Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Siapa pria itu?


__ADS_3

Wanita muda itu nampak terkejut dengan kedatangan Pangeran dari Xili tersebut. Dia menatapnya begitu sinis kearah Zhaohan sambil melayangkan ucapan sarkas. "Untuk apa Pangeran Xili datang jauh-jauh kemari? Apa ingin mencekik musuh di kandangnya?"


Zhaohan terkekeh mendengar perkataan Xia Lan. "Kenapa kau begitu ketus, Lan? Apa kau tidak merindukanku?" ucapnya sambil mengelus pipi mulus Xia Lan.


"Merindukanmu? Cih, untuk apa aku merindukan lelaki yang mempunyai banyak istri sepertimu! Membuang-buang waktuku saja," ketus Xia Lan kembali seraya membuang muka.


Brak


Pintu dibanting begitu keras membuat wanita itu tersentak. Zhaohan menarik paksa Xia Lan dan menjatuhkannya di ranjang. Dia pun mengurungnya dibawah kungkungan, serta mengecup paksa bibir kemudian turun ke leher putih wanita itu. Walaupun Xia Lan terus memberontak, tapi kekuatannya jauh dibawah Zhaohan, hingga lelaki itu dengan mudahnya menjamah tubuhnya bahkan menikmati setiap lekuk tubuh seksi Xia Lan.


Air mata jatuh di pipi wanita itu. Dia selalu menyesal jika bertemu dengan pria kejam ini, karena akan berakhir dengan penyatuan raga dan tentunya paksaan Zhaohan.


Pria itu tersenyum menyeringai setelah melakukan apa yang harus ia tuntaskan, kemudian bergegas mengenakan kembali pakaiannya dan berjalan keluar meninggalkan Xia Lan tanpa memperdulikan keadaannya.


"Dasar brengs*k kau, Zhaohan!" teriakan Xia Lan menggema, namun tak digubris pria itu. Dia malah melenggang keluar seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Bahkan, pria itu bersiul seperti sedang kegirangan kali ini.


Xia Lan menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuh polosnya sambil menangis tersedu. Dia tak menyangka jika pria dingin itu bisa menemukan dirinya walaupun di jarak yang sangat jauh.




Seorang pria berjalan kearah penjara Kota. Dia lantas tersenyum ketika melihat orang-orang yang sedang tidur dengan terduduk dilantai yang dingin. Perasaannya sangat senang ketika bisa menahan orang-orang tersebut ditempat ini. Karena dengan begitu, rencana yang ia susun berjalan dengan lancar.

__ADS_1


"Kalian tak kan bisa keluar dari sini sampai aku sendiri mengizinkannya. Percayalah, bahwa hidup kalian berada di tanganku!" gumamnya dalam hati seraya berlalu meninggalkan penjara tersebut.


Liu Wei mengerjapkan mata setelah pria itu pergi. Penampilannya yang mencolok sekilas menarik perhatian pria itu. "Siapa dia? Sepertinya aku mengenal orang itu!" batin Liu Wei yang sempat melihat pria tersebut hanya dari belakang saja.


Dia pun menepuk bahu Yu Xuan dan mengatakan apa yang dilihatnya barusan, namun Yu Xuan seolah tak percaya pada perkataan temannya. "Tidak, mungkin! Tempat ini sangat jauh dari sana, apalagi waktu itu dia terjebak di hutan bersama yang lainnya. Pasti kau salah lihat," tampik Yu Xuan yakin.


Keduanya berbisik saat membicarakan hal tersebut agar tidak mengusik tidur penghuni penjara yang lainnya.


Liu Wei pun mengangguk setuju dengan pikiran Yu Xuan. Tapi, penglihatannya tak mungkin salah, pria itu adalah seseorang yang ia kenali. Tapi ... ah, entahlah! Mungkin Yu Xuan benar kalau dia salah melihat orang.


Setelah merenung memikirkan hal tersebut yang tak ada ujungnya, kini perhatian mereka tertuju kearah tiga wanita yang sedang menggendong dua Bayi tampan. Hati keduanya terasa sakit melihat ketiga wanita itu berada ditempat yang tak seharusnya.


Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin saja mereka tak kan memilih untuk meninggalkan Desa Monthong dari pada harus menjadi tahanan Kota. Tapi, sifat keras kepala Xin'er tak bisa dihentikan walau apapun yang terjadi.


"Wei, Xuan. Sepertinya aku melihat seseorang yang ku kenali!" kedua pria itu menoleh kearah Xin'er karena mendengar suaranya. Mereka kemudian saling pandang, lalu menatap Xin'er lagi dengan perasaan yang sulit diartikan.


"Maksudmu?" tanya keduanya serempak.


Xin'er berdiri sambil melihat keluar jeruji besi itu. Ia termenung menerawang kedalam lamunan, membayangkan kejadian dua tahun lalu, saat dirinya terjebak di hutan angker. Bayangan ketakutan itu kembali seolah mengoyak ingatan menjelang kematian. Tatapan kesedihan kembali tanpa diminta, seiring jatuhnya air mata.


Wanita itu menjelaskan apa yang dilihatnya saat matanya sedikit terbuka. Dia seperti melihat seseorang di masa lalunya yang membuat hatinya bergetar. Namun, sorot mata pria itu menandakan kebencian yang teramat besar kepadanya, seolah Xin'er adalah pelaku pembunuhan.


"Mungkin kau salah lihat, Nona! Tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali," pungkas Yu Xuan kembali meyakinkan Xin'er seperti saat meyakinkan Liu Wei tadi.

__ADS_1


Xin'er tampak termenung mendengar penjelasan Yu Xuan. Apa yang dikatakan pria itu ada benarnya, bahwa orang yang sudah mati tak mungkin hidup kembali. Dia pun segera menepis pemikiran yang tadi sempat singgah dalam hatinya.


Namun, tanpa mereka sadari, justru Yu Xuan yang kini sedang berpikir keras tentang ucapan Liu Wei dan Xin'er yang mengatakan bahwa keduanya seperti melihat seseorang yang dikenali. Dia pun berpikir dalam hatinya. Apa kejadian ini ada hubungannya dengan pria itu, sehingga mereka tiba-tiba saja harus di tahan di penjara Kota? Jika itu benar, maka Yu Xuan harus mencari cara agar bisa bertemu dengan pria itu.


Tapi, bagaimana caranya?


Haish, memikirkannya saja rasanya membuat Yu Xuan pusing tujuh keliling. Ditambah lagi, mereka saat ini sedang berada didalam penjara.


"Yu Xuan, apa yang kau pikirkan? Sepertinya kau sedang kebingungan?" tanya Liu Wei yang melihat wajah tegang temannya itu.


Sedangkan yang ditanya hanya cengengesan ketika temannya bertanya dengan penasaran. "Mau tahu aja," sahutnya.


"Owh, kau ingin bermain rahasia-rahasiaan bersama kami?" pria itu menoleh kearah Xin'er yang berbicara dengan nada ketusnya. Seperti biasa, sikap Xin'er sekarang membuatnya teringat pada sosok Tuan dinginnya.


"Hah, aku merindukan Panglima kejam itu. Aku penasaran dengan alasannya yang tak kembali kepada istri dan juga putranya!" batin Yu Xuan melengos. Rasanya, sangat sedih melihat perjuangan Xin'er yang berusaha melahirkan dan membesarkan putranya seorang diri. Walaupun ada mereka berempat yang menemani, tetapi tetap saja rasanya kurang jika ayah sang jabang bayi tak ada menyambut kelahirannya ke dunia ini.


Sebenarnya, bukan cuma Yu Xuan yang penasaran alasan dibalik tak kembalinya Zhaoling. Tapi, teman beserta istri mereka pun sangat penasaran dengan alasan suami dari Xin'er itu.


Bagaimana pun, Zhaoling telah berjanji akan kembali dalam waktu dekat, sebelum Xin'er melahirkan. Namun ternyata, sudah lima bulan berlalu, ia pun tak kunjung kembali membuat mereka sangat khawatir dengan keadaan Zhaoling.


Apa dia sengaja tak kembali karena menerima tanggung jawab yang dibicarakan Kaisar saat itu? Ataukah, terjadi sesuatu padanya disana, sehingga membuat Zhaoling tak bisa kembali? Lalu, kenapa dia tak memberikan kabar pada mereka?


Argh, ini sangat membingungkan!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2