Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Musuh Kerajaan


__ADS_3

Teriakan seseorang membuat semua terperanjat sampai bangun dari tidurnya. Mereka terkejut dengan serangan tiba-tiba dari pasukan bersenjata lengkap. Baju zirah yang dikenakan adalah prajurit Kerajaan Xili.


"Serangan dadakan," mereka semua gegas bersiap mengambil senjata masing-masing.


Pedang, tombak dan perisai diambil asal untuk melindungi diri dari serangan prajurit Xili yang tiba-tiba tersebut. Mereka sekuat tenaga memberikan perlawanan untuk mempertahankan diri.


Trang ... trang ... sring ...


Suara pedang dan tombak saling beradu satu sama lain. Prajurit terus menggempur pertahanan musuh selagi mereka masih kelelahan karena baru bangun tidur.


Zhaoling, Liu Wei, dan Yu Xuan yang melihat pasukan Xili datang secara tiba-tiba pun langsung berteriak. "Hei, berhenti kalian semua! Hentikan pertempuran ini!"


Namun, prajurit seolah tak mendengar seruan pemimpin mereka dan terus menggempur musuh dengan membabi buta. "Haaaaaa," teriak pasukan Xili tersebut dengan penuh semangat.


Perampok bertopeng yang tak siap dengan serangan dadakan ini pun menjadi kewalahan saat bertarung. Banyak dari mereka yang terluka berat, bahkan mati di bunuh oleh prajurit.


"Hentikan ... hentikan!" teriak Zhaoling lagi. Namun, lagi dan lagi mereka mengabaikan seruan Zhaoling.


Jendral Hui segera mendekat bersama beberapa prajurit. "Panglima. Anda tidak apa-apa? Maaf, kami terlambat menyelamatkan Anda!" ucapnya penuh penyesalan.


"Jendral Hui. Segera perintahkan mereka untuk berhenti. Ini perintahku!" kata Zhaoling dengan tegas.


Jendral Hui menggelengkan kepalanya. "Maaf, Panglima! Pasukan ini di tugaskan langsung oleh Kaisar agar menumpas semua kejahatan dan segera menyelamatkan Anda," cetusnya tak kalah tegas. "Ayo, prajurit! Kita hancurkan kurungan besi ini agar Panglima Zhaoling bisa terbebas dari tempat ini," ucapnya menginstruksi tanpa memperdulikan perintah Zhaoling.


Para prajurit segera berusaha merusak kurungan yang terbuat dari besi tersebut, dan sebagian bertempur melawan Perampok Bertopeng. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan kurungan besi tersebut, namun nampaknya kurungan ini sangat sulit untuk dihancurkan.

__ADS_1


Zhaoling terus berteriak pada semua pasukannya. "Berhenti. Jangan menyerang mereka!" tapi tak ada yang mendengarkan perkataannya.


Zhaoling punya alasan untuk tidak menyerang Perampok Bertopeng tersebut, setelah mereka berbincang sebelumnya. Pria itu bertanya kepada Tuan Khong alasan mereka merampok para Bangsawan yang melewati perbatasan.


Tuan Khong sebagai pemimpin kelompok awalnya ragu untuk menceritakan alasan sesungguhnya kepada Zhaoling. Namun, pria itu meyakinkan Tuan Khong, bahwa ketiganya tidak akan menyerang mereka. Akhirnya, pria paruh baya itupun setuju untuk bercerita.


Tuan Khong menceritakan semua alasan dibalik perampokannya. Sebagai seorang rakyat miskin yang sering ditindas para petinggi, tentu Tuan Khong sangat membenci mereka. Rasa dendam yang membuatnya menjadi seorang penjahat Negara, namun pahlawan untuk semua rakyat jelata.


Sungguh sifat yang bertolak belakang dengan apa yang dipikirkan semua orang, termasuk Zhaoling. Tapi, walaupun seperti itu, perbuatan Tuan Khong dan kelompoknya adalah suatu kejahatan. Bagaimanapun, hukum masih berlaku di Negara ini dan tentunya ada penegak hukum.


Melihat pasukannya yang tak berhenti menyerang, Zhaoling pun marah. Apalagi, banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Sehingga Zhaoling mengeluarkan tenaga dalamnya untuk membengkokkan jeruji besi, agar ia bisa keluar dari kurungan tersebut.


"Haaaaaaaaa," kedua tangan Zhaoling mencengkram kuat jeruji besi tersebut, lalu menariknya dengan paksa.


Jeruji besi tersebut bengkok kemudian patah dan jatuh ke tanah. Dia bergegas keluar dari kurungan itu menuju ke tengah-tengah pertempuran.


Semua orang yang melihat kekuatan Zhaoling membelalakkan matanya. Mereka tidak menyangka jika pemimpin mereka ternyata sehebat itu. Lalu, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dia melakukan hal itu dan kabur dari sini?


"Aku bilang berhenti," teriaknya Zhaoling sambil merentangkan tangannya. Wajahnya berubah menjadi garang. Kali ini ia benar-benar marah.


"Panglima. Anda tidak bisa menghentikan kami begitu saja. Bagaimana pun, para penjahat itu harus segera ditangkap dan dibasmi dari muka bumi ini. Ini perintah langsung dari Kaisar," kata Jendral Hui dengan lantang.


Zhaoling menarik kerah baju Jendral Hui. Kau dibawah kepemimpinan ku. Jadi, kau harus tunduk terhadapku! Lagi pula, aku bisa mengurus mereka dengan caraku sendiri." tegasnya dengan nada tinggi.


Jendral Hui tak bergeming, dia tetap pada pendiriannya. "Maaf, Panglima Zhaoling. Walaupun Anda adalah pemimpin kami, tapi kedudukan Kaisar lebih tinggi dari pada Anda. Jadi, kami harus tetap melaksanakan tugas yang diperintahkan Kaisar!" sahutnya seraya menepis tangan Zhaoling.

__ADS_1


Zhaoling sangat geram dengan sikap yang diambil Jendral Hui saat ini. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa Jendral Hui mengabaikan perintahnya? Padahal, selama ini dirinya tak pernah sekalipun ragu akan rencana yang dilakukan Zhaoling untuk mengatasi semua masalah yang ada. Tapi hari ini, dia bertingkah sangat aneh.


Zhaoling menengadahkan tangan meminta sesuatu benda kepada Jendral Hui. "Mana token dari Yang Mulia, jika kau benar-benar dikirim olehnya!"


Jendral Hui terkejut karena Zhaoling menanyakan benda itu. Dia tampak kikuk dan salah tingkah. Ada sesuatu yang aneh yang tertangkap oleh penglihatan Zhaoling saat ini. Jendral yang selalu dipercayai olehnya, kemungkinan mengkhianatinya.


Tingkah Jendral Hui yang gelagapan membuat Zhaoling semakin curiga. Apalagi, dia gugup pada saat berbicara. "To-token Yang Mulia ada di kantung ini. Ta-tapi tadi terjatuh saat masuk ke dalam hutan," ujarnya.


Nada bicara Jendral itu membuat Zhaoling semakin yakin, bahwa ada yang tak beres. Liu Wei dan Yu Xuan yang mengerti akan apa yang dipikirkan Tuannya segera bertindak. "Mundur!" teriaknya pada para perampok bertopeng.


Perampok bertopeng yang tersisa hanya beberapa belas orang saja, termasuk Tuan Khong Guan dan kelima anak angkatnya. Mereka bergegas pergi setelah mendengar instruksi dari pengawal bayangan Zhaoling.


Melihat buruannya kabur, Jendral Hui marah. "Apa yang kau lakukan?" hardiknya pada Liu Wei dan Yu Xuan. Dia segera menyuruh pasukannya untuk mengejar, namun Zhaoling menghalanginya.


"Jika kalian berani mengejarnya, maka hadapi aku dulu!" ucap Zhaoling penuh penekanan.


Para pajurit tentu tak berani melawan Zhaoling, yang memiliki kekuatan besar. Mereka menoleh kearah Jendral Hui untuk meminta persetujuannya. Bagaimana pun, Zhaoling adalah Panglima sekaligus Pangeran Ketiga Xili. Mereka tak berani bertindak gegabah untuk menyerang pimpinan tertinggi itu.


"Panglima. Jika Anda menolak perintah Yang Mulia, berarti Anda menentang Kerajaan karena membela musuh!" seru Jendral Hui.


"Jika kau menganggap seperti itu, aku tidak menolaknya. Lagi pula, dulu Istriku juga dianggap pengkhianat dan diberi hukuman. Jadi, aku tak keberatan!" sahut Zhaoling dengan tegas.


Jendral Hui mengangguk. "Baiklah, Panglima. Jangan salahkan kami yang tak berbelas kasih padamu. Walaupun kau adalah Pangeran Ketiga, kami tetap tak kan segan untuk melawan mu. Bersiaplah menerima serangan kami," teriak Jendral Hui seraya mengangkat senjatanya. "Hiyaaaaaaaat,"


...Bersambung, gaess ......

__ADS_1


__ADS_2