
Di hutan sebelah barat ...
Terlihat dua anak muda sedang mengendap seperti seorang pencuri. Mereka melihat ke kiri dan ke kanan, seperti memastikan sesuatu. Mata yang jeli dengan penglihatan tajam itu terus menyapu sekitaran untuk memastikan jika tak ada yang mengawasi mereka.
Dengan bergerak perlahan, mereka mencoba terus berjalan memasuki bagian hutan yang paling dalam.
Saat di dalam hutan, terdengar suara auman yang diyakini berasal dari si Predator. Keduanya terperanjat sampai berpelukan satu sama lain. Bagaimanapun, hewan buas pemakan daging itu sangat menakutkan. Pasti akan sulit menghindar darinya jika mereka berpapasan.
Bergegas keduanya naik keatas pepohonan yang cukup tinggi agar tidak diketahui oleh Sang Predator tersebut. Sebelum mereka benar-benar naik, muncul seekor Harimau jantan berwarna putih yang terlihat kelaparan dari arah utara. Suara auman ciri khasnya mampu mengintimidasi seluruh area hutan saat ini.
Haaaarrrrggghhhmmmmm
Tiba-tiba, suasana berubah mencekam ketika mata tajam pemburu itu menatap kearah dua anak muda yang sedang berada di atas pohon. Seketika, jantung keduanya seakan berhenti berdetak kala beradu pandang bersama sang Predator.
Sial
Umpat mereka karena tertangkap oleh penglihatan hewan karnivora ini. Bagaimanapun, Harimau adalah hewan pemangsa dengan pergerakan sangat cepat. Jika mereka melawan hewan ini, maka akan dipastikan kalah sebelum bisa keluar dari hutan. Bagaimanapun caranya, keduanya harus bisa selamat dan melarikan diri dari hewan pemangsa ini.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu pada temannya yang sedang berpikir mencari jalan keluar.
"Aku tidak tahu! Tapi, sebaiknya kita tunggu di sini saja. Siapa tahu, Harimau itu tak bisa memanjat keatas sini dan kita tak perlu melawan hewan buas itu!" sahut temannya sambil terus memperhatikan gerak gerik hewan tersebut.
Kedua anak muda itu tak tahu, jika sang pemburu bisa memanjat bahkan ke pohon yang sangat tinggi sekalipun. Apalagi, Harimau itu saat ini sedang kelaparan. Dia tak mungkin melepas makanan yang berada didepan mata begitu saja. Oleh karena itu, Harimau tersebut terus mengitari pohon tempat kedua anak muda itu berdiri.
Harghm
Lagi. Dia terus mengeluarkan suara ciri khasnya yang tak bisa disaingi oleh hewan manapun. Suara keras dengan aura membunuh yang sangat kuat, terdengar nyaring bahkan menggema di seluruh hutan, sampai membuat binatang lain menjerit ketakutan.
Burung-burung berterbangan melarikan diri, seolah dirinya yang akan dimangsa. Padahal, auman Harimau itu ditujukan pada kedua manusia lemah yang berada di atas pohon, yang sedang menahan rasa takut berlebihan.
Karena perutnya yang sedang kelaparan, melihat mangsa di depan mata, naluri pemburunya kian berdesir seolah tak mampu dikendalikan. Darahnya mendidih kala melihat buruannya tetap diam tak bergerak barang sedikit saja.
Harghm
Tiba-tiba, binatang buas itu melompat keatas pohon dengan cara memanjatnya. Seketika, kedua anak muda itu dibuat terkejut sampai memekik ketakutan.
Astaga
Tubuh mereka bergetar hebat. Si pemburu terus merayap di batang pohon yang kokoh tersebut. Walaupun pohon cukup tinggi, namun si kucing besar itu bisa menaikinya hanya menggunakan cakarnya yang tajam dan kuat.
"Apa yang harus kita lakukan? Harimau itu ternyata bisa memanjat!" ucap mereka panik dan tak lagi setenang tadi. Keduanya kelabakan tak bisa mengendalikan diri serta emosi yang berlebih karena rasa takut yang menghinggapi saat ini.
Melihat mangsanya mulai goyah, si kucing besar semakin mendekat dengan mata tajam dan seringai menakutkan yang terus tertuju kearah keduanya, membuat mereka semakin bergidik.
__ADS_1
Jika mereka diatas sini terus, maka dapat dipastikan Harimau itu langsung menerkam keduanya. Namun, jika mereka melompat, Harimau itupun pasti akan ikut melompat dan dengan mudah menerkam keduanya.
Ah, sial ... sial ... sial! Apa yang harus dilakukan?
Saat tengah berpikir dalam kekalutan hati, tiba-tiba mata mereka tak sengaja menangkap keberadaan sebuah lubang jebakan tak jauh dari posisinya saat ini. Lubang yang diyakini untuk memburu binatang hutan itu, terlihat jelas oleh indra penglihatan mereka. Lubang yang cukup luas dengan kedalaman yang pastinya sangat dalam. Karena, memang di hutan ini sering ditemukan hewan pemangsa seperti ini. Sehingga, para pemburu membuat jebakan untuk melumpuhkan binatang buas tersebut dengan cara menjatuhkannya kedalam lubang yang sangat dalam.
Untuk melawan, itu sangat sulit. Mengingat, bagaimana agresifnya binatang itu yang bisa bergerak dengan sangat cepat, serta memiliki cakar dan gigi yang runcing yang pastinya tajam. Pasti, sangat sulit untuk melumpuhkannya.
"Lihat, itu lubang jebakan! Baiklah. Kita atur rencana supaya bisa lepas dari binatang buas ini." ujar salah satu memberi instruksi. "Kita melompat secara bersama dari pohon, kemudian berlari secepat kilat melewati lubang itu dan biarkan Harimau itu mengejar kita. Setelah mendekat, kita mengelak kesamping dan Harimau ini pasti terperosok kedalam lubang dan tak bisa menghindar lagi. Bagaimana? Kau setuju?" lanjutnya bertanya setelah memberikan instruksinya.
Walaupun ragu, temannya tetap mengangguk setuju. Tak ada pilihan lain selain mencobanya. Jika berada disini terus, maka mereka akan langsung mati. Namun jika melompat turun, mereka pun tak yakin akan selamat. Tapi, bukankah tak masalah jika kita mencobanya? Selama ada harapan, itu pasti akan jadi kemungkinan terbesar.
Entahlah!
Harimau itu kembali mengeluarkan suara ciri khasnya, agar bisa menakuti mangsanya. Memang tak salah, cara itu sangat ampuh membuat mangsa panik dan ketakutan. Tapi, sekuat-kuatnya Harimau, dia tetap hewan yang tak punya akal pikiran seperti manusia.
Saat sudah berada di dahan yang sama dengan kedua manusia itu, ia berjalan dengan gagah dan memamerkan kekuatan otot tubuh serta cakarnya. Tapi, dia tak tahu jika keduanya sudah memiliki rencana. Dengan mengangguk secara bersamaan, mereka bersiap untuk turun. "Baiklah. Kita mulai melompat! Dalam hitungan ke ... tiga!"
Diwaktu bersamaan, Harimau itupun tiba-tiba melompat ketempat mereka berdiri membuat keduanya panik dan langsung melompat tanpa menyelesaikan hitungannya.
Bruk
Tubuh keduanya berguling di tanah dengan keras karena tak siap melompat. Namun, setelah melihat tatapan lapar sang Predator, keduanya tersadar dan langsung berdiri bersiap lari secepat mungkin. Harimau itupun ikut melompat walaupun agak terlambat.
Napas mulai tersengal karena lelah berlari dengan sekuat tenaga. Bagaimanapun, kekuatan mereka lemah karena mereka masih terbilang remaja.
Harimau itu berlari dengan cepat, seolah tak mau mangsanya lepas begitu saja. Pergerakannya yang gesit bisa mengalahkan pelari tercepat sekalipun.
Saat Harimau itu sudah mengikis jarak antara dirinya dan kedua mangsanya, tiba-tiba dia dikejutkan sesuatu.
"Whoooaaaaaa,"
Pergerakan Harimau terhenti saat melihat buruannya terjatuh kedalam lubang besar dan dalam didepannya. Melihat itu, seketika si kucing besar terdiam dan hanya melongokan kepala kebawah. Dia juga ternyata tak berani ikut turun ke dasar lubang tersebut.
Mungkin juga takut mati. Hehehe!
Benar. Kedua anak muda itu terjun bebas kedalam lubang yang tak pernah mereka kira luasnya. Awalnya ingin menjebak Harimau putih itu, tapi malah mereka yang tertipu dengan kelebaran lubang yang ternyata sangat luas.
Harghhh ... haaaarrrrggghhh ...
Dia terus mengitari lubang dalam tersebut tanpa berniat ikut turun. Lama kelamaan, si kucing mulai bosan, kemudian melangkah pergi menjauh dari tempat tersebut. Untuk apa menunggu mangsa yang sudah mati. Pikir Harimau.
Tanpa ia ketahui, kedua anak manusia yang ketakutan tadi ternyata sedang bergelantungan dengan memakai tali yang tergeletak ditanah dekat lubang itu. Saat terjatuh tadi, tangannya sempat meraih suatu benda yang panjang menggulung di sana, dengan kondisi terikat pohon besar.
__ADS_1
Ah, beruntung sekali!
"Kita tidak mati, kan?" suaranya nyaris tak terdengar karena gemetaran.
Temannya menoleh sekilas. "Tidak! Kita selamat berkat tali ini!" sahut temannya membuat teman yang tadi lega sampai mengelus dada. "Baiklah. Ayo, naik keatas. Kita lihat, apakah harimau itu sudah pergi?" ujarnya kemudian. "Tapi, kita harus tetap hati-hati!" peringatnya kemudian.
Temannya setuju untuk naik. Namun, belum sempat mereka naik, kakinya keram membuat mereka merosot kebawah sampai menyentuh tanah.
"Whoooaaaaa," keduanya memekik karena meluncur dengan cepat. Tapi beruntung, tali tadi masih mereka pegang.
Bruk
"Aaakkhh!" ringis keduanya menahan sakit terutama bagian bokong yang mendarat dengan keras. "Aduh, pinggangku!" teriaknya lagi sambil memegangi bagian itu dengan mata terpejam.
"Kenapa kau meluncur kebawah, bukannya naik keatas?" cerca si teman.
"Kakiku keram," sahutnya membela diri.
"Dasar kau ini! Bukannya selamat malah terperangkap ditempat seperti ini!" gerutunya seraya memukul kepala temannya.
Tentu ia tak terima karena dipukul seperti itu. "Hei! Memangnya aku sengaja ingin tu ... aaaaahhhh, mayat!" serunya menunjuk kebelakang temannya dengan histeris.
Sontak temannya menoleh kebelakang dengan cepat. "Mana? Mana?" matanya terus menyapu sekitaran dengan wajah panik. Temannya langsung memegang wajahnya dan menghadapkan kearah depan sambil menunjuk.
Terlihat, seorang pemuda seumuran mereka terbaring ditanah dengan tak sadarkan diri. Wajahnya yang tampan tertutupi tanah sehingga terlihat seperti tak bernyawa dengan kondisi kepala berdarah. Sepertinya, kepala pemuda itu terbentur batu dengan keras sampai terluka seperti itu.
"Apa dia mati?" pertanyaan itu meluncur dari mulut keduanya sambil saling pandang dengan wajah tegang.
Dengan ketakutan yang masih menggunung, perlahan keduanya mendekat dengan tangan terulur menyentuh leher pemuda yang terbaring itu. Walaupun ragu, mereka mencoba memeriksa denyut nadi serta kondisi pemuda itu, untuk memastikan jika dia masih hidup atau sudah mati.
Saat tangan mereka hampir menyentuh lehernya, tiba-tiba tangan si pemuda yang terbaring langsung menangkap keduanya dan memegangnya dengan kuat. "Apa kalian mencoba membunuhku?" nada bicara yang terdengar dingin dan datar itu meluncur dari si pemuda yang sedang terluka itu, membuat keduanya terkejut sampai terjengkang kebelakang.
"Huaa, mayat hidup!" pekik keduanya dengan jantung yang berdebar kencang.
Baru saja mereka lepas dari mulut Harimau, sekarang masuk kedalam lubang dan terjebak dengan mayat hidup. Pikir keduanya.
Pemuda itu mencoba berdiri namun tak bisa. Kepalanya yang terluka membuat ia pusing sampai tak bisa tegak walaupun hanya untuk duduk. "Aku masih hidup," sahutnya lirih sambil terus mencoba duduk.
Mereka saling pandang dan merasa lega kalau ternyata pemuda itu masih hidup, bukan mayat hidup. Seketika, sudut bibir keduanya tertarik sedikit kemudian berucap dengan sedikit bergetar sisa ketakutan tadi. "A-astaga! Aku takut sekali. Syukurlah, dia manusia!"
...Bab selanjutnya diperkirakan update tiga hari lagi. Jika otak lagi fresh, mungkin dua hari lagi😜😜...
Mohon tetap sabar untuk menunggu ya, gengs
__ADS_1