Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Menyelamatkan Yoona


__ADS_3

Pasukan Zhaohan bergegas mengejar rombongan Jihu yang masuk kedalam hutan Chang Chute. Namun, ada beberapa yang berhenti tak melanjutkan pengejaran karena tahu bahwa di dalam hutan tersebut terdapat sekelompok makhluk mengerikan pemangsa Manusia. Selain menjarah barang berharga, mereka pun mengincar tubuh mangsanya untuk dimakan oleh mereka. Terlebih bagian dalaman Manusia yang sangat disukai mereka. Selain lembut, rasanya pun sangat nikmat, kata mereka.


Melihat prajuritnya berhenti begitu saja, Zhaohan pun marah. "Kenapa kalian berhenti di tengah jalan? Ayo, lekas kejar mereka!" titahnya seraya membentak mereka.


"Maaf, Yang Mulia. Ka-kami takut dimangsa penghuni hutan ini," cetus para prajurit.


"Penghuni hutan? Memangnya makhluk apa yang menghuni hutan ini, hah?" bentak Zhaohan lagi bertanya dengan kesal. "Cepat masuk, atau ku tebas leher kalian sekarang juga!" ancamnya seraya mengacungkan pedang. "Lagipula, kalian kan banyakan. Kenapa takut kepada makhluk penghuni hutan ini?" lanjutnya lagi.


Para prajurit saling memandang dengan ketakutan. Mereka ragu untuk masuk kedalam hutan, hanya sekedar mengejar buronan, mereka harus berkorban. "Pangeran Zhaohan tidak tahu jika penghuni hutan ini bukan Manusia ataupun Hewan. Tapi Siluman mengerikan," lirih mereka tanpa di dengar Zhaohan.


Dengan langkah lesu, semua pasukan masuk kedalam hutan yang gelap tanpa penerangan tersebut. Namun, belum jauh mereka berjalan, terdengar jeritan seseorang yang minta tolong.


"Bong!" panggilan rombongan Jihu terdengar samar oleh pasukan Zhaohan. Pria itu semakin bersemangat saat mendengar teriakan dari mereka dan menyuruh pasukannya untuk segera mengejar. "Ayo, kejar! Mereka belum jauh dari posisi kita saat ini," cetus Zhaohan penuh semangat.


"Tapi, Pangeran. Sepertinya mereka mendapat kesulitan," ujar salah satu prajuritnya.


Namun, Zhaohan tak perduli. Dia malah lebih semangat mendengar rombongan Jihu mendapat kesulitan. Itu artinya, Jihu dan rombongannya akan tertahan beberapa menit sebelum mereka bisa menyusulnya. Zhaohan tidak tahu jika di dalam sana, bahaya pun akan menyertai pasukannya.


Keadaan hutan semakin gelap setelah mereka masuk lebih dalam. Tak ada sedikitpun cahaya yang menembus hutan tersebut, sehingga membuat pasukan harus berjalan lebih hati-hati.


Saat berada di pertengahan jalan, mereka kembali mendengar teriakan rombongan Jihu yang berteriak minta tolong. Namun, mereka tak tahu apa yang terjadi.


"Pasti mereka dimangsa Perampok Setan Darah," cetus beberapa prajurit yang mengetahui cerita tentang penghuni kawasan Chang Chute tersebut.


Walaupun Zhaohan sudah diberi tahu, tapi mereka tetap di suruh melanjutkan perjalanan untuk mengejar rombongan Jihu. Yang ada di pikiran Zhaohan saat ini yaitu, mengejar Xin'er supaya tidak bisa bersama Zhaoling lagi. Dia tak ingin adik tirinya kembali bersama Xin'er bagaimana pun caranya.


Zhaohan ingin memiliki wanita yang menjadi adik iparnya beberapa tahun yang lalu. Dia masih penasaran dengan madu yang dimiliki Xin'er, karena dia yakin Zhaoling pun belum menghisap madu murni tersebut. Jika Xin'er tertangkap olehnya, Zhaohan ingin membuat wanita itu jadi budak pelampiasan nafsunya. Pria itu selalu membayangkan rasanya bercinta dengan Xin'er yang masih tersegel rapih.


"Cepat, kejar!" titahnya dengan tak sabaran.


Mau tak mau, pasukannya bergerak untuk mengejar rombongan Jihu yang menurut mereka tidak jauh dari posisi saat ini.


Dengan langkah yang berirama, para pasukan terus melangkah seraya meningkatkan kewaspadaan mereka. Namun, belum jauh mereka melangkah, tiba-tiba beberapa sulur pohon menjerat leher mereka dan menariknya hingga keatas.


Srek ...


"Aaaaaakkkkhhh," teriak beberapa prajurit kesakitan. Mereka bahkan tak sempat mengelak karena sulur itu datang tanpa diduga.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya yang lain kebingungan. Mereka buru-buru membentuk formasi sambil berjalan mundur guna menghindari apapun yang ada dihadapan mereka.


"Kenapa kalian berhenti? Cepat, jalan lagi dan kejar mereka!" titah Jendral Jun pada pasukannya. Tapi, pasukannya itu tak bergerak sedikitpun membuat Jendral dan Pangeran mereka murka. "Ku bilang jalan ya jalan. Apa kalian tuli?" sentak Jendral Jun lagi.


Dengan terpaksa, mereka melangkah melanjutkan perjalan guna mengejar rombongan Jihu agar bisa menangkap mereka. Tapi, lagi dan lagi sulur akar dari pohon sekitar menjerat mereka semua dengan begitu cepat tanpa diketahui siapapun.


Sreeeekkk ...


"Aaaaaaarrrgghhh," kembali. Mereka hanya bisa menjerit ketika sulur itu melilit ditubuh hingga mencekik lehernya dengan kuat. Mereka pun mati diatas dengan bergelantungan terbungkus sulur pohon besar.


Para prajurit itu dijadikan stok makanan untuk mereka makan nantinya, setelah tak ada lagi yang bisa dimakan. Memang, Setan Darah tak memakan semua sekaligus, namun bisa makan daging Manusia sebanyak lima puluh orang dalam sekali berburu.


Semua prajurit berlarian dengan panik. Tapi, justru itu membuat mereka celaka, karena dengan mudah tali dari kulit batang pohon serta sulur akan menjerat mereka jika tercerai-berai seperti ini.


Dari dua ratus prajurit, yang tersisa hanya tiga puluh orang saja, termasuk Pangeran Zhaohan dan Jendral Jun.


Mereka mulai ketakutan dan berbalik untuk melarikan diri. Namun naas, jalan kembali tak bisa ditemukan karena gelapnya hutan tersebut, membuat mereka nyasar dan hanya berkeliling disekitar hutan tersebut.


Wuuuuussshhh


Angin kencang berhembus membuat cuaca disekitar lebih dingin dari biasanya. Setelah hembusan angin tersebut, disusul oleh sesuatu yang turun dari langit.


Pepohonan di sekitar bergoyang kesana kemari karena tertiup angin kencang, udara disekitar menjadi sangat dingin dibarengi salju yang turun menutupi area sekitar.


Bbbbrrrrrr


Semua orang merasakan kedinginan saat salju turun mengenai tubuh mereka dengan terbawa angin yang kencang.


"Turun badai salju," teriak mereka saling memeluk tubuh sendiri karena merasa kedinginan.


Saat angin berhembus kuat hingga merobohkan pepohonan sekitar, saat itulah mereka melihat pasukan yang tadi menjerit tergantung diatas dengan dibalut sulur serta tali kulit batang pohon. Kondisi mereka sudah tak bernyawa, terbukti dari lidah mereka yang menjulur karena cekikan kuat sulur tersebut.


"Astaga, mereka sudah mati!" ucap semuanya dengan mulut menganga.



Di tempat Jihu berada.

__ADS_1


Yoona yang sudah tak bisa bergerak pun terkulai lemah karena kehabisan oksigen. Bahkan, matanya tak sanggup terbuka lagi.


"Yoona," teriak Jihu dan yang lainnya berulang kali supaya adiknya itu kembali sadar. Namun, Yoona tak kunjung membuka matanya.


Makhluk mengerikan itu menyeringai menatap makanan di depan mata mereka, kemudian menjulurkan lidah hanya untuk mencicipi manisnya rasa makanan tersebut.


Namun, belum sempat lidah mereka menyentuh tubuh Yoona, angin kencang menerjang pepohonan membuat mereka harus berpegangan pada dahan yang kuat, agar tak terbawa badai tersebut.


Wuuuussshhh


Tubuh Yoona bergelantungan kesana kemari tertiup angin kencang, hingga jatuh kebawah dengan sangat keras. Namun beruntung, Zhaoling datang tepat waktu hingga bisa menangkap tubuh istrinya sebelum menyentuh kerasnya tanah hutan tersebut.


Zhaoling mendekap erat tubuh istrinya dalam pelukannya dan segera membawanya pergi dari tempat mengerikan ini. Dia tak perduli kepada Jihu dan yang lainnya, karena yang dia perdulikan hanya keselamatan istrinya, Yun Xin'er.


"Bertahanlah, sayang!" gumamnya ketika melihat wajah Yoona yang sudah membiru akibat cengkraman kuat tangan Setan Darah.


Dengan diikuti kedua pengawal bayangannya, Zhaoling membawa Yoona ke sebuah Goa yang cukup jauh dari hutan tersebut setelah mereka menemukan jalan keluar.


Badai salju turun semakin lebat, membuat semua daratan tertimbun sepenuhnya.


Setelah menemukan tempat cukup aman, ketiga pria itu masuk tanpa ragu untuk berlindung dari badai salju yang dahsyat ini. Mereka segera membuat api dari tumpukan daun dan ranting kering yang sempat mereka kumpulkan diarea sekitar Goa, sebelum tertutup salju sepenuhnya.


Dengan api unggun tersebut, setidaknya bisa membuat tubuh mereka sedikit hangat karena udara sekitar yang sangat dingin.


"Tubuhnya sangat dingin," lirih Zhaoling yang masih mendekap erat tubuh istrinya dan tak menurunkannya barang sejenak. Terlihat jelas kecemasan di raut wajahnya, ketika merasakan jantung Yoona semakin melemah. "Sayang, bangunlah!" pintanya seraya terus menciumi wajah dan tangan Yoona.


"Bawa dia lebih dekat kemari, Tuan. Biar lebih hangat," ujar Liu Wei dan langsung dituruti Zhaoling.


Pria itu menggosok-gosok telapak tangan, kaki, serta wajah Yoona dengan lembut. "Xin'er. Ku mohon, kembalilah!" namun, tak ada reaksi apapun dari istrinya itu. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali padaku?" ucapnya dengan sedih.


Keadaan hening seketika, saat melihat Zhaoling meneteskan air mata karena tak merasakan detak jantung Yoona lagi. "Jangan pergi, Xin'er! Ku mohon," lirihnya seraya memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


Namun, tiba-tiba saja Yu Xuan berkata. "Kau bisa menolongnya, Tuan!" Zhaoling maupun Liu Wei segera menoleh kearahnya. "Ya. Kau bisa menyelamatkannya, yaitu dengan cara ..."


•••


Apa hayo? Penasaran? Ditunggu besok ya! 😁😁✌️

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2