
Yoona berjalan di depan, dengan diikuti ketiga pria dingin namun tampan di belakangnya. Dia mencebik kesal karena sedari tadi ketiganya terkekeh mengejeknya, karena tingkahnya yang lucu menurut mereka.
"Kalian bisa diem gak sih! Cekikikan mulu seperti anak kecil," sentak nya seraya membalikan badan. Tangannya mengepal membentuk tinju yang siap dilayangkan kearah ketiganya.
Seketika mereka terdiam dengan bibir terlipat kedalam, dan juga kepala menggeleng. Namun, begitu Yoona berbalik badan lagi, mereka tertawa lepas karena tak kuat menahannya. "Hahaha,"
"Hei!" Yoona kembali berbalik badan seraya memukul mereka satu persatu sampai mengaduh.
"Aduh," walaupun pukulan wanita itu sebenarnya tak menyakitkan sama sekali.
Melihat mereka yang dengan sengaja mengejeknya, Yoona pun geram dan terus memukul bahkan menendang mereka.
"Tuan Putri. Sudah ... sudah! Ampun. Kita mengaku salah, oke!" akhirnya kedua pengawal bayangan Zhaoling melambaikan tangan meminta perdamaian.
Tapi, Yoona tak begitu saja memaafkan keduanya. Tangannya masih sibuk memukul kedua pria itu yang terus merentangkan tangan sebagai pertahanan. "Rasakan ini," gemas Yoona dengan gigi gemertak.
Zhaoling lekas memeluk Yoona dari belakang untuk menghentikannya, "sudah cukup! Kasihan mereka jika kau terus memukulnya seperti itu!" ujarnya dengan lembut.
Melihat tangan kekar melingkar diperutnya, Yoona merasa senang sekaligus risih. Malu juga terhadap kedua pengawal bayangan Zhaoling, "lepaskan tanganmu!" cetusnya memberontak dengan wajah yang merona.
Namun, Zhaoling tak menurutinya. Dia semakin mempererat seraya memberikan kecupan di kepala istrinya dengan sayang. "Janji gak mukul mereka lagi?" Yoona mngangguk sambil menjawab "iya" dengan malas.
"Tapi lepaskan aku," pintanya memohon.
Zhaoling menggelengkan kepala. "Biar aku gendong kamu saja, ya. Aku gak tega lihatin kamu jalannya ngangkang gitu," cetusnya membuat mata Yoona membelalak.
"Hei, kau! Ini semua gara-gara ulah mu," cercanya dengan geram seraya memberontak dari pelukan suaminya.
__ADS_1
Pria itu memperlihatkan wajah sedih penuh penyesalan. "Maaf! Habisnya enak sih," sahutnya tanpa rasa berdosa setelah merubah ekspresi wajahnya.
Wajah Yoona menoleh ke samping, melihat ekspresi datar yang tadi sempat menyesal itu dengan kesal. "Apa?"
Seketika, tawa kedua pengawal bayangannya pecah begitu saja. Mereka terbahak sampai air matanya keluar. "Hahaha, Ya Dewa. Jadi seperti ini jika seseorang sudah ber-kultivasi ganda? Aduh, jiwa jomblo ku meronta." keduanya tertawa tak henti-hentinya.
"Diam!" sentak Yoona dan Zhaoling bersamaan. "Apa kalian tak ingin melihat Matahari bersinar lagi?" seketika mereka terdiam dengan telapak tangan membekap mulut. "Jalan!" titah Zhaoling singkat dan mereka mengangguk cepat.
"Huh, menyebalkan!" ketus Yoona saat Zhaoling menyuruhnya naik ke punggung lebarnya. Mulutnya terus berkomat-kamit merutuki tingkah ketiga pria dingin itu.
"Sudah, tidak usah merapal mantra terus. Apa itu akan membuatmu menjadi sakti, jika terus berkomat-kamit?" ejek Zhaoling secara halus.
"Hah?" Yoona tercengang dengan ucapan suaminya. Wanita itu tak habis pikir dengan pria dingin yang sedang menggendongnya itu.
Mereka melanjutkan perjalanan menuruni bukit menuju ke perbatasan, dengan melewati pesawahan. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya keempatnya tiba di Pusat Kota Dorokdok, Kerajaan Chithul. Di tempat inilah, dulu Yoona sering mengikuti ayah angkatnya untuk mengantar bahan obat herbal.
Yoona pun tersenyum lebar ketika melihat rumah paling besar diantara rumah-rumah penduduk disekitaran Kota tersebut. Tangannya menunjuk kearah rumah itu sambil berkata, "kita kesana! Ayah pasti sekarang menungguku di rumah Tuan Mo Len,"
"Kau sering datang kemari! Ah, yang benar!" serunya dengan terkejut, namun Zhaoling tahu bahwa istrinya itu sedang berpura-pura. Sejujurnya, Yoona sering melihat ketiga pria itu berkeliaran disekitaran Kota Dorokdok. Tapi, ia selalu menyembunyikan diri dibalik cadar hitam untuk menghindari orang-orang yang mengenalinya.
Bukan hanya ketiga pria itu, tapi Yoona juga pernah melihat Ibu Suri dan Ming He datang dengan kereta kuda bersama para pengawalnya. Entah apa yang mereka lakukan di tempat ini, namun Yoona yakin jika mereka pasti mempunyai niat tak baik jika sampai menemukan dirinya.
"Ckk, kau tidak pandai berbohong, Xin'er. Jadi, jangan memperlihatkan ekspresi itu di hadapanku!" decak Zhaoling kesal. Dia tak tahu jika Yoona selama ini selalu bersembunyi karena orang suruhan Permaisuri pun selalu mengawasi dan bahkan mengejarnya.
"Terserah kau saja, mau percaya atau tidak! Sekarang, turunkan aku di sini. Aku mau berjalan sendiri tanpa kau gendong," ketus Yoona kesal.
Namun, Zhaoling mengabaikan perkataannya itu. Dia tetap membawa Yoona di punggungnya tanpa berniat menurunkannya sedikitpun, membuat Yoona semakin kesal. Dia berteriak, tapi tetap tak dihiraukan. Sampai pada akhirnya hanya bisa pasrah, menyerah dengan sifat keras kepala Zhaoling.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang menatap kearah merek, namun pria itu tak memperdulikannya. Sedangkan Yoona hanya bisa menyembunyikan wajahnya di punggung lebar suaminya. "Huh, memalukan!" keluhnya dengan membuang nafas kasar.
Tiba lah keempatnya di pintu gerbang rumah Tuan Mo Len. Mereka meminta izin untuk masuk, dan segera dibukakan pintu oleh para penjaga karena melihat Yoona bersama mereka. Para penjaga telah mengenal baik Yoona, sebab Tuan Khong Guan selalu membawa Yoona ke rumah ini. Keempatnya pun diantar ke ruang utama, untuk segera menemui si pemilik rumah.
Setibanya di ruang utama, mereka disambut beberapa pasang mata dengan wajah yang tak asing. "Ibu Suri!" senyum Zhaoling menghilang bagai ditelan Bumi ketika melihat neneknya berada di sana dengan beberapa pengawal, termasuk Ming He.
Mereka terkejut dengan kedatangan keempat orang tersebut, apalagi Yoona. Wanita yang diyakini mati beberapa tahun lalu itu benar-benar masih hidup dan kini berada di gendongan Zhaoling.
Walaupun Ibu Suri sudah tahu jika Yoona masih hidup dari pengikutnya, tapi Beliau terkejut ketika melihat sendiri wanita yang selama ini dibencinya tersebut dengan kedua matanya dalam keadaan baik-baik saja. "Xin'er!"
Mereka mundur kembali untuk segera pergi meninggalkan rumah Tuan Mo Len, tapi terlambat. Beberapa prajurit tiba-tiba muncul dan menghadang langkah mereka untuk keluar dari tempat ini. Itu membuat Zhaoling melemparkan tatapan tajam kearah Ibu Suri.
"Apa yang kau inginkan?" bertanya langsung tanpa menggunakan perkataan hormat seperti biasanya.
Ibu Suri mengangkat tangannya guna menyuruh prajuritnya mundur. Wanita tua itu kini melangkah mendekati cucunya yang tetap setia menggendong Yoona tanpa berniat menurunkannya. "Kemana saja kau selama ini, Xin'er? Sudah lama kita tidak bertemu," cetusnya dengan tersenyum ramah.
Yoona yang melihat Ibu Suri mendekati mereka pun segera meronta minta untuk diturunkan. Dia tak tahu jika wanita tua dihadapannya itu sangat berbahaya, setidaknya untuk masa yang akan datang.
Setelah Zhaoling menurunkan tubuhnya, Yoona menunduk hormat kearahnya. "Kemana pun saya pergi, itu bukan urusan Anda lagi Yang Mulia Ibu Suri!" tekan Yoona.
Ibu Suri melirik cucu dan kedua pengawal bayangannya yang berwajah datar. Beliau meyakini hati Zhaoling saat ini sedang kesal. Namun, wanita tua itu justru sengaja melakukan sesuatu untuk memancing kesedihan Yoona. "Beruntung sekali dirimu bisa selamat dari maut, sementara ayah dan kakakmu mati dengan mengenaskan!"
Berharap Yoona akan murung setelah dirinya mengungkit kematian ayah dan kakaknya, tapi nyatanya wanita itu malah tersenyum. "Itu sebuah keajaiban Dewa, Yang Mulia!" sahut Yoona santai.
Hati Ibu Suri menjadi geram, karena tangan Zhaoling sengaja di genggam erat oleh Yoona dihadapannya. "Dan juga doa dari orang yang mencintai serta menyayangiku selama ini, membuat aku selamat berkali-kali dari maut yang akan merenggut nyawaku."
Zhaoling semakin tersenyum bahagia ketika Yoona menyandarkan kepala di dada bidangnya sambil menatapnya penuh arti. "Aku tak bisa mati selama Pangeran Zhaozu ada bersamaku!"
__ADS_1
"Jadi, kau sudah tahu bahwa Zhaoling sebenarnya adalah Zhaozu?" tanya Ibu Suri dengan terkejut dan Yoona mengangguk sambil tersenyum.
...Bersambung ......