Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Amarah Pangeran Ketiga


__ADS_3

Hari ini, Istana sedang dirundung kesedihan. Para Tabib kerajaan dipanggil oleh Kaisar ke kediamannya untuk menyembuhkan Wanita Agung pemimpin Istana Harem. Ya, Beliau adalah Permaisuri Jian Xia.


Permaisuri terluka oleh sabetan pedang beracun yang dilakukan penyusup, pada saat berada di kediaman Pangeran Ketiga. Beliau menemani Xin'er malam itu, karena menantunya tersebut sedang bersedih. Tapi tak disangka, kejadian naas itu harus menimpa dirinya akibat tiga penyusup masuk ke Istana Zhoseng.


Tujuan para penyusup masuk kesana kemungkinan besar untuk membunuh Pangeran Ketiga atau istrinya. Sebab, tak ada tanda-tanda hilangnya barang berharga dari ruangan tersebut, yang berarti mereka bukan perampok. Lagipula, orang bodoh mana yang akan merampok Istana dalam dan juga datang disaat para prajurit gencar berpatroli.


Siapa yang berani berbuat seperti ini untuk menyerang keluarga kerajaan? Apa mereka mempunyai koneksi dalam, sehingga memudahkan mereka memasuki Istana tanpa diketahui para penjaga? Itu tak pernah dipikirkan semua orang, karena saat ini mereka tengah disibukan oleh kondisi Permaisuri.


Permaisuri Jian Xia tengah terbaring lemah tak berdaya. Matanya tertutup dengan wajah yang pucat pasi serta membiru, tubuhnya pun sedingin es. Para Tabib terus berusaha untuk menyelamatkan nyawa Beliau, namun sampai saat ini tak ada tanda-tanda yang menunjukan pergerakan darinya.


Sungguh. Pemandangan ini membuat hati semua orang sakit, terutama Xin'er yang melihat jelas kejadian naas itu dengan mata kepalanya sendiri. Kaisar memerintah penjagaan diperketat diseluruh Istana, terutama kediamannya. Semua orang tak bisa bebas keluar-masuk Istana, tanpa ada izin dari Kaisar. Jika ada yang membangkang dan tetap masuk, maka dia harus menanggung konsekuensinya dengan masuk penjara.


Zhaoling yang sedang bersemedi di Hutan Larangan Utara, langsung pulang menuju Istana setelah mendengar kabar penyerangan di Istana Zhoseng. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya setelah Liu Wei memberitahukan kabar tersebut. Namun, wajahnya berubah semakin cemas saat mendengar ibunya yang terluka karena sabetan pedang beracun.


Mendengar kabar tersebut, darahnya semakin mendidih. Rasanya, ia ingin sekali menemukan para penyusup tersebut dan melenyapkan dengan tangannya sendiri.


"Liu Wei, Yu Xuan. Cari tahu siapa mereka! Apa tujuan mereka datang ke kediamanku! Jika aku menemukan fakta sesuai yang aku pikirkan selama ini, maka mereka harus bertanggung jawab!" titah Zhaoling kepada kedua pengawal bayangannya.


"Siap," sahut keduanya kemudian menghilang.


Zhaoling segera memasuki Istana dengan penampilan sebagai Pangeran Ketiga. Walaupun sedang panik, dia tetap ingat untuk bertukar identitas terlebih dahulu.


Sesampainya di Istana, dia pun lekas menemui ibunya yang terbaring lemah di kamarnya. Melihat kondisi ibunya yang memburuk, Zhaoling semakin marah. Tangannya menjadi gatal ingin memukul orang yang berani melukai ibunya sampai separah ini.


"Usir dia! Jangan biarkan dia masuk kedalam kediaman Permaisuri lagi!" suara seseorang yang Zhaoling kenali.


"Tolong, Ibu Suri! Biarkan aku masuk. Aku ingin melihat keadaan Permaisuri. Aku mohon!" pintanya sembari mengiba. Zhaoling tahu, itu adalah suara istrinya.


Tungkainya diseret keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Xin'er harus memohon untuk bisa masuk ke kediaman Permaisuri? Apa yang membuat Ibu Suri mencegahnya masuk?


"Ada apa ini?" suara berat itu keluar dari mulut Zhaoling. Semua orang tahu bahwa dia saat ini sangat terpukul akibat terlukanya Permaisuri.

__ADS_1


Tampak diluar kamar ibunya sudah berjejer banyak orang, mulai dari Ibu Suri dan para pelayannya, para penjaga yang berdiri dengan tombak di pintu masuk, dan Xin'er bersama kedua pelayannya yang terduduk bersimpuh dilantai.


"Xin'er. Kenapa kau duduk dilantai? Ayo, lekas berdiri! Kau tak pantas bersimpuh seperti itu," Zhaoling segera membantu istrinya untuk berdiri. Dia pun membersihkan pakaian Xin'er yang terkena debu dengan cara menepuk-nepuknya pelan. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zhaoling kemudian.


"A-aku hanya ingin menemui Permaisuri untuk melihat keadaannya saja, Pangeran." sahut Xin'er. "Tapi ..." ucapannya hanya menggantung dengan lirikan mata tertuju pada wanita tua yang tampak acuh didepannya tersebut.


Zhaoling mengikuti lirikan mata istrinya, kemudian menghela nafas panjang. "Ayo, temui Ibunda! Kau pasti sangat mencemaskan keadaannya, bukan!" ajak Zhaoling seraya menarik tangan istrinya untuk masuk kedalam kamar ibunya.


Namun, lagi-lagi Ibu Suri berulah. Beliau mencegah Xin'er untuk masuk dengan memerintahkan para penjaga menutup pintu masuk untuknya. "Penjaga. Jangan biarkan dia masuk! Aku tak ingin Permaisuri terkena kutukan karena gadis pembawa sial seperti dia," ujarnya dengan tegas.


"Ibu Suri. Apa yang Anda katakan!" bentak Zhaoling pada neneknya tersebut. "Kenapa Anda begitu membencinya, sampai-sampai menyebutnya sebagai gadis pembawa sial? Bagaimanapun, Xin'er adalah istriku dan menantu Ibunda!" tegas Zhaoling lagi.


Semua orang yang berada di sana tercengang mendengar ucapan Pangeran Ketiga. Biasanya, Pangeran Ketiga tak pernah berani melawan perintah neneknya. Tapi kali ini, dia sampai membentak Ibu Suri. Itu semua karena demi membela wanita disampingnya tersebut.


"Lancang!" teriak seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Zhaoling.


Plak


Tamparan keras mendarat di pipi mulus yang tertutupi cadar hitam itu. Walaupun tertutupi cadar, semua orang yakin bahwa pipinya saat ini pasti memerah akibat tamparan keras orang tersebut.


Ya. Orang yang berani menampar Zhaoling itu adalah Kaisar, ayahnya sendiri. Beliau berdiri dengan wajah memerah penuh amarah. Tangannya terkepal dengan menampakan guratan hijau disekitar pergelangan tangan.


"Ayahanda. Xin'er bukan gadis pembawa sial! Kenapa Anda mengatakan itu? Itu sama saja menghinaku," cetus Zhaoling membela.


"Kalau bukan pembawa sial, lalu apa? Istriku tidur di tempatmu hanya semalam. Tapi, dalam waktu semalam saja, dia terluka oleh penyusup yang mengincar nyawa istrimu. Apakah itu tidak bisa dikatakan pembawa sial?" tekan Kaisar.


Zhaoling terdiam. Dia mencerna semua ucapan ayahnya saat ini. Ibunya menginap di kediamannya malam tadi, saat dia menghindari Xin'er kemarin. Apa Xin'er menceritakan masalah mereka berdua pada ibunya, sampai-sampai sang ibu harus menginap di kamarnya? Kenapa Xin'er harus bercerita masalah pribadi kepada ibunya? Tidak! Xin'er bukan gadis pengadu seperti gadis lain yang cengeng.


Wajah Zhaoling kini menghadap istrinya. Terlihat, dia sangat ragu untuk bertanya. "Apa yang dikatakan Kaisar benar, bahwa Permaisuri menginap dikediaman kita?" Xin'er hanya mengangguk pelan dengan pertanyaan suaminya. "Jadi, kau bercerita tentang semuanya pada Ibunda?" lagi. Xin'er kembali mengangguk dengan pertanyaan kedua.


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Zhaoling. Dia mencengkram kuat pakaiannya untuk menumpahkan segala amarah. Kenapa Xin'er bisa bertindak bodoh seperti ini? Tapi, jika ibunya tak menginap di kediamannya, bisa dipastikan Xin'er yang terluka saat ini.

__ADS_1


"Ikut aku!" Zhaoling menarik tangan istrinya supaya mengikuti langkahnya. Setelah sampai di kediamannya, tangan Xin'er dihempaskan begitu saja. Kemudian, dia duduk di kursi. "Bukankah kau bisa ilmu bela diri?" Xin'er tampak tertunduk mendengar pertanyaan suaminya. "Bukankah aku telah memberimu senjata untuk melindungi diri?" Lagi-lagi Xin'er hanya diam tak menjawab. "Apa aku harus menempatkan penjaga didalam kamar saat aku tidak ada?"


Xin'er mendongak mendengar pertanyaan suaminya. Pertanyaan macam apa itu? "Apa kau bilang? Menempatkan penjaga didalam kamar? Sebaiknya kau tak berpikir seperti itu, Yang Mulia!"


"Lalu apa? Kenapa disaat aku pergi malah timbul masalah seperti ini?" bentak Zhaoling. "Dan ... kenapa kau membicarakan masalah kita kepada Ibunda? Kau sekarang jadi gadis pengadu?" tudingnya pada Xin'er.


"Aku tak bermaksud memberitahukan masalah kita, Pangeran! Ibunda yang berta ..."


"Apa jika Ibunda bertanya, kau harus menjawab semua dengan jujur? Ini masalah kita, Xin'er. Jangan sampai ada yang tahu tentang masalah kita. Baik itu orang tuaku ataupun orang tuamu!" hardik Zhaoling lagi.


Xin'er hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Sungguh. Saat ini suaminya tak seperi biasanya. Pangeran Ketiga yang selalu bertutur lembut dan sangat penyayang, kini berubah menjadi sangat kasar dan galak. Xin'er paham, dia marah karena nyawa ibunya terancam dan itu semua karena Xin'er yang tak becus menjaga keselamatan Permaisuri.


"Maaf!" ucap Xin'er tulus.


Namun, Zhaoling yang sudah terbakar emosi tak bisa mengendalikan amarahnya. Cintanya terhadap sang ibu membuatnya gelap mata. Dia sampai menendang kursi yang sedari tadi didudukinya sampai patah.


Brakk


Xin'er terperanjat saat kursi itu hampir mengenai tubuhnya. Zhaozu yang pendiam berubah menjadi seperti monster.


"Sebaiknya kau tak keluar dari sini! Jika kau berani keluar tanpa sepengetahuanku, maka bersiaplah menerima konsekuensinya!" ancam Zhaozu kemudian.


Setelah mengatakan hal tersebut, dia pun melangkah keluar begitu saja meninggalkan istrinya yang saat ini meneteskan air mata. Zhaozu yang dipenuhi emosi, tak dapat melihat kesedihan dimata istrinya. Dia terlanjur marah dan kecewa akibat ulah Xin'er yang mengadukan masalah pribadi mereka pada ibunya.


Sepeninggalan Pangeran Ketiga, Xin'er menjatuhkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lutut. Dia tak menyangka jika suaminya semarah itu dan tak mau mendengar alasan apapun darinya. 'Zhaozu sedang emosi saat ini. Mungkin, setelah amarahnya reda, dia akan kembali dan meminta maaf lagi padaku' pikir Xin'er.


Xin'er menepis keras segala pikiran negatif dihatinya tentang sikap kasar suaminya. Dia tak mau, jika hubungannya bertambah runyam gara-gara sikap egois masing-masing. Rasa bersalahnya saat ini bertambah semakin besar, setelah dirinya kemarin menolak secara halus Pangeran, kini harus membiarkan Permaisuri terluka didepan matanya.


Sungguh. Sebenarnya, semua ini tak diinginkan Xin'er. Apapun yang terjadi, dia harus bisa melindungi semua orang yang ada disampingnya. Tapi, para penyusup itu memiliki ilmu cukup tinggi, sehingga Xin'er tak bisa melawannya.


"Aku harus lebih kuat, agar aku bisa melindungi semua orang. Takkan ku biarkan orang lain terluka lagi didepan mataku!" tekad Xin'er.

__ADS_1


Dia menggenggam kuat kepalan tangannya dan menyemangati diri agar bisa melewati semua masalah yang menerpa hidupnya saat ini. Anggap saja, ini semua adalah ujian yang harus dilewati olehnya dengan sebaik mungkin.


...Bersambung, gaess ......


__ADS_2