
Trang ... trang ... trang ...
Benturan besi terdengar nyaring dari arah lapangan tak jauh dari area perbatasan Kerajaan. Bukan hanya benturan besi, suara teriakan juga terdengar cukup nyaring dari medan pertempuran tersebut.
"Haaaaaaa," suaranya terdengar semakin ramai ketika suara seseorang memberikan instruksinya.
"Seraaaaaaaang!"
Tok tak tok tak
Kuda berlarian saling mendekat satu sama lain, sambil mengikik "Hihiiihiiikkk,"
Trang ... trang ...
Kembali, tebasan tombak dan pedang saling membentur mengenai perisai milik masing-masing terdengar nyaring di area pertempuran itu. Mereka saling menyerang satu sama lain, untuk membunuh para musuh yang ada dihadapannya.
Seluruh Jendral pasukan dari kedua belah pihak sudah turun ke medan perang untuk mempertahankan, ataupun menyerang musuh dengan kekuatan yang mereka miliki.
Pedang dan tombak itu saling menebas kearah musuh mengakibatkan mereka terjatuh dengan luka parah dan juga darah yang menetes. Bahkan, tak hanya terluka, mereka mati seketika setelah mendapatkan serangan dari musuh.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Mereka mengalami kerugian besar akibat pertempuran ini, dengan banyak pasukan yang mati terbunuh oleh musuh. Tapi, semua itu tak menghentikan pertempuran ini. Bahkan, mereka terus melanjutkannya sampai ada satu pemenang diantara mereka.
Para Jendral dari kedua belah pihak bertarung dengan sekuat tenaga untuk memenangkan peperangan ini. Mereka bahkan tak segan mengeluarkan kekuatan rahasia yang dimiliki demi bisa mengalahkan musuh, bahkan sampai membunuhnya.
Darah berceceran dimana-mana dengan mayat yang berserakan bagaikan ikan yang terkena air surut, menggelepar tanpa ada yang perduli. Sebenarnya, bukannya tak perduli. Tapi, ini adalah medan perang. Apapun bisa terjadi ditempat seperti ini. Jangan kan untuk menolong teman-temannya, menolong diri sendiri saja rasanya begitu sulit.
__ADS_1
Pasukan mereka banyak yang terluka bahkan mati dengan luka yang cukup parah. Tergores atau tertancap benda tajam seperti pedang, tombak, panah, dan yang lainnya. Serta bisa sampai kehilangan tangan, kaki, bahkan kepala mereka akibat pertempuran besar ini. Semua itu sudah menjadi hal biasa dan lumrah disaat peperangan berlangsung. Tak ada yang bisa mencegah semua itu terjadi.
Di medan perang, jika kita tidak melawan, maka kita yang akan dibantai mereka. Maka dari itu, selain bertahan, mereka pun harus melawan dengan sekuat tenaga. Itulah yang seharusnya dilakukan mereka saat berada di tempat pertempuran.
Peperangan berlangsung cukup lama. Baik dari pihak Zhaoling maupun Zhaohan, tak ada yang mau mengalah sedikitpun. Zhaohan sebagai penyerang, kali ini tak segan untuk menantang Adik tirinya itu karena mendapat dukungan dari lima kerajaan sekaligus. Walaupun kecil, tapi tetap saja kemampuan perang militer mereka tak bisa diremehkan.
Sudah tiga belas hari perang masih belum berakhir. Walaupun pertempuran ini banyak menewaskan pasukan kedua belah pihak, tapi mereka seakan enggan untuk mengakhiri peperangan tersebut. Bahkan, mereka tak segan mengeluarkan senjata rahasia masing-masing demi menumpas pasukan musuh yang tersisa.
Zhaohan yang memimpin penyerangan, bergabung dengan banyak kerajaan kecil di daratan Jhajhanan. Dia berlari kearah Zhaoling yang memimpin pasukan Xili dengan kuda serta tombak ditangannya.
Zhaoling sebagai Panglima perang tentu tak tinggal diam. Melihat lawannya menghampiri, lekas ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, kemudian mengayunkannya dengan sekuat tenaga agar mengenai musuh dihadapannya itu. Tapi, Zhaohan ternyata sudah memiliki rencana khusus yang ia buat untuk mengalahkan Adik tirinya tersebut.
Saat dirinya maju untuk melawan Zhaohan, tiba-tiba Jihu dan Jhianglie datang menyusul dari arah kiri dan kanan, sehingga ketiganya kini mengepung Zhaoling yang hanya seorang diri.
Senyum meremehkan dari ketiganya membuat Zhaoling terkekeh. Dia menggelengkan kepala karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ternyata, Zhaohan memiliki sesuatu yang bisa membuat kedua pria itu mendukungnya. Sesuatu yang Zhaoling yakini sebagai tipu muslihat, namun kedua pria tak menyadari karena kebodohan mereka.
Bukan cuma Jhianglie, Zhaohan dan juga Jihu pun melayangkan gertakan yang berbeda kepada Zhaoling agar pria itu menyerah kepada mereka dan memberikan apa yang mereka inginkan.
Zhaoling yang mendengar gertakan mereka bertiga hanya tersenyum mengejek. Walaupun dia seorang diri, tapi Zhaoling mampu mengalahkan ketiga pria dihadapannya itu. Bukannya dia menyombongkan diri, tapi memang itu kenyataannya. Seorang Zhaoling yang mendapatkan gelar Pendekar Tapak Naga, dan juga Iblis Kematian itu hanya memutar bola matanya jengah mendengar ocehan mereka bertiga. Dia bahkan seolah tak menganggap mereka ada dihadapannya.
Melihat sikap angkuh Zhaoling, membuat ketiga pria itu murka. Mereka mengangguk satu sama lain, kemudian menyerang Zhaoling secara bersamaan.
"Kau terlalu sombong, Panglima. Rasakan ini ... hiyaaaaaattt,"
Wush
__ADS_1
Zhaoling melompat dari kudanya dan mendarat di tanah dengan sempurna. Dia bersiap dengan segala serangan dadakan yang mungkin terarah padanya dari ketiga pria itu. Bahkan, pedang Naga Kembar miliknya kini telah ia keluarkan dari selongsongnya.
Trang ... trang ...
Tebasan demi tebasan terdengar dari benturan senjata keempatnya. Tiga lawan satu, bukan lawan yang seimbang. Tapi bagi Zhaoling, itu masih tak seberapa. Walaupun Zhaohan dibantu oleh adik-adiknya sekalipun, Zhaoling tetap bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Mungkin, hanya sedikit memerlukan waktu untuk mengalahkannya.
Ketiganya terus menyerang Zhaoling tanpa ampun, walaupun mereka sudah sangat kelelahan karena melawan pria itu yang masih terlihat bersemangat tanpa terkena serangan mereka sedikitpun.
"Hah ... hah," nafas mereka memburu seolah sangat sulit hanya untuk menghela saja. Ketiganya saling memandang dengan keringat bercucuran dari kening membanjiri seluruh tubuhnya. Mereka bahkan sempoyongan karena perlawanan dari Zhaoling.
Walaupun Panglima Xili itu hanya seorang diri, tapi sangat sulit untuk mengalahkannya. Karena ilmu yang ia kuasai sudah melebihi Tetua Pendekar pedang sekalipun.
Ketiganya masih tetap bersemangat untuk melawan Panglima Xili tersebut, dan ingin membuktikan kabar burung yang mengatakan bahwa Zhaoling adalah Pendekar Tapak Naga. Tepatnya, mereka tak percaya akan julukan yang Zhaoling dapatkan saat berada di Perguruan Naga Bayang.
"Kau hanya bisa menghindar untuk bertahan, tapi tak bisa menyerang karena sebenarnya kau tidak mempunyai kemampuan, bukan!" pancing Zhaohan. Ia sengaja mengejeknya supaya Zhaoling menunjukan ilmu kanuragan yang ia miliki.
Tapi, Zhaoling tak sedikitpun terpancing mendengar ejekan kakak tirinya itu. Ia hanya berdecih sebal karena sudah bisa menebak rencana licik Zhaohan. Tapi, pria itu terus saja memancing amarah Zhaoling supaya pertahanannya goyah. Tanpa ragu, pria itu melayangkan penghinaan terhadap ibu serta mendiang neneknya agar Zhaoling marah. Namun tetap saja, Zhaoling sepertinya tak bisa terpancing oleh ucapan Zhaohan.
Akhirnya, Zhaohan mengatakan sesuatu yang membuat amarah Zhaoling keluar. Tangannya terkepal membentuk tinju dengan raut wajah tak bersahabat. Tatapannya setajam pisau belati yang siap menghunus kearah Zhaohan, membuat pria itu sedikit ketakutan. Pasalnya, baru kali ini ia melihat Zhaoling mengeluarkan aura pembunuh seperti itu.
"Jika kau mengatakan sesuatu lagi tentang istri dan anakku, maka kau harus menanggung akibatnya!" Dia segera menggerakkan tangannya memutar keatas dan kebawah seperti membentuk seekor Naga sedang berdiri. Perlahan, tangannya ditarik sedikit kebelakang, kemudian bersiap mengulurkannya ke depan. "Tapak Naga tingkat tujuh," teriaknya dengan keras.
Zhaoling langsung mengeluarkan jurus tingkat tujuh untuk melenyapkan orang yang telah menghina istri dan anaknya. Tapak Naga tingkat tujuh ini bisa digunakan untuk membunuh tanpa menyentuh, hanya dengan hembusan angin saja mampu meremukkan tulang hingga bagian dalam.
Wuuussshhh
__ADS_1
"Aaaaaaaarrrrgghhhhh,"
...Bersambung .......