
Perjalanan menuju perbatasan tak semulus yang mereka pikirkan. Terlebih, waktu sudah menunjukan malam, dan ini saat-saat paling berbahaya.
Seperti yang dikatakan Tuan Hong pada Permaisuri. Di daerah perbatasan, ada sekelompok perampok yang menamai dirinya dengan sebutan Setan Darah. Perampok tersebut terkenal dengan kekejaman serta jebakan-jebakan yang tak bisa dihindari mangsanya.
Entah kenapa, perampok itu lebih memilih memburu daging Manusia dibandingkan daging Binatang. Mungkin, mereka mempunyai kelainan, atau juga ... mereka itu memang Monster berkedok Manusia.
Entahlah!
Yang pasti, mereka sangat menakutkan.
Dari kejauhan, sebuah perahu menepi di Dermaga Desa Khuthang. Mereka segera turun dari perahu dan bergegas pergi meninggalkan perahu, takut tersusul oleh pasukan kerajaan yang dipimpin Zhaohan.
Pasukan Xili memang mengikuti mereka dari belakang, tapi belum bisa menyusul karena perahu yang ditumpangi Zhaoling bergerak lebih cepat. Sehingga, mereka tak tersusul oleh pasukan kerajaan. Terlebih, Panglima Xili itu mengeluarkan kabut tebal dengan kekuatannya, supaya menutupi penglihatan mereka.
Jihu berusaha berjalan dibantu Yoona, karena luka di lengannya terus mengeluarkan darah yang membasahi pakaiannya. Dia terus menahan sekuat tenaga supaya tak membuat adiknya cemas.
Zhaoling melihat Jihu meringis, namun terlihat biasa saat Yoona menatapnya, dia merasa kasihan dan harus melakukan sesuatu untuk membantu Jihu. Dia berlari terlebih dulu dan memeriksa keadaan sekitaran. Setelah itu, ia bergegas kembali dan menyuruh mereka untuk mengikutinya.
"Di sana ada pemukiman warga. Kita bisa menumpang di rumah penduduk untuk sementara waktu, supaya bisa mengobati luka kakakmu!" usul Zhaoling kepada Yoona seraya menyentuh pundaknya.
Yoona menepis tangan Zhaoling yang mendarat di pundaknya dengan keras, "jangan menyentuhku! Singkirkan tanganmu itu," ketusnya seraya menggeser tubuh menjauhi Zhaoling. Yoona menatap suaminya dengan sengit, "jangan coba-coba mendekatiku!"
Melihat Yoona yang judes, seketika Zhaoling terkekeh pelan. Dia tak marah dengan sikap kasar istrinya itu, karena bagaimana pun dia yang salah. Zhaoling mengangkat kedua tangannya seraya mengangguk.
Wanita itu melengos dan segera membantu kakak angkatnya berjalan kembali. Mereka segera berjalan menuju kearah pedesaan, karena waktu sudah semakin larut.
__ADS_1
Desa Khuthang adalah tempat yang cukup aman untuk mereka beristirahat malam ini, tapi tempat ini juga akan menjadi tempat berbahaya jika pasukan Zhaohan sudah sampai di tempat ini karena sebelumnya Jihu mengatakan akan pergi ke Desa tersebut.
"Kita tidak boleh tinggal di sini terlalu lama, karena pasukan Xili pasti akan segera menyusul kemari." kata salah satu anggota kelompok.
"Betul. Bukankah Tuan Muda Jihu sudah memberitahukan masalah ini pada Pangeran Pertama, bahwa kita menuju Desa Khuthang? Mereka pasti menyusul kita kemari," timpal yang lainnya dan dibenarkan semua orang.
Zhaoling maju ke depan untuk menyampaikan perkataannya. "Lalu, kemana kita akan pergi malam ini? Kita tidak bisa menempuh perjalanan di malam hari, sebab ada banyak bahaya yang mengintai." ujar Zhaoling. "Di daerah sini ada sekelompok perampok berdarah dingin pemangsa Manusia. Aku tak bisa membiarkan kalian dalam bahaya," lanjutnya lagi.
"Betul apa yang dikatakan Tuan Panglima, bahwa di daerah sini terdapat sekelompok perampok pemangsa Manusia. Bukan hanya merampok seluruh harta benda, mereka juga membunuh mangsa dengan keji." ucap Jihu membenarkan perkataan Zhaoling tadi. "Sebaiknya kita cari tempat aman dulu untuk istirahat malam ini. Besok pagi, baru kita pergi menyusul yang lain ke tempat tujuan kita. Ayah pasti sudah menunggu kita di sana," ujar Jihu lagi memberikan pendapatnya.
Mereka semua mengangguk menuruti perkataan Pemimpinnya tersebut. Lagi pula, tak ada yang mau mengambil resiko untuk mati di tangan perampok Setan Darah.
Zhaoling dan kedua pengawal bayangannya berjalan terlebih dulu untuk memimpin perjalanan mereka menuju desa terdekat, yaitu Desa Khuthang. Di desa tersebut terdapat satu penginapan, namun sudah dipenuhi orang-orang yang sampai tadi siang dan belum melanjutkan perjalanan kembali.
Semua anggota kelompok Jihu berterima kasih pada Zhaoling, karena pria itu berkali-kali menolong pada saat kesulitan. Kini, mereka tak berpikiran buruk lagi terhadap Zhaoling dan setuju jika pria itu kembali pada Nona Kelimanya.
Namun, hati Yoona tak bisa diluluhkan hanya dengan sikap seperti itu. Dia terlanjur sakit hati dan tak percaya lagi pada pria yang telah menipunya dimasa lalu itu. Yoona merasa jika sikap Zhaoling saat ini adalah sebuah kepalsuan semata, hanya untuk menarik dirinya kembali dalam hidup pria itu.
Tapi, Zhaoling memang tak berharap banyak untuk saat ini. Karena dia mengerti akan rasa sakit yang dirasakan istrinya dimasa lalu karena ulahnya.
Waktu sudah menunjukan tengah malam. Suasana Desa terlihat sunyi sepi, tanpa ada orang yang berkeliaran lagi. Mereka semua terlelap di alam mimpi masing-masing, dengan dengkuran halus terdengar.
Tapi, ada seseorang yang masih terjaga di salah satu sudut rumah tersebut. Dia adalah Yoona. Wanita itu duduk di salah satu jendela dengan menengadahkan kepalanya keatas, menatap indahnya rembulan yang menyinari malam ini. Entah apa yang dipikirkan wanita itu saat ini, karena dia terlihat sangat frustasi.
"Belum tidur?" Sebuah suara mengejutkan dirinya, hingga Yoona sontak menoleh ke belakang.
__ADS_1
Wanita itu melengos setelah melihat bahwa pria yang menegurnya itu adalah Zhaoling. "Bukan urusanmu," ketusnya.
Zhaoling berjalan mendekati Yoona yang terlihat memalingkan kembali wajahnya kearah Langit. "Xin'er. Aku sungguh minta maaf," ucapnya penuh penyesalan. "Kau tahu, aku sangat hancur saat dirimu dinyatakan telah tiada. Hidupku seakan tak berarti lagi," ungkapnya dengan sedih. "Aku merindukanmu, Xin'er!" lanjutnya kemudian.
Yoona tak menanggapi ucapan Zhaoling, lebih tepatnya dia tak tertarik sedikitpun. Dia tak mau tertipu kembali oleh pria yang telah jadi suaminya itu. Namun, Yoona memang tak menampik bahwa dirinya pun sangat merindukan pria dingin tersebut. Beberapa tahun berpisah membuat Yoona sadar akan rasa cintanya terhadap Zhaoling, tapi rasa benci mendominasi hatinya hingga perasaan itu hilang.
Zhaoling memberanikan diri menggenggam tangan istrinya sambil berlutut, "beri satu kesempatan untukku lagi! Aku janji akan memperbaiki semuanya," lirihnya penuh harap.
Melihat tatapan kesedihan di mata sang suami, membuat Yoona sedikit melunak dan mengulurkan tangannya menyentuh kepala Zhaoling. Namun, bayangan kenangan pahit di Istana membuat dia sadar kembali, bahwa rasa sakit itu tetap membekas dihatinya. Yoona berdiri setelah menyentak tubuh Zhaoling dengan keras. "Tidak akan pernah!" tegasnya seraya berpaling.
Zhaoling tertegun mendengar ucapan istrinya barusan. Dia sadar bahwa kesalahannya begitu besar terhadap Yoona. Maka dari itu, dia tak marah saat Yoona terus bersikap kasar padanya. Zhaoling tersenyum miris mendapati dirinya yang tak bisa berkutik dihadapan wanita yang dicintainya.
"Apa kau membenciku?" tanya Zhaoling tanpa menoleh.
"Sangat," sahut Yoona singkat.
Zhaoling tertunduk lesu. "Apa kau ingin aku pergi selamanya darimu?" bertanya lagi masih dengan posisinya.
"Tentu! Aku sangat ingin kau pergi jauh dari hidupku. Aku sangat membencimu hingga tak ingin melihatmu lagi," sentak Yoona penuh kekesalan. Bahkan, wajahnya terlihat memerah karena emosi.
Zhaoling semakin tertunduk. Dia diam sejenak, kemudian berdiri dan menghadap Yoona dengan tatapan sendu. "Aku janji, setelah memastikan keselamatanmu sampai tempat paling aman, maka aku akan pergi untuk selamanya." ucapan Zhaoling seketika membuat Yoona tertegun. "Xin'er. Aku cuma ingin kau mengingatnya, bahwa selamanya aku akan tetap mencintaimu. Tak ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, siapapun itu!" lanjut Zhaoling lagi.
Setelah mengatakan apa yang ingin diucapkan, Zhaoling pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat dimana Yoona berada. Hati Yoona begitu sakit setelah mendengar perkataan itu dari mulut Zhaoling. Tak terasa, air matanya luruh begitu saja melihat Zhaoling yang pergi tanpa menoleh kembali. Bukankah dirinya yang meminta Zhaoling untuk pergi? Lalu, kenapa ia sekarang menangis?
...Bersambung ......
__ADS_1