
Seminggu sudah berlalu. Zhaoling tak pernah kembali ke Istana, dan itu membuat semua orang yakin jika dirinya berkhianat. Bahkan, penyerangan terhadap pasukannya yang mengakibatkan tewasnya Jendral Hui, sudah menyebar luas.
Kini, Panglima Xili itu ditetapkan sebagai pengkhianat Negara karena melindungi penjahat yang meresahkan kalangan Bangsawan. Tapi, sudah seminggu ini tak ada kabar perampokan dimana-mana, sehingga mereka pun sedikit merasa lega.
Situasi ini dimanfaatkan oleh orang lain untuk membuat Zhaoling terusir dari Istana untuk selamanya. Walaupun statusnya lebih tinggi karena ia adalah seorang Putra dari Permaisuri, namun tak menutup kemungkinan bahwa gelarnya sebagai Pangeran terancam hilang.
Jika Zhaoling tak muncul dalam waktu kurang dari sebulan, maka pengadilan Kerajaan memutuskan akan mencopot gelar Pangerannya dan dia pun tak diberi kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota yang akan menggantikan posisi Kaisar selanjutnya.
Permaisuri dan juga Ibu Suri berusaha melacak keberadaan Zhaoling, karena hanya mereka yang peduli terhadapnya. Namun, tanpa sepengetahuan semua orang, Kaisar bertindak lebih dulu dan mengirim pasukan untuk mencari dimana Zhaoling berada.
Tapi, ada sekelompok pasukan lainnya ikut bergabung dan bergerak tanpa sadari mereka. Pasukan itu memiliki token berwarna merah, yang melambangkan bahwa mereka utusan dari Istana Pangeran.
Ya. Pasukan itu diutus Pangeran Pertama untuk mencari keberadaan Zhaoling. Dia tak mau jika Pangeran Ketiga itu kembali dan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Jika sampai itu terjadi, maka rencana yang sudah disusunnya terancam gagal.
Zhaohan ingin menjadi penerus tahta selanjutnya. Dibantu dengan dukungan Zhaoyan dan Zhaokang, ia semakin mempunyai keyakinan tinggi. Kedua adiknya itu mendukungnya untuk naik tahta, dan dia pun mendapat dukungan penuh dari Ibunya, Selir Wang Xiumeng.
Selir Wang adalah Selir kesayangan Kaisar selain Permaisuri. Dia pun memiliki kekuasaan cukup besar di Istana bagian, serta memiliki cukup banyak pengikut. Selir Wang sangat menginginkan putranya naik tahta untuk menggantikan Kaisar, namun penerus tahta ternyata sudah ditentukan oleh Kaisar dan Ibu Suri. Bahwa, hanya putra dari Permaisuri saja yang bisa menggantikannya sebagai Kaisar. Itu aturan turun temurun dari Kaisar terdahulu dan wajib dipatuhi sampai generasi selanjutnya.
Tapi, para Selir tak terima dengan aturan tersebut. Mereka membentuk kelompok untuk menyingkirkan putra dari Permaisuri tersebut. Berbagai cara dilakukan agar bisa mewujudkan keinginan mereka tersebut.
Memfitnah, memojokkan, mencelakai, bahkan membunuh, mereka tak segan melakukannya. Memang, perebutan kekuasaan di Istana itu sudah biasa terjadi. Tapi, tetap saja kembali ke posisi mereka masing-masing. Jika kedudukan mereka lebih tinggi dan kekuasaannya pun sangat besar, maka orang tersebut tidak akan bisa digulingkan.
__ADS_1
•
•
Di tempat lain.
Yoona saat ini sedang bimbang. Setelah Tuan Khong menyerahkan benda yang sangat ia kenali, serta menyampaikan pesan Jiong dari Zhaoling untuknya, dia pun termenung sendirian.
Kata orang, benci dan cinta itu beda tipis. Semakin orang mencintainya, maka semakin besar rasa benci timbul jika sekali tersakiti. Begitupun sebaliknya, jika terlalu benci maka akan timbul rasa cinta. Semuanya tergantung dari kebiasaan saja.
Tapi apa yang terjadi pada Yoona berbeda. Entah rasa cinta atau rasa benci, yang jelas dia menampik semua dengan keikhlasan. Betul apa yang dikatakan Jihu saat itu, jika kita merelakan segalanya dengan ikhlas, maka perasaan apapun tak kan timbul seiring waktu berjalan. Apalagi, jika kita sudah terbiasa tak bersamanya.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkannya dari lamunan. Wajahnya menoleh kearah si penepuk, kemudian tersenyum. "Kakak,"
Yoona menoleh dengan kedua alis menaut. Dia tak mengerti apa yang kakak pertamanya itu bicarakan. Melihat Yoona sedikit kebingungan, Jihu pun menjelaskan. "Aku tahu, kau mengenal Panglima itu jauh lebih baik dari siapapun. Dia pria yang kau cintai, bukan?!"
Walaupun Xiaolang dulu tak membicarakan sedetail mungkin masalah mereka terusir dari Istana, tapi kini Jihu mengerti bahwa Panglima dan Yoona ada hubungan.
Yoona tersentak atas pertanyaan Jihu. Dia berkelit dengan segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenalinya, kak!" tepisnya berbohong.
Jihu tahu bahwa adiknya itu sedang berbohong. Dia pun mengusap rambut Yoona dengan lembut sambil berkata, "dia sangat mencintaimu!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Ckk, kakak tidak mengenalinya dengan baik. Dia itu hanya seorang pria dingin yang tak berperasaan. Dia selalu menghormati para tetua di Istana, walaupun mereka selalu berbuat jahat padanya. Demi menghormati ibu dan neneknya, dia tega membentak bahkan menamparku. Dia tak ingin aku bersikap tak sopan kepada neneknya, sedangkan neneknya itu selalu menindasku. Apa salahku, Kak?" ungkap Yoona sedih. Nada bicaranya bahkan bergetar ketika ia membuka suaranya.
Yoona menceritakan bagaimana pedihnya hidup di dalam Istana, serta alasan ayahnya yang tak pernah setuju jika dirinya menjadi anggota keluarga Kerajaan. Awalnya, Yoona tak mengerti dan menganggap bahwa semua orang akan bersikap selayaknya sebuah keluarga. Tapi ternyata, mereka tak semudah itu dalam berpikir. Persaingan yang membuat mereka dalam bahaya, bahkan sampai celaka.
"Aku membenci dia, Kak. Dia membuatku harus berpisah dengan orang-orang yang ku sayangi. Dia menarik ku kedalam lingkaran kematian yang perlahan menghisap jiwaku hingga menjadi debu," cicitnya seraya mengusap genangan air mata yang terus membanjiri.
Wanita itu segukan di dalam dekapan Jihu, menumpahkan keluh kesah yang tak sempat ia utarakan pada ayah dan juga kakaknya sebelum mereka pergi meninggalkan Yoona untuk selamanya.
Sementara itu, seorang pria berdiri dibalik pohon tak jauh dari mereka dengan tertunduk penuh penyesalan. Dia mendengar jelas apa yang dikatakan wanita yang sangat dicintainya itu. Ternyata, dirinya tak pernah bersikap tegas kepada mereka yang membuat istrinya sakit hati. Terlebih, dia pun membohongi dengan dua identitas yang bertolak belakang.
"Maafkan aku, Xin'er! Aku yang salah, bukan Ibu atau Nenekku. Tapi, aku lah yang tak becus membahagiakanmu. Ku pikir, dengan diam maka mereka akan mengerti. Tapi aku salah," desisnya seraya mengusap air mata.
Ya. Pria itu adalah Zhaoling, suami dari Xin'er. Wanita yang saat ini bersama Jihu adalah istrinya, yang merubah nama menjadi Yoona. Entah untuk alasan apa, yang pasti Zhaoling yakin bahwa yang dilakukan istrinya itu untuk mengelabuinya.
Begitu besar rasa benci Xin'er pada dirinya, membuat istrinya itu memalsukan kematian dan mengganti nama menjadi Yoona. Xin'er pun tak pernah pulang walau untuk menemui pelayan setianya. Tapi, Zhaoling tak tahu alasan Xin'er tak pulang selama ini. Dia memang marah pada Zhaoling, tapi alasan utamanya yaitu Xin'er koma selama beberapa bulan dan tak bisa pulang karena luka di tubuhnya.
...Bersambung, gaess ......
Tengok juga karya baru aku ya, gengs. Genre horor dengan judul 'Disini Ada Setan'.
__ADS_1
Semoga suka☺️