Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Keyakinan Zhaoling


__ADS_3

Kota Leugok Hangseur


Beberapa rombongan terlihat melewati daerah perbatasan Kota Dorokdok sebelah Utara. Rombongan tersebut terdiri dari para Bangsawan dan Pedagang. Mereka membawa banyak barang berharga serta bahan makanan. Tak lupa, kain dan pakaian mewah juga ada.


Semua barang tersebut akan dibawa ke Istana untuk di persembahkan sebagai hadiah Ulang Tahun Kaisar. Untuk menarik simpati Kaisar, para Bangsawan tersebut sering membawakan hadiah mewah agar mendapatkan pujian. Kemudian, mencari dukungan supaya naik jabatan.


Ya. Seperti itulah mereka. Tanpa rasa malu, mereka akan melakukan apapun demi tercapainya hasrat dan keinginan mereka. Tujuannya hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Dengan dukungan dari Kaisar atau anggota keluarga Kerajaan yang lain, maka kekuasaan mereka akan menjadi kuat, dan semua orang akan lebih menghormati Bangsawan tersebut.


Namun, bagi sebagian orang itu hal yang menjijikan. Mereka tak lebih dari penjilat ulung. Orang-orang yang tak suka pada Bangsawan seperti itu akan mulai membencinya, bahkan membicarakan keburukan mereka.


Rakyat juga membenci Bangsawan karena, suka memungut upeti yang sangat besar dari mereka. Bangsawan itu tak pandang bulu, baik rakyat miskin atau kaya sama saja. Pajak yang dibayar harus sesuai dengan jumlah yang ditentukan mereka. Sungguh terlalu!


Sebab itulah, terjadi pemberontakan oleh para penduduk yang merasa ditekan mereka. Keadaan ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kekurangan, tapi mereka dipaksa harus membayar lebih dari penghasilan perhari.


Pemberontak itu membentuk kelompok dan bersatu dengan Perampok Bertopeng. Bukan karena ingin merusak Negara dan melawan Pemerintahan, tapi ini sebagai bentuk protes kepada para Bangsawan yang kejam karena sikap tak adil mereka.


Saat rombongan Bangsawan memasuki perbatasan, mereka langsung disambut hangat oleh beberapa jebakan. Jebakan-jebakan itu dipasang di tempat yang tak terduga. Walaupun mereka bisa menghindari jebakan tersebut, tapi jebakan lain dengan mudah menjerat mereka.


Sreeeekkk


Sebuah jaring mengurung mereka dan menariknya keatas, setelah tali pengikatnya tak sengaja tertarik kaki kuda yang mereka tunggangi.


Heheeeeee


Kuda itu mengikik karena terkejut, kemudian berlari kencang meninggalkan si pemiliknya yang terjerat oleh sebuah jaring.


"Ada apa ini?" tanya Tuan mereka seraya keluar karena mendengar keributan.


Dia terkejut saat melihat para pengawalnya tak ada di sana. Ada yang jatuh ke lubang, ada yang tertabrak batang pohon, ada juga yang terkurung jaring dan terseret hingga keatas.


Karena panik, ia segera keluar sambil membawa senjata sebagai perlindungan. Beberapa wanita seperti istri dan pelayannya segera mengikuti langkahnya dengan hati-hati. Mereka berusaha untuk kabur.

__ADS_1


Tapi, pergerakan mereka kalah cepat, karena beberapa orang datang menghampiri.


"Hahaha," terdengar tawa dari beberapa orang yang memakai topeng wajah dan pakaian serba hitam.


"Siapa kalian?" tanya mereka dengan mengarahkan pedangnya.


"Siapa kami?" ujar perampok bertopeng bertanya balik sambil menunjuk dirinya. "Kalian tidak pernah mendengar kehebatan kami ya!" ejeknya kemudian.


"Kalian pasti bukan orang baik! Mau apa kalian menghadang perjalanan kami?" desaknya dengan nada tinggi.


Salah satu dari perampok bertopeng itu langsung menepuk bahu temannya dan berkata, "tidak usah banyak bicara. Cepat, kita ambil semua harta benda mereka. Setelah itu, kita pergi dari sini!"


"Benar ... benar!" sahut yang lainnya.


Para Bangsawan itu segera mengarahkan pedangnya saat salah satu dari perampok bertopeng mau mengambil barang bawaan mereka. "Jangan berani mengambil apapun yang kami bawa! Jika kalian berani mengambilnya, maka kepala kalian akan kami penggal!" gertaknya seraya mengacungkan pedang.


Perampok bertopeng malah tertawa mengejek setelah mendengar ancaman mereka. Setelah itu, mereka pun mengeluarkan senjata masing-masing dan pertarungan pun terjadi.


"Aaakkhh," Para wanita berteriak histeris saat pertarungan di mulai. Mereka menjerit ketakutan, kala suami mereka terkena sabetan pedang dari perampok bertopeng itu.


"Tuan, tolong ampuni kami! Silahkan ambil apapun yang kalian inginkan. Asalkan kami dibiarkan hidup," pinta para wanita itu sambil menangis dan bersimpuh ketakutan.


Tubuh mereka bergetar hebat akibat rasa takut, setelah melihat kekejaman perampok bertopeng tersebut. "Tuan, kami mohon!" pinta mereka lirih.


Perampok bertopeng itu saling pandang, kemudian mengangguk setelah mendapatkan instruksi dari pemimpinnya. Mereka tak membuang waktu lagi. Setelah mengambil semua barang berharga, mereka pun meninggalkan para Bangsawan yang terluka dan semua wanita itu.


Mereka mengabaikan wanita-wanita yang menangis ketakutan. Tak ada rasa kasihan di hati mereka, karena mereka pun mengalami apa yang dialami Bangsawan itu. Di saat tak bisa membayar upeti, dengan kejamnya para Petinggi akan menghajarnya dan membiarkan istri mereka menangis.


Jika ada yang harus disalahkan, maka salahkan lah mereka yang selalu bertindak kejam dan menyalahgunakan kekuasaan untuk memeras rakyat jelata seperti mereka.


Setelah meninggalkan mangsanya, mereka kembali ke tempat dimana Zhaoling dan kedua pengawalnya dikurung. Dengan sengaja, mereka mengeluarkan semua hasil rampokan di hadapan Panglima Xili tersebut.

__ADS_1


Mereka ingin menunjukan, bahwa tak ada yang bisa menghentikan perbuatannya, dan juga tak ada satu mangsa pun yang bisa lepas dari cengkraman tangan mereka.


Seorang pria berjalan mendekati kurungan besi ketiga pria itu. Dia menyeringai sambil memperlihatkan sekantung koin emas dan perak di hadapan Zhaoling. "Lihat, Tuan Panglima. Kami dengan mudah mendapatkan ini tanpa ada yang bisa menghentikannya," ejeknya sambil tertawa lepas.


Ya. Tak ada yang bisa menghentikan mereka beraksi saat ini, karena Panglima Xili itu terkurung oleh jeruji besi di sini. Sudah dua hari mereka terkurung tanpa bisa melakukan apapun. Penjagaan di sekitar mereka di perketat dan perampok bertopeng pun tak membiarkan mereka untuk bisa pergi dari tempat ini.


Mereka tahu, jika Zhaoling bebas dari sini, maka mereka tidak akan selamat. Maka dari itu, mereka memilih untuk menjaga Zhaoling supaya tidak bisa keluar dari kurungan tersebut.


Melihat pria itu yang sengaja memperlihatkan hasil rampokan, Yoona sangat kesal. Apalagi dia memamerkannya dihadapan Zhaoling. Yoona tak mau jika nanti ketiga pria dingin itu terpancing amarah dan mengeluarkan kesaktiannya, bisa-bisa mereka kalah. Walau bagaimana pun, Yoona tahu kekuatan ketiga pria ini yang sesungguhnya.


Di tariknya lengan pria itu dan membawanya sedikit menjauh dari kurungan besi tersebut. "Chiu, kau sungguh lancang! Bukankah Kakak Pertama sudah bilang, bahwa kita tidak boleh memperlihatkan apapun kepada musuh kita! Kau malah dengan sengaja memperlihatkan dan memancing amarahnya," ketus Yoona.


"Nona Kelima, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Kau lihat! Besi itu sangat kuat dan tidak mudah di hancurkan," sahut Chiu dengan yakin. "Lagi pula tidak masalah bukan, jika sedikit pamer kepada pria sombong itu!" tukasnya seraya tertawa kecil.


Yoona menggelengkan kepalanya sambil berkata, "kesombongannya sekarang menular padamu!" ketusnya seraya pergi.


"Hei, Nona Kelima! Sedikit saja tidak masalah bukan? Nona ... Nona Kelima. Haish, dia ini!" Yoona mengabaikan teriakan Chiu dan memilih pergi menemui kakaknya.


Tanpa Yoona sadari, Zhaoling terus memperhatikannya. Dia yakin bahwa Yoona adalah Xin'er, istrinya. Setelah mendengar perkataan Mengshu tempo hari, Zhaoling mulai memikirkan kemungkinan yang ada.


Mungkin saja, Xin'er di tolong oleh orang-orang ini dan demi membalas kebaikan mereka, dia melakukan apa yang diperintahkan para perampok ini? Atau mungkin Xin'er hilang ingatan saat di tolong oleh orang-orang ini, kemudian mereka merubah Xin'er jadi perampok?


Argh, sungguh sial. Zhaoling tak bisa memikirkan kemungkin yang baik tentang Xin'er. Dia pun merenung kembali dan memikirkan kemungkinan apa yang bisa terjadi pada istrinya.


'Jangan-jangan, dia hanya mirip saja! Kalau begitu, Xin'er ku sudah ... ah, tidak ... tidak! Dia pasti masih hidup dan wanita itu pasti Xin'er ku. Mungkin saja dia masih marah kepadaku,'


Sebenarnya, Zhaoling bisa saja pergi dan menghancurkan kurungan besi ini dengan kekuatannya jika dia mau. Tapi, dia masih menunggu untuk memastikan sesuatu yang ada dalam pikirannya. Dia ingin membuktikan jika kata hatinya ini benar, bahwa wanita bagian perampok bertopeng itu adalah Xin'er, istrinya.


"Tuan. Sampai kapan kita di sini?" bisik Liu Wei dan Yu Xuan bertanya.


"Tunggu sampai dia melepaskan topengnya!" sahut Zhaoling tegas.

__ADS_1


'Aku yakin bahwa itu kau, Xin'er!'


...Bersambung ......


__ADS_2