
Tengah malam di hujan badai salju. Rombongan Xin'er baru sampai disebuah penginapan yang terletak antara Ibu kota dan Kota Yongsheon.
Mereka memutuskan untuk beristirahat karena cuaca yang semakin memburuk. Hawa dingin menusuk tulang, dan pandangan juga tertutup kabut yang sangat tebal. Sehingga, mereka tak bisa melanjutkan perjalanan malam ini.
Xin'er termenung di kamar penginapan ditemani Mengshu dan Yuelie. Dia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun membuat kedua pelayannya merasa kebingungan sekaligus bersimpati.
Gadis itu merasa hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar perkataan Pangeran Ketiga sore tadi. Sebuah perintah yang lebih tepatnya seperti kata pengusiran itu terdengar jelas ditelinga Xin'er, membuat dirinya mengeluarkan air mata.
"Pulanglah ke rumah orang tuamu! Aku tak ingin melihatmu disini!" bagaikan sebuah pisau yang menghujam jantung Xin'er setelah Zhaoling berucap demikian.
Xin'er sangat murung dan tak bersemangat saat ini. Hatinya begitu sakit kala mengingat terus kata-kata terakhir yang keluar dari mulut suaminya. "Apa salahku sampai dia mengusirku seperti ini, Ashu, Yuelie?" tanya gadis itu tanpa menatap sedikitpun.
Kedua pelayannya hanya saling pandang dan tak tahu harus berkata apa. Mereka pun sama halnya tak mengerti dengan maksud Pangeran Ketiga yang langsung mengusir Nona-nya. Rasanya, itu sangat membingungkan. Mengingat, sifat Pangeran Ketiga yang baik, ramah, sopan, dan juga penyayang.
Tapi kini, dia bersikap seolah tak memiliki perasaan apapun pada istri tercintanya yang sudah dianggap seperti seorang sahabat baginya. Tempat berkeluh kesah dan berbagi suka maupun duka. Namun, seolah itu tak ada artinya lagi baginya.
"Kenapa Pangeran melakukan ini padaku? Bukan aku yang salah, tapi Zhaohan yang selalu mengganggu! Aku ... aku hanya membela diri dari Pangeran sialan itu dan neneknya yang bermulut pedas. Tapi, tanpa bertanya yang sesungguhnya, Zhaozu mengusirku seperti ini!" lirih Xin'er seraya menutupi wajah menggunakan telapak tangan.
Awalnya dia tak mempunyai perasaan pada Pangeran Ketiga. Namun, seiring kebersamaan mereka selama setengah tahun ini, membuat Xin'er yakin bahwa Zhaozu pria yang baik dan suami yang tepat untuknya. Walaupun pria itu jauh dari kesempurnaan, tapi dia selalu menghormati dan menghargai Xin'er layaknya seorang istri.
Pangeran Ketiga tak pernah memaksakan kehendak apapun pada istrinya, sehingga Xin'er merasa sangat beruntung dan bahagia hidup bersama dengannya. Tapi sekarang, dia berubah seakan menganggap Xin'er tak berarti.
Tangannya menepuk keras kepala sambil berteriak. "Bodoh ... bodoh ... bodoh! Seharusnya aku tak menghiraukan mereka, sehingga Pangeran Ketiga tak melihat kejadian itu. Aku sungguh bodoh," cetusnya seraya terus memukul kepala dengan keras.
Melihat Nona-nya seperti itu, Mengshu dan Yuelie segera menghentikannya dengan menahan tangan Xin'er supaya tak memukul lagi. "Nona. Apa yang Anda lakukan? Jangan melakukan ini! Kami mohon untuk tidak menyakiti diri Anda sendiri, Nona!" ucap keduanya bersamaan masih dengan usahanya.
Mendengar keributan dari dalam kamar Tuannya, Tangsin segera mengetuk pintu kamar. "Nona. Apa yang terjadi? Tolong buka pintunya!" ucap Tangsin sambil terus mengetuk pintu.
Mengshu bergegas membuka pintu karena merasa tak bisa menghentikan aksi Xin'er yang terus menyakiti diri sendiri.
Setelah pintu terbuka, Tangsin segera masuk dan menahan tangan Xin'er yang terus memukul kepalanya sendiri. Gadis itu terlihat frustasi dengan kejadian yang menimpanya hari ini.
Tangsin memberikan pengertian agar Xin'er tak bersikap gegabah dan terburu-buru menarik kesimpulan atas keputusan Pangeran yang mendadak ini. Barang kali, Pangeran mengalami masalah saat ini dan mengharuskan ia mengambil tindakan diluar keinginannya.
Setelah diberikan pengertian oleh Tangsin, Xin'er terdiam dan tak menyakiti dirinya lagi, serta berhenti menangis. Dia juga tertidur karena malam sudah semakin larut.
__ADS_1
Pagi menjelang. Rombongan kembali berangkat menuju kediaman Perdana Mentri Yun. Setibanya di sana, Xin'er bergegas masuk kedalam kamarnya dan tak menghiraukan seruan siapapun, termasuk ayah dan kakak kandungnya.
Dia tak berniat menjelaskan apapun, serta sangat malas jika harus ditanya perihal kepulangannya yang mendadak. Ditambah lagi, mereka pulang tanpa pengawalan dari prajurit istana.
Melihat putrinya yang melenggang pergi ke kamarnya tanpa bertegur sapa, Tuan Yun tahu jika ada sesuatu yang disembunyikannya. Beliau lekas menyuruh Tangsin masuk ke ruang kerjanya dan meminta penjelasan dari pengawal pribadinya tersebut.
Tangsin pun menjelaskan perihal masalah yang menimpa putri majikannya itu. Dia sungguh menyesal karena tak dapat melakukan apapun selain membawanya pulang kemari.
Tapi, itu membuat Tuan Yun lega. Dengan sifat keras kepala Xin'er, pasti gadis itu takkan mau dibawa pulang dan memilih menyendiri di tempat lain. Untungnya, Tuan Yun menyuruh Tangsin ikut menjaganya. Sehingga, Tangsin tahu apa yang harus dilakukan.
Setelah Tangsin keluar, Nyonya Yun masuk dan menemui suaminya. Dia pun bertanya kenapa Xin'er pulang secara tiba-tiba? Namun, Tuan Yun tak berbicara apapun dan hanya bilang jika Xin'er yang meminta pulang karena merindukan rumah.
Tapi, Yun Muning tak percaya begitu saja. Dia mencari tahu masalah kepulangan Xin'er dari sumber mata-mata yang dikirim ke Istana. Dari mata-mata itulah, Muning tahu bahwa putri tirinya itu pulang karena diusir oleh suaminya.
"Ternyata, cuma dalam waktu enam bulan saja dia bertahan di dalam istana. Cih, aku yang berlebihan dengan menganggap dia lebih beruntung nasibnya daripada aku. Ternyata, dia menderita di sana. Hahaha!" cetus Mingna sambil tertawa lepas.
Betapa senang bukan kepalang. Mendengar hal yang mengejutkan ini, Muning dan kedua anaknya sampai mengadakan pesta kecil untuk merayakannya. Hal ini akan mereka gunakan untuk menghina dan menyakiti Xin'er lagi.
Sebulan telah berlalu. Xin'er masih terlalu malas keluar rumah, bahkan keluar dari kamarnya. Dia pun terlihat sedikit kurus karena jarang makan, juga kurang tidur. Pikirannya selalu melayang entah kemana.
Memikirkan perlakuan Pangeran Ketiga kepadanya, rasanya membuat hati dan pikirannya terganggu. Ditambah, masalah itu bukan disebabkan olehnya melainkan Pangeran Zhaohan dan Ibu Suri. Tapi, kenapa Zhaozu tak percaya padanya?
Sesungguhnya, ia tak bersemangat walau hanya untuk pergi keluar kamar. Kalau bukan Mengshu dan Yuelie yang memaksanya, dia tak kan mau pergi ke pekan raya yang berada di pusat kota itu.
"Nona, ayolah! Ini sangat menyenangkan," kata Mengshu seraya menarik tangan Xin'er untuk mengikutinya. "Paman, kami ingin menaiki komedi putar ini!" pinta Ashu kemudian sambil menyerahkan uang untuk membayarnya.
Ketiganya langsung masuk dan menaikinya setelah Paman penjaga membukakan pintu untuk mereka. Senyum Xin'er sedikit tersungging melihat kehebohan kedua pelayannya. Dia sejenak melupakan masalah yang dihadapinya didalam istana.
Mereka berkeliling pekan raya tersebut dan mencoba berbagai wahana yang ada. Sungguh, hati Xin'er sedikit terhibur setelah bermain bersama kedua pelayannya. Hal sederhana seperti ini saja sudah membuatnya senang, apalagi jika suaminya selalu percaya padanya.
Xin'er bertekad melupakan masalahnya dan membiarkan semua mengalir apa adanya. Dia akan menerima apapun keputusan yang diambil Zhaozu untuknya. Jika suaminya memutuskan untuk mengakhiri hubungan, maka dia pun akan menerimanya. Toh, mereka belum dibebani seorang anak yang akan memperumit hubungan kedepannya.
"Baiklah, Zhaozu. Aku ikuti apa mau mu!" tekadnya dalam hati.
•
__ADS_1
•
Sebulan yang lalu ...
Pangeran Zhaohan terus mengganggu Xin'er dengan mengatakan akan membuatnya menjadi istrinya. Namun, Xin'er selalu menolaknya dengan halus ataupun kasar. Tapi, dengan gigih pria tersebut berusaha menundukkan Xin'er, bahkan mencoba melecehkannya.
Xin'er yang berjiwa petarung, dengan berani menyerang tanpa ragu. Walaupun tidak memakai pedang, gadis itu cukup mahir dalam ilmu bela diri.
Mereka terlibat perkelahian di sebuah tempat yang cukup sepi dan jauh dari Istana keduanya. Tapi, justru itulah masalah yang menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.
Xin'er yang terus menyerang karena sudah muak akan perlakuan Zhaohan padanya, tak tahu jika itu adalah jebakan yang sengaja dibuat untuknya. Zhaohan yang terus bertahan dari serangan Xin'er, hanya meringis sambil menyeringai penuh kemenangan.
Bakk ... bugh ...
Pukulan dan tendangan yang Xin'er berikan hanya dilawan dengan kepasrahan supaya terlihat meyakinkan. Pakaian Zhaohan sudah sobek dibeberapa bagian dan dia pun terlihat tak berdaya.
Saat pria itu terjatuh, dengan cepat Xin'er menindihnya, bermaksud akan memukul wajah mesum si pria kurang ajar itu. Tapi, apa yang selanjutnya terjadi membuat dirinya malah tak bisa berkutik.
Tiba-tiba, Ibu Suri datang ke tempat tersebut dan melihat Zhaohan yang berada dibawah Xin'er. Zhaohan yang sudah melihat kedatangan neneknya, segera menarik tangan Xin'er sampai terjatuh dengan wajah yang menubruk dada bidangnya.
Saat Xin'er marah dan akan melayangkan pukulan lagi, tangan Ibu Suri menarik rambutnya dengan keras sampai gadis itu berdiri sambil memegangi rambutnya. Tak berhenti disitu, wajah Xin'er pun ditampar berulang kali sampai terhuyung karena tak siap menerimanya.
"Gadis lancang! Kau tak pernah bersyukur sudah dinikahi cucu ketiga-ku dan sekarang berusaha menggoda cucu pertamaku? Apakah ini sifat aslimu? Seorang jal@ng!" maki Ibu Suri dengan keras.
Xin'er membulatkan mata mendengar hinaan nenek suaminya. Dia berusaha menjelaskan tapi percuma. Apapun yang dikatakannya tak pernah didengar, bahkan dirinya diseret ke kediaman Pangeran Ketiga dan dipermalukan oleh Ibu Suri dihadapan semua pelayan.
Gadis itu menepis tangan Ibu Suri yang menarik rambutnya dengan keras, sampai rambutnya tercabut beberapa helai. Rasa sakit yang dialami tak seberapa dengan penghinaan yang didapat. "Aku tidak salah, nenek tua. Dia yang berusaha melecehkan ku dan terus menggangguku! Cucu tercintamu itu ingin menodai kehormatan ku dan kau membelanya. Dasar, nenek tua tak tahu diri!" teriak Xin'er.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya, menambah luka lebam akibat pukulan sebelumnya. Xin'er terkejut sampai menoleh kearah sampingnya. Matanya membulat sempurna setelah melihat pelaku tamparan tersebut.
Bukan Zhaohan, Ibu Suri, ataupun yang lainnya, melainkan suaminya. "Minta maaf pada Ibu Suri!" titah Zhaozu pada istrinya.
"Tidak! Mereka yang memulai terlebih dulu. Aku hanya membela diri." tegas Xin'er tak mau mengalah.
__ADS_1
"Kalau begitu, baiklah! Pulanglah ke rumah orang tuamu! Aku tak ingin melihatmu disini." ucap Zhaozu, kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka semua.
Mulut Xin'er tak bisa berucap apapun saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Perkataan itu jelas terdengar dan menggetarkan jiwanya. "Jadi, dia mengusirku!"