling dan seorang gadis cantik berasal dari kota kelahirannya. Seorang putri dari Perdana Mentri Kerajaan Xili.


Kaisar Choi bangga dengan pengakuan Zhaoling. Disaat para pria diberikan kesempatan untuk menikahi putri Raja, mereka akan dengan senang hati menerima walaupun sudah beristri. Namun, berbeda dengan Zhaoling. Dia tak mau berpura-pura sendiri dan malah mengakui pernikahannya untuk menolak wanita lain.


"Aku sungguh bangga kepada pria sepertimu, Panglima. Kau sungguh setia terhadap pasangan, dan istrimu pasti bahagia bisa memilikimu seutuhnya." puji Kaisar. Baiklah. Jika kau menolak putriku dan kekayaan, bagaimana kalau ku hadiahkan sebuah senjata?" ucap Kaisar Choi lagi menawarkan.


Beliau mengeluarkan sebuah pedang dari dalam kotak kayu panjang yang masih terbungkus rapi oleh kain berwarna emas. Terdapat sebuah ukiran Naga yang melingkar di sarung pedang tersebut. Kaisar pun segera menyerahkan pada Zhaoling untuk diterimanya. "Pedang ini hadiah dari seorang Guru kepadaku. Saat aku seusia denganmu, pedang ini selalu aku bawa setiap kali berperang. Pedang ini membawa keberuntungan bagiku," ucapnya tersenyum kearah Zhaoling.


Zhaoling hanya diam menyimak ucapan Kaisar Choi. Kemudian, Kaisar melanjutkan ucapannya lagi yang membuat Zhaoling maupun semua orang tercengang. "Pedang ini ku hadiahkan untukmu sebagai tanda keberanianmu melawan musuh seorang diri. Dengan kecerdasanmu, musuh dapat dikalahkan. Jadi, ku harap kau tidak menolak hadiahku ini!" pintanya dengan serius.


"Tapi, Yang Mulia. Pedang ini kan hadiah seseorang untuk Anda. Kenapa Anda ingin memberikannya pada saya? Saya tidak bisa menerima hadiah milik Anda tersebut!" tolak Zhaoling lagi.


Kaisar tahu, bahwa Zhaoling orang yang tak mudah menerima pemberian apapun dari orang lain. Maka dari itu, Kaisar Choi segera berkata lagi. "Senjata ini milik Perguruan Naga Bayang, maka ku kembalikan lagi kepada murid Perguruan tersebut. Tugasku menjaga pedang ini sudah selesai dan kini giliran kamu yang harus menjaganya." jelas Kaisar.


"Tapi, Yang Mulia. Qianfeng juga murid perguruan sana dan dia pun berjasa dalam menumpas musuh. Kenapa Anda memberikan hadiah ini hanya pada saya? Saya merasa tidak pantas untuk itu," ucap Zhaoling dengan merendah.

__ADS_1


"Aling. Apa yang kau bicarakan? Kau sangat pantas mendapatkannya. Terlebih, kau sudah membantu kami menangani para bandit. Jadi, sudah sewajarnya kau mendapatkan imbalan." timpal Qianfeng ikut menyahut.


Helaan nafas panjang terdengar. Kaisar Choi tersenyum, kemudian kembali berkata. "Ternyata Guru tidak salah memilih muridnya. Kau adalah pria yang baik dan tulus. Jika kau tak mau menerima hadiah ini, kau malah menyakiti perasaanku." cetus Kaisar. "Lagipula, Qianfeng telah memiliki senjatanya sendiri." lanjutnya kemudian seraya melirik Panglima nya itu.


Qianfeng mengangguk sambil mengangkat pedangnya. Pedang itu memiliki ukiran yang sama dengan pedang yang dihadiahkan untuk Zhaoling. "Pedang ini adalah pedang Naga Kembar. Jadi, kau bisa menerimanya!" tutur Qianfeng tertawa kecil.


Zhaoling segera memukul kepala Qianfeng gemas. "Ternyata, memang dari awal kamu berniat mengujiku!" serunya seraya mengaitkan tangan dileher temannya itu.


Qianfeng berteriak sambil memukul tangan Zhaoling yang melingkar dilehernya, meminta agar dilepaskan. "Salahmu sendiri. Kamu itu jadi orang terlalu baik dan sungkan. Makanya, aku diam saja supaya Yang Mulia mengatakan itu." ucapnya kesusahan.


"Sudah ... sudah! Baiklah. Karena tak ada alasan lain kau menolaknya, maka terimalah ini. Anggap saja, kalian memang ditakdirkan bersama!" kata Kaisar Choi melerai pertengkaran kecil kedua Panglima muda itu.


Zhaoling segera melepaskan tangannya, kemudian menerima pedang Naga Kembar tersebut. Dia tak bisa mengelak lagi, karena sudah tak memiliki alasan lain untuk menolaknya. Walaupun dirinya telah memiliki senjata sendiri pemberian Kakek Lon Thong, tapi dia tetap menerimanya karena tak enak pada Kaisar Choi.


Setelah urusannya selesai, Zhaoling pun pamit undur diri. Dia akan pulang kembali ke Kotanya dan menyelesaikan urusan lain yang lebih penting saat ini. Kepala Zhaoling sangat pusing karena memikirkan hal ini. Dia harus menyiapkan hati dan perasaannya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi hari esok.


"Setelah ini, kamu mau kemana lagi, Aling? Apa langsung kembali ke Xili atau mau pergi ke tempat Kakek dulu?" tanya Qianfeng penasaran.


Zhaoling tersenyum sebelum berkata. "Mungkin, aku akan menemui kakek dulu. Aku butuh saran dari Beliau," cetusnya dengan nada sedih.


Qianfeng melihat mimik wajah temannya yang muram. Terlihat jelas, sebuah beban penyesalan di sana. "Apa masalahnya, Aling? Apa kau tak ingin membaginya padaku?" tanya Qianfeng serius.


"Tidak berat. Hanya saja ... ini menyangkut mereka lagi." sahut Zhaoling sedikit menjeda.


Tangan Qianfeng terkepal. "Sampai kapan kau akan terus bertahan, Aling? Apa sesulit itu melawan kekuasaan Zhaohan dan Ibu Suri?"


"Bukan itu masalahnya, Afeng! Kau tak kan paham," tutur Zhaoling. "Baiklah. Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik! Setelah aku kembali, aku akan memberikan kabar kepadamu!" ucap Zhaoling berpamitan.

__ADS_1


Walaupun Qianfeng ingin berbicara lagi, tapi Zhaoling keburu pergi dan melambaikan tangan kearahnya. Dia hanya bisa menghela nafas dan berdoa agar semua masalah yang dihadapi Zhaoling cepat terselesaikan.


"Aling. Aku yakin, kau bisa mengatasinya. Jika kau kesulitan, aku akan datang membantumu walau kau tak memintanya!" gumam Qianfeng seraya menatap kepergian temannya.




Saat ini, di Kota Yongsheon.


Suasana sore hari memang nampak indah. Apalagi, warna jingga dari sang surya tampak menyilaukan mata bila dipandang secara langsung. Semilir angin sepoi meniup dedaunan sampai sedikit bergoyang.


Terlihat, tiga gadis cantik tengah berjalan beriringan di jalan setapak menuju kediamannya. Mereka adalah Xin'er, Mengshu, dan Yuelie. Ketiganya baru pulang dari pekan raya yang diadakan di pusat kota.


Sambil berjalan, mereka sesekali mengobrol menghilangkan keheningan di sepanjang perjalanan. Saat di pertengahan jalan, seorang pria menarik tangan Xin'er sampai gadis itu berbalik menghadapnya.


"Hei," pekik Xin'er saat tangannya ditarik. Dia pun bersiap memukul orang yang menariknya tersebut. Namun, saat wajahnya menghadap sempurna, netranya membulat melihat pria yang berada dihadapannya. "Zhaoling?"


"Ayo, kita pulang!" ucap Zhaoling tanpa basa-basi.


Mendengar perkataan Zhaoling yang terdengar seperti perintah itu, tentu membuat Xin'er sangat marah. Memangnya, siapa dia? Berani benar dia memerintah Xin'er seperti itu secara langsung.


Xin'er menghempaskan tangan Zhaoling secara kasar sambil berkata. "Tuan Panglima yang terhormat. Apa karena kedudukan Anda itu membuat Anda lebih berani memperlakukan saya seenaknya? Heh, kita tidak sedekat itu. Jadi, kau tidak boleh menyentuhku sembarangan!" ketusnya. "Dan ... apa barusan? Pulang? Pulang kemana? Rumahku disini," lanjutnya masih dengan ketus.


Zhaoling terdiam sejenak seraya menghela nafas berat, kemudian menunduk dihadapan Xin'er. "Maaf!" ucapnya penuh penyesalan.


Baik Xin'er, Mengshu, dan Yuelie, ketiganya tidak mengerti atas tindakan yang dilakukan Zhaoling saat ini. Mereka hanya menatap dengan rasa penasaran. "Ada apa dengan dirinya?"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2