
Hari-hari berikutnya Zhaozu habiskan untuk bermabuk-mabukan, serta bermain perempuan. Walaupun tak menyentuhnya, tapi Zhaozu memiliki banyak wanita disampingnya saat ini. Namun, tak ada satupun yang menjadi Putri atau Selir bagi Pangeran Ketiga Xili tersebut. Karena, sosok Xin'er tak bisa tergantikan, baik itu dihati dan kehidupan Zhaozu sampai kapanpun.
Kaisar dan Permaisuri sangat bersedih hati melihat perubahan drastis pada putranya tersebut. Keduanya tak bisa menghentikan tingkah putranya itu karena, Zhaozu sendiri yang menjauh dari ayah dan ibunya.
Perubahan sikap Zhaozu dimanfaatkan oleh para musuh yang menginginkan kedudukannya. Bahkan, mereka secara terang-terangan meminta Kaisar untuk menindak lanjuti perilaku buruk yang dilakukan Pangeran Ketiga. Mereka juga meminta agar Zhaozu dihukum karena, mempermalukan keluarga kerajaan.
Zhaozu tak perduli apapun yang dikatakan oleh semua orang tentang dirinya. Rasanya, dunianya sudah hancur setelah kepergian Xin'er kepangkuan sang Dewa. Jika hidupnya sekarang harus ikut hancur, dia tak masalah.
Setiap hari, rasa penyesalan selalu hinggap dihatinya, bahkan sampai terus menghantui. Bayangan kematian Xin'er yang mengerikan itu terus hadir dalam mimpinya, seolah menjadi pengiring menuju alam kematian. Membuat Zhaozu terus menyalahkan diri sendiri atas kematian istrinya.
Pria dingin itu kini tak dianggap oleh siapapun, tak terkecuali rakyat yang dulu membanggakannya. Semua orang seolah lupa akan pengorbanan yang dilakukannya untuk Kerajaan dan juga Rakyat Xili. Hanya dengan satu keburukan, semuanya mengintimidasi dengan kebencian dan melupakan berjuta kebaikan yang sudah dilakukan di masa lalu.
Bukan hanya menjadi seorang pemabuk, Zhaozu sekarang menjadi orang yang yang sangat kejam. Jika musuh tertangkap olehnya, jangan berharap untuk selamat. Karena, Zhaozu akan langsung memberikan hukuman kematian baik itu di medan perang ataupun dihadapan seluruh rakyat.
Tak ada lagi pujian untuk sang Pangeran Ketiga. Hanya ada kata cibiran serta kebencian dari semua orang karena kekejamannya. Tapi, itu justru membuatnya senang karena, dengan merasakan kebencian semua orang, dia pun mengalami apa yang dirasakan Xin'er saat terakhir hidupnya. Zhaozu membuat dirinya dibenci semua orang agar bisa mengurangi beban penyesalan yang ditanggungnya selama ini.
•
•
Langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan Panglima, saat sang pemilik sedang tergeletak tak berdaya dengan kepala bertumpu di meja. Bau alkohol tercium dari nafas yang memburu, serta mata yang merah akibat pengaruh minuman keras tersebut.
Wajah yang tampan itu kini berubah kusam dan sayu, serta ditumbuhi banyak bulu disekitarnya. Mata elang yang selalu terlihat tajam, kini bagaikan hilang pancarannya. Sikap tegas yang selalu terlihat, lenyap sudah seiring kebodohannya. Ya, pria itu berubah. Dari yang tegas namun baik hati serta ramah dalam bersikap, kini acuh juga kejam.
Orang yang memasuki ruangan Panglima itu berdiri menatap sinis kearahnya. "Apakah kau akan seperti ini terus, Zhaozu? Lihatlah! Dirimu seperti orang bodoh dan dungu. Kau pikir dengan sikapmu seperti ini, kau akan di hormati banyak orang? Tidak, Zhaozu!" ejeknya.
Zhaozu mendongak menatap sekilas mendengar cibiran tersebut, kemudian kembali menaruh kepalanya diatas meja. Dengan malasnya ia berkata, "tidak usah memperdulikan hidupku! Aku tak butuh simpati dari siapapun!"
__ADS_1
Orang tersebut menggelengkan kepalanya mendapat jawaban dari Zhaozu. "Ckk, kau sungguh menyedihkan! Aku sampai tak tega untuk memarahimu," ujarnya.
Zhaozu tak memperdulikan ucapannya dan tetap setia memejamkan mata membuat orang tersebut kesal. Diraihnya pundak Zhaozu sampai tegak, kemudian Beliau menamparnya.
Plakkk
"Bisakah kau kembali seperti dulu lagi?" bentak orang tersebut setelah mendaratkan tamparan di wajah tampan Zhaozu. "Dengan kehilangan istrimu, bukan berarti hidupmu ikut hancur bodoh!" hardiknya lagi.
Walaupun tamparan orang itu tak membuat luka di wajahnya, namun Zhaozu tetap terjaga karena terkejut. Dia ingin marah, tapi melihat tatapan orang tersebut sehingga mengurungkan niatnya. Tubuhnya beranjak dan melangkah dengan malas menuju bilik mandi untuk membasuh wajahnya. Namun, sebelum masuk ke bilik mandi, dia menoleh sekilas sambil berkata. "Terima kasih atas perhatian Ibu Suri. Tapi, aku tak butuh simpati dari siapapun!"
Ibu Suri terpaku di tempatnya. Beliau sangat sedih melihat Cucunya seperti sekarang setelah kehilangan Xin'er. Ibu Suri memang tak suka pada gadis itu, tapi tidak berharap Xin'er mati secara tragis. Dulu, Beliau juga sangat membenci Zhaozu karena, Pangeran Ketiga itu diketahui cacat. Sebagai Penguasa, Ibu Suri menginginkan penerus tahta yang sempurna dari segi apapun.
Awalnya, Beliau mendukung Zhaohan untuk menjadi Kaisar selanjutnya yang menggantikan Kaisar Zhihu. Beliau mendukung putra dari Selir Wang Xiumeng itu karena, melihat dari kesempurnaan fisiknya dan ilmu bela diri. Tapi, setelah tahu bahwa Zhaozu menyembunyikan kesempurnaannya, Beliau pun akhirnya memutuskan mendukung Zhaozu. Dilihat dari segi apapun, Zhaozu lebih menonjol dibandingkan Zhaohan.
Ibu Suri duduk di kursi bekas cucunya tadi. Beliau menyapu pandang ke berbagai sudut ruangan. Banyak sekali lukisan Xin'er yang menempel di dinding. "Kalau dilihat-lihat, gadis itu memang cantik. Tapi, aku tak suka padanya. Padahal, dia sangat baik hati karena menerima Zhaozu dengan segala kekurangannya. Sayang dia harus mati sebelum mengetahui kebenaran dari suaminya," Ibu Suri bergumam seraya menatap lukisan Xin'er yang sedang tersenyum gembira.
Mendengar nada tak bersahabat dari cucunya, Ibu Suri hanya bisa menghela nafas panjang. Sejenak, Beliau terdiam sebelum membuka suaranya lagi. Diamati dengan lekat wajah Zhaozu penuh penyesalan, lalu Beliau pun bertanya dengan lembut. "Apa kau membenci Nenekmu ini?"
Pangeran Zhaozu menggiring kedua mata elangnya untuk menatap Ibu Suri. "Apa alasanku membenci Anda?" bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan neneknya.
"Zhaozu. Aku tahu, aku melakukan banyak kesalahan di masa lalu. Tapi, aku tak melakukan hal kejam seperti yang dilakukan Ibumu pada anaknya. Aku hanya ...!" ucapan Ibu Suri tak tersampaikan karena di pangkas Zhaozu.
Pria itu langsung berdiri. "Cukup, Ibu Suri! Jika Anda datang kemari hanya untuk membuka luka lamaku dengan menabur garam diatasnya, maka Anda bisa pergi sekarang juga!" Zhaozu mengusir langsung Ibu Suri. Rahangnya mengeras dengan tangan mengepal menampakan guratan urat nadi.
"Zhaozu. Kedatanganku kemari bukan untuk membuatmu sedih, tapi ingin agar kau bangkit kembali. Ingat, Zhaozu! Tahta Kekaisaran adalah hak dirimu sepenuhnya. Singgasana Kaisar harus di duduki oleh Raja yang arif dan bijaksana, serta mampu dalam memimpin Rakyatnya. Jadi, ku minta kau tidak terus terpuruk dalam kesedihan! Jadilah Raja yang bisa dihormati dan disegani banyak orang," cetus Ibu Suri dengan lembut.
Zhaozu tergelak menanggapi ucapan Ibu Suri. "Apa aku tidak salah? Bukankah Anda menginginkan penerus tahta seperti Pangeran Zhaohan?"
__ADS_1
"Dia tidak mempunya apa yang kau miliki, Zhaozu!" sahut Ibu Suri. Matanya menatap lurus kearah mata Cucunya, kemudian Beliau melangkah menghampiri Zhaozu, lalu menyentuh dada cucunya tersebut. "Dia tak memiliki hati yang baik sepertimu," cetusnya membuat Zhaozu mendongak.
Ibu Suri kemudian melangkah mendekati jendela. Beliau terdiam seperti mengingat masa lalu. Matanya mulai berembun saat teringat sosok mendiang suaminya, Kaisar terdahulu. "Kakekmu adalah Kaisar yang arif serta bijaksana. Beliau dihormati dan juga dicintai rakyatnya," diceritakan kisah tentang kebaikan Kaisar Zhihuan kepada Zhaozu.
Sosok yang baik dan pemurah hati, serta adil dan bijaksana. Seluruh rakyat mencintai serta menghormatinya. Beliau mirip sekali dengan Zhaozu, hanya memiliki satu istri yaitu Ibu Suri. Kaisar tak pernah memilih wanita lain untuk dijadikan selirnya, dengan alasan tak ingin membagi cinta. Cintanya cukup untuk satu istri dan juga rakyatnya.
Namun, justru itulah yang membuat Beliau terbunuh. Karena Beliau menolak untuk menerima putri dari Mentri sebagai selirnya, Beliau pun di jebak dan di bunuh oleh Mentri itu dan pengikutnya. Akhirnya, Kakak Kaisar Zhihuan menggantikan posisinya sebagai Penguasa Xili. Tapi, orang itu tak bisa menjadi Raja yang baik. Dia bersikap sewenang-wenang terhadap Rakyat dan menjadikan para wanita sebagai budak nafsunya. Bukan hanya rakyat yang lemah, tapi Ibu Suri pun mendapat ketidak adilan atas tindakan kakak mending Kaisar Zhihuan.
Seluruh rakyat yang marah akhirnya melakukan pemberontakan. Mereka berani melawan prajurit Kerajaan sebagai bentuk protes kepada sang Pemimpin Negara yang bersikap semena-mena. Pertumpahan darah dimana-mana, rakyat semakin menderita akibat ulah Kaisar tersebut. Namun, mereka tak berhenti disitu. Dengan membentuk suatu aliansi yang dipimpin para pendekar sakti, mereka menggempur prajurit kerajaan dan membunuh Kaisar tersebut. Akhirnya, Kaisar dan para pengikutnya mati ditangan rakyat Xili dan putra Ibu Suri yaitu Pangeran Zhihu naik tahta.
Zhu Zhihu memiliki watak seperti ayahnya. Namun, demi menghindari kejadian buruk di masa lalu, Ibu Suri pun menerima beberapa Putri Bangsawan untuk dijadikan Selir Kaisar. Dan seperti sekarang, cara itu berhasil. Ibu Suri ingin agar penerus tahta tetap aman tanpa ada yang berniat mencelakainya. Tapi, Beliau tidak menyadari bahwa sebuah tahta akan tetap menjadi perebutan di masa depan.
"Jadi, karena itulah alasan Anda membenci Xin'er?" tanya Zhaozu setelah Ibu Suri selesai bercerita.
"Ya. Aku tak mau dirimu celaka," sahutnya cepat. "Aku tak suka pada Xin'er karena, gadis itu selalu bersikap sombong dan tak mau membagi dirimu dengan wanita lain." tutur Ibu Suri kemudian.
"Walaupun Xin'er mengizinkan aku memiliki beberapa selir, tapi aku memang tak berniat memilih wanita lain selain dirinya." ungkap Zhaozu serius.
"Berarti kau akan menentang keputusan para tetua?"
"Ya. Aku akan melawan siapapun yang berani menyentuh istri dan keluargaku, walau tetua sekalipun!" sahut Zhaozu.
Mendengar jawaban cucunya, Ibu Suri hanya bisa tersenyum. "Kau memang mewarisi darah Kakekmu,"
...Bersambung ......
...Update selanjutnya diperkirakan tiga hari lagi. Othor semedi dulu untuk membuat bab selanjutnya.😁😁...
__ADS_1