Panglima Perang Kerajaan Xili

Panglima Perang Kerajaan Xili
Alasan Kepergian


__ADS_3

Hari itu, penyerangan yang dilakukan Liu Wei, Yu Xuan, Jendral Jiu, dan para prajurit yang tersisa melawan pemberontak yang dipimpin Gu Yen dan Mo Yucen. Mereka bertarung dengan sengit.


Sebenarnya, bagi Liu Wei dan Yu Xuan, menghadapi Gu Yen itu tak sulit. Namun, Gu Yen membuat jebakan licik yang membuat mereka tak bisa berkutik. Sehingga, mereka kalah dalam pertarungan kali ini.


Sedangkan Jendral Jiu, dikalahkan oleh Mo Yucen yang membuat jebakan jaring. Tubuh Jendral Jiu dilempari jaring, sehingga dia tak bisa menyerang mereka. Dari situlah, para bawahan Mo menangkap Jendral Jiu dan mengikatnya.


Para prajurit yang tersisa segera dibantai dengan sadis, dan ada juga yang dibiarkan mati secara perlahan dengan dibawa ke penjara bersama Liu Wei, Yu Xuan, dan Jendral Jiu. Beruntung, seorang prajurit yang berpura-pura mati dan tidak diperhatikan oleh mereka. Sehingga, prajurit tersebut dapat kembali ke Istana dan melaporkan kejadian itu pada Panglima.


Namun, Panglima yang dicari tak ada di tempatnya. Beruntung ada Jendral Meng yang baru kembali dari perang diperbatasan, dan dia pun bisa menyampaikannya pada Jendral Meng.


Ternyata, Jendral Meng juga tak menemukan Panglima dikediamannya. Karena, Panglima yang mereka cari saat ini berada di Istana Zhoseng sedang bertukar identitas menjadi Pangeran Ketiga lagi.


Pangeran Ketiga merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia sendiri tak tahu apa yang terjadi, namun demi menenangkan pikirannya dia pun berjalan ke kediaman Panglima. Siapa tahu ada kabar dari Liu Wei atau Yu Xuan. Pikirnya.


Namun, saat sampai di sana, ternyata Jendral Meng sedang menunggu kedatangannya sebagai Panglima. Awalnya, Jendral Meng tak mau memberitahukannya. Karena Pangeran memaksa dan dia berjanji akan membantu, Jendral Meng pun menceritakan apa yang disampaikan prajurit yang selamat tadi.


Dia bersiap pergi dari Istana diam-diam untuk menyelamatkan para pengikutnya. Namun, sesuatu terjadi kepada istrinya lagi. Wajah Xin'er terlihat murung dan sedih. Setiap kali dirinya bertanya, istrinya selalu menjawab dengan berbohong.


Awalnya, Zhaoling tidak tahu jika orang yang selalu mengganggu dan menindas istrinya adalah Zhaohan dan Ibu Suri. Tapi, saat melihat luka di sudut bibir istrinya waktu itu, dia pun menyuruh Liu Wei mencari tahu dan kenyataan pahit itu harus diketahui.


Nenek yang seharusnya menyayangi cucu-cucunya, dengan tega selalu menyulitkan dirinya dan kini melakukan hal yang sama terhadap istrinya. Dia tak masalah jika Ibu Suri bertindak pilih kasih terhadap dirinya dan juga Pangeran lain, terutama Zhaohan. Namun, ini menyangkut perasaan Xin'er, istri Zhaoling.


Dia marah tapi tak bisa melakukan apapun. Jika dia bertindak sembarangan dan melawan Ibu Suri, maka ibunya Permaisuri Jian yang akan menanggungnya. Walaupun ibunya tak pernah bercerita, tapi Zhaoling tahu bahwa Ibu Suri selalu bertindak diam-diam untuk menjatuhkan kedudukan Permaisuri dan memperolok ibu kandung Zhaoling itu.


Sempat Pangeran Ketiga memohon kepada Ibu Suri agar tidak menindas istrinya. Dia tak ingin bertindak kurang ajar kepada orang yang lebih tua darinya. Maka dari itu, cara halus yang dipilih olehnya. Namun, jawaban Ibu Suri begitu menyakitkan.


"Jika kau ingin aku berhenti menindas istrimu, maka ceraikan dia dan cari gadis lain dari kalangan atas. Putri Huanyi dari Kerajaan Xiang yang pantas untuk kau peristri!" tegas Ibu Suri.


"Maafkan Hamba, Ibu Suri. Bagi Hamba, menikah hanya sekali dan istri hanya satu. Walaupun Xin'er hanya seorang putri dari Perdana Mentri, tapi dia gadis baik dan taat akan agama juga suami. Aku hanya akan memilihnya sebagai istri," sahut Zhaoling tegas.


Ibu Suri terlihat mencebik sebal. "Zhaozu. Seorang penguasa pantas mempunyai banyak istri. Baiklah, jika kau tidak mau menceraikannya. Tapi, jadikan dia hanya Selir dan persunting Putri Huanyi sebagai istri sahmu. Maka, aku tidak akan mengganggunya lagi." tawar Ibu Suri. "Lagipula, seorang gadis dari kalangan bawah tidak pantas menjadi menantu kerajaan. Dia hanya pantas menjadi seorang Selir, bukan seorang Putri!" lanjutnya lagi seraya berlalu meninggalkan Zhaoling yang termenung sendiri.

__ADS_1


Sungguh, pikiran Zhaoling saat ini menjadi kacau. Masalah dengan Ibu Suri dan Zhaohan ini membuatnya pusing. Sekarang, dia harus menyelesaikan masalah yang menimpa Liu Wei, Yu Xuan, Jendral Jiu, dan para prajurit yang ditahan pemberontak.


"Bagaimana caraku untuk menyelamatkan mereka semua?" gumam Zhaoling seraya memijat pangkal hidungnya.


Hari berikutnya, Zhaoling dikejutkan dengan kejadian yang membuat dirinya harus memilih. Sesungguhnya, ini bukan kemauannya. Tapi, ini harus dia lakukan agar dapat melindungi orang yang dia cintai.


Dia tahu, nenek dan kakak tirinya yang memulai semuanya. Tapi, dia tak bisa melakukan apapun saat ini karena ada nyawa lain yang menunggu dirinya untuk menyelamatkan.


Tangan yang seharusnya menggenggam erat dan memberikan sentuhan sayang, kini digunakan untuk menampar wajah istrinya. Walaupun tidak dengan kekuatan, tapi dia sangat menyesali perbuatannya. Wajah Xin'er yang menangis iba, sengaja diabaikan olehnya. Kata yang sepatutnya tidak terucap dari bibirnya, sengaja diucapkan agar terlihat meyakinkan Ibu Suri. Tapi, itu yang membuatnya harus menelan pahitnya kebencian Xin'er.


Namun, keputusan sulit itu harus diambil olehnya agar bisa melindungi keselamatan Xin'er dari mereka yang berniat jahat. Dengan mengirim Xin'er kerumahnya, dia terbebas dari gangguan Zhaohan dan Ibu Suri. Zhaoling pun bisa tenang saat pergi menyelamatkan para pengikutnya.


"Maafkan aku, Xin'er. Keputusan ini harus aku ambil tanpa berunding denganmu dulu. Aku tak ingin kamu terluka saat aku tak berada disini. Jika setelah ini kamu membenciku, setidaknya aku telah menjauhkan kamu dari mereka. Ini yang hanya bisa ku lakukan saat ini. Bersabarlah," batin Zhaoling.


Pada malam dimana Xin'er pergi bersama rombongannya, Zhaoling diam-diam mengikuti dari belakang. Banyak sekali yang menghadang perjalanan mereka. Namun, tanpa diketahui siapapun, Zhaoling membereskan para penghalang tersebut, sehingga rombongan Xin'er sampai ke Kota Yongsheon dengan selamat.


Setelah memastikan keselamatan istrinya, Zhaoling pun berangkat menuju Pegunungan Fujiko. Tempat dimana para pengikutnya ditahan.




Saat ini, suasana menjadi tegang karena ucapan Zhaoling yang tiba-tiba seperti itu. Menyerahkan diri pada penjahat tanpa melawan? Apa tidak salah? Ini bukan sifat Zhaoling yang sesungguhnya!


Namun, Zhaoling yakin akan keputusannya dan meyakinkan juga ketiga pengikutnya. "Tenanglah! Aku tidak akan terluka sedikitpun," ucapnya dengan santai.


Tapi tetap saja, itu membuat mereka khawatir. Terlebih, Zhaoling menyerah tanpa sebab dan perlawanan. "Aling. Kau tidak boleh menyerah untuk menyelamatkan hidup kami! Lawan mereka semua dan hapuskan dari dunia ini. Sekalipun aku mati, aku rela asalkan kau tidak menyerah pada mereka!" teriak Liu Wei yang di setujui Yu Xuan dan Jendral Jiu.


Namun, mereka juga tahu sifat keras kepala Zhaoling yang tak kan mendengarkan siapapun setelah mengambil keputusan. "Kembalilah bersama para prajurit lain. Jangan pernah mencari tahu keberadaan ku atau kelompok Gu Yen. Kalian jaga keamanan di Kerajaan, juga kamp militer kita. Latih mereka sebaik mungkin," cetus Zhaoling tanpa menjawab perkataan Liu Wei sebelumnya.


Dengan pasrah, mereka pun kembali ke Istana dan mengikuti keinginan Zhaoling, serta membawa sisa prajurit yang masih hidup. Karena, sebagian prajurit telah mati di medan perang oleh para pemberontak.

__ADS_1


Walaupun saat ini ketiganya marah, tapi mereka tak bisa melakukan apa-apa demi membuat Zhaoling menarik kembali keputusannya. Pasti, ada alasan dibalik keputusan Zhaoling yang tiba-tiba itu. Jika tidak, maka tidak mungkin Zhaoling menyerah begitu saja. Mengingat, sekelompok orang yang dipimpin Gu Yen dan Mo Yucen itu bukan tandingan Zhaoling.


Dengan mudah, Zhaoling mampu mengalahkan mereka semua dalam hitungan menit. Tapi, dia tak melakukan itu dan hanya menyerahkan diri pada Gu Yen.


"Baiklah. Karena kau bersedia ikut sendiri dengan kami, maka bersiaplah! Kita akan berangkat pagi ini juga menuju ke wilayah Barat Daya. Tepatnya Kerajaan Xiang," kata Gu Yen menjelaskan.


Zhaoling mengernyitkan dahi mendengar nama kerajaan yang disebutkan. Bukankah kerajaan itu yang kemarin dibahas Ibu Suri? Ada hubungan apa Gu Yen dengan kerajaan tersebut sampai mereka ingin pergi kesana?


Pertanyaan demi pertanyaan akan terjawab jika dirinya datang sendiri kesana. Maka dari itu, dia siap untuk berangkat bersama mereka ke kerajaan tersebut.


Perjalanan kesana memerlukan waktu selama delapan hari dengan berjalan kaki. Rombongan mereka sesekali berhenti disebuah hutan untuk beristirahat.


Setelah sampai di Ibu Kota Xiang, mereka langsung bersiap untuk melakukan sesuatu yang Zhaoling sendiri tidak tahu.


Menjelang malam, mereka semua sudah berkumpul di pusat kota dengan memakai pakaian serba hitam, juga berbagai senjata. Mulai dari pedang, tombak, samurai, kapak, panah, gada, serta serbuk beracun.


Dilihat dari persiapan tersebut, Zhaoling yakin mereka akan berperang. Tapi, kenapa mereka melakukan peperangan hanya dengan seratus orang? Lalu, wilayah mana yang akan diserang? Apa Kerajaan Xiang? Ah, tidak mungkin! Mereka pasti mati konyol jika menyerang langsung kerajaan besar itu. Pertahanan militer Kerajaan Xiang tidak kalah hebat dengan Kerajaan Xili, walaupun masih dibawah beberapa tingkat.


Saat Zhaoling sibuk memikirkan hal tersebut, tiba-tiba Gu Yen menepuk bahunya. "Zhaoling. Sesuai dengan perkataan pemimpin tertinggi, kamu ditugaskan untuk menyerang gerbang depan Kerajaan Xiang seorang diri!" perkataan Gu Yen membuat Zhaoling tercengang.


"Apa? Jadi, aku harus menyerang Kerajaan Xiang sendirian?" tanya Zhaoling dengan terkejut.


"Kenapa? Kau takut?" cibir Gu Yen. "Bukankah kau cucu dari Guru Tertinggi Lon Thong. Pendekar Tapak Naga yang hebat dan terkenal itu? Apa kau sekarang jadi pengecut semenjak menjabat Panglima Xili? Cih, memalukan!" lanjut Gu Yen lagi dengan nada mengejek.


"Untuk apa aku melakukannya? Keuntungan apa yang aku dapat jika aku menyerang Kerajaan Xiang? Lagipula, aku tidak punya dendam apapun terhadap mereka!" tegas Zhaoling.


Sebelum berkata, Gu Yen tersenyum menyeringai. Lalu, ia mencengkram kuat pundak Zhaoling. "Karena mereka menahan ayahku. Gu Yaocan. Bukankah kau berjanji untuk mengikuti semua perkataanku setelah aku membebaskan para pengikutmu? Jadi, sekaranglah waktunya kau membalas kebaikanku!" jelas Gu Yen seraya mendorong tubuh Zhaoling.


Zhaoling terdiam tanpa menjawab apapun. "Aku yakin, yang diinginkan Gu Yen bukan cuma kebebasan ayahnya saja. Tapi, ada rencana licik dibalik semuanya. Jika tidak, mengapa dia hanya mengirimku seorang diri?" batin Zhaoling.


Melihat Zhaoling yang masih terdiam, Gu Yen pun segera mendorong lebih keras. "Buka gerbang depan untuk kami masuk," cetusnya dengan seringai licik.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2