
"Xin'er!" seru semua orang terutama Zhaoling. Dia langsung memeluk tubuh lemah istrinya itu dengan berderai air mata. "Maafkan aku, Xin'er!" terdengar nada penyesalan yang teramat besar darinya. Namun, Xin'er tersenyum sambil menepuk bahu suaminya.
Susah payah Xin'er membuka suaranya. "Aling, waktuku tak banyak." ucapnya lirih nyaris tak terdengar. Tangannya terulur menyentuh wajah putra mereka, "jaga Alie untukku! Pastikan dia hidup bahagia," lanjut Xin'er disertai batuk diujung ucapannya. "Ukhuk ... ukhuk,"
Semua orang menjadi khawatir. "Tolong jangan banyak bicara dulu, Xin'er! Biarkan Kakek mengobati lukamu," ujar Zhaoling seraya menggenggam tangan istrinya dan mendapatkan anggukan semua orang. "Lagi pula, Alie akan selalu bahagia karena kau ada bersamanya, bukan!" lanjutnya kemudian.
Xin'er menggeleng pelan. "Aku tak bisa bertahan selama itu! Aling. Tolong berjanji kepadaku, bahwa kau tak kan membiarkan putraku mengalami kesulitan atau pun kesedihan! Berikan semua yang kau punya untuk putraku," pintanya memohon.
Semuanya menggelengkan kepala tak setuju. "Kau akan baik-baik saja, Xin'er. Itu pasti," ujar mereka serempak. Hanya kakek Lon Thong yang diam memperhatikan.
Mata Xin'er melirik kesamping, orang dibelakang suaminya. "Wei, jaga istri dan putramu! Jangan membuat mereka bersedih atas apa yang kau putuskan," Liu Wei mengangguk dan Zhaoling kini yang terdiam. Ucapan Xin'er sepertinya sangat menohok batin pria itu. Dia selalu membuat keputusan yang berujung penyesalan.
"Aku akan menjaga Ashu dan Chen sebaik mungkin!" ujar Liu Wei. "Tapi, aku ingin kau sembuh agar bisa memarahiku jika aku berbuat salah kepada mereka!" lanjutnya kemudian.
Entah kenapa, permintaan Liu Wei membuat semuanya bersedih, terutama Kakek Lon Thong yang tahu persis kondisi Xin'er saat ini. Beliau terus menekan urat nadi di pergelangan tangan Xin'er agar ia sedikit bertahan. Bukan maksud kakek menantang kodrat Sang Dewa, tapi karena Kakek ingin Xin'er mengungkapkan keinginan terakhirnya dan juga pelaku pembunuhnya.
"Aku akan melihat kalian di surga," lirih Xin'er dengan mata yang hampir tertutup. Sontak semua orang meneteskan air matanya mendengar ucapan Xin'er. Bahkan, Mengshu dan Yuelie membekap mulutnya karena takut menjerit histeris, ketika melihat Xin'er menghembuskan nafas terakhirnya.
Zhaoling menepuk pipinya pelan, berusaha membuatnya terjaga. "Hei ... hei, jangan seperti ini! Kau akan melihat semuanya dengan mata kepalamu sendiri, bukan dari surga!"
"Xin'er. Jangan bicara seperti itu, Nak! Kau pasti baik-baik saja," Kaisar kini membuka suaranya. Beliau bahkan ikut berjongkok di samping tempat tidur Xin'er.
Xin'er tersenyum lebar, walaupun ia menahan kesakitan yang teramat sangat. Namun, ia harus mengungkapkan suatu kebenaran terlebih dahulu kepada mereka semua. "Bisakah aku meminta sesuatu kepada kalian semua?" semuanya mengangguk menanggapi pertanyaan Xin'er tersebut. "Aku ingin kalian memanggilku dengan nama Shin Yoona, karena itu nama asliku!" pintanya.
__ADS_1
Semua orang mengerutkan keningnya mendengar perkataan Xin'er yang meminta untuk dipanggil dengan nama lain. Bukankah nama aslinya adalah Yun Xin'er? Kenapa dia meminta dipanggil dengan nama Shin Yoona?
Walaupun tak mengerti maksud permintaan Xin'er, tapi semuanya mengangguk setuju. "Baiklah, Yoona!" Xin'er tersenyum senang mendengar mereka menyebutkan namanya.
Wanita itu ingin semua orang mengenangnya dengan nama Shin Yoona, seorang wanita tangguh dari Kesatuan. Mati di medan perang tentu membuat kebanggan tersendiri bagi wanita seperti Yoona. Setidaknya, dia telah berusaha melawan para pemberontak dan tidak menyerah begitu saja kepada mereka yang berkhianat.
Yoona masih mempertahankan Moto dalam hidupnya, yaitu pantang menyerah. Tapi kini, ia harus menyerah kepada takdir yang digariskan oleh Dewa sesuai kehendak Othor. Karena, perjalanan hidupnya di sini telah selesai sudah.
Memiliki suami dan satu orang putra, serta dikelilingi seluruh anggota keluarga yang baik sudah cukup baginya. Tak ada kebahagiaan lain selain melihat senyum dari semua orang yang menyayanginya. Untuk yang terakhir kalinya, bibir Yoona bergetar menyampaikan sesuatu sebelum benar-benar pergi.
Dia menarik Zhaoling lebih dekat kearahnya, seperti akan mencium pipi suaminya. Tapi, bukan itu yang dilakukannya, melainkan berbicara tepat ditelinga Zhaoling agar terdengar jelas olehnya. "Aling. Dengarkan aku baik-baik,"
Zhaoling mengangguk mendengarkan istrinya berbicara. Yoona menyampaikan semua yang harus ia sampaikan, yaitu menyuruh Zhaoling untuk berhati-hati terhadap keluarganya sendiri. Orang yang dipercaya belum tentu menyayanginya setulus hati. Mereka belum puas jika tidak melihat Zhaoling menderita dan hancur.
Yoona pun menyampaikan tragedi penusukan dirinya ketika menunggu Zhaoling di bawah pohon besar. Rasanya sulit untuk dipercaya, bahwa orang tersebut adalah orang yang selama ini berada di sekitar suaminya. Orang itu yang selalu membuat Zhaoling tak bisa bergerak leluasa di Istana. Seorang wanita yang selalu membuat Zhaoling tunduk patuh terhadap aturan Kerajaan. Dialah yang membuat Zhaoling harus berpisah berkali-kali dengan istrinya.
Namun, Yoona sangat ragu untuk menyebutkan namanya. Ia takut Zhaoling akan murka dan membunuh orang tersebut.
"Katakan, Yoona! Siapa orang yang telah menusuk mu itu?" tanya Zhaoling setelah sedikit mengangkat wajahnya. Amarah di hati berkobar ketika istrinya mengungkapkan kebenaran tentang luka di perutnya.
Semua orang mendekat tak terkecuali. Mereka juga ingin tahu siapa pelaku penusukan itu.
Dengan susah payah, Yoona berkata. "Mmmuuuuuu ... nnniiiiing," jawabnya kian berat.
__ADS_1
Semuanya sontak membulatkan mata mendengar pengakuan Yoona. Seorang wanita paruh baya yang bernama Muning itu, bukankah dia adalah ibu tirinya? Muning dan putrinya sudah lama menghilang, setelah kejadian pengusiran keluarga Yun dari Istana. Ketika insiden itu, keduanya kabur setelah mencuri sejumlah harta benda milik Perdana Mentri Yun Xiaoyu. Bukan hanya meninggalkan paviliun Yosheng, tapi mereka juga meninggalkan Kota Yongsheon untuk selamanya.
Selama tujuh tahun, keberadaan mereka tak diketahui. Namun kini, tiba-tiba saja Yoona menyebutkan nama itu sebagai pelaku penusuk nya. Ada sesuatu dibalik kembalinya Muning ke Ibu Kota. Tidak mungkin dia berani kembali ke Ibu Kota setelah kejadian waktu itu. Mungkin saja, seseorang memerintahkan dia kembali karena suatu hal. Atau jangan-jangan ....?
Zhaoling teringat perkataan Yoona sebelumnya, yang memperingatkan dirinya untuk berhati-hati terhadap orang disekitar. Musuh dalam selimut, yang berpura-pura menyayangi namun membenci. Orang yang ingin melihat dirinya terluka, bahkan sampai hancur. Dia pun kembali bertanya, "Siapa yang menyuruh Muning untuk melakukan itu, Yoona? Dia tak memiliki keberanian seperti itu,"
Yoona berusaha membuka suaranya lagi, "Ppeenguasa ... Iiisssstttaanaaahh ... dvndjhjdkdhe," perkataan terakhir tak dimengerti Zhaoling sehingga ia mengerutkan keningnya.
Pria itu bertanya lagi, namun Yoona sudah tak ada kekuatan untuk bersuara. Sehingga, Zhaoling harus memperhatikan gerak bibir istrinya untuk memastikan.
Setelah memastikan dengan seksama, matanya terbelalak tak percaya. "Tidak mungkin!" gumamnya dalam hati. Untuk memastikan, dia bertanya lagi. "Katakan sekali lagi sayang, biar aku tidak salah bertindak!"
Namun, kesadaran Yoona sudah hilang sepenuhnya seiring tertutupnya mata dengan sempurna.
Zhaoling yang tak mendapat respon dari istrinya lantas menepuk pipinya lagi pelan. "Yoona ... Yoona, kau dengar aku?" tak ada pergerakan apapun dari istrinya itu setelah Zhaoling menepuk pipinya berulang kali. "Yoona. Jangan membuatku takut, bangunlah!" pintanya memohon.
Lagi dan lagi, Yoona tak merespon sedikitpun, sehingga Zhaoling langsung memeluknya. "Yoona," teriaknya dengan histeris.
Tangis semua orang pecah ketika Zhaoling berteriak histeris memanggil nama istrinya. Situasi saat ini bertambah mengharukan, ketika Zhaolie menangis dengan kencang. Mungkin, bayi tampan itu juga merasakan kesedihan yang teramat karena ditinggal ibunya pergi untuk selamanya. "Ooooeeeeeekk ... oooeeeeekkk,"
"Yoona!"
Bersambung ...
__ADS_1