Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Terkepung Serigala Hutan


__ADS_3

Di sebuah gubuk tua, terlihat empat orang pria sedang terlibat percakapan serius. Setelah kedatangan satu pria yang memakai pakaian khusus, raut wajah mereka berubah menjadi suram.


Pria yang baru saja datang itu adalah seorang prajurit utusan. Dia bertugas memberikan informasi akurat pada majikannya, ketika Tuannya itu tak ada di Istana. Penyampai berita itu memberitahukan semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini di dalam Istana, selama Tuannya tak ada.


"Apa? Bagaimana Kaisar bisa memutuskan ini tanpa menunggu persetujuanku? Kenapa tak menunggu aku kembali?" Zhaozu terkejut mendapati Xin'er telah di hukum sesuai perbuatannya. Walaupun tak benar, namun gadis malang itu tak bisa membuktikan kebenaran atas dirinya.


"Tuan Putri terbukti bersalah, Pangeran. Kepolisian Kerajaan telah menemukan bukti-bukti kejahatannya, sehingga Pengadilan memutuskan hukuman yang pantas untuk mereka!" tutut prajurit yang di utus Zhaozu untuk memberikan informasi itu.


Zhaozu dan kedua pengawal bayangannya menjadi semakin terkejut. "Bukti-bukti kejahatan apa maksudmu?" tanya mereka dengan bingung.


Prajurit utusan itu langsung menjawab pertanyaan Pangeran dengan tenang. Ia menjelaskan semuanya secara detail. Baik itu masalah racun yang dipakai untuk percobaan pembunuhan Permaisuri, serta melakukan kudeta terhadap Ibu Suri dan Selir Wang Xiumeng. Prajurit utusan itu juga menyebutkan hukuman yang diterima Xin'er karena melakukan hal tersebut.


Zhaozu, Liu Wei, dan Yu Xuan saling pandang. "Bukankah semua bukti itu sudah kita hilangkan? Dan kita sudah mencari bukti yang lain, tapi sampai saat ini belum menemukan juga. Bagaimana orang lain bisa mendahului kita?" terlihat mereka saling bercakap lewat sorot mata.


"Ini jelas sebuah konspirasi. Kenapa mereka tak menyelidiki semuanya dengan teliti?" Hati Zhaozu saat ini menjadi semakin geram. Seharusnya, pihak Kepolisian melakukan investigasi untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Jelas ada kejanggalan dalam kasus yang menimpa Xin'er itu.


Jika Xin'er ingin membunuh Permaisuri, kenapa dia harus melakukannya di kediamannya sendiri? Aparat hukum ini benar-benar aneh. Xin'er juga dituduh melakukan kudeta. Bukankah seharusnya dia memiliki sebuah kelompok besar untuk melancarkan aksinya? Tapi, dalam kasus ini, hanya dirinya serta ayah dan kakaknya saja yang ditangkap dan dihukum. Tidak ada dari pengikut mereka yang terbukti melakukan kejahatan itu dan mendapatkan hukuman. Sungguh mengherankan!


"Pelayannya? Bagaimana dengan para pelayannya?" tanya Zhaozu kemudian. Dia baru mengingat jika masih ada Mengshu, Yuelie, dan Tangsin.


"Hamba dengar, mereka bertiga di penjara. Walaupun ketiganya terbukti tidak bersalah, tapi mereka tetap dijebloskan ke penjara sebagai pengikut Tuan Putri!" sahut prajurit utusan itu menjelaskan.


"Astaga!"


Pangeran Zhaozu terduduk lesu sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bahkan terlihat frustasi saat ini. Kedua pengawal bayangannya hanya tertunduk seraya mengusap lembut punggung Zhaozu.


"Pangeran. Menurut informasi yang ku dengar, jika Tuan Putri dikirim ke perbatasan wilayah timur. Jika kita bergerak cepat, maka kita masih bisa menyelamatkan Tuan Putri!" tutur prajurit itu lagi.


Kedua pengawal bayangan Zhaozu segera maju. "Aku dan Liu Wei akan menyusul kesana secepat mungkin," ucap Yu Xuan kemudian.


Zhaozu mengangguk setuju dengan ucapan Yu Xuan. "Kalau begitu, Liu Wei dan Yu Xuan segera pergi secepatnya sebelum mereka terlalu jauh. Dan kau, ikut aku kembali ke Istana!" titah Zhaozu menunjuk satu persatu pengawalnya.


"Baik!" ucap mereka serempak.

__ADS_1


Mereka pun bergegas pergi menuju tempat tujuan masing-masing. Zhaozu dan prajurit utusan pergi ke Barat, sedangkan Liu Wei dan Yu Xuan pergi ke Timur untuk menghadang kereta tahanan yang membawa Xin'er dan keluarganya.


"Bersabarlah, Xin'er! Aku akan membebaskan mu dari segala tuduhan," gumam Zhaozu.


...💫💫💫💫...


Di Hutan belantara. Para prajurit yang mengantar kepergian tahanan ke area perbatasan saat ini tengah waspada. Mereka terus memperhatikan keadaan sekitar dengan teliti tanpa henti.


Lolongan Anjing hutan terus terdengar seiring tenggelamnya Matahari. Keadaan sekitar pun mulai gelap karena hari sudah berganti menjadi malam. Tak ada penerangan di sekitar, karena hutan tertutupi banyak pohon bambu serta pepohonan besar yang berdaun rindang.


Para prajurit itu menyalakan banyak obor dan memegangnya kuat-kuat, serta menaruh sebagian obor di kereta kuda tahanan agar memberikan penerangan bagi prajurit yang berjalan di belakang.


"Kita harus bergerak cepat, sebelum hari semakin gelap!" ujar salah satu prajurit penjaga.


"Betul. Disini juga sangat berbahaya, karena kemungkinan para Binatang buas akan datang kemari saat melihat cahaya. Maka dari itu, kita harus secepat mungkin keluar dari hutan ini!" sahut prajurit lain.


Mereka pun bergegas mempercepat langkah, supaya bisa menghindari marabahaya yang mungkin akan datang menghampiri.


"Sedikit lagi kita sampai. Pertahankan terus langkah kita supaya cepat keluar dari sini!" ujar pemimpin prajurit tersebut memberikan instruksi.


Kelompok yang datang itu bukan Manusia, melainkan segerombolan Serigala Hutan yang sedang kelaparan.


Grrrrrrrr,


Para prajurit terkejut dengan kedatangan sekelompok Serigala Hutan yang tiba-tiba muncul menghadang jalan. Mereka menatap lapar para Manusia itu dengan seringai menakutkan.


Para prajurit berdiri dengan ketakutan melihat sekelompok Serigala tersebut. Mereka saling berdempetan dengan meningkatkan kewaspadaan, takut jika tiba-tiba Binatang itu menerjang kearahnya.


Api dari obor diarahkan ke depan guna menakuti binatang tersebut. Namun, usaha mereka sia-sia, karena ternyata para penghuni hutan sedang sangat kelaparan saat ini. Air liur menetes dengan lidah yang menjulur. Gigi taring yang tajam terlihat dibalik seringai mereka.


Xin'er bersama ayah dan kakaknya terlihat sangat cemas menghadapi keadaan saat ini. Jika para Binatang tersebut menyerang prajurit penjaga, maka bisa dipastikan semuanya akan terluka, bahkan mati.


"Lempar makanan untuk pengalihan!" kata Xiaolang kepada para prajurit itu.

__ADS_1


Mereka sekilas menoleh mendengar teriakan Xiaolang, kemudian mengangguk setuju untuk melempar makanan sebagai pengalihan. Namun, apa yang dilakukan para prajurit itu betul-betul diluar dugaan. Bukannya melempar bekal makanan yang dibawa mereka, tapi para prajurit itu membuka gembok tahanan.


Pintu kereta tahanan itu dibuka dan para tahanan dikeluarkan dari dalam sana. Lalu, mereka memegang kuat tubuh ketiga tahanan itu sebagai perlindungan. Mereka berniat menjadikan Tuan Xiaoyu dan kedua anaknya sebagai pengalihan, agar mereka bisa kabur dari marabahaya ini.


"Hei. Apa yang kalian lakukan?" pekik Xin'er saat ayahnya didorong ke depan sampai tersungkur di tanah.


Karena dalam kondisi lemah, Tuan Xiaoyu tak dapat berdiri dengan baik. Beliau langsung jatuh tersungkur di tanah tanpa bisa menopang bobot tubuhnya.


Saat Tuan Xiaoyu terjatuh, para Serigala Hutan itu langsung bergerak maju seperti mengerti, jika mereka sedang diberikan santapan.


Xin'er dan Xiaolang menghempaskan keras tubuh para prajurit yang memegangnya, dan segera membantu ayahnya untuk berdiri, serta menghalau Binatang itu untuk tidak maju.


"Kakak. Apa yang harus kita lakukan? Mereka sangat banyak dan kondisi Ayah saat ini sangat lemah. Kita tidak bisa kabur dari sini, " lirih Xin'er seraya menatap semua Serigala dihadapan mereka.


"Tetap waspada. Mereka bisa menyerang kapan saja," sahut kakaknya.


Ketiganya saat ini dikelilingi sekelompok Binatang buas tersebut, tentu dengan tatapan laparnya. Para prajurit yang melihat tahanan kerajaan dikepung Binatang tersebut, bergegas pergi meninggalkan mereka. Orang-orang itu tak perduli lagi pada hidup ketiga tahanan yang harus diantar ke perbatasan. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan hidup mereka, walaupun harus mengorbankan nyawa para tahanan kerajaan itu.


Melihat mereka yang pergi begitu saja, Xin'er menggertakan gigi dan berteriak dengan kencang. "Hei, kalian! Kenapa kalian meninggalkan kami?" percuma saja Xin'er berteriak memanggil mereka, karena teriakannya bahkan hanya dianggap hembusan angin lewat.


Grrrrrrrr,


Ketiganya dikejutkan lagi oleh erangan Binatang tersebut. Sontak mereka mengalihkan pandang menatap para penghuni hutan belantara yang ada dihadapannya tersebut.


"Anak manis. Jangan nakal ya!" Xin'er mencoba membujuk para penghuni hutan itu layaknya seperti memperlakukan seorang anak kecil.


Bukannya menurut, mereka semakin mengerang ketika melihat gerakan tangan Xin'er yang naik turun.


Gadis itu bergidik ngeri ketika melihat seringai menakutkan dari tatapan lapar mereka. Jika hanya satu atau dua, maka Xin'er bisa menjinakkannya. Namun, saat ini ada lima belas ekor Serigala yang mengepung mereka.


Bagaimana cara mereka untuk melarikan diri?


Saat sedang memikirkan cara untuk meloloskan diri dari para Serigala itu, tiba-tiba salah satu Serigala tersebut menerjang kearah Xin'er dan ...?

__ADS_1


"Aaaaaaakkkhhh,"


...Bersambung ......


__ADS_2