Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Jebakan


__ADS_3

Sebulan berlalu. Tak ada pengaduan apapun dari kedua murid senior yang mengganggu Zhaoling waktu itu. Namun, tatapan tak suka kini tergambar dari hampir setengah murid Perguruan. Jelas, mereka dihasut oleh seseorang agar membenci Zhaoling, dan orangnya juga pasti orang yang sama.


Hari ini Perguruan mengadakan acara berburu. Satu kelompok terdiri dari empat sampai lima orang. Semuanya diminta untuk memilih kelompok masing-masing dan yang tidak memiliki kelompok akan disuruh berburu sendiri.


Ini kesempatan yang bagus untuk menyingkirkan Zhaoling, si pengganggu kecil itu. Semua yang membencinya sepakat untuk membuat Zhaoling tersingkir dari sini untuk selama-lamanya. Sedangkan yang lainnya, mereka telah memiliki kelompok sendiri karena dari dulu memang sudah berkelompok. Jadi, Zhaoling hanya sendiri.


"Bagaimana? Apa kalian sudah memiliki kelompok semuanya?" Tanya Guru Besar Hui.


"Sudah," serempak mereka menjawab.


Lirikan mata Guru Besar Hui tertuju pada seorang pemuda yang santai berdiri sendiri diantara kelompok-kelompok tersebut. "Zhaoling. Kenapa kau sendirian? Kau masuk kelompok mana?" Bertanya dengan keheranan. Pasalnya, tak ada satu orangpun didekatnya dari sekian banyak murid di Perguruan.


Dengan kepalan tangan di depan yang disatukan telapak tangan, Zhaoling membungkuk hormat. "Aku bisa berburu tanpa bantuan yang lain, Guru Besar!" Jawaban Zhaoling terkesan arogan. Namun di balik itu, sesungguhnya ia sedih karena tak ada yang mau berkelompok dengannya.


"Huuuuuuu. Dasar anak sombong!" Cibir semua murid serempak.


Keributan terjadi. Riuh para murid melayangkan ejekan dan cibiran yang membuat Zhaoling sakit hati. Tapi, hatinya mulai terbiasa menahan rasa sakit yang mungkin akan berlanjut selama dirinya berada di Perguruan ini.


"Sabar, Zhaoling! Tiga tahun lagi, maka kau akan bebas dari tempat ini dan menjadi Pendekar kuat." Berusaha menguatkan diri sendiri. Tekadnya sudah bulat. Ia tak mau ditindas oleh orang lain. Kejadian naas di Istana membuatnya sadar akan pentingnya ilmu bela diri. Ditambah, perebutan tahta yang pasti akan mengundang peperangan di masa depan.


"Tenang semuanya!" Guru Jin berteriak. "Jika kalian terus ribut seperti ini? Maka, perburuan akan dibatalkan! Kalian paham?" Lanjutnya.


Semua menjawab serempak. "Paham!"


Guru Jin kembali berkata. "Bagus. Untuk Zhaoling, sesuai peraturan tadi. Jika dia tak memiliki kelompok, maka dia akan berburu sendiri. Bukankah itu bagus untuk kalian yang berkelompok? Itu memudahkan kalian mendapatkan hewan buruan. Jadi, perburuan ini kita mulai!"


Setelah kata 'mulai' yang diucapkan oleh Guru Jin, semua murid berpencar dengan kelompok masing-masing kearah hutan. Jika mereka mendapatkan hewan buruan yang besar dan kuat, maka dianggap menang. Tapi, itulah yang susah. Karena, kebanyakan dari para murid belum menguasai ilmu Tapak Naga yang menjadi ciri khas Perguruan Naga Bayang.

__ADS_1


Tapak Naga adalah ilmu inti Perguruan Naga Bayang. Selain Tapak Naga, ada juga jurus Cakar Naga, Naga Terbang, Naga Tidur, serta jurus mematikan, yaitu Semburan Naga Api. Jurus ini hanya dimiliki oleh Guru Tertinggi Lon Thong. Tak ada satupun dari para Guru yang bisa menguasainya. Selain tingkat kesulitannya, jurus itu juga perlu konsentrasi penuh dalam berkultivasi.


Sudah satu jam berlalu. Tak ada tanda dari satu kelompok pun yang datang membawa hasil buruan mereka. Selain berburu, para kelompok juga harus mengumpulkan bendera merah yang sudah disebar para Guru di hutan.


Semua kelompok sedang sibuk mencari hewan buruan. Tapi, ada sebagian kelompok yang mencari cara untuk mencelakai Zhaoling. Mulai dengan jebakan ditanah, jebakan diatas pohon, serta serangan jarak jauh jika memang diperlukan. Pokoknya, mereka akan puas jika Zhaoling tersingkirkan untuk selamanya.


Satu persatu dari kelompok sudah kembali ke Perguruan dengan membawa hewan buruan mereka. Kebanyakan dari kelompok membawa rusa sebagai hewan yang diincar karena sangat mudah mendapatkannya. Hampir setengahnya dari murid Perguruan sudah kembali. Lalu, dimanakah yang sebagiannya?


Saat ini, Zhaoling bergerak cepat sambil sesekali memeriksa keadaan sekitar. Barang kali ada hewan buruan yang bisa ditangkapnya untuk dibawa kehadapan para Guru. Tapi sejauh ini, tak ada hewan yang lewat satupun di depan matanya. Apa mungkin semua binatang di hutan tahu bahwa mereka akan kedatangan para pemburu?


Sial


Zhaoling kesal karena matahari sudah hampir tenggelam, namun ia belum melihat satupun buruannya. Segera ia melompat ketanah setelah melompat dari satu pohon ke pohon lain. Dia memilih mengawasi dari atas agar memudahkan menangkap binatang buruan. Tapi, hari ini sungguh sial buat dirinya.


Sebenarnya, semua binatang yang bisa diburu di hutan itu sengaja diusir oleh para murid yang memusuhi Zhaoling sampai berpindah ke hutan lain di sebelah tenggara. Mereka tak ingin Zhaoling memenangkan perburuan ini karena mereka tahu bahwa kekuatan Zhaoling sungguh luar biasa.


Tanpa ia sadari, sebuah jebakan ditanah yang sengaja dipasang oleh para murid yang memusuhinya terinjak kaki Zhaoling. Tanah yang sudah digali dengan kedalaman yang cukup dalam, ditutupi rerumputan serta dedaunan kering diatasnya dengan ranting dibawahnya. Alhasil, ia pun merosot kedalam lubang sekitar tiga puluh meter itu. Padahal, dia adalah orang yang cukup waspada.


"Whoooaaa," memekik keras saat tubuhnya terperosok kedalam lubang tersebut.


Zhaoling tak bisa melakukan apapun, walau hanya sekedar ingin melompat. Karena, lubang yang dibuat itu selain dalam juga cukup luas. Jadi, dia tak sempat berpegangan tangan kemanapun karena terkejut.


Bruk


Tubuhnya ambruk di dasar lubang tersebut dengan keadaan kepala menyentuh tanah terlebih dahulu. "Aakh,"


Bayangkan saja. Apa rasanya jika jatuh dari ketinggian tiga puluh meter? Sakit pasti. Terluka iya. Walaupun Zhaoling mempunyai ilmu kanuragan, tapi dia jatuh dalam keadaan tak siap. Sehingga, ia pun terjatuh dengan keras ke dasar lubang tersebut.

__ADS_1


Rasa sakit di kepala membuat kesadarannya perlahan menghilang. Lambat laun, matanya tertutup tanpa bisa melihat siapa pelaku kejahatan ini.


Beberapa pria dewasa termasuk kedua murid senior yang memusuhinya lekas menghampiri lubang jebakan itu dan melongokan kepalanya ke bawah, untuk melihat keadaan Zhaoling. Anak malang itu terbaring tanpa bergerak sedikitpun dari posisi terjatuhnya.


"Hahaha. Rasakan kau, anak sombong! Kau tidak menyangka bukan, akan ada hari dimana kau celaka?" ujar salah satunya.


"Dia selalu bercakap besar dan sikapnya itu sangat arogan. Dia pikir, kita akan mengakuinya sebagai bagian dari Perguruan kita? Cuih, tak sudi aku!" ungkap yang lainnya dengan rasa benci yang teramat besar.


Mereka terus memperhatikan, namun tak ada pergerakan sama sekali dari Zhaoling membuatnya risau. "Apa dia mati?" tanya salah satunya, karena anak itu tak bergerak.


"Mungkin!" sahut yang lainnya enteng.


Mereka melengos sambil tersenyum. Tapi, seketika ucapan salah satu membuat mereka tersadar. "Jika Guru bertanya, bagaimana? Apa yang akan kita jawab?"


"Sial." umpat mereka langsung berlarian mencari tali yang mereka gunakan untuk naik dari bawah sana setelah menggali. "Cepat, kita angkat tubuhnya kembali!" titah salah satu dan bersiap turun.


Namun, murid senior yang membenci Zhaoling segera bertindak. "Kalian ini bagaimana, sih? Dengan susah payah kita singkirkan dia, tapi sekarang malah akan diselamatkan. Apa kalian itu bodoh, sampai mau menolongnya, hah?" bentak Sihuo.


Semuanya terdiam. Sihuo kembali berucap. "Dia mati atau tidak, bukan urusan kita lagi! Yang penting sekarang adalah kembali dengan tepat waktu sambil membawa buruan kita. Kalau kita pulang terlambat, sudah pasti Guru akan curiga. Maka dari itu, ayo kembali!" lanjutnya sembari melenggang.


Semua menatap kearah Sihuo dan Cunfang. Kedua murid senior itu sangat membenci anak yang bernama Zhaoling sejak pertama bocah itu datang. Mereka bisa melihat bakat luar biasa dari bocah itu. Pasti anak itu akan mengalahkan kekuatan mereka dikemudian hari.


Rasa benci kian tumbuh setelah mengetahui bahwa Zhaoling telah menguasai salah satu jurus rahasia Perguruan. Dia pun diberikan Pil Dewa sebagai hadiah karena menang, dan itu semakin menumbuhkan kebencian di hati mereka.


"Rasakan kau, bocah tengik! Kau pasti tidak menyangka bahwa kami akan melakukan pembalasan seperti ini atas perlakuan mu tempo hari. Jika kau mati saat ini, ucapkan salam ku pada raja neraka! Hahaha!"


...•••••...

__ADS_1


Bab ini diperkirakan update tiga hari lagi ... jika author lagi fresh otaknya.🤪😁


__ADS_2