
Sebuah kabar mengejutkan dibawa pulang oleh Liu Wei dan Yu Xuan. Kedua pengawal bayangan Zhaoling itu menemukan sesuatu yang membuat mereka panik saat sedang berjaga. Sebuah kapal besar menepi di Dermaga Desa Khuthang, disusul oleh beberapa kapal lainnya.
Dari dalam kapal tersebut, keluarlah puluhan prajurit bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Zhaohan dan Jendral Jiu. Mereka penasaran dengan kaburnya para perampok, sehingga mengejar kemari untuk menangkap semuanya.
Liu Wei dan Yu Xuan yang melihat kedatangan mereka pun bergegas memberitahu Zhaoling akan apa yang ditemukannya di Dermaga. Panglima Zhaoling langsung menyampaikan kabar ini kepada seluruh rombongan Jihu untuk segera meninggalkan tempat ini. Jika mereka terlambat, maka dapat dipastikan bahwa pasukan Xili akan datang dan menangkap mereka saat itu juga.
Beruntung kalau kedua pengawal bayangan Zhaoling yang terlebih dulu mengetahuinya, sehingga bisa menyelamatkan mereka semua. Dengan langkah tergesa, semua orang meninggalkan rumah sewaan itu agar tidak ketahuan pasukan Xili yang sudah ada di Dermaga.
Walaupun Zhaoling sangat pintar, namun Zhaohan pun tak kalah liciknya dari siapapun. Dia akan menggunakan segala cara agar bisa menangkap mereka semua dan menjadikan alasan untuknya bisa naik tahta Kekaisaran.
Tapi, yang mengganggu pikiran Zhaoling saat ini ialah Yoona. Dia takut bahwa Zhaohan telah menyadari jika Yoona adalah Xin'er. Jika seperti itu, maka pria itu pasti akan terus mengejarnya bagaimana pun caranya. Itu pasti.
Sebelum Zhaohan menemukan mereka, lebih baik Zhaoling menyelamatkan semuanya dan membawa mereka ke tempat aman lebih dulu. Dia tak mau jika sampai rombongan Jihu tertangkap, bisa-bisa Xin'er ditahan oleh pria brengsek itu.
Karena rombongan Jihu kini telah percaya pada perkataan Zhaoling, maka dari itu sangat mudah baginya untuk mengajak semua orang pergi. Bukannya dia takut kepada Zhaohan dan pasukannya. Tapi, Zhaoling tak ingin ada pertumpahan darah dan mengorbankan prajurit yang tak berdosa akibat melawannya.
Zhaohan memang tak kan berpikir seperti yang ia pikirkan. Namun, pria itu akan bertindak di luar batas wajar dan mengorbankan semua orang demi tercapainya tujuannya.
Saat ini, mereka berjalan di kegelapan malam, dengan hanya dibantu cahaya rembulan. Karena sepertinya, malam ini akan turun badai salju.
"Berhenti!" semua orang menoleh kearah Zhaoling dengan kening mengerut. Bukankah dia sendiri yang menyuruh mereka untuk segera pergi? Lalu, kenapa sekarang meminta semuanya berhenti?
"Ada apa?" tanya salah satu pria anggota Jihu.
Zhaoling tak langsung menjawab. Dia terdiam seraya menengadahkan wajahnya menatap luasnya langit malam dengan mata yang bergerak kesana-kemari. Hidungnya kembang kempis mencium aroma sesuatu untuk memastikan firasatnya. "Sepertinya akan turun hujan salju," cetusnya setelah cukup lama terdiam.
__ADS_1
Semua orang tersenyum mengejek. Mereka terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. "Heh, aku tahu kau adalah Panglima Perang yang hebat dan pandai berkelahi. Tapi, aku tidak menyangka bahwa kau juga pandai meramal cuaca!" ejek mereka.
"Benar. Selain berwajah tampan, kau juga mempunyai kepribadian unik dengan membuat lelucon." timpal yang lainnya.
"Hahaha," mereka tertawa mengejek Zhaoling dengan perkataannya.
Liu Wei dan Yu Xuan maju untuk berkata, "perkataan Tuanku selalu benar. Jika dia mengatakan akan turun hujan salju, maka itu akan terjadi." ucap keduanya bersamaan.
Namun, mereka hanya mencemooh perkataan ketiga pria dingin itu sambil melanjutkan kembali perjalanannya. Melihat mereka pergi begitu saja, ketiganya pun hanya diam tanpa bergerak sedikitpun.
"Kalian akan menyesal!" kata Zhaoling dengan tegas.
Rombongan Jihu hanya menoleh sekilas kearah Zhaoling seraya melambaikan tangannya. "Kami tidak akan pernah menyesal, anak muda. Justru, jika kami berada disini terus, maka kami akan menyesal karena tersusul oleh pasukan kerajaanmu. Bisa-bisa, kami akan mati konyol melawan pasukan Xili." ujarnya seraya berlalu pergi.
Sepertinya mereka tak mau mendengar ucapan Zhaoling dan menganggap itu sebuah alasan agar pasukan segera datang menangkap mereka semua. Mereka pun menganggap Zhaoling berkhianat karena menghentikan perjalan, dengan mengatakan bahwa akan turun hujan. Tapi sebenarnya, dia menjebak mereka supaya mengulur waktu agar segera ditangkap pasukan Xili. Bagaimana pun, dia adalah Panglima besarnya, bukan!
Jihu melirik Yoona yang diam di tempatnya. "Ada apa? Jangan bilang kalau kau percaya pada perkataan pria dingin itu!" ujar Jihu seraya menarik tangan adiknya. "Ayo, Yoona! Kita harus segera pergi dari tempat ini menuju perbatasan. Ayah pasti sudah menunggu kita di sana," lanjutnya kemudian.
Semua orang menatap kearah Yoona dengan pemikiran masing-masing, begitupun ketiga pria dingin itu. Mereka menunggu jawaban apa yang diberikan Yoona.
Setelah cukup lama terdiam, Yoona pun berkata dengan suara lirih. "Perkataan Panglima benar, Kak. Kita harus mencari tempat untuk berlindung saat ini. Aku tidak mau kita ...," dia tak bisa melanjutkan ucapannya karena Zhaoling menatapnya.
Yoona sudah membuktikan bahwa perkataan Zhaoling benar adanya, saat dulu mereka kembali ke Istana. Saat diperjalanan kembali, Zhaoling mengatakan akan turun hujan dan hujan itupun benar-benar turun. Entah itu suatu kebetulan atau memang Zhaoling dapat memprediksi cuaca, tapi Yoona tetap percaya bahwa hujan salju akan turun sebentar lagi sesuai perkataan Zhaoling.
Zhaoling tersenyum mendengar jika istrinya itu membenarkan ucapannya. Dia yakin bahwa perasaan Yoona masih ada untuk dirinya. 'Aku tahu, sebetulnya kau masih percaya terhadapku. Namun, ego mu terlalu tinggi, sehingga kau berusaha menjauhi.' batinnya dengan senang.
__ADS_1
"Nona Kelima, ayolah! Kenapa kau malah mempercayainya? Dia itu cuma berucap asal, supaya kita mengulur waktu agar pasukannya segera kemari menangkap kita. Aku yakin, dia punya maksud lain saat ini." cetus anggota kelompok Jihu yang dibenarkan oleh semuanya.
Yoona menggelengkan kepala menepis perkataan mereka. "Tapi, perkataan Aling selalu benar! Aku sudah membuktikannya," dia menggigit ujung lidah kala tersadar akan panggilannya terhadap Zhaoling. "Mm-maksudku, kita buktikan bahwa perkataan Panglima itu benar atau bohong. Jika dia berbohong, maka kita bisa langsung pergi dari sini!" ucapnya kemudian setelah meralatnya.
Hati Zhaoling berbunga-bunga mendengar ucapan pembelaan dari Yoona. Walaupun bilang benci, tapi istrinya itu menampik perkataan yang menuding Zhaoling secara tidak langsung. Dia memejamkan mata sambil tersenyum, dengan tangan menyentuh dada kirinya. "Ah, jantungku kembali berdetak!" lirihnya tanpa ada yang mendengarkan.
Semua orang terdiam untuk menimang perkataan Zhaoling untuk mencari tempat aman atau melanjutkan perjalanannya. Namun, tepat saat akan memutuskan, suara teriakan terdengar dari arah pedesaan yang mereka tinggalkan beberapa waktu yang lalu.
"Itu mereka! Kejaaaaaaaaaarrrrr,"
"Haaaaaaaaaaa," teriakan penuh semangat dari pasukan yang Zhaohan bawa terdengar nyaring.
Mereka semua menoleh ke belakang, kemudian menatap tajam kearah Zhaoling. "Ternyata kita memelihara ular berbisa. Seharusnya dari tadi kita tidak menanggapi ucapannya," cetus salah satunya.
Buukkk
Jihu melayangkan pukulan kearah perut Zhaoling. "Brengsek kau, Panglima. Untuk sejenak hati ini luluh akan sikapmu yang baik. Rupanya kau seorang penipu! Pantas saja, adikku yang lugu ini gampang tertipu oleh sikap manis mu." ucapnya seraya menarik tangan Yoona untuk segera pergi.
Mereka segera berlarian menembus kearah hutan guna menghindari para pasukan yang mengejarnya.
Zhaoling berusaha menghentikan mereka untuk tidak masuk ke hutan tersebut. Bagaimana pun, di hutan itu adalah tempat bersembunyi nya perampok Setan Darah. "Jangan lari kesana, ku mohon!"
Namun ucapannya tak dihiraukan mereka. "Xin'er. Tolong hentikan mereka dan percayalah perkataan ku! Hutan itu sungguh berbahaya," lagi-lagi Jihu tak membiarkan adiknya untuk tertipu oleh ucapan Zhaoling.
...Bersambung ......
__ADS_1