Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Jodoh masa kecil


__ADS_3

"Berhenti!" teriakan Jianglie menghentikan para pengawalnya yang akan bergerak menyerang lagi.


Walaupun sampai mati, mereka akan siap melawan demi melindungi Pangerannya. Tapi, Jianglie tahu bahwa pria yang bersama Xin'er itu bukan orang sembarangan. Melihat kemampuan bertarung pria tersebut, Jianglie yakin jika dia adalah seorang Pendekar besar.


Tungkainya melangkah menghampiri Zhaoling dan Xin'er yang berdiri dengan tatapan mengawasi. Dia mengatupkan kedua tangan sebagai permohonan maaf atas ketidaksopanan nya pada Zhaoling. "Maaf, Tuan Pendekar. Aku salah, karena menyebutmu dengan kasar. Sungguh! Aku sangat meminta maaf atas perbuatanku itu," ucapnya penuh sesal.


Zhaoling hanya menatap sekilas, kemudian mengalihkan pandang kearah Xin'er. "Aku tidak tahu tujuan Pangeran Jixang jauh-jauh datang kemari! Tapi, ku peringatkan padamu. Jangan mencoba untuk menyentuh wanitaku, jika tidak ingin celaka!" peringat Zhaoling dengan tatapan membunuh kearah Jianglie.


Mendengar kata 'wanitaku' yang keluar dari mulut Zhaoling. Bukan hanya Xin'er yang terkejut, bahkan Jianglie dan Mingna yang sedari tadi bersembunyi dengan ketakutan pun segera tercengang. Bagaimana mungkin pria itu dengan mudahnya menyebut Xin'er sebagai wanitanya? Tapi, mereka memilih diam dan tak banyak bertanya karena takut dengan kemarahan Zhaoling


Hanya dengan melihat tatapan Zhaoling saja, Jianglie bergidik ngeri. Dia tahu, jika pria di samping Xin'er itu tak main-main atas ancamannya. "Kalau boleh tahu, kamu itu siapa? Ada hubungan apa dengan Nona Yun Xin'er?" tanya Jianglie penasaran.


Zhaoling tergelak mendengar pertanyaan Jianglie sebelum menjawabnya. "Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Pangeran! Kenapa kau mencari wanitaku kemari?"


Jianglie berusaha tenang dan mempersilahkan Zhaoling untuk duduk sebelumnya. Secara perlahan, dia menceritakan alasannya kemari untuk mencari Xin'er. Sebenarnya, dirinya dan Xin'er telah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka sejak kecil.


Tuan Xiaoyu dan Tuan Jixangnan adalah sahabat kecil. Mereka telah berjanji, jika memiliki putra atau putri, maka kelak akan menjodohkannya agar dapat menjadi keluarga.


Namun, keinginan hanya sebuah angan semata. Keluarga Xiaoyu pindah ke Ibu kota semenjak diangkat menjadi Perdana Mentri Xili, dan keluarga Jixangnan pindah ke tempat lain setelah bertemu keluarga kandungnya.


Ternyata, Jixangnan adalah seorang putra dari Kaisar Jixang yang hilang beberapa tahun yang lalu. Setelah kembalinya ia, Kaisar mengangkatnya sebagai raja baru sebelum Kaisar wafat. Akhirnya, Jixangnan dinobatkan menjadi Kaisar Jixang, dan putranya menjadi Putra Mahkota.


Jianglie adalah putra pertama dari Kaisar Jixangnan. Dia memiliki kemungkinan akan menjadi seorang penerus tahta. Maka dari itu, Jixangnan ingin mendidik putranya itu dengan benar, agar menjadi seorang Raja yang berwibawa.


Xiaoyu adalah contoh teladan yang patut ditiru kepribadiannya. Jixangnan merasa sahabatnya itu bisa memberikan pendidikan layak bagi putranya, kelak jika saatnya tiba untuk menjadi seorang Raja. Dia juga ingin agar perjanjian yang disepakati pun terwujud.


Jixangnan sengaja mengundang Xiaoyu untuk datang ke kotanya agar sahabatnya itu ikut merasakan kebahagiaan yang didapat olehnya. Ternyata, Xiaoyu datang bersama keluarganya. Dia membawa istri dan kedua anaknya, yaitu Xiaolang dan Xin'er.

__ADS_1


Saat itu, usia Xin'er sekitar dua tahun, dan Jianglie berusia delapan tahun, sama seperti Xiaolang. Jixangnan sangat menyukai putri dari sahabatnya tersebut. Selain cantik dan menggemaskan, Xin'er kecil juga sangat aktif. Tingkahnya itu bisa membuat semua orang tertawa gembira, bahkan rela memberikan apapun untuk si kecil lucu yang menggemaskan tersebut.


Jianglie masih ingat, bagaimana Xin'er kecil yang suka memeluk dirinya saat menangis. Dia juga diberitahu orang tuanya, agar kelak menjaga Xin'er, karena gadis kecil lucu itu adalah jodoh masa depannya. Walaupun Jianglie tak paham, tapi ia menyetujuinya dan akan berusaha melindungi Xin'er dari apapun.


Bertahun-tahun berlalu. Mereka tak bertemu lagi sampai ibunya Xin'er meninggal dunia akibat penyakit anehnya. Mendengar kata orang, bahwa Nyonya Xinwa dikutuk oleh Dewa karena melakukan ritual sesat. Xinwa dikabarkan mengikuti ajaran sesat dan sebagai hukumannya, dirinya diberikan penyakit aneh sampai menjelang kematiannya.


Tak ada yang berani mendatangi keluarga Xiaoyu sejak saat itu. Bahkan, Jixangnan sebagai sahabatnya pun tak mau datang ke pemakaman Xinwa. Dirinya cenderung bersembunyi dan menutup telinganya rapat-rapat, setelah mendengar kabar tersebut. Jixangnan tak menyangka, jika istri dari sahabatnya itu menganut ilmu sesat. Jadi, dia tak mau keluarganya terkena dampak buruk dari kejahatan Xinwa yang padahal tak pernah ia lakukan.


Xinwa terkena guna-guna Muning yang iri akan kehidupannya itu. Walaupun Muning sahabat kecilnya, tapi wanita itu sangat membencinya karena Xinwa memiliki nasib baik dengan dinikahi seorang Perdana Mentri. Sedangkan dirinya menikah dengan seorang petani miskin di desanya.


Tahun berganti tahun. Jixangnan mendengar kabar, bahwa Xiaoyu telah menikah lagi dengan wanita penghilang kutukan keluarganya. Hidupnya sekarang jauh lebih baik setelah menikahi janda beranak dua itu. Maka dari itu, Jixangnan ingin melanjutkan kembali perjodohan putra dan putrinya Xiaoyu.


Kaisar Jixang tersebut mengirim surat khusus kepada Xiaoyu yang berisikan perjanjian perjodohan putra dan putri mereka. Namun, Xiaoyu menolak karena terlanjur sakit hati dengan ketidak pedulian Jixangnan pada dirinya dimasa-masa tersulitnya dulu.


Jixangnan sangat menyesali perbuatannya. Namun, Xiaoyu bersikukuh untuk menolak perjodohan tersebut dan berjanji takkan menikahkan putrinya dengan seorang Pangeran dari Kerajaan manapun. Dia takut putrinya akan dicampakan, jika putrinya itu melakukan kesalahan sedikitpun.


Jixangnan tak tahu jika putri dari Xiaoyu telah menikah dengan Pangeran Xili. Dia meminta putranya datang ke Kota Yongsheon untuk menemui Xiaoyu, agar merestui pernikahan putranya itu dengan putri Xiaoyu, yaitu Yun Xin'er.


Jianglie tak tahu rupa Xin'er seperti apa. Tapi, ia tetap datang dan mencari alamat rumah Perdana Mentri Yun agar bisa menyampaikan permohonan ayahnya tersebut. Tapi, nasib sial menghampirinya. Dia yang tak punya ilmu bela diri sama sekali, malah ditipu orang dan berakhir dikurung di gudang tua. Barang-barangnya pun dicuri oleh orang tersebut. Beruntung, para pengawal segera menemukannya dan dengan cepat mereka bergerak mencari si pencuri tersebut.


Tak disangka, pencariannya untuk menemukan pencuri barangnya malah membawa dirinya bertemu Xin'er, gadis yang sedang dicarinya. Awalnya, ia menganggap itu suatu keberuntungan. Tapi, setelah mendapatkan fakta bahwa gadis yang dicarinya ternyata memiliki pria lain disampingnya, dia pun menjadi ragu. Ditambah, pria di samping Xin'er itu memiliki aura menakutkan sampai membuatnya takut.


"Begitulah cerita sebenarnya, Tuan. Aku dan Xin'er telah berjodoh sejak kami kecil," ucapnya setelah mengakhiri cerita.


Zhaoling hanya tersenyum miring, kemudian berdiri sambil berkata. "Perjodohan dimasa kecil tidak sah untuk dilakukan, karena saat kecil orang belum mempunyai pikiran apapun. Dia tak tahu apa itu perjodohan dan cinta sesungguhnya. Jangankan yang dijodohkan saat kecil, dijodohkan saat besar saja dia suka berontak karena menyukai orang lain. Apalagi yang masih bau kencur dan tak tahu apa-apa,"


Ucapan Zhaoling menyentil hati Xin'er. Dia sungguh malu saat ini, karena telah menyukai pria selain suaminya. Pesona seorang Panglima itu meluluhkan hati Xin'er dan membuatnya berpaling dari Pangeran Ketiga.

__ADS_1


"Hidup bersama Zhaozu selama setahun saja, aku masih tergoda oleh Zhaoling. Apalagi jika hidup bersama Jianglie, pria yang baru aku kenal? Bisa jadi apa aku ini?" batin Xin'er bermonolog.


"Tapi, aku akan tetap meneruskan apa yang telah disepakati ayahku dan Paman Yun di masa lalu." ucap Jianglie keukeuh.


Zhaoling tertawa mendengar ucapan Jianglie yang terkesan memaksakan diri. Dia menggelengkan kepala sambil menatap pria tersebut. "Kau yakin jika Xin'er akan menyetujuinya?" tanya Zhaoling.


Netra Jianglie melirik gadis yang masih asyik terdiam dalam lamunannya. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Namun sepertinya, obrolan antar kedua lelaki itu kini tak didengarkan olehnya karena pikirannya terfokus pada satu masalah. Yaitu, perasaan.


"Aku yakin, Xin'er akan menyetujui apa yang telah ayahnya janjikan pada kami! Bukan begitu, Xin'er?" tanya Jianglie yang duduk tepat dihadapan Xin'er.


Xin'er yang masih asyik melamun tentu tak mendengarnya. Dia tetap terdiam walau Jianglie terus memanggil namanya, membuat Zhaoling tertawa lepas.


"Hahaha. Bahkan, panggilanmu tak dihiraukan olehnya, walau kalian duduk berdekatan." ejek Zhaoling. "Akan ku berikan contoh untuk memanggil gadis itu," ucap Zhaoling kemudian sedikit menjauh dari tempat mereka duduk.


Zhaoling berdiri didekat jendela yang terbuka, dengan wajah yang menatap keluar. "Xin'er," hanya dalam satu kali panggilan saja, gadis itu langsung menoleh.


"Ya, ada apa?" sahut Xin'er sedikit terkejut. Walaupun suara Zhaoling lirih, tapi Xin'er langsung merespon panggilannya sambil berdiri. "Apa kita sudah bisa pulang?" tanya Xin'er kemudian.


Zhaoling tak langsung menoleh. Wajahnya tetap menghadap keluar jendela dengan senyum penuh kemenangan. Sedangkan Jianglie tertunduk lesu karena merasa kalah oleh pria dingin dan sombong tersebut.


Setelah merasa cukup puas, Zhaoling kembali melangkahkan kaki dan duduk di samping Xin'er lagi seraya mengusap kepalanya lembut. "Kau ingin pulang sekarang?" tanyanya yang diangguki Xin'er.


Hanya dengan melihat sikap posesifnya saja, Jianglie tahu bahwa Zhaoling sedang menunjukan jika dirinya tak boleh mengganggu Xin'er lagi. Dan sepertinya, gadis itu nyaman bersama pria dingin dan sombong tersebut.


"Haruskah aku mengalah?" batin Jianglie.


...Bersambung, gaess ......

__ADS_1


__ADS_2