Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Serangan Para Selir


__ADS_3

Sekelompok wanita dengan pakaian ciri khas seorang putri, terlihat menghampiri Xin'er dan kedua pelayannya di taman belakang istana Zhoseng. Mereka datang tanpa diundang, serta pemberitahuan sebelumnya.


Raut wajah yang tak bersahabat, menghiasi wajah cantik mereka semua. Tatapan sinis pun terlihat dari wajah para pelayan yang ada dibelakang mereka.


Xin'er, Mengshu, dan Yuelie menatap kedatangan mereka dengan terheran. Ada apa mereka beramai-ramai datang kemari? Apa ada pembagian sembako? Pikir ketiganya dengan kening mengkerut.


Sebagai tuan rumah, tentu Xin'er harus menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka dan juga suka cita. Walaupun, dalam hati ia menggerutu kesal karena kedatangan tamu tak diundang tersebut.


Dengan senyum ceria, Xin'er segera menghampiri. "Waaah, Istana Zhoseng kedatangan tamu istimewa." ucapnya dengan sopan dan ramah. Namun, mereka tak memberikan ekspresi apapun selain kebencian. Melihat tatapan mereka, Xin'er tak mau berlama-lama lagi. Dia yakin, jika mereka semua datang kemari pasti akan berbuat ulah. Maka dari itu, Xin'er harus bergegas mengusir mereka semua. "Angin apa yang membuat para Selir Istana Harem berbondong-bondong datang kemari? Apa terjadi sesuatu, sehingga kalian kemari dengan membawa raut wajah masam?" ejeknya secara halus.


Seorang wanita maju dan mendorong bahu Xin'er dengan keras. "Tak usah banyak basa-basi! Kami datang kesini untuk memperingatkan, bahwa kamu tidak boleh merebut apa yang telah menjadi milik kami!" ketusnya.


"Benar! Kau kan sudah memiliki Istana Zhoseng, sendirian pula. Mengapa kamu masih ingin menguasai Istana yang lain? Begitu serakahnya dirimu, sampai ingin merebut yang sudah menjadi milik kami?" timpal yang lain.


Kening Xin'er mengkerut mendengar tudingan mereka. Apa maksud dari perkataan mereka bahwa Xin'er ingin merebut apa yang menjadi milik mereka itu? Dia sedikit maju untuk menanyakan perihal masalah tersebut, tapi salah satu selir segera menarik rambut Xin'er hingga wajahnya mendongak keatas. "Aakh!" pekiknya karena terkejut dengan tingkah salah satu selir yang bernama Selir Nan.


Tangan Xin'er menahan tangan Selir Nan yang terus menarik rambutnya dengan gemas. "Lepaskan tanganmu dari rambutku, bodoh!" teriak Xin'er.


Selir Nan yang dipanggil bodoh oleh Xin'er tentu menjadi sangat marah. Dia ingin sekali menarik rambut Xin'er hingga botak. "Siapa yang kau sebut bodoh, wanita jal@ng?" hardiknya seraya terus menarik rambut Xin'er, hingga perhiasan di kepala Xin'er terlepas.


Mengshu dan Yuelie segera mendekat untuk menghentikan aksi gila Selir Nan, namun dihentikan oleh para pelayan semua selir tersebut. "Lepaskan rambut Tuan Putri, Selir Nan! Anda menyakitinya!" seru keduanya berusaha berontak, namun tetap tak bisa.


"Justru itu yang sedang aku lakukan, menyakitinya. Hahaha!" Selir Nan tertawa puas sambil terus menjambak rambut Xin'er semakin kencang.

__ADS_1


Mereka semua yang melihat ikut tertawa dengan keras. Namun, tanpa mereka duga Xin'er segera memelintir tangan Selir Nan dengan cara memutar tubuhnya hingga siempunya meringis kesakitan. Tarikan tangan di rambut Xin'er pun terlepas seiring rasa sakit yang menjalar.


"Aaakkhh, sakit! Tanganku sakit," pekik Selir Nan hingga terduduk dilantai sambil memegangi tangannya.


Semua orang segera mengerubungi Selir Nan yang terlihat menangis kesakitan. "Hei, Xin'er! Kau telah menyakiti Selir Nan. Kami akan melaporkanmu!" ancam salah satu dari mereka.


Wajah Xin'er kini berubah garang. Mendengar wanita itu menyebutkan langsung namanya membuat darahnya mendidih. Bagaimana pun, dia adalah istri dari seorang pangeran. Walaupun mereka yang pertama berbuat ulah dan mengusik ketenangan Xin'er, tapi gadis itu tak percaya jika mereka malah menyalahkan dirinya karena membela diri.


Tangan Xin'er mencengkram kuat leher wanita itu yang berkedudukan seorang selir. "Kau panggil aku apa?" wajah wanita itu berubah ketakutan saat mendengar nada bicara Xin'er yang dingin. "Aku ini adalah istri sah dari Pangeran Ketiga dan istri satu-satunya Yang Mulia. Jadi, kau harus memanggilku Putri Ketiga, sesuai peraturan yang ada. Jika kau berani melawan, akan ku patahkan lehermu ini!" terdengar nada ancaman dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Xin'er.


Wanita itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Xin'er yang mencekik lehernya dengan kuat. Dia berusaha mengatakan sesuatu, namun tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. "Kkkk,"


Beberapa dari mereka bergegas membantu dengan cara menarik tangan Xin'er supaya melepaskan cengkraman, dan yang lainnya berusaha menyakiti Xin'er dengan melakukan hal yang sama seperti Selir Nan sebelumnya, yaitu menjambak.


(Cewek biasa gelutnya jambakan ya, gengs)🤭🤭


"Lepaskan Selir Huo, Xin'er!" Xin'er langsung menoleh kearah wanita yang menyebutkan namanya langsung, membuat ia gelagapan. "Mm-maksudku, Putri Ketiga. Se-selir Huo bisa mati jika kau terus mencekiknya seperti itu!" ucapnya membujuk Xin'er supaya melepaskan cengkeramannya.


Bukannya melepaskan, Xin'er semakin kuat mencekik leher Huo. "Oh, ya. Apa dia akan mati dengan cara seperti ini? Ckk ... ckk, sayang sekali!" ejeknya dengan nada dibuat sedih. "Bagaimana jika aku memberikan dia hadiah ... apa ya?" Xin'er tampak berpikir keras seperti kehabisan akal. Kemudian, dia memungut tusuk konde yang sempat jatuh dari kepalanya akibat ulah Nan. Lalu, dia menyeringai sambil memperlihatkan benda tersebut dan mengarahkannya ke leher Huo. "Jika ini menancap dileher Selir Huo, apa dia akan langsung mati?" tanya Xin'er seperti orang bodoh.


Mereka semua membulatkan mata mendengar pertanyaan Xin'er yang menurutnya sebuah ancaman. "Tidak! Jangan lakukan itu, Putri Ketiga! Tolong, lepaskan dia!" pinta mereka.


Xin'er tampak acuh mendengar permintaan mereka semua. Dia tersenyum miring sebelum berkata lagi. "Baiklah. Jika kalian ingin aku melepaskannya, maka kalian harus berlutut di hadapanku dan meminta maaf dihadapan semua orang." kata Xin'er dengan tegas.

__ADS_1


"Tidak mungkin! Kau yang lebih dulu berbuat salah pada kami, tapi kami yang harus minta maaf! Cih, itu tak pantas!" cetus salah satu selir.


"Jadi, menurutmu meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat itu sungguh tak pantas?" sebagian dari mereka hanya menunduk tak berani menatap Xin'er. "Baiklah. Kita ambil jalur hukum," ucap Xin'er kemudian membuat mereka mendongak.


"Hukum apa yang kau katakan? Kau ingin melaporkan kami? Jika kau ingin melaporkan kami, maka kami bisa melaporkanmu balik atas tuduhan mencuri!" cetus mereka.


Xin'er kembali menoleh mendengar perkataan mereka. "Mencuri apa? Aku tidak pernah mencuri apapun dari kalian!" ucap Xin'er membela diri.


"Kau mencuri perhatian Pangeran Zhaohan dan Pangeran Zhaoyan dari kami. Dia ingin mengusir kami semua jika kau mau menikah dengannya sekarang juga." Xin'er melongo seketika mendengarnya. "Tolong, Putri Xin'er. Kau kan sudah memiliki satu pria, jangan ganggu pria kami. Kami selir dari Pangeran Zhaohan dan Pangeran Zhaoyan meminta belas kasihmu agar tidak merebut hak kami!" pinta mereka memelas.


"Ah, si pria mesum itu ternyata!"


Xin'er langsung melepaskan cengkraman dari leher Huo dan tersenyum miring. "Jadi, alasan kalian datang kemari karena masalah ini? Heh, aku tak percaya! Wanita anggun dan berpendidikan seperti kalian ternyata mudah percaya gosip," ejeknya seraya menggelengkan kepala. "Buka mata dan hati kalian, tanyakan pada diri kalian sendiri. Apa aku terlihat dekat dengan Pangeran Zhaohan atau Pangeran Zhaoyan? Tidak! Mereka yang selalu menggodaku dan aku terus menolak. Lagipula, aku tak tertarik dengan kedua pangeran itu, walaupun Pangeran Zhaozu memiliki banyak kekurangan!" tegas Xin'er.


"Aku justru mencintai pria dingin dan sombong seperti Panglima Zhaoling! Ckk. Dasar cinta, perusak dunia!" batin Xin'er.


Mereka pun terdiam dengan saling pandang. Cukup lama mereka diam tanpa berkata apapun lagi, sampai salah satu selir Pangeran Zhaoyan membuka suaranya. Selir itu menunduk hormat dan meminta maaf atas tindakan mereka yang tidak sopan.


"Maaf, Putri Ketiga! Aku dibutakan oleh cinta dan kekuasaan. Aku hanya iri kepadamu yang berkedudukan lebih tinggi dariku. Pangeran Zhaozu tidak memilih wanita lain lagi untuk dijadikan selir dan menjadikanmu wanita satu-satunya yang mendampinginya. Aku takut jika suatu saat akan terusir dari istana ini," desisnya penuh penyesalan.


Xin'er sangat memaklumi hal tersebut dan memaafkan Selir itu. Dia sangat tahu betul perasaan seorang wanita yang takut kehilangan kasih sayang suaminya. Mereka tak seberuntung dirinya, yang hanya memiliki Pangeran Ketiga sepenuhnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Xin'er sangat mengutuk dirinya sendiri karena telah mempunyai perasaan lebih kepada pria lain.


Gadis itu termenung sesaat mendengar kejujuran selir itu, yang membuat dirinya sadar akan kesalahan yang diperbuat tanpa sengaja pada suaminya, karena telah menyukai pria lain. Pria yang selalu membuat hatinya bergetar bila bersama. Pria yang selalu memberikan perhatian padanya, namun dengan cara yang unik dan terkesan kasar. Pria dingin dengan sifat dan sikap yang kasar, juga sombong. Dialah Zhaoling. Seorang Panglima Besar Kerajaan Xili.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pangeran!" batin Xin'er berteriak.


...Bersambung, gaess ......


__ADS_2