Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Menyerahkan diri


__ADS_3

Seorang prajurit dengan luka cukup parah mendatangi markas militer kerajaan. Dengan langkah tertatih, prajurit tersebut mencoba menemui Panglima Besar. Namun, orang yang dituju sedang tak berada ditempatnya.


Tapi, prajurit tersebut tak menyerah dan berusaha mencari Jendral lain yang bertugas hari ini. Seorang Jendral yang baru saja kembali dari perang diperbatasan Kota Jeongnan menjadi tujuannya.


Bergegas, prajurit tersebut menemui Jendral Meng dan berbicara walaupun kesusahan, karena luka parah di sekujur tubuhnya. "Aku harus melaporkan masalah ini secepatnya pada Panglima, Jendral." ucapnya.


Jendral Meng lekas membantu prajurit tersebut dan membawanya ke Tabib kerajaan untuk diobati. Dia pun berterima kasih pada prajurit yang membawa kabar dengan kesusahan, walaupun dirinya sedang terluka.


Kemudian, Jendral Meng lekas mendatangi kediaman Panglima untuk menyampaikan berita tersebut. Namun, seperti yang prajurit itu katakan, bahwa Panglima sedang tidak berada di tempatnya.


Di saat bersamaan, Pangeran Ketiga melihat Jendral Meng yang sedang berada di kediaman Panglima. Wajahnya terlihat serius dengan menatap lekat pintu kayu kediaman Panglima.


Pangeran Ketiga segera menghampiri untuk menegur Jendral Meng. Awalnya, Jendral Meng ragu mengatakan yang sebenarnya. Namun, setelah didesak dan diyakinkan oleh Pangeran Ketiga, ia pun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya untuk menemui Panglima. Mereka terlibat percakapan serius di ruangan Panglima setelah Pangeran Ketiga membawanya masuk kedalam.


Walaupun keraguan terus menemani, namun Jendral Meng tak punya pilihan lain. Dia berharap, semoga Pangeran Ketiga bisa membantunya untuk menyampaikan berita tersebut kepada Panglima.


"Kau tenang saja, Jendral Meng! Aku akan bertanggung jawab atas keselamatan Jendral Jiu dan para prajurit yang dibawanya. Lagipula, akulah yang menyuruh mereka pergi." ucapan yang tak dimengerti oleh Jendral Meng, namun dia tetap mengangguk. "Lagipula, aku juga harus menyelamatkan nyawa kedua sahabatku!" gumam Zhaoling lirih, yang tak bisa didengar Jendral Meng.


Malam itu juga, Zhaoling pergi ke tempat yang dikatakan Jendral Meng. Tepatnya, posisi Jendral Jiu dan prajurit kerajaan, serta Liu Wei dan Yu Xuan di tahan. Zhaoling pergi seorang diri, tanpa ditemani prajurit ataupun Jendral Meng.


Bukannya dia merasa lebih hebat dan sombong, tapi dia tak mau membahayakan keselamatan semua orang lagi. Dirinya harus memastikan, siapa yang bisa melawan Liu Wei dan Yu Xuan, serta Jendral Jiu. Mengingat, ketiga orang itu bukan orang sembarangan yang mudah dikalahkan. Berarti, orang yang menghadapi ketiganya berilmu tinggi.


Jadi, Zhaoling penasaran dengan pemimpin pemberontak tersebut yang bisa mengalahkan murid dari Perguruan Naga Bayang dengan mudah.


Dengan hati-hati, Zhaoling mengendap masuk ke markas para pemberontak. Beruntung, mereka saat ini sedang berpesta minum-minuman keras, sehingga penjagaan tidak seketat sebelumnya.


Lorong bawah tanah menjadi tujuan utama Zhaoling. Dia yakin, bahwa para pengikutnya saat ini berada dalam tahanan bawah tanah yang gelap serta lembab. Zhaoling selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Takut, jika tiba-tiba ada salah satu anak buah pemberontak melihat kehadirannya di sana.


Zhaoling pun menyamarkan diri menjadi penjaga penjara bawah tanah, agar bisa mencari celah untuk membawa mereka keluar dari tempat buruk tersebut.


Matanya membulat sempurna kala melihat pemandangan yang begitu memilukan. Kedua tangan dan kaki mereka diikat rantai besi, serta sekujur tubuh mereka penuh luka akibat penyiksaan. Sungguh, hati Zhaoling sangat sakit saat ini.


Tangannya terkepal seiring amarah yang membuncah. "Akan ku buat mereka membayar semua perbuatannya. Aku janji!" tekad Zhaoling dalam hati.

__ADS_1


Saat dirinya akan mendekati jeruji besi, beberapa langkah kaki terdengar nyaring. Dia yakin, bahwa mereka yang datang adalah pemimpin para pemberontak tersebut.


Bergegas Zhaoling melompat, dan menempel di langit-langit lorong seperti cicak supaya tak terlihat mereka. Dia juga penasaran akan pemimpin pemberontak tersebut yang dengan mudah mengalahkan kedua adik seperguruannya.


Beruntung, ditempatnya bersembunyi sedikit gelap. Sehingga, dia tak bisa di lihat siapapun walau hanya sekedar bayangannya saja.


Orang-orang itu memukul keras jeruji besi menggunakan tongkat kayu sampai mengejutkan si penghuni.


Brak ... brak ... brak ...


"Hei, para pecundang! Apa kalian masih betah tinggal disini?" ejek orang yang tadi memukul jeruji besi. "Sudah disiksa begitu parah, tapi belum menyerah! Apa susahnya untuk bicara," cetus orang itu dengan berteriak sangat keras.


Namun, mereka yang diteriaki tak ada niat berbicara. Hanya menoleh sekilas, kemudian melengos lagi membuat mereka kesal.


Melihat tingkah mereka yang acuh, keempat pria itu langsung membuka kunci penjara tersebut. Tangannya dengan cepat mencengkram kuat wajah Liu Wei dengan kasar. "Jika kau masih sayang nyawamu, beritahu dimana keberadaan Zhaoling sekarang! Cepat, katakan!" teriaknya namun diabaikan Liu Wei.


"Sudah ku katakan padamu, anak muda. Jika mereka itu tak berguna. Lebih baik, kita bunuh saja!" usul Mo Yucen.


Gu Yen melirik tajam mendengar perkataan pria tua itu. "Aku punya caraku sendiri untuk membuat mereka berbicara. Jangan mengaturku, orang tua!" tegas Gu Yen.


Pria itu pun turun setelah tahu bahwa yang membuat pengikutnya babak belur seperti itu adalah saudara seperguruannya, Gu Yen. Zhaoling tidak menyangka jika Gu Yen akan berkhianat dan memilih bergabung dengan pemberontak. Tapi, mengingat guru mereka, Guru Luo pun sama halnya melakukan penghianatan kepada Perguruan Naga Bayang. Jadi, hal itu wajar saja.


Memang, ilmu Gu Yen cukup tinggi sehingga dapat mengalahkan Liu Wei atau Yu Xuan jika mereka bertarung singel. Tapi, jika dilawan secara bersama, pasti pria itu kalah. Terlebih, Jendral Jiu pun cukup mahir dalam ilmu bela diri. Pasti, mereka dijebak oleh para pengkhianat tersebut sehingga berakhir dipenjara dengan luka di sekujur tubuh.


Zhaoling hampir mendekat, namun langkahnya terhenti setelah Yu Xuan berteriak. "Zhaoling!"


Gu dan Mo segera menatap Yu Xuan, kemudian menoleh kebelakang. Sebelum mereka melihat, Zhaoling lekas bersembunyi dibalik tembok. Sehingga, keberadaannya masih belum diketahui mereka.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu, anak muda?" tanya Tuan Mo penuh penekanan.


Yu Xuan tertawa lepas sebelum berkata. "Hahaha. Ku peringatkan padamu, orang tua! Jika sampai kami mati disini, maka Zhaoling takkan mengampunimu. Dia pasti akan membalaskan dendam atas kematian kami! Dia akan mengejar sampai ke lubang semut sekalipun. Ilmunya sangat tinggi, dan kau pasti mati ditangannya!" ancam Yu Xuan kemudian.


Mo Yucen sempat termenung mendengar perkataan Yu Xuan. Dia memang pernah mendengar kehebatan Zhaoling dalam berperang atau bertarung. Pria dingin itu bisa mengalahkan dua puluh orang sekaligus dalam sekali tebas pedang serta pukulannya pun mematikan.

__ADS_1


Gu Yen tertawa mengejek mendengar ancaman Yu Xuan. "Hahaha. Kau pikir aku takut padanya? Kau dengarkan perkataanku ini baik-baik, Yu Xuan! Sekalipun ilmunya melebihi Guru Jin dan Guru Luo, aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." ucapnya dengan sombong. Kemudian, pria itu mengeluarkan sesuatu dan memperlihatkan kepada mereka. "Dengan ini, aku bisa mengalahkan Zhaoling sekarang!" lanjutnya kemudian.


Mata Yu Xuan dan Liu Wei membulat sempurna, melihat sesuatu yang dipegang Gu Yen tersebut. "Jadi, kau yang mencuri kitab rahasia jurus Harimau Pemangsa?" Gu Yen menyunggingkan senyumnya atas pertanyaan keduanya. "Akibat ulahmu, Perguruan Naga Bayang kita diserang oleh Perguruan Harimau Suci. Kau orang yang tak tahu diri, Gu Yen!" hardik keduanya penuh kekesalan.


Sedangkan Gu Yen hanya tertawa mendengar luapan kemarahan Liu Wei dan Yu Xuan. Dia tak berniat menanggapi keduanya. "Sudahlah! Tidak perlu membahas masa lalu. Sekarang, kita selesaikan ini semua. Kalian akan mengatakan dimana keberadaan Zhaoling sekarang? Atau ... aku harus memaksa?" seringai jahat terlihat dari wajah liciknya.


Benar saja. Sebuah belati diarahkan kewajah Liu Wei dan menekannya dngan kuat, sehingga pipi mulus pria itu kini mengeluarkan darah yang cukup banyak. "Ingin mencoba kegilaanku?" tanya Gu Yen dengan menyeringai.


Walaupun darah mengalir, namun Liu Wei tak mengeluarkan sepatah katapun, bahkan walau hanya ringisan kesakitan. Pria itu tetap bungkam dengan tatapan tajam tertuju kearah Gu Yen.


"Oh, aku lupa bahwa kau yang paling kuat disiksa. Hemh, gimana kalau dia!" kini, diarahkan belati itu kewajah Yu Xuan dengan cara yang sama. Dia terlihat senang melihat ekspresi terkejut Yu Xuan. Tapi, sedetik kemudian hal yang sama pun diperlihatkan oleh Yu Xuan membuat Gu Yen kesal. "Jadi, kalian siap mati? Baiklah! Bunuh mereka semua!" titahnya pada bawahannya.


Gu Yen segera mengeluarkan pedangnya dan bersiap menebas kearah Liu Wei dan Yu Xuan. Namun, belum sempat pedangnya menyentuh kedua pria itu, sebuah pedang lain menghalangi pedangnya sehingga berbenturan satu sama lain.


Trang ...


Gu Yen terkejut sampai menoleh ke belakang, begitupun yang lainnya. Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah seperti ninja, kini berdiri dengan pedang ditangannya.


"Siapa kau? Kenapa bisa ada disini?" tanya mereka dengan bingung.


Perlahan, Zhaoling membuka kain penutup wajahnya dan memperlihatkan wajah dengan memakai topeng di sebelah kiri. "Zhaoling?" semua orang terkejut melihat kehadirannya ditempat itu.


"Lama tidak berjumpa, Gu Yen!" nada dingin dan datar terdengar dari cara bicara Zhaoling yang khas.


Walaupun terlihat santai, tapi aura pembunuh tercium saat kedatangannya, membuat para penjahat itu waspada. Bagaimana pun, Zhaoling murid terkuat di Perguruan Naga Bayang. Sehingga, Gu Yentak berani bertindak sembarangan sebelum menyusun rencana liciknya.


Tanpa diperintah, anak buah Tuan Mo menyerang Zhaoling dengan cara memukulnya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh tubuh Zhaoling, dia sudah tersungkur di tanah dengan luka cukup parah. Padahal, Zhaoling hanya menahan dengan dua jarinya tanpa bergerak dari tempat sedikitpun.


Tuan Mo ketakutan melihat kesaktian Zhaoling, tapi tidak dengan Gu Yen. Dia tahu betul bagaimana kekuatan Zhaoling sesungguhnya. Maka dari itu, dia mencuri jurus rahasia Perguruan Harimau Suci untuk mengalahkan Zhaoling.


Gu Yen tersenyum miring. "Kekuatan murid kesayangan Guru Tertinggi tidak perlu diragukan lagi." cetusnya membuka suara.


Melihat Gu Yen tersenyum, Zhaoling menghela nafas kemudian menatap kedua sahabatnya dan Jendral Jiu dengan penuh arti. "Kau ingin menangkapku? Lepaskan dulu mereka, baru aku akan dengan senang hati menyerahkan diri padamu!" ucap Zhaoling tiba-tiba.

__ADS_1


"Tidak! Jangan lakukan itu, Panglima!" teriak ketiganya bersamaan.


...Bersambung ......


__ADS_2