Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Terungkapnya Kebenaran


__ADS_3

Zhaozu saat ini tengah berada di Rumah Bordir yang ada di pusat kota. Minuman keras berjejer rapih di meja, serta para gadis cantik nan seksi duduk menemaninya.


Kedua pengawal bayangan, Liu Wei dan Yu Xuan, tak bisa menghentikan Tuannya untuk tidak menyentuh minuman beralkohol tersebut. Kejadian satu tahun yang lalu, yang membuat Zhaozu menjadi seperti sekarang. Pemurung, pemabuk, bahkan, dia juga menjadi pemarah.


Dia bahkan sangat kasar kepada siapapun, tanpa terkecuali pada ibunya. Zhaozu kini membenci sang Permaisuri dengan alasan yang kuat. Dia tak mau bertemu, bahkan cenderung menghindar saat di dalam Istana.


Semenjak laporan yang disampaikan kedua pengawal bayangannya, Zhaozu berubah menjadi seperti sekarang. Cadar hitam yang selama ini menutupi wajahnya, ia buka didepan semua orang. Dia sudah tak perduli dengan musuh yang masih berkeliaran di luar sana karena, musuh yang selama ini ia cari ada didepan mata dan juga selalu berada dekat dengannya.


Ya. Musuh yang selalu membuat dirinya menyembunyikan identitas dan membagi jadi dua karakter, ternyata selalu disampingnya. Menemaninya setiap waktu, serta menyayanginya sepenuh hati. Musuh dalam selimut, itulah panggilan yang cocok untuknya.


Zhaozu mencengkram kuat kepalan tangannya saat mengingat kabar yang dibawa Liu Wei dan Yu Xuan setahun yang lalu.


"Yang Mulia. Kami sudah memastikan bahwa kereta tahanan tidak sampai di daerah perbatasan!" Zhaozu terkejut mendengar laporan tersebut.


"Apa? Lalu? Kemana para prajurit membawa mereka?"


"Kami memutar arah menuju jalur berbeda yang jarang dilalui warga," Liu Wei menjeda ucapannya. Sebelum berucap kembali, dia melirik sekilas Yu Xuan yang mengangguk pasti. "Dan kami ... menemukan sesuatu di area hutan angker," ucap Liu Wei dan Yu Xuan bersamaan.


Kening Zhaozu mengernyit menatap ekspresi wajah kedua pengawal bayangannya. Terlihat jelas rasa takut dan cemas bercampur jadi satu dari raut wajah keduanya. Zhaozu yakin bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu. "Katakanlah!" ucapnya singkat.


Tangan Liu Wei mengulurkan suatu benda kearah Zhaozu yang diterima dengan keterkejutan. Benda tersebut berlumuran darah yang sudah mengering.


'Jepit rambut bunga matahari? Ini ... tidak ... tidak! Ini pasti hanya mirip saja!" batin Zhaozu menepis keras kemungkinan yang terjadi.


"Jepit rambut ini kami temukan disamping mayat seorang perempuan. Namun, jasadnya sudah sedikit membusuk dan kondisinya juga mengenaskan. Kami tidak bisa mengenali mayat itu, Yang Mulia!" tutur Liu Wei menjelaskan.


Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Zhaozu. Mendengar kata mayat perempuan, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Tangannya gemetar saat menerima jepit rambut bunga matahari tersebut. Barang berharga yang pernah ia berikan sebelumnya kepada Xin'er, hanya ada satu di Dunia ini. Jadi, tidak mungkin ada benda seperti itu lagi di belahan Dunia manapun karena, jepit rambut itu di buat khusus olehnya waktu itu.


Zhaozu berbohong kepada Xin'er bahwa dia membelinya di toko perhiasan. Padahal, benda tersebut dibuat oleh tangannya sendiri. "Ini miliknya, suaranya mulai bergetar kala menyentuh benda tersebut.


"Yang Mulia. Mungkin saja jepit rambut ini sama persis dengan milik Tuan Putri," Liu Wei berusaha menghiburnya. Namun, Zhaozu segera menggelengkan kepalanya.


"Jepit rambut ini aku sendiri yang membuatnya. Jadi, tidak mungkin ada yang menyerupainya dimana pun!" suara Zhaozu semakin lirih nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Liu Wei dan Yu Xuan hanya diam tak bisa berkata apapun lagi. Mereka memberikan ruang bagi Tuannya untuk merenung sekejap.


Tangan Zhaozu menggenggam erat jepit rambut milik Xin'er tersebut. Dia memejamkan mata sebelum berucap, "kita ke hutan angker sekarang!"


"Baik!" serempak keduanya menjawab.


...💫💫💫💫...


Di Hutan Angker.


Para prajurit dan kepolisian kerajaan tengah mengumpulkan potongan-potongan tubuh mayat yang mereka temukan. Tim Medis ikut terjun dalam pencarian ini.


Semua potongan yang ditemukan segera diambil alih oleh Tim Forensik untuk dilakukan autopsi. Bukan hanya tiga mayat seperti yang ditemukan oleh Liu Wei dan Yu Xuan. Ternyata, lebih dari dua puluh mayat tergeletak dengan mendapatkan luka yang sama. Seluruh tubuhnya tak utuh lagi, bahkan ada yang sudah tinggal kepalanya saja. Sungguh tragis kematian yang didapatkan mereka di hutan angker ini.


Setelah dilakukan autopsi, semua potongan bagian tubuh yang cocok segera disatukan dan dimakamkan dengan layak. Mereka pun mengidentifikasi semuanya dan menandai kantung mayat tersebut dengan nama masing-masing korban.


Ada nama di salah satu kantong mayat yang membuat hati Zhaozu semakin sakit saat melihatnya. Rasa tak percaya sekaligus penyesalan hinggap dalam dirinya. Tubuhnya luruh ke tanah mendengar laporan Dokter Forensik padanya. "Semua ciri-ciri dan DNA-nya cocok dengan Tuan Putri, Yang Mulia!"


Zhaozu terdiam seribu bahasa. Netra Elang itu kini tertunduk sayu dengan berkaca-kaca. Tangannya hanya mencengkram kuat dedaunan kering yang berguguran di tanah. Sakit, sedih, menyesal, tak bisa diungkapkannya lewat ucapan. Hanya bahasa tubuhnya yang bisa ditangkap sebagai bukti rasa bersalahnya pada sang Istri.


Hari menjelang sore, tapi pria itu tetap tak bangkit dari tempatnya. Tak ada niatan untuknya beranjak dari tempat dimana jasad Xin'er ditemukan. Walaupun bau busuk yang menyengat menusuk Indra penciumannya, tapi dia tak terganggu sedikitpun.


Zhaozu mendongakan wajahnya keatas dan mulai berteriak. "Kenapa Dewa? Kenapa Kau ambil Istriku dengan cara seperti ini? Kenapa? Kenapa Dewa?" luruh sudah cairan bening yang sedari tadi menggenang dipelupuk matanya. "Percuma aku menjadi orang terkuat, jika aku tidak bisa melindungi Istriku sendiri." Zhaozu tertunduk sambil menangis tersedu. Dia tak bisa menahan sesak di dada yang seakan menghimpit jiwanya untuk mati.


Tangan Liu Wei dan Yu Xuan menyentuh pundak Zhaozu dengan perlahan. Jujur, keduanya ragu untuk melakukan hal tersebut. Tapi, mereka pun bersedih saat melihat Tuannya menangis seperti itu. "Yang Mulia!"


Masih dengan wajah menunduk, Zhaozu berkata. "Xin'er pasti ketakutan saat menghadapi para Binatang itu. Dia pasti berteriak memanggil namaku untuk meminta pertolongan," celoteh Zhaozu tanpa menyahuti teguran kedua pengawal bayangannya.


"Yang Mulia!"


"Dia ... dia pasti berusaha melawan dengan sekuat tenaganya. Tapi ... tapi, kekuatannya kalah jauh dengan penghuni hutan ini. Dia pasti ... pasti ...!"


"Yang Mulia!"

__ADS_1


"Haaaaaaaaaa," teriakan Zhaozu hanya dipandang prihatin oleh kedua pengawal bayangannya itu.


Liu Wei dan Yu Xuan membiarkan Tuannya menumpahkan semua kesedihan saat ini. Mereka tak ingin jika Zhaozu menunjukan kelemahannya ini dihadapan semua orang. Maka dari itu, keduanya tetap membiarkan Zhaozu menangis di hutan angker ini. Mungkin dengan begitu bisa membuat dirinya lebih tenang.


Cukup lama Zhaozu dan kedua pengawal bayangannya di hutan angker itu. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukan malam. Lolongan Anjing hutan terdengar dari kejauhan. Ketiganya mendongak mencari sumber suara berasal.


Aaauuuuu,


Suara Serigala itu kembali terdengar dan sangat jelas. Langkah kaki kecil mereka berlarian mendekati posisi dimana ketiga pria itu berada.


Gggrrrrrr,


Seringai menakutkan dari erangan Binatang itu hingga menampakan gigi mereka yang panjang serta runcing. Cakar-cakar dari kuku panjang jelas terlihat diantara jari-jari kaki mereka.


Tajam. Itulah gambaran daripada cakar dan gigi taring Serigala dihadapan mereka ini. Tubuh mereka pun sangat besar dan juga cukup panjang.


Zhaozu bangkit saat melihat Binatang buas yang di duga merenggut nyawa istrinya. Dia mengeluarkan pedang Naga Kembar dari sarungnya, dan bersiap menebas para Anjing hutan ini. "Kalian sekolompok binatang rendahan. Beraninya kalian merenggut nyawa Istriku!"


Tap ... tap ... tap


Zhaozu berlari dengan gesit menuju para penghuni hutan angker ini sembari mengayunkan pedangnya kedepan. Tujuannya hanya satu, membantai para penghuni hutan sampai habis tak tersisa. Pergerakannya yang tiba-tiba dan cepat, tak bisa di prediksi oleh Binatang buas tersebut. Sehingga, mereka harus mendapatkan kelembutan dari pedangnya Zhaozu.


Melihat Tuannya bergerak maju untuk membunuh para Serigala tersebut, Liu Wei dan Yu Xuan segera membantunya. Keduanya tak tinggal diam dan lekas menebas penghuni hutan angker tersebut.


Walaupun pergerakan Serigala hutan sangat cepat, tapi ketiga pria itu pun tak kalah cepat. Mereka bergerak seperti angin yang hanya melewati tubuh para Serigala itu.


Sring ... sring ... crash ... crash ... sleb.


Kelompok Serigala hutan itu terkapar dengan darah segar mengucur dari luka goresan yang didapat akibat tebasan pedang Zhaozu dan kedua pengawal bayangannya.


"Rasakan kau, bedebah!" sungguh geram hati Zhaozu saat ini. Dadanya naik turun seiring emosi yang meluap.


Marah. Tentu dia sangat marah saat ini. Dia seperti orang kesetanan yang haus akan darah. Walaupun dirinya sudah membantai habis kelompok Serigala tersebut sampai seluruh pakaiannya dipenuhi darah, tapi ia tetap tak merasa puas karena perasaan bersalahnya pada Xin'er.

__ADS_1


"Haaaaaaaaaa," sekali lagi Zhaozu berteriak seperti orang kesetanan. Dia tak perduli jika ada orang lain yang mendengar teriakannya.


...Bersambung, gaess ......


__ADS_2