
Jihu dan rombongannya tak memperdulikan teguran Zhaoling supaya tidak memasuki hutan wilayah Chang Chute. Mereka terus memasuki hutan lebih dalam guna menghindari kejaran pasukan Xili yang dipimpin Zhaohan.
Mereka juga tak memperdulikan keadaan hutan yang sangat gelap, terlebih di waktu malam. Karena, hutan ini tertutupi pepohonan yang tinggi serta berdaun lebat. Rindangnya pohon besar itu membuat cahaya Mentari atau Rembulan tak bisa menembus kedalaman hutan wilayah Chang chute tersebut. Sehingga, mereka harus berjalan perlahan agar tak salah melangkah.
Saat sudah berjalan cukup jauh, mereka dikejutkan oleh benda yang jatuh cukup keras tepat dihadapan mereka.
Plarak ... bruk ...
"Apa itu?" semuanya segera mengawasi keadaan sekitar dengan waspada. Mereka saling merapatkan diri satu sama lain agar tidak terpisahkan.
Namun tanpa mereka sadari, seutas tali yang terbuat dari kulit batang pohon, menjalar di bawah kaki dan segera menjerat satu demi satu rombongan Jihu tersebut.
"Whoooaaaa," teriak salah satu saat tubuhnya ditarik tali tersebut dengan sangat kencang juga cepat. "Toloooong!"
"Bong!" panggil mereka saat mendengar suara orang yang minta tolong itu, namun semuanya tak bisa menolong karena keadaan sekitar gelap gulita. Mereka hanya bisa mendengar, tanpa bisa melihat apa yang terjadi pada Bong.
"Kak Jihu. Tolong aku!" teriak Bong lagi, namun mereka tetap tak bisa melihat posisinya berada. "Kkkkkaaaaakkk," suaranya makin lemah seperti tertahan dan juga kesakitan. "Toooollloooooong," suaranya makin lirih sebelum hilang sepenuhnya.
Mereka kebingungan dan juga panik dengan keadaan saat ini. Apa yang terjadi kepada Bong sampai membuatnya seperti itu. "Bong! Bong!" panggilan mereka tak mendapat sahutan dari si pemilik nama. Entah apa yang terjadi pada Bong, karena suaranya sudah tak terdengar lagi.
"Astaga. Ya Dewa. Apa yang terjadi padanya?" gumam semuanya dengan kebingungan.
Mereka pun melangkahkan kaki lagi seraya memanggil nama Bong, tapi tetap tak ada jawaban dari orang yang mereka panggil itu. Namun, baru saja beberapa langkah, mereka dikejutkan dengan sesuatu yang jatuh dari atas tepat di kepala mereka.
Clak ... clak ...
Tetesan air jatuh membasahi kepala dan pundak mereka, namun air itu bau amis dan sedikit kental. "Air apa ini? Baunya seperti amis darah,"
Setelah tetesan air, jatuhlah suatu benda tepat diantara mereka.
Syuuuuuuttt ... brukk ...
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Sui, karena benda itu jatuh tepat mengenai tangannya. Sui meraba sesuatu yang berada di tangannya tersebut secara perlahan.
Ada rambut, mata, hidung, dan mulut. Tangan Sui mulai bergetar untuk memastikan dengan meraba kesamping yang ternyata adalah telinga. Ini berarti, sesuatu yang jatuh tepat ditangannya itu adalah sebuah kepala seseorang. "Whoaaa," dilemparkannya kepala itu ke depan sambil menjerit histeris.
"Ada apa, Sui? Kenapa kau begitu takut?" tanya Dong, karena tubuhnya dipeluk erat oleh Sui.
"Kkkaaak, tadi a-aku memegang se-sebuah kepala!" seru Sui dengan ketakutan.
"Kepala? Jangan bercanda!" ujar semuanya.
"Be-betul, kak. Aku me-meraba benda yang barusan jatuh ke tanganku tersebut, yang te-ternyata adalah ke-kepala Manusia. Apa mungkin itu kepala Bong? Ka-karena di telinga kepala tadi ada anting yang mirip dengan milik Bong," jelasnya membuat semua mulai ketakutan.
"Jangan-jangan, cairan yang tadi menetes dari atas itu adalah ... darah Bong!" seru Yoona membuat mereka terdiam.
Seketika semuanya menjadi panik dan saling berdempetan supaya tak seperti Bong, yang hilang tiba-tiba dan ditemukan hanya kepalanya saja.
"Bagaimana ini?" mereka gugup dengan tubuh yang gemetaran.
Kriuk ... kriuk ... slruuuupppp ... clap ... clap ...
Setelah suara itu berhenti, tiba-tiba seutas tali yang terbuat dari kulit pohon itu pun datang lagi dan menjerat salah satu hingga tak terdengar teriakannya. Mereka panik dan tak tahu harus berbuat apa, karena keadaan disekitar hutan kawasan Chang Chute memang sangat gelap. Mereka tak bisa menyaksikan kengerian rekan-rekan yang dimakan oleh siluman penghuni hutan tersebut.
Kini, yang tersisa hanya lima dari tiga belas orang. Dengan hati yang berdebar dan jantung yang berdetak tak karuan, mereka harus bergelut dalam gelapnya hutan untuk melawan makhluk tak kasat mata yang ada di dalam hutan tersebut.
Mereka terus waspada sambil mengarahkan pedang ke segala arah, agar tak kecolongan. Namun, apa yang terjadi membuat mereka tak bisa bertindak sesuka hati. Tali itu lagi-lagi menjerat kaki dan menyeret mereka ke semak-semak hingga berakhir dengan kematian tragis.
"Apa yang terjadi? Aku tak bisa melihat apapun! Semuanya terlalu cepat," cetus mereka dengan kebingungan.
Ketika mereka lengah, tali itu datang lagi dan menarik kaki salah satu dari mereka, yaitu wanita satu-satunya dari rombongan. Yoona yang merasa ada sebuah tali kuat yang menjerat kakinya, segera memegang tangan kakaknya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh tangan Jihu, tali tersebut sudah menariknya dengan cepat hingga hanya teriakannya yang terdengar.
"Whoaaaaa, Kakaaaaaaakkk!" teriakan Yoona terdengar melengking di hutan tersebut.
__ADS_1
Jihu yang mendengar teriakan adiknya pun langsung menjadi panik, namun ia tak tahu harus berbuat apa. "Yoona ... Yoona!" panggilnya seraya mondar-mandir dengan menajamkan pendengarannya. "Yoona!"
"Aaaaaaarrggghh, Kakak!" teriak Yoona lagi karena ia merasa tali itu mulai menariknya keatas hingga ia tergantung secara terbalik.
Setelah diatas, Yoona merasakan beberapa tangan berkuku panjang memegang kakinya, serta bau nafas yang menyeruak membuat ia ingin muntah. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan tali tersebut di kakinya, namun semakin ia bergerak maka semakin kuat pula tali itu mengikat kakinya.
"Ya Dewa. Apa aku akan mati lagi di hutan dengan cara yang sama seperti dulu, dimangsa Binatang buas? Andai saja Kak Jihu mendengar ucapan Aling," gumamnya dengan air mata yang berlinang.
"Yoona ... Yoona!" panggilan Jihu dan yang lainnya terdengar persis dibawah Yoona, namun wanita itu tak bisa menjawab panggilan mereka karena lehernya kini tercekik tangan berkuku panjang tadi.
Pandangannya mulai kabur, dengan nafas yang melemah. Yoona tak bisa menahan sesak di lehernya akibat cengkraman kuat tangan kuku panjang tersebut.
Glegaaaaarrrr
Suara petir menyambar dengan sangat kuat, merubuhkan salah satu pohon besar yang ada di hutan itu, sehingga cahaya dari kilatannya masuk melalui celah yang terbuka itu. Dari celah tersebut, nampak lah semua yang ada di hutan tersebut.
Mayat bergeletakan di tanah dengan tubuh tanpa kepala, serta lubang besar di bagian dada hingga perut, bekas koyakan gigi taring. Darah segar berceceran dimana-mana, serta kepala Manusia yang berserakan tanpa tubuh. Banyak tulang belulang serta tengkorak disekitaran area tersebut.
Di atas pohon, terdapat sepuluh makhluk mengerikan. Mereka bertubuh Manusia dengan otot yang besar-besar, namun wajah mereka sangat mengerikan persis seperti siluman dalam cerita dongeng. Memiliki gigi taring serta berkuku panjang, mereka juga memiliki mata yang bisa melihat dalam kegelapan.
Jihu dan rekan yang lain bergidik ngeri saat melihat semua yang nampak di mata mereka, termasuk para makhluk mengerikan penghuni hutan Chang Chute ini. "Astaga, Ya Dewa!" mulut mereka menganga ketika bertatapan dengan mata makhluk mengerikan tersebut.
Makhluk mengerikan itu menyeringai dengan mata berbinar, menatap lapar kearah mereka. Darah segar masih menetes diujung bibir mereka, bekas memakan rekan Jihu yang lain. Dan kini, giliran Yoona yang akan jadi korban para makhluk mengerikan tersebut.
Jihu berusaha melemparkan tombak untuk membunuh mereka, namun ternyata tombak itu tak menggores tubuh mereka sedikitpun.
Tubuh mereka kebal terhadap benda tajam seperti pedang, tombak, ataupun panah. Namun, mereka juga punya kelemahan, yaitu tak bisa melihat jika dalam keadaan terang. Sayangnya, Jihu dan rekannya tak tahu hal itu.
"Yoona!" teriak Jihu ketika tubuh Yoona terkulai lemah tak bertenaga. Sepertinya, dia kehabisan nafas karena cekikan yang sangat kuat dari makhluk tersebut.
Bersambung ...
__ADS_1