Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Kematian Jendral Hui


__ADS_3

Saat ini, Jendral Hui sudah sangat kelelahan. Sesungguhnya dia tak bisa melawan kekuatan Zhaoling atau bahkan kedua pengawal bayangannya. Tapi, untuk melaksanakan tugas dari Ibu Suri demi keselamatan keluarganya, maka dia pun berusaha melawan kekuatan Zhaoling yang tak sebanding dengan kekuatannya.


Zhaoling terkenal dengan sebutan Pendekar Cakar Naga, dia menguasai berbagai macam ilmu bela diri, dia juga memiliki panggilan Iblis Kematian medan perang.


Jika kekuatan dikeluarkan sepenuhnya, maka tak kan ada yang bisa lolos dari cengkraman Zhaoling. Bukan hanya tak bisa lolos, tapi juga akan mati di tempat itu juga.


Jendral Hui bernasib sial kali ini. Dia memilih lawan tak sebanding dengan menantang Zhaoling. Tapi, dia tak ada pilihan lain selain melawannya. Hui harus bisa mengejar para perampok bertopeng dan membunuh mereka bagaimana pun caranya.


"Jangan halangi aku, Panglima!" ujar Hui seraya berdiri setelah mendapat pukulan keras di dadanya.


Melihat kegigihan Jendral Hui, Zhaoling merasa terkejut. Pria dihadapannya itu seperti orang asing yang kepribadiannya tak pernah ia kenali. Hui yang dulu tidak seperti ini walaupun saat pertama kali bertemu. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda darinya dan Zhaoling yakin bahwa bawahannya itu sedang dalam masalah.


"Kenapa kau bersikeras melawanku? Padahal kau sudah tahu, bahwa kau tak kan bisa melawan kekuatanku!" cetus Zhaoling menatap tajam kearah Hui.


Hui tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Zhaoling. Dia tak mau jika ada yang melaporkan masalah ini dan keluarganya mati karena keputusannya. Maka dari itu, Hui memutuskan untuk terus melawan Zhaoling walaupun kemenangan sangat sulit didapat.


Merasa ada yang janggal, Zhaoling segera melayang keatas, kemudian tangannya menghempas ke bawah.


Duaaarrrr


Keluar asap putih yang menutupi area sekitar saat tangan Zhaoling terulur, disusul suara ledakan. Asap itu cukup tebal, sehingga mempersulit mereka untuk melihat apapun yang ada di sana.


"Aaakkhh," para prajurit terjatuh karena hempasan anginnya cukup kuat.


Jendral Hui mencoba menghilangkan asap tersebut dengan mengibas-ibaskan tangannya namun rupanya asap itu cukup tebal. Dia pun lekas berkata, "kibaskan tangan kalian lebih cepat! Asap ini akan menghilang setelah udara disekitar menghembuskan nya!" titahnya pada prajurit.


Mereka langsung mengibaskan tangan bahkan kaki untuk menghilangkan asap yang menutupi area sekitaran. Setelah asap sedikit memudar, Hui tak melihat keberadaan Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya di sana. Ketiganya telah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Jendral Hui tahu bahwa Zhaoling tak kan menyakitinya. Dia orang yang baik dan pintar membaca keadaan. Pasti, pria itu telah mengetahui ada yang aneh dari sikapnya yang membuat Zhaoling pergi meninggalkan pertempuran mereka.


Setelah beberapa menit, asap itu menghilang sepenuhnya menyisakan mereka dengan kebingungannya. Selain hilangnya ketiga pria dingin itu, mayat para perampok pun hilang dari tempat itu. Mereka seperti tak pernah ada di sini.


"Argh, sial. Kemana perginya mereka?" masih dengan kebingungan, Jendral Hui mencari di semak-semak namun ternyata tak ada.


Hilangnya mayat para perampok itu membuatnya resah. Bagaimana pun, Hui harus membawa mayat itu sebagai bukti bahwa dirinya memang bertarung melawan para perampok bertopeng.


Jika seperti ini, bagaimana jadinya? Ibu Suri tak kan percaya jika tak ada bukti. Pasti keluarganya akan ... tidak ... tidak! Berpikirlah positif, Hui.


Jendral itu menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian berteriak lagi. "Ayo, kita kejar! Pasti mereka belum jauh dari sini," instruksinya pada pasukan.


Mereka pun lekas mengejar perampok bertopeng kearah yang dilewatinya tadi, menuju arah pegunungan. Namun, sesuatu terjadi sebelum mereka keluar dari hutan ini.


Serangan dadakan tiba-tiba saja muncul dari arah berlawanan.


"Aakh," para prajurit berjatuhan dan langsung mati karena terkena anak panah beracun yang melesat entah dari mana.


Jendral Hui melihat sekelilingnya dengan kebingungan. Dia tak percaya bahwa pasukannya tewas semudah itu, hanya dengan serangan anak panah. Tapi, saat melihat wajah mereka yang mulai berubah kehijauan, ia pun menyadari bahwa anak panah tersebut sudah dilumuri racun mematikan. Hui bergegas melindungi diri dari serangan dadakan itu bersama prajurit yang tersisa.


Saat mereka bersembunyi di balik pohon besar, tiba-tiba banyak sulur akar menjerat leher mereka dengan kuat. Prajurit tersisa pun mati sebagian.


Kini, tinggal Jendral Hui dan beberapa prajurit saja. Mereka panik dan terus mengawasi sekitaran. Takut ada jebakan lagi dan membuat mereka mati konyol di sini.


"Hahaha," tawa beberapa orang terdengar. Mereka yang bersembunyi seketika mengintip dari balik pohon guna melihat siapa mereka.


Terlihat, beberapa pria dengan penutup wajah seperti yang dimiliki perampok bertopeng. Mereka memegang pedang serta tombak dan perisai.

__ADS_1


"Keluar kalian, prajurit pengecut!" ejek mereka.


Merasa terhina, Jendral Hui segera keluar dari persembunyiannya bersama beberapa prajurit yang tersisa.


"Akhirnya kalian keluar juga." kata mereka masih dengan nada mengejek. "Cepat, kita habisi mereka! Setelah itu, kita akan mendapatkan hadiah dari Panglima!" seru mereka dengan girang.


Mendengar mereka menyebutkan Panglima, hati Hui bergetar. Tidak mungkin Panglima Zhaoling memerintahkan mereka untuk membunuh, bahkan memberikan hadiah sebagai upahnya. Jika Zhaoling ingin membunuh mereka, sedari awal dia tidak akan pergi dari pertempuran dan sangat mudah bagi Zhaoling membunuh semua prajuritnya dalam sekali serang.


Tapi, melihat topeng yang dikenakan para pria itu yakin bahwa mereka perampok bertopeng dan Zhaoling pasti bersama mereka. Tadi saja, Panglima melindungi mereka.


"Hiyaaaaat," pertarungan kembali terjadi. Mereka mengerahkan sisa tenaga untuk berusaha melumpuhkan atau melindungi diri. Tapi sepertinya, kekuatan para pria ini sungguh aneh.


Jendral Hui yang telah melawan beberapa perampok pun merasakan keanehan dari mereka. Kekuatan para pria bertopeng itu sepertinya meningkat dan gerakan mereka pun berbeda dengan sebelumnya. Terlebih lagi, satu pria yang memakai pakaian Bangsawan dengan gerakan yang tak asing.


Semua prajurit telah mati. Kini yang tersisa hanya Jendral Hui seorang diri dengan luka pada beberapa bagian tubuhnya. Dia berusaha bangkit dan melangkah perlahan sambil berkata, "siapa kau? Sepertinya aku mengenalmu!" seru Jendral Hui dengan suara bergetar.


"Kau tidak mengenaliku, Jendral. Karena kita baru berjumpa sekarang," pria itu berkilah.


Jendral Hui tersenyum mengejek. Dia yakin bahwa pria ini adalah orang yang ia kenali. "Firasatku tidak akan salah. Kau adalah Pangeran Ke ... Ugh," sebelum Hui melanjutkan ucapannya, pria itu telah menusukkan tombak di tangannya ke perut Hui. Sehingga membuat Jendral itu berlutut di tanah dengan darah yang terus keluar dari lukanya.


Pria tersebut menyeringai kearahnya, kemudian melepaskan topeng yang dikenakan diwajahnya. "Sepertinya kau memang cukup pintar. Tadinya aku berpikir untuk membiarkanmu hidup dan pulang ke Istana. Tak ku sangka mata mu sangat jeli memperhatikan semua orang, sampai-sampai kau mengenaliku walau dalam penyamaran. Maka dari itu, kau harus mati."


Tombak itu semakin di perdalam membuat Jendral Hui kesakitan, dan tak lama kemudian mati dengan bersimbah darah.


Sebelumnya, ia memang merasa akan mati di tempat ini apalagi jika berani melawan Zhaoling. Namun ternyata, Panglima itu malah melarikan diri dan membiarkannya tetap hidup. Tapi ada kelompok lain yang menyerang mereka, sehingga dirinya harus mati di tempat ini tanpa bisa pulang menemui keluarganya dan membebaskan mereka dari tawanan Ibu Suri.


Sungguh malang nasib Jendral Hui, karena tak bisa melakukan apapun untuk keluarga dan juga para pasukannya. Akhirnya, mereka semua tewas di hutan ini dengan perasaan sedih yang mendalam.

__ADS_1


"Laporkan kematian semua prajurit ke Istana. Katakan jika mereka tewas saat melawan perampok bertopeng, yang dilindungi Panglima Zhaoling!" titah pria itu dengan tersenyum penuh arti.


__ADS_2