Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kabar dari Mengshu


__ADS_3

Kemenangan besar diraih Kerajaan Xili dibawah kepemimpinan Panglima Zhaoling. Taktik perang serta serangannya, mampu membuat musuh tak dapat berkutik sedikitpun. Kerajaan musuh serta wilayah kekuasaannya, akhirnya direbut oleh mereka.


Dengan kemenangan besar ini, nama Zhaoling semakin terkenal di seluruh penjuru Negara ini. Nama Panglima Perang yang mendapatkan julukan Iblis kematian dari Xili itu, semakin melebarkan sayapnya. Dia semakin bersemangat untuk melakukan peperangan dan merebut beberapa Ibu Kota dan Kerajaan.


Bagi Zhaoling, tak ada yang menarik lagi di Dunia ini, kecuali menumpahkan darah musuh di medan perang. Tak ada waktu untuknya sekedar bersantai menikmati teh di sore hari. Seperti yang biasa dilakukannya dulu, saat Xin'er masih berada di sisinya.


Hatinya sudah mati seiring kepergian Xin'er. Tak ada rasa simpati dan empati terhadap siapapun lagi. Zhaoling yang sekarang berubah menjadi monster yang haus akan darah dan peperangan. Dia juga hanya memikirkan cara untuk merebut wilayah kekuasaan saja, daripada percintaan.


Ibu Suri tetap berusaha mendekatkan Ming He pada Zhaoling agar menjadi pendampingnya. Bukan hanya karena merasa kasihan kepada cucunya yang belum memiliki pendamping lagi setelah Xin'er mati, tapi Beliau juga punya alasan lain untuk mendekatkan Ming He pada Zhaoling. Yaitu, supaya seluruh pengikut setianya tetap mendukung, dan alasan lain karena Ming He adalah putri dari Perdana Mentri yang baru, Tuan Ming Hong.


Tapi, sekeras apapun Ibu Suri mencoba, tetap saja Zhaoling akan bersikap dingin terhadap wanita lain selain Xin'er. Bahkan kepada ibunya saja, Zhaoling sekarang menjaga jarak. Terlebih, kasus terakhir yang membuat Xin'er harus pergi untuk selamanya.


"Tuan!" suara Liu Wei menyadarkan Zhaoling dari lamunan.


Pria itu lantas mengusap ujung matanya menggunakan jari sebelum menoleh. "Ada apa?" tanya Zhaoling setelah wajahnya menghadap Liu Wei.


"Mengshu ingin menghadap Anda," ucap Liu Wei sambil mengamati mimik muka Zhaoling. Ada kesedihan dan luka mendalam di sana, dan Liu Wei sangat tahu hal itu.


Zhaoling mengernyitkan keningnya. Kepalanya dimiringkan sedikit guna melihat Mengshu yang berdiri dibelakang Liu Wei. "Hal penting apa yang ingin kau sampaikan? Tidak mungkin kan kau datang kemari hanya untuk bertemu Liu Wei dan beralasan ingin menghadap ku!" selorohnya dengan sedikit bercanda.


Baik Mengshu ataupun Liu Wei. Wajah keduanya tampak memerah karena tersipu mendengar candaan Zhaoling. Bukan rahasia lagi kalau kedua anak manusia itu mempunyai hubungan khusus. Semenjak kasus Xin'er ditutup dan dinyatakan tidak bersalah, Kedua pelayan dan pengawal Xin'er dibebaskan dari segala tuntutan.


Mengshu, Yuelie, dan Tangsin sangat sedih setelah mendengar kematian tuan mereka. Ketiganya sangat terpukul dan menyesal karena tak dapat melindungi tuannya. Bahkan, Mengshu yang sangat dekat dengan Xin'er pernah mencoba mengakhiri hidupnya.


Tapi, Zhaoling berhasil meyakinkan mereka dan membuatnya jadi pelayan dan pengawal pribadinya. Karena sering bertemu dan bekerja sama, Mengshu dan Liu Wei akhirnya menjalin suatu hubungan khusus. Dan Zhaoling pun tak mempermasalahkan itu. Ia justru mendukung hubungan mereka dan meyakinkan keduanya agar segera menikah. Karena Zhaoling tahu, bahwa keduanya saling mencintai.


Wanita itu melangkah dengan sedikit ragu dan berdiri sejajar dengan Liu Wei. Kemudian, wajahnya menoleh sekilas kearah pria disampingnya yang mengangguk pasti. Sungguh, saat ini ia tengah menahan rasa gugup yang menyerang tiba-tiba.


Bagaimana tidak gugup, jika berhadapan dengan pria yang memiliki aura istimewa seperti Zhaoling ini? Ketampanan yang sempurna, namun sangat dingin dan juga kejam. wanita itu salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


Jika Zhaoling yang seperti dulu dan tidak sekejam ini, mungkin Mengshu akan langsung berbicara tanpa harus berunding dulu dengan kekasihnya. Tapi, pria dingin dihadapannya sudah bertransformasi dari lemari es tiga pintu menjadi pria kutub utara. Dinginnya Abadi.


"Pa-Pangeran," Mengshu masih menahan rasa gugupnya. terlihat jelas, tangannya mencengkram kuat dress yang dikenakan. "Pa-Pa-Pangeran ... Pangeran!"


Zhaoling memutar bola matanya jengah mendengar Mengshu hanya menyebutkan kata 'Pangeran' saja. Dia langsung berdiri membuat Liu Wei dan Mengshu terkejut sampai mundur. "Ashu!" seru Zhaoling dengan nada tinggi. "Bisakah kau mengatakan kata lain selain itu? Jika kau tidak akan menyampaikan sesuatu yang penting, lebih baik aku pergi saja!" hardik Zhaoling kesal seraya berbalik dan melangkah pergi.


Liu Wei mendongak, kemudian menyentuh lengan Zhaoling untuk menghentikannya. "Tuan. Maafkan dia karena tidak dapat berbicara dengan benar. Mungkin, Ashu sedikit gugup!" ucapnya seraya melirik Mengshu yang mengangguk cepat.


Zhaoling pun menoleh kearah Mengshu yang masih mengangguk. "Katakan!" ucapnya sambil duduk kembali di kursinya.


"Ashu, cepat katakan! Pangeran tidak akan marah," bisik Liu Wei pada kekasihnya.


Mengshu kembali mengangguk. "Pangeran ...," Zhaoling menatap sinis membuat Mengshu langsung berbicara dengan cepat. "Aku melihat Nona Keempat,"


"Apa?" Zhaoling yang terkejut langsung berdiri sambil menatap tajam. "Maksudmu?" sorot mata penuh harap meminta penjelasan Mengshu atas perkataan yang barusan terucap. "Katakan sekali lagi!"


"Aku melihat Nona Keempat di Kota Dorokdok, Kerajaan Chitul. Dia ... dia bersama rombongan pedagang obat Herbal," tutur Mengshu dengan yakin.


Mengshu mengangguk pasti. "Iya, Pangeran. Aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, bahwa itu adalah Nona Keempat. Namun, saat aku mengejarnya, dia keburu pergi bersama rombongan pedagang itu!" jelasnya lagi.


Zhaoling menjatuhkan bobot tubuhnya ke kursi dengan keras. Mendadak seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Matanya berkaca menahan rasa sesak di dada yang selama ini menyiksa. Tangan dan kakinya gemetar seolah tak mampu digerakkan sama sekali. Dia menangis.


Ya. Pria dingin yang kejam itu mengeluarkan air mata yang membasahi pipinya. Dia terisak seperti anak kecil yang tak diberikan mainan. Zhaoling tergugu sambil mengepalkan tangannya dengan kuat, sampai guratan urat terlihat jelas di sana.


"Pangeran!" seru Mengshu dan Liu Wei bersamaan. Keduanya kebingungan dengan reaksi yang ditunjukan Zhaoling ketika mendengar kabar tersebut. "Maafkan aku, Pangeran. Aku hanya ...," Mengshu tak bisa melanjutkan perkataannya karena Zhaoling segera memangkasnya.


"Keluar. Biarkan aku sendiri!" titahnya pada keduanya.


"Tapi Pangeran ...!"

__ADS_1


"Keluar!" suara Zhaoling sangat lirih.


Liu Wei mendekat sambil menepuk bahu Zhaoling pelan. "Aling. Aku tahu, kamu begitu tersiksa saat mendengar kabar kematian Putri waktu itu. Tapi, bagaimana jika Ashu benar-benar melihatnya dan itu adalah Putri?"


"Keluarlah, Liu. Aku mohon!" pintanya memelas.


Akhirnya, Liu Wei dan Mengshu pun keluar meninggalkan Zhaoling sendirian di dalam ruangannya. Sejujurnya, sebagai pengawal sekaligus sahabatnya, Liu Wei enggan untuk meninggalkan Zhaoling seorang diri dengan kesedihannya. Tapi, memang itulah yang dibutuhkan Zhaoling saat ini. Merenung sendirian dengan segala kenangan Xin'er.


Sepeninggalan Liu Wei dan Mengshu, Zhaoling menyandarkan kepala di sandaran kursi dengan mata terpejam. Ia biarkan air mata terus membasahi pipi tanpa berniat mengusapnya. Perasaannya kini bercampur aduk, antara senang dan juga takut.


Jika benar yang dilihat Mengshu itu adalah Xin'er, tentu hal itu membuatnya senang. Tapi, itu juga bisa membuatnya sedih secara bersamaan. Xin'er pasti marah saat mengetahui semua rahasianya dan ... tentunya ia takkan kembali karena sakit hati.


Zhaoling yakin, Xin'er pasti sudah mengetahui semua rahasia dan masalah yang terjadi selama ini di Istana. Lalu, apa yang akan dilakukannya saat bertemu?


Saat pria itu tengah berpikir sambil menyusun rencana yang akan dilakukannya jika bertemu Xin'er, seseorang datang mengetuk pintu ruangannya sambil berteriak. "Tuan Panglima. Telah terjadi kekacauan di perbatasan Legok. Nampaknya, perampok bertopeng itu berulah lagi!"


Zhaoling mengernyitkan keningnya mendengar laporan prajurit itu. Dia berusaha mengingat kelompok pengacau yang baru saja disebutkan prajuritnya. "Perampok bertopeng?"


...Bersambung ......



Mampir juga di ceritaku yang lain ya, gengs! Judulnya "Titisan Kaisar Langit".


Ceritanya gak kalah menarik sama yang lain lho!😜😜😅😅


Dijamin pasti seru dan bikin ketagihan baca😁😁


Jadi, jangan sampai terlewatkan ya!👍👍

__ADS_1


^^^Salam semangat, Lien Machan^^^


__ADS_2