
Warning 21+
Si Anwar sama ceu Nining, yang bersatu jadi Warning, atau wareg geuning.
Bocil diharap skip, karena ada jebakan Batman di bagian akhir.
Happy reading gaes ...
...💫💫💫💫...
Zhaoling dan Xin'er saat ini tengah menikmati hidangan yang disiapkan pelayan penginapan. Mereka makan dengan lahap karena memang perut keduanya terasa keroncongan. Semangkuk pangsit hangat tersedia dengan ditemani sup abalon. Panasnya sup membuat tubuh yang dingin menjadi hangat.
"Kenyang banget," kata Xin'er setelah menghabiskan sup tersebut.
Zhaoling terkekeh melihat istrinya yang bertingkah seperti anak kecil. Tangannya terulur kearah wajah Xin'er membuat gadis itu terkejut. Namun, seketika membuatnya malu. "Kalau makan itu pastikan kau mengelapnya. Belepotan sekali seperti anak kecil," cetus Zhaoling setelah mengusap ujung bibir Xin'er.
"Ku kira apaan!" serunya dalam hati. "Memang aku seperti ini," ketus Xin'er seraya berpaling.
Zhaoling tak memperdulikan ucapan istrinya. Dia memilih mengupas buah apel yang tersedia di meja. Dengan cueknya, dia memasukan potongan buah apel yang telah dikupasnya kedalam mulut. Dia tahu, istrinya pasti bakal protes.
Xin'er yang melihat pria dingin itu memakan buah apel tanpa menawarinya, segera marah. "Hei kau, Panglima sombong! Tidakkah kau bersikap sopan kepadaku? Bagaimanapun, aku ini istri dari Pangeran Ketiga. Kedudukan ku itu lebih tinggi darimu. Kenapa kau membiarkan aku hanya melihatmu memakan buah itu!" serunya kesal.
"Kau mau ini?" tanya Zhaoling dan Xin'er mengangguk. Bibir pria itu memicing, kemudian memasukkan setengah potongan apel kedalam mulut dan membiarkan setengah lagi diluar. Potongan apel itu dijepit oleh bibirnya. "Ambilah," ucapnya seraya memajukan bibirnya.
"Hei. Kamu itu sungguh tak sopan!" Xin'er menjadi kesal dibuatnya.
Zhaoling terkekeh karena selalu berhasil menggoda istrinya. Dia lekas memakan apelnya kemudian mengupas lagi untuk diberikan pada istrinya. Namun, Xin'er yang tak tahu jika suaminya mengupas apel untuk dirinya, lantas merebut apel beserta pisaunya dan itu malah melukai tangan Zhaoling.
Sret
"Sstt," desisan keluar dari mulut Zhaoling karena tangannya tergores pisau tersebut. Darah segar keluar dari luka goresan pisau itu, dan menetes jatuh kelantai.
Xin'er terkejut karena dirinya tanpa sengaja melukai tangan Zhaoling. "Ma-maafkan aku, Aling. Aku gak sengaja," ucapnya seraya memegang tangan Zhaoling.
__ADS_1
Gadis itu meniup luka ditangan Zhaoling serta meringis karena lukanya cukup dalam. Xin'er lekas merobek ujung pakaiannya dan membalut luka Zhaoling dengan potongan kain setelah membersihkannya dengan air. "Maafkan aku, Aling! Sungguh! Aku tak sengaja," serunya lagi dengan perasaan bersalah.
Zhaoling tersentuh akan perlakuan istrinya yang panik dan terlihat cemas. Ide jahil kembali muncul dipikirannya. "Karena tanganku terluka, kau yang kupas dan suapi aku! Cepat!" titahnya.
Ucapan Zhaoling sukses membuat tanduk Xin'er keluar karena emosi. Tadinya dia berpikir untuk melakukan itu atas kemauan sendiri karena merasa bersalah pada pria dingin ini. Tapi, setelah mendengar perintah dari Zhaoling, Xin'er malah kesal. "Cih,"
Xin'er lekas mengupas buah apel tersebut dan memotongnya beberapa bagian. Dia pun mengulurkan tangan kearah Zhaoling untuk menyuapinya. Namun, karena kesal dia akhirnya membalas perlakuan Zhaoling padanya.
Saat pria dingin itu membuka mulut, Xin'er kembali menariknya dan langsung memakan potongan apel itu sendiri sampai berulang kali. Dia tertawa puas melihat wajah muram Zhaoling yang pasti sedang kesal karena dikerjainya. "Hahaha,"
Zhaoling terdiam memperhatikan istrinya yang tertawa begitu renyah. Ada sesuatu yang mencubit ulu hatinya. Bukan perasaan marah karena dikerjai, tapi perasaan bersalah karena dia sampai saat ini masih membohongi istrinya tersebut. Zhaoling belum bisa jujur pada Xin'er jika dirinya itu adalah Pangeran Ketiga. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, tapi ada suatu hal yang membuat dirinya masih menyembunyikan identitas aslinya.
Melihat Zhaoling yang terdiam sambil memperhatikannya, Xin'er segera menyudahi tawa ejekannya. "Baiklah ... baiklah! Yaelah, segitu aja kamu marah. Ini, makanlah!" ucapnya serius, namun tetap melakukan kejahilannya tadi.
Saat Zhaoling membuka mulut, dia menarik tangannya dan langsung memasukan potongan apel kedalam mulutnya sendiri. Tapi, kali ini dia kalah cepat, karena Zhaoling menarik tengkuknya dan langsung menyambar apel yang belum sepenuhnya masuk kedalam mulut kecilnya.
Xin'er yang terkejut lantas hanya diam mematung saat potongan apel diambil alih oleh bibir Zhaoling, kemudian dimasukan kembali kedalam mulut Xin'er menggunakan bibirnya lagi dengan dibantu lidahnya. "Makanlah! Rasanya manis," ucap Zhaoling menggoda. Anggap saja, itu pelajaran buat Xin'er karena menjahilinya.
Dengan bodohnya, Xin'er hanya menuruti titah Zhaoling tanpa sadar. Tapi, seperdetik kemudian ia tersadar mendengar bisikan Zhaoling di telinganya. "Sudah ku bilang kalau bibirku itu manis. Kau takkan bisa menolak apapun yang ku berikan!"
Zhaoling tertawa puas melihat kemarahan istrinya saat ini. "Sudahlah! Simpan tenagamu untuk perjalan besok. Sekarang, kita tidur saja! Karena, aku sudah sangat mengantuk." ucapnya melerai kemarahan Xin'er.
Pria dingin itu segera membaringkan tubuh di kasur lantai penginapan. Kasur yang hanya tersedia satu di kamar itu dan harus dibagi bersama Xin'er.
"Hei! Siapa yang mengizinkanmu tidur di kasur itu!" teriakan Xin'er tak dihiraukan oleh Zhaoling. "Jika kamu tidur sana, lalu aku tidur dimana?" hardiknya seraya berkacak pinggang.
Tanpa berkata lagi, Zhaoling segera menarik tangan Xin'er sampai gadis itu terjatuh tepat di dadanya. "Tidurlah!" ucapnya seraya memeluk tubuh gadis itu.
Mendapat perlakuan seperti itu, Xin'er memberontak dengan terus bergerak supaya terlepas. Namun, usahanya gagal karena Zhaoling tak sedikitpun melepaskannya. "Jika kau terus bergerak, aku janji akan memakanmu saat ini juga!" ancamnya kemudian.
Xin'er langsung terdiam mendengar ancaman Zhaoling yang menurutnya itu menakutkan. Ia segera memejamkan mata takut jika ancamannya benar-benar dilakukan oleh pria itu.
"Aku ini seorang perwira, tapi selalu saja kalah jika berhadapan dengan pria dingin yang menyebalkan ini. Huh, astaga!" batin Xin'er berteriak.
__ADS_1
Saat Xin'er sedang merutuki kebodohannya, tiba-tiba Zhaoling mengecup kening Xin'er seraya mengeratkan pelukannya. "Tidurlah! Jangan memikirkan hal apapun saat ini!" lirihnya.
Deg
Wajahnya bersemu karena mendapat perlakuan manis dari Zhaoling. Pria dingin yang selalu membuat dirinya kesal namun rindu. Entah kenapa, Xin'er selalu merasa nyaman dan juga tenang jika bersama Zhaoling. Tapi, saat berada dengan Pangeran Ketiga, hanya perasaan simpati saja yang bisa ia berikan.
Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyum indah yang terukir seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Zhaoling.
"Dewa. Bisakah aku egois satu kali saja? Aku ingin hidup bahagia bersama pria yang ku cintai. Tapi sepertinya, pria itu bukan Pangeran Xili, melainkan Panglima Xili!" batinnya penuh harap.
...💫💫💫💫...
Malam semakin larut. Rintik hujan yang mengguyur bumi begitu deras, diiringi hembusan angin kencang, serta suara gemuruh yang menggelegar.
Cuaca saat ini mungkin terlihat buruk jika kita dalam perjalanan. Tapi, keadaan saat ini membuat suasana menjadi romantis bagi sepasang adam dan hawa yang sedang memadu kasih.
Rintihan kenikmatan terdengar saling bersahutan dari mulut keduanya, membuat gairah semakin memuncak. Dinginnya udara di tengah badai tak membuat mereka kedinginan, malah semakin membuat keduanya berkeringat.
Suara kecil itu saling bersahutan dengan nama yang disebutkan masing-masing.
"Kenapa tubuhmu selalu membuatku kecanduan, Nona Yun!" seru pria yang kini berada diatas tubuh sang wanita.
Dengan nafas yang memburu, wanita itu berusaha menjawab santai. "Karena kau memang sangat menyukaiku, Pangeran. Aku cantik dan seksi, bukan!" ucapnya terkekeh.
"Kau benar! Kau sangat cantik, tubuhmu juga seksi, dan yang pasti kau memberikan pelayanan yang memuaskan untukku malam ini. Aku sangat menyukainya," ucapnya dengan nafas yang kian berat.
Tangan pria itu terus memainkan benda kenyal yang mirip dengan bakpao, membuat sang wanita menjerit keenakan.
"Kalau begitu, jadikan aku milikmu seutuhnya!" pintanya memohon.
Senyum si pria mengembang mendengar permohonan wanitanya. Direngkuhnya tubuh polos sang wanita dan memberikan kecupan sayang, sebelum mempercepat laju gerakannya. "Mulai besok, kau akan mendampingiku di Istana. Kau setuju?" ucap si pria setelah menuntaskan hasratnya.
"Ya. Aku setuju," sahutnya tersenyum senang.
__ADS_1
Mereka pun mengulang lagi penyatuan raga yang membuat keduanya melayang menembus kenikmatan dunia yang tiada tara, diiringi rintihan serta erangan saling bersahutan.
...Bersambung gaess ......